Aurelia Evandra datang membawa sebuah kontrak.
Bukan untuk ditandatangani olehnya, melainkan oleh Nathaniel Alister—pewaris keluarga Alister yang terkenal dingin dan tak pernah tunduk pada siapa pun.
Semua orang menganggap Nathaniel akan menolak tanpa berpikir dua kali.
Namun, Aurelia datang dengan syarat yang tak bisa diabaikan. Sebuah tanda tangan menjadi awal dari permainan berbahaya yang mempertemukan dua pewaris, dua keluarga besar, dan rahasia yang selama bertahun-tahun terkubur.
Awalnya hanya kontrak.
Hingga perlahan berubah menjadi ikatan yang tak seorang pun mampu putuskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon masadepan_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu tanda tangan
Gimana menurut kalian setelah membaca sampai bab ini?
Semoga kalian masih setia menemani perjalanan Aurelia dan Nathaniel sampai di titik akhir.
Selamat malam.
Selamat membaca!!
...****************...
Setelah menemui Nathaniel, Aurelia pergi ke kantor. Dia sudah berada dalam ruangannya , disana Tyana juga terlihat duduk di mejanya.
Aurelia duduk tenang, tapi pikirannya berkelana pada perjanjian antara dirinya dan Nathaniel. Matanya menatap lurus ke luar jendela. Jemarinya memainkan bolpoin dengan menggesernya perlahan.
Di sampingnya, Tyana memperhatikan Aurelia. Atasannya terlihat sedang banyak pikiran, tapi ia hanya bisa memperhatikan tanpa melakukan reaksi.
Sesaat kemudian, Aurelia menoleh pada Tyana. Wanita itu tidak mengalihkan pandangan, sehingga Aurelia memergokinya.
Senyum tipis terpancar di bibir Aurelia.
"Apa kamu sedang memperhatikannyaku, Tyana?" Ia melengkungkan senyum jahil. Jemarinya berhenti bergerak, bolpoin itu sudah ia letakkan pada tempat semula.
Jemari Tyana berhenti di papan keyboard laptop.
"Iya nona. Anda terlihat seperti sedang banyak pikiran." Tyana berkata jujur. Ia tidak suka berbohong pada Aurelia. Baginya, lebih baik jujur meskipun pahit daripada harus berbohong.
Aurelia tertawa kecil.
"Kamu memang selalu tahu tanpa diberi tahu, Tyana." Aurelia tidak habis pikir. Selama lima tahun Tyana bekerja, wanita itu sudah hapal tabiatnya.
Aurelia menatap Tyana cukup lama. Ia merasakan kehangatan dalam sosok Tyana selama ini. Meskipun pembawaannya sangat kaku, tapi Tyana tipe wanita perhatian tanpa harus ditunjukkan.
"Apa aku bisa berbagi pikiran denganmu?" Ucap Aurelia dengan suara rendah.
Tyana tak melakukan reaksi apapun, namun detik berikutnya ia mengangguk singkat.
"Tentu, nona. Saya selalu ada." Ucapnya lantang, tubuhnya bangkit berdiri dan menghampiri Aurelia. Ia mendudukkan diri dihadapan Aurelia tanpa diminta.
"Aku sudah menemukan pengganti Adriant." Aurelia langsung pada intinya, ia tidak mau bertele-tele karena ingin membuat Tyana bingung.
Disana, Tyana hanya menunjukkan ekspresi datar.
"Apa anda yakin?" Ucapnya kemudian. Ia menatap serius pada Aurelia. Tubuhnya duduk tegap dengan kedua tangan yang berada di atas paha dengan rapih.
Aurelia mengangguk tipis, matanya kembali beralih menatap lurus keluar jendela.
"Aku yakin dengan keputusanku kali ini." Ucap Aurelia tanpa mengalihkan pandangannya.
"Apa saya mengenal orang itu?" Tyana ingin menebak sendiri dalam pikirannya.
Wajah Nathaniel tiba-tiba saja terlintas dipikiran. Aurelia tidak pernah menyangka bahwa dia akan menyebutkan nama Nathaniel sebagai calon suaminya untuk saat ini.
"Kamu sangat mengenalnya." Ucapnya kembali menatap Tyana.
Kedua alis Tyana mengerut, dia berusaha berpikir dan menebak nama pria itu. Sementara Aurelia tidak memiliki tanda sedang dekat dengan pria selain Adriant. Dan waktu setelah putus dari Adriant terbilang baru beberapa hari.
"Siapa?" Tyana bertanya dengan hati-hati.
Aurelia menegakkan tubuhnya, dia tersenyum tipis seraya menyelipkan rambutnya kebelakang telinga.
"Nathaniel Alister."
Tyana terdiam seketika. Wanita itu seolah merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia mengingat dengan jelas tentang pertemuan mereka yang baru beberapa kali untuk membahas perihal bisnis, kecuali ketika bersama Sarah. Tapi keduanya tidak menunjukkan adanya tanda ketertarikan satu sama lain.
"Aku tahu kamu terkejut." Aurelia beralih melipat kedua tangannya di depan dada.
"Aku juga sama terkejutnya." ia terkekeh kecil, lalu menghela napas sejenak.
"Kita baru bertemu beberapa kali. Tapi Sarah sebagai kakak dari Nathaniel ingin menjodohkan kami.... Aku di desak Papa agar segera mencari pengganti Adriant. Lalu Nathaniel di desak juga oleh keluarganya. Sehingga kami memutuskan untuk menjalin satu hubungan." Aurelia berucap dengan senyum tipis. Ia tidak mau menimbulkan kecurigaan, tidak mau juga terlihat ada paksaan agar tidak membuat Tyana khawatir.
