Indonesia
NovelToon NovelToon
My Lovely

My Lovely

Status: tamat
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nana

My Lovely.

Renata dan Arkan merupakan sepasang kekasih yang sama-sama menyembunyikan jati diri dari masing-masing. Tapi siapa sangka jati diri keduanya terungkap dan Renata mengetahui apa yang kekasihnya itu lakukan di belakangnya.

Setelah putus dengan Arkan, Renata kini dekat dengan pria bernama Galih yang berstatus sebagai kakak kandung dari mantan pacarnya. Tapi Galih yang sudah terlanjur bucin dengan Renata harus berjuang untuk mendapat restu. Sedangkan Renata harus mempertimbangkan kembali tentang perasaan dan juga keinginannya untuk hidup bebas di luar sana.

Apakah akhirnya Renata akan memilih mempertahankan hubungannya dan berhasilkah Galih mendapat restu dari semua orang untuk menikahi gadis yang dicintainya?

Penuh konflik tidak terduga dan kisah asmara yang mendebarkan, ikuti terus cerita ini!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30

Galih membalas pelukan itu sama eratnya dan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Renata. Renata membawa Galih ke tepi pantai dan duduk di atas pasir.

“apa berita itu benar?” tanya Renata yang dijawab anggukan kepala oleh Galih.

Renata menggenggam tangan Galih yang terasa hangat.

“aku tidak tahu bagaimana cara menghiburmu, tapi aku berharap semoga kamu bisa segera bertemu dengan mamah kamu.” Ucapnya dengan tulus namun dibalas dengan tatapan sendu oleh Galih.

“mamah tidak akan kembali Ren, mamah sudah pergi jauh.” Ucapnya.

Renata terkejut lalu membawa kepala Galih ke dekapannya. Galih tidak kuasa lagi menahan semuanya sendiri. Akhirnya tangisnya benar-benar pecah membuat hati Renata ikut merasakan kesedihan itu. Deburan ombak menutupi isak tangis Galih dan angin laut secara silih ganti membelai rambut pria itu.

Setelah puas menangis, akhirnya Galih tenang dan mengangkat kepalanya menatap wajah Renata.

“mamah...”

“sstt, kamu tidak perlu mengatakannya kalau itu terasa menyakitkan. Semua kebenaran yang tersembunyi akan terungkap pada waktunya dan saat itu terjadi semua akan baik-baik saja.” Ucapnya berusaha menenangkan pria itu.

“mamah kamu pasti sudah bahagia dan sedang mendoakanmu dari suatu tempat, jadi kamu harus bisa melalui ini semua.”

Galih tersenyum lalu kembali meletakkan kepalanya di bahu Renata. Kali ini dahinya menempel di leher Renata membuatnya baru menyadari kalau Galih sedang tidak baik-baik saja.

“dahi kamu panas, kamu demam?”

Kini Galih sedang berbaring di ranjang milik Renata dengan sebuah kain kompres berada di keningnya. Keringatnya terus keluar tapi tubuhnya menggigil kedinginan. Mulutnya beberapa kali mengigau menyebut sang ibu.

Renata tidak tega melihat kondisi Galih yang begitu terpuruk saat ini. Tanpa sadar ia ikut tertidur di lantai dengan posisi duduk dan kepala bersandar di ranjang. Renata terbangun saat langit sudah berubah warna menjadi jingga. Ia memeriksa kening Galih dan masih terasa panas. Tapi tubuhnya sudah tidak menggigil lagi dan racauan dari mulutnya sudah berhenti.

Ia memutuskan untuk keluar sebentar mencari bubur untuk dimakan Galih saat pria itu bangun nanti.

Sambil menikmati pemandangan senja, Renata berjalan tidak jauh dari rumahnya dan berhenti di sebuah warung makan. Warung tersebut dimiliki oleh seorang nenek yang baik hati. Nenek itu selalu membantu Renata sejak awal ia pindah ke daerah itu. Renata meminta dibuatkan semangkuk bubur dan tidak lama kemudian pesanannya sudah jadi.

“buat suaminya ya?”

“suami?”

“iya, tadi nenek lihat kamu pelukan sama laki-laki. Kenapa tidak tinggal bersama? Apa sedang ada masalah?”

“oh tidak nek, dia bukan suami Renata. Masih calon.” Ucapnya dengan malu-malu.

Setelah membayar dan berpamitan, ia pulang ke rumahnya. Di perjalanan pulang, ia tidak menyangka akan bertemu orang yang paling ingin dihindarinya. Indri dan Ines terlihat sedang berjalan-jalan bersama. Mungkin mereka berdua sedang menikmati liburan bersama.

“Renata? Sedang apa kamu di sini?” tanya Indri saat mereka berpapasan.

“setahuku pantai ini bukan milik kamu, jadi aku bebas berada di sini.” Ucapnya lalu berlalu meninggalkan mereka berdua.

“Renata! Berhenti kamu!”

“ada apa lagi sih?”

“jauhi Galih, dia itu calon suami aku. Kita akan bertunangan minggu depan?”

Indri berbicara dengan nada sombongnya membuat Renata kesal.

“tapi sayangnya calon suami yang kamu sayangi itu sedang tidur di rumahku di atas kasurku.” Ucap Renata ketus lalu pergi meninggalkan Indri yang tengah emosi.

Renata terus menunjukkan wajah cemberutnya hingga Galih bangun. Pria itu bingung melihat raut cemberut dan sikap dingin Renata yang ditujukan kepada dirinya. Dirinya sedang sakit dan butuh perhatian tapi gadis itu malah bersikap dingin kepadanya. Galih tidak tahu kesalahan apa yang sudah diperbuatnya terhadap gadis itu.

Setelah selesai mengurus Galih, Renata mencuci piring bekas makan tadi lalu duduk di kursi dekat jendela di kamarnya. Galih bisa melihat siluet Renata di tengah sunset yang berwarna jingga. Fitur wajahnya begitu sempurna di mata Galih membuatnya tidak bisa bernafas dengan benar.

Lalu ia bangun dari tempat tidur kemudia berjongkok di depan Renata dan menggenggam kedua tangannya.

“kamu kenapa hm?”

“nggak apa-apa.”

“tapi wajah kamu cemberut.”

“nggak apa-apa.”

“nggak mau cerita?” tanya Galih lagi dan langsung dihadiahi tatapan tajam oleh Renata.

Renata kembali membuang mukanya ke jendela dan mendengus sebal.

“kalau sudah sehat pulang sana, kenapa malah di sini? Bukannya minggu depan mau tunangan ya.”

“kita mau tunangan minggu depan? Ayo.”

“kenapa jadi kita? Kamu sama Indri.”

“Indri? Oh dia, kamu dengar dari mana?”

“ooh jadi benar kalian mau tunangan? Dasar kakak adik sama saja.”

Renata bangun dari duduknya lalu berjalan ke arah kasur dan mengambil jas Galih yang tergeletak di sana. Renata melemparkan jas tersebut ke sang pemilik lalu mendorong Galih keluar dari rumahnya. Ia terus berteriak mengusir Galih. Galih berusaha menahan Renata dan akhirnya ia berhasil mencekal kedua tangan Renata saat ia sudah berdiri di depan pintu.

“dengarkan aku dulu.”

“basi.”

Galih memeluk tubuh Renata meskipun mendapat penolakan darinya.

“aku sudah menolak pertunangan itu.”

“bohong bohong, seharusnya aku tidak mempercayaimu dan tidak jatuh cinta kepadamu.”

Ucapan Renata membuat Galih tersenyum menyeringai.

“kamu mencintaiku?”

“sudah tidak lagi sana pergi.”

Galih tiba-tiba terfikirkan sebuah ide dan ia langsung berpura-pura sakit. Ia memegang kepalanya dan tubuhnya ia buat agar terlihat lemas. Hal itu berhasil membuat Renata cemas.

“kamu baik-baik saja? Kita ke rumah sakit sekarang.” Saat Renata hendak memapah Galih, tiba-tiba pria itu memeluknya erat.

“sejak awal aku menolak pertunangan itu dan aku hanya mencintaimu dan hanya akan bertunangan lalu menikah denganmu saja. Tidak ada orang lain baik di masa lalu, masa sekarang maupun masa depan. Hanya ada kamu.” Bisiknya lembut tepat di telinga Renata membuat gadis itu, tersipu malu.

Galih melonggarkan pelukannya dan mengangkat dagu Renata agar dia menatap wajahnya. Setelah itu, ia mencium mesra kening Renata cukup lama.

“sebenarnya aku ingin menciummu, tapi takut tidak bisa menahan diri.” Ucapnya sambil membelai lembut bibir Renata.

Tubuh Renata menegang merasakan belaian lembut di bibirnya. Wajahnya yang merona semakin memerah bagaikan kepiting rebus. Rona merah itu bahkan merambat hingga telinganya. Galih menikmati pemandangan di depannya dan mencubit pipi Renata karena gemas. Gadis itu benar-benar menggemaskan saat ini menurutnya.

Meskipun hanya sejenak, Galih sangat menikmati momen ini. Momen dimana hanya ada dirinya dan Renata saja. Melupakan berbagai masalah yang sedang menimpanya. Memberikan seluruh rasa cinta dan kasihnya kepada Renata seorang. Kini mereka sedang duduk berdua di tepi ranjang. Galih memeluk pinggang ramping Renata dan membiarkan kepala gadis itu bersandar di dada bidangnya.

“apa yang akan kamu lakukan sekarang?”

“menikah denganmu.”

“aku serius.” Ucap Renata sambil mencubit pinggang Galih membuat pria itu mengaduh kesakitan.

“karena papah sudah membuat laporan ke polisi, aku hanya bisa mendukungnya.”

“tapi biar bagaimanapun juga kamu menganggapnya sebagai mamah kamu selama bertahun-tahun, itu pasti tetap sulit.”

“aku sudah mengetahui fakta ini sejak lama, semua ini lebih sulit untuk Arkan karena dia harus mengetahui kenyataan ini sekaligus.”

Renata mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan oleh Galih.

Seperti yang dikatakan oleh Galih, saat ini Arkan sedang mengemas pakaiannya dan langsung berangkat menuju bandara. Setelah mendengar berita tentang keluarganya dari internet, Arkan tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak pulang. Pikiran dan hatinya saat ini benar-benar kacau.

1
indigosparkle
sumpah!! thorr ceritanya seruu banget😘
L. N.: terimakasih sudah mampir... yuk cek cerita lainnya🥰🥰
total 1 replies
Hustle Flyswat
Pokoknya jangan lama-lama ya Thor!
Anis Rohayati
Renata kamu harus jual mahal ke galih jgn asal jatuh cinta aja
Anis Rohayati
renata galih 😍😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!