Indonesia
NovelToon NovelToon
Asesinato De Cartel

Asesinato De Cartel

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:454
Nilai: 5
Nama Author: MR. IRA

Seorang konglomerat misterius menawarkan bayaran besar kepada tiga pembunuh bayaran untuk membunuh Arturo, pemimpin kartel Rey del Norte yang menguasai sebagian wilayah Meksiko.

Misi yang awalnya terlihat sederhana berubah menjadi perburuan mematikan ketika mereka menyadari bahwa Arturo bukanlah sosok yang selama ini mereka bayangkan. Di tengah pengkhianatan, baku tembak, dan rahasia yang perlahan terungkap, ketiganya mulai mempertanyakan siapa sebenarnya musuh yang mereka hadapi.

Karena dalam dunia yang dipenuhi uang, narkotika, dan dendam, tidak ada seorang pun yang benar-benar bersih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR. IRA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3:

Di dalam rumah Angelina.

Mr. Arns duduk di sofa yang sama saat dia pertama kali datang, namun kali ini dengan pakaian berbeda. Matanya menatap ke arah Angelina yang duduk di sofa depannya.

Angelina menghela napas panjang.

 "Sudah kubilang, aku tidak mau."

Mr. Arns mengangguk ringan, "Kenapa?"

Angelina memejamkan matanya sesaat, dia kemudian merapikan poni rambutnya yang menutupi keningnya.

 "Karena pekerjaan ini aku dapat banyak uang tentu, dan karena pekerjaan ini juga aku harus keluar dari rumah sakit untuk terus mengobati para maniak itu."

 "Anda bisa terus mengobati seseorang di misi ini, bukan buronan, tapi seorang teman."

Angelina meneguk tehnya.

 "Teman?"

Mr. Arns menaikkan sudut bibirnya, "Ya, anda akan memiliki dua orang teman yang setia membantu. Kalian bertiga akan bekerjasama dalam misi ini."

Angelina mengerutkan keningnya.

 "Ya ya... Dulu aku punya banyak teman, sebelum aku ditangkap polisi karena menyembunyikan seorang buronan."

 "Kalau begitu, ini cocok dengan anda. Anda akan memiliki dua teman baru yang setia, baik, dan tentunya akan membuat tugas anda menjadi semakin ringan."

Angelina berpikir sesaat.

 "Siapa mereka berdua itu?"

 "Nama seseorang dari mereka adalah Berlin."

 "Satunya?"

 "Tunggu saja."

Mr. Arns kemudian meneguk teh yang disediakan Angelina.

 "Jadi, apa keputusan anda?" Tanya Mr. Arns.

 "Berapa kemarin, 100 ribu dolar?"

Mr. Arns mengangguk kecil.

 "Bagaimana kalau 150 ribu?" Tawar Angelina.

 "130 ribu." Tawaran Mr. Arns.

 "150 ribu, jika iya maka aku ikut."

Mr. Arns menghela napasnya.

 "Baiklah."

Dia kemudian berdiri, mengancingkan kancing di jasnya.

 "Kalau begitu, nanti sebelum jam lima sore silahkan ke bandara. Gunakan setelan jas berwarna hitam."

Angelina ikut berdiri.

 "Gunakan nama samaran anda saat ada orang yang bertanya soal nama anda."

 "Hah, Paris?" Tanya Angelina.

 "Iya."

...****************...

Detik demi detik telah berlalu. Suara jam berdetak terus mengisi kepala Berlin.

Dia memandang ke jam tangan yang ia pakai di lengan kanannya.

 "16.30"

Dia berdiri di depan bandara, dengan setelan berwarna hitam rapi dari atas sampai bawah. Tak lupa ia mengenakan kacamata berwarna hitam seperti yang diminta Mr. Arns.

 "Di mana Mr. Arns?"

Orang-orang berlalu-lalang melewati dirinya, suara orang berbincang sambil berjalan sangat berisik.

Di tengah kebisingan itu, suara notifikasi ponsel milik Berlin berbunyi.

 "Ding."

Dia meraih ponselnya, terlihat di ponselnya sebuah pesan singkat dari Mr. Arns.

 "Ucap tujuanmu ke petugas bandara. Miami."

 "Ahhh..." Ucap Berlin.

Dia memasukkan ponselnya kedalam sakunya, kemudian masuk ke dalam bandara. Di dalam bandara, walaupun sore hari masih tetap ramai orang yang hendak bepergian dan baru pulang.

Dia berdiri diam sesaat di bandara, matanya di tengah kesibukan dan kepadatan bandara itu tetap bisa menangkap seseorang. Seorang petugas bandara.

 "Mungkin dia."

Berlin menghampiri petugasnya.

 "Miami. Pak."

Petugas pria itu menaikkan salah satu alisnya.

 "Berlin?"

Berlin sedikit terkejut, "Iya."

Petugas itu langsung tersenyum ramah, "Ikuti saya."