"Jadi anda memutuskan karena terdesak?" Kedua alis Tyana terangkat tipis, ia memiringkan kepalanya sedikit. Otaknya masih berusaha mencerna tentang kabar tiba-tiba ini.
Aurelia dengan cepat menggeleng.
"Bukan karena terdesak. Tapi karena aku melihat bahwa Nathaniel berbeda dari pria lain...." Aurelia menatap lurus pada Tyana.
Ia menghela napas sebentar, "Aku tidak mengatakan bahwa dia lebih baik... Tapi dibanding Elbarak, aku rasa dia lebih mudah di percaya. Setidaknya aku punya Sarah." Aurelia menatap Tyana untuk meyakinkan.
"Aku sudah cukup mengenal Sarah. Dan Papa tidak bisa menolak Nathaniel."
Mereka berdua sama-sama terdiam. Lalu Tyana membenarkan letak kacamatanya.
"Sejak kapan?"
"Sejak tadi pagi. Dan mungkin hari ini Nathaniel dan Papa sedang bertemu untuk membicarakan mengenai perjodohan ini."
Tok! Tok!
Mereka berdua spontan menoleh ke arah pintu. Aurelia melirik Tyana sekilas, begitupun sebaliknya.
"Biarkan dia masuk." Aurelia tahu siapa yang datang. Nathaniel baru saja mengirim pesan bahwa Attar datang untuk mengantar surat kontrak mereka. Aurelia sudah mengirimkan file di ponselnya yang tadi ia catat, tapi tetap Nathaniel yang membuatnya agar tidak ada yang curiga.
Tyana mengangguk dan beranjak berdiri. Ia bergegas membuka pintu, rautnya datar ketika melihat Attar di ambang pintu. Tapi dengan cepat Tyana memberi hormat.
"Selamat siang, Attar."
Attar tersenyum dan melangkahkan kakinya masuk.
"Selamat siang juga, Tyana." Ucapnya sopan lalu menatap Aurelia dan membungkuk hormat.
"Selamat siang, nona Aurelia." Attar mendudukkan dirinya di hadapan Aurelia setelah Tyana mempersilahkannya.
Aurelia membalas senyuman Attar, "Iya, senang bertemu denganmu lagi." Ia membenarkan posisi duduknya agar lebih tegap.
"Saya juga begitu, nona." Attar menatap sopan seraya menyerahkan satu dokumen tanpa judul.
"Saya menyampaikan pesan dari tuan Nathaniel."
Aurelia menatap dokumen itu lalu beralih melirik pada Tyana yang berdiri disana.
"Apa kamu bisa meninggalkan kita, Tyana?" Ucap Aurelia masih mengembangkan senyum tipis.
"Aku ingin membicarakan hal penting dengan Attar."
Tyana mengangguk cepat, "tentu, nona. Kalau anda membutuhkan sesuatu, saya ada di depan pintu." Ia mundur lalu membalikkan badannya setelah menerima anggukan dari Aurelia.
Setelah pintu tertutup, Aurelia memegang dokumen itu. Tangannya bergerak membukanya dengan perlahan, dihalaman pertama, ia membaca tulisan dengan tinta tebal.
Kontrak perjanjian
Jemarinya membuka halaman selanjutnya, bergerak menelusuri setiap kalimat yang terdiri dari beberapa nomor. Matanya mengamati dan membaca dengan teliti. Sampai dihalaman berikutnya, semua sesuai dengan apa yang mereka sepakati di cafe tadi.
Tatapan Aurelia jatuh pada tandatangan Nathaniel yang sudah tergambar disana. Ia tersenyum getir, lalu menatap nama dirinya yang tertera disana. Tinggal menunggu diisi tanda tangannya, maka semua akan selesai meskipun baru dimulai.
Pernikahan.
Perjanjian.
Perjodohan.
Namun, di antara semua keuntungan yang mereka bicarakan, Aurelia tetap merasa dialah yang paling banyak mempertaruhkan sesuatu. Bukan uang, bukan perusahaan, melainkan hidupnya sendiri.
Ia mempertaruhkan harga dirinya dengan memohon bantuan Nathaniel. Memaksa pria itu menikahinya, lalu setelah semua ini.... Pernikahan akan terjadi di luar kehendaknya.
Ia mengorbankan hidupnya, cintanya dan juga keinginan terbesarnya untuk menikah dengan seseorang yang ia cintai.
Aurelia menghela napas panjang, melirik sekilas pada Attar lalu mengambil bolpoin.
Jemarinya menggenggam bolpoin lebih erat. Tinggal satu tanda tangan. Setelah itu, tidak ada lagi jalan untuk kembali. Pernikahan itu bukan lagi sekadar rencana. Semuanya sudah menjadi sebuah perjanjian.Ia tersenyum tipis seraya bergerak membuat tanda tangan di atas materai.
Aurelia Evandra.
Nama itu bersanding dengan Nathaniel Alister. Tapi bukan terkait bisnis, melainkan sebuah kontrak pernikahan.
Tok!Tok!
Aurelia menoleh ke arah pintu. Tyana masuk dengan raut serius.
"Tuan Giovani ada di lobby, nona. Sepertinya menuju ruangan anda."