Seorang pembawa pesan kerajaan Gidlove dengan elang putih perkasanya—Litana Wei. Gadis kecil yang selalu direndahkan oleh kalangan bangsawan lainnya, justru lebih dipercaya oleh sang Ratu. Karena pesan yang dibawanya selalu murni tanpa kebohongan sedikit pun, bahkan jika ada orang yang meniru atau memalsukan pesan milik Litana untuk menjebaknya, mereka akan dihukum mati. Sehingga seorang jenderal muda yang baru tinggal di kerajaan Gidlove—Becrox Edinhart, diberi tugas untuk melindunginya.
Mungkin sangat mengherankan, kenapa sang Ratu begitu mempercayainya yang hanya seorang pembawa pesan? Apakah dia memiliki rahasia besar yang hanya diketahui oleh Sang Ratu?
Gadis kecil pembawa pesan, apa saja yang kau sembunyikan? Siapa dirimu yang sebenarnya? Sehingga mampu membuatku jatuh hati kepadamu?---Becrox Edinhart.
Wahai Jenderal Becrox yang gagah, tampan, dan menawan. Bunuhlah perasaanmu itu, karena mencintaiku bukanlah hal baik untukmu. –Litana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Flawsome Eve, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Becrox terdiam, berpikir sejenak, “Melakukan hal-hal aneh?” dia bergumam tidak mengerti.
Pemuda tampan yang kaku dan polos itu bahkan diawasi oleh Ratu, sedangkan Litana tidak peduli sama sekali. Karena gadis kecil itu tahu bahwa Kakak Pengawalnya tidak akan melakukan sesuatu yang dipikirkan oleh Ratu.
Setelah beberapa waktu, Ratu Ionles keluar dari kamar diikuti oleh Litana yang menutup pintu kamar, dia berkata, "Akhirnya mereka semua pergi." helanya bernapas lega, Becrox menoleh mendengar helaan napasnya. "Kukira aku sendirian." ucapnya tersenyum kaku, Litana memiringkan kepala, sebelah alis terangkat, berpikir sesaat, kemudian tertawa, "Hahaha, kita satu pemikiran Kakak Pengawal. Maaf aku telat menyadarinya." balas gadis kecil tersebut melangkah ke meja yang berada di tengah ruangan, mengambil teko, kemudian menuangkan secangkir gelas air putih.
Selesai menuangnya, teko kembali diletakkan di tempatnya, Litana duduk di kursi, lalu meminumnya perlahan, selesai minum dia letakkan gelas disamping teko. "Nona, bolehkah aku tahu ini dimana?" Becrox kini menanyakan pertanyaan yang sedari tadi ingin ia ungkapkan, Litana beranjak dari kursi, melangkah ke jendela, "Di rumahku." jawabnya singkat, seraya menata jendela sebelum ditutup. Ia seketika tertegun, *APA?! Di rumah NONA?! *-batinnya terkejut. Ia segera beranjak turun dari ranjang, Namun, secara tiba-tiba ia terjatuh saat itu juga, seolah kehilangan tenaga.
Spontan Litana menoleh dan langsung menghampiri, dan mendekatinya. "Kakak Pengawal, kau harus istirahat. Sekarang kondisimu masih belum pulih sepenuhnya." cetusnya membantu Becrox untuk kembali beristirahat di ranjang. "Maaf merepotkan Anda." ucapnya sungkan, Litana tersenyum kecil, "Tidak apa-apa, Kakak Pengawal. Sama sekali tidak." balas gadis kecil tersebut dengan penuh hati, disertai kelembutan. Manik birunya menatap langit-langit yang terbuat dari pilar kayu tebal sederhana, lalu melirik ke Litana.
D waktu yang sama, gadis itu mengecup lembut kening Becrox, membuat pemuda itu termangu dengan pupil membulat lebar. "Kakak Pengawal harus istirahat dengan baik. Jadi, aku bisa istirahat dengan nyenyak juga. Hehe." katanya memberikan senyuman yang hangat.
Malam sunyi diiringi nyanyian merdu jangkrik, kunang-kunang terbang kesana kemari, menerangi rerumputan serta sekumpulan bunga lavender yang tersebar di sekitar area tertentu, menebar aroma wangi yang menenangkan.
Di luar rumah setelah semua tamu pulang, seorang laki-laki elf lima belas tahun, bertelinga seperti bulu, memakai hanfu abu-abu terang dominasi biru muda tengah duduk atas batu besar di depan teras rumah, bermain bersama kunang-kunang yang terbang kesana kemari, rambut abu-abu pucat pendek, manik kuning terang, garis sabit tipis berwarna merah gelap di bawah mata, surai tipis panjang sepunggung di rambut bawah kepala, "Yuen Zhi." panggil seorang gadis kecil dari ambang pintu, itu adalah Litana.
Elf itu menoleh, segera berbalik memberi hormat penuh khidmat, "Master, ini sudah larut. Apa yang Anda butuhkan?" tanya Yuen Zhi dengan sopan, gadis itu keluar dari rumah seraya menutup pintu, "Besok siapkan ramuan herbal yang mampu memulihkan tenaga dalam dan fisik. Kondisinya masih tidak stabil setelah perwujudan Api Surgawi muncul." tuturnya tegas, meskipun masih seorang gadis kecil, dan itu adalah Litana.