Petugas itu berjalan, diikuti Berlin dari belakang. Lama berjalan, petugas itu menghantar Berlin sampai ke pintu utama yang jika mereka melewati pintu itu maka akan langsung terlihat lapangan terbang pesawat.

 "Baik, Pak Berlin. Lihat pesawat tipe Embraer Phenom itu yang terparkir di sana?" Tanya petugasnya.

 "Lihat, di sana ada seorang pilot yang berdiri di dekat tangga untuk naik ke pesawat. Itu pesawat yang akan mengantarkan anda ke Miami."

 "Baik." Ucap Berlin.

Dia kemudian berjalan menuju pesawat pribadi itu sambil menyeret koper yang juga berwarna hitam di belakangnya.

 "Benar dugaanku, pengedar narkoba." Gumam Berlin saat berjalan.

Setibanya di pesawat.

 "Silahkan naik, Pak Berlin. Seseorang telah menunggu anda di dalam."

Berlin hanya mengangguk, dia kemudian berjalan masuk ke dalam pesawat pribadi.

Saat berada di dalam pesawat, bukan Mr. Arns yang dia lihat. Tapi seorang perempuan yang berpakaian sama seperti dirinya dengan sebuah kacamata hitam tengah duduk di dalam.

 "Siapa dia?"

Pilot yang telah naik ke dalam menjawab, "Panggil saja Paris."

Berlin kemudian duduk. Dia memandang ke Paris yang sedang tertidur di dalam.

Dia memandang Paris beberapa saat.

Sementara Paris yang tengah tertidur tidak sadar akan siapa yang sudah ada di dalam pesawat selain dirinya.

...****************...

Jam 21.30 waktu setempat.

Miami.

Di dalam sebuah rumah.

Mr. Arns dengan setelan jas berwarna hitamnya duduk di sofa, dihadapannya seorang laki-laki tengah sibuk memperhatikan ponsel daripada memperhatikan Mr. Arns.

 "Bagaimana, apakah anda setuju?"

Laki-laki yang memiliki rambut pendek ikal itu tetap tidak memperdulikan Mr. Arns.

 "Berapa tadi?" Tanyanya.

 "120 ribu dolar."

Laki-laki itu diam sesaat.

 "Di mana?"

 "Meksiko."

Laki-laki itu tersenyum.

 "Beres."

Mr. Arns terdiam sejenak. Dia menaikkan kedua alisnya seakan-akan dia tidak percaya ada yang menerima tawarannya begitu cepat.

 "Baiklah. Jika ada yang bertanya soal namamu, jawab dengan nama Moskow."

 "Aman." Sela Moskow.

Mr. Arns berdiri.

 "Besok pagi, temui kami di hotel. Alamatnya akan kukirim kepadamu esok hari."

Moskow ikut berdiri.

 "Siap, Pak bos." Ucapnya sambil sedikit bercanda.

Mr. Arns kemudian pergi.

Sementara itu di tempat lain.

Di dalam sebuah hotel yang cukup mewah di kota Miami.

Berlin dengan mata yang tertutup duduk di kasur, di sampingnya ada Paris yang matanya juga tertutup. Tangan mereka berdua memang tidak diikat, hanya mata mereka yang ditutup saat pesawat mendarat.

Sebelum berpisah, Mr. Arns memberi satu perintah terakhir. Tidak boleh ada percakapan satu sama lain sampai ia datang.

 "Sialan. Belum pernah aku diperlakukan seperti ini." Ucap Berlin yang bergumam.

Paris mendengarnya, tapi ia tidak menggubrisnya karena harus mengikuti perintah dari Mr. Arns.

 "Astaga. Siapa sih yang ada di ruangan ini jugak, kasar banget." Ucapnya di dalam pikirannya sendiri.

...****************...

Sementara itu, di dalam sebuah mobil. Kali ini bukan mobil BMW hitam, tapi hanya sebuah mobil sedan berwarna putih biasa.

 Mr. Arns duduk di dalamnya, perasaannya cukup lega.

 "Astaga, sungguh seperti anak-anak."

 "Bisa-bisanya dia langsung menerima tawaranku begitu saja tanpa memikirkan itu sebelumnya sama seperti Berlin dan Paris."

 "Walaupun begitu, besok harinya. Besok akan ada briefing untuk mereka bertiga."

 "Di hotel itu, di pintu kamarnya ada seorang penjaga dariku. Agar Paris dan Berlin tidak pergi keluar sebelum aku datang."

Ucap Mr. Arns sendirian di dalam mobilnya.

1
IRAWAN
Gimana guys
Firmahadi
keren bg lanjutkan
Koke
Mirip Film Sicario
IRAWAN: mwhwhwh maw tak miripin bb bng🤭🤭
total 1 replies
Protocetus
Santuy bang 😅
Protocetus: keren lanjutkan Bang Irawan 