"Yuen Zhi mengerti." elf itu bangkit dari hormat, "Master, apakah Anda hendak berlatih malam ini?" tanya Yuen Zhi dengan rendah hati. Dia menggeleng, tangan kanannya menengadah, aliran sihir berwarna putih berkumpul di telapak tangan, membentuk sebuah gulungan, "Berikan gulungan ini kepada Feng Ling. Ada hal penting yang harus dibicarakan mengenai pertandingan dalam dua hari." titah Litana langsung diangguki Yuen Zhi yang menerima gulungan tersebut. Setelah menerima gulungan, Yuen Zhi segera pergi dengan sihir teleportasi. Dan saat itu juga Litana bersandar pada diding rumah yang terdiri dari susunan batu alam, dia menghela napas berat, "Pertandingan melawan Pelindung Kerajaan, huh? Ini sungguh berat. Tapi, ini juga diperlukan untuk membantunya. Haahhh. kuharap semuanya berjalan lancar." gerutunya mendongakkan kepala, menatap langit malam dihiasi bintang-bintang dan bulan purnama biru.
Malam itu, di penginapan Ibukota Guinvers, Goure duduk di mulut jendela seraya memainkan sebuah gangsingan sihir yang terbuat dari kayu besi, ditemani seekor kucing belang hitam putih yang tiduran di bawah kakinya. Tidak lama pintu ruangan dibuka, Mille memasuki ruangan penuh kekesalan dan wajah manyun, merasakan hal itu, Goure pun bertanya, "Ada apa dengan wajah jelekmu itu, Mille?" Mille menghiraukannya, duduk di kursi di dekat jendela tempat Goure bersantai, dengan kasar, masih dengan wajah manyun.
"Seorang gadis kecil pembawa pesan Kerajaan membuatnya terpojok, dan membuat keputusan untuk melawannya di Pertandingan melawan Pelindung Kerajaan dalam dua hari lagi." jelas Yan yang baru saja menutup pintu ruangan, menghampiri kedua lelaki dimana salah satunya tengah kesal.
Goure menaikkan sebelah alis, "Gadis kecil pembawa pesan Kerajaan? Apakah rambutnya berwarna hitam?" tanyanya ingin memastikan, Yan duduk di tepi ranjang, "Tidak. Gadis kecil itu berambut perak.” jawab wanita itu seraya merogoh saku di balik lengan hanfu, mengeluarkan sebuah gulungan berpita biru. "Dan kami mendapat undangan khusus." lanjutnya yang tersenyum, mengingat senyuman Litana yang manis dipenuhi kehangatan. Elf tersebut terperanjat maju, beranjak dari leha-leha, mendekati gulungan dari Yan, kemudian mengeluarkan gulungan yang sama dari cincin ruang sihir.
"Apa maksudnya?" gumam Goure tampak berpikir, "Menurutmu, Kerajaan ini memiliki dua orang pembawa pesan?" tanya Yan yang mengerti apa yang dipikirkan oleh Goure. Sedangkan Mille, menyela, "Setiap Kerajaan yang sudah kita lalui hanya memiliki satu orang pembawa pesan. Bahkan Kerajaan lain, juga hanya memiliki seorang pembawa pesan. Tidak lebih."
Yan meletakkan gulungan ke pangkuannya, "Yang dikatakan Mille memang benar, sungguh aneh jika sebuah Kerajaan yang lumayan besar memiliki dua orang pembawa pesan. Sedangkan Kerajaan lain, hanya memiliki seorang pembawa pesan." tuturnya kembali mengangkat gulungan itu, mulai menarik ujung tali pita yang mengikat gulungan.
Begitu gulungan terbuka, manik biru cantik tenangnya tercengang melihat gaya tulisan dalam gulungan. "Ini tidak mungkin." cetusnya tidak percaya. Goure yang ikut melihat sedikit geser ke dekat Yan, manik jingganya menatap isi gulungan dengan teliti, "Gaya tulisannya cukup familiar, tapi dalam bahasa Egla."
"Gaya tulisan ini mengingatkanku pada seseorang." ucap Yan yang disetujui oleh Goure dengan sebuah anggukan, "Aku tidak begitu pandai dalam menulis. Tapi, aku masih bisa mengenal gaya tulisan setiap orang dan membacanya." ungkapnya kini sedikit mundur, memberi ruang untuk Yan.
Mille menatap Goure sinis, "Benarkah? Melihat tulisan Mandarin atau membacanya saja, kau seperti anak lima tahun. Dasar elf bodoh." cibirnya yang dibalas dengan sentilan dahi yang keras.
"Aw!" rintihnya melotot ke Goure seraya memegang dahi, "Darimana kau tahu hukuman itu?!" Mille mengusap dahinya pelan, menatapnya penuh selidik. Goure membalasnya dengan nyengir senang, "Rahasia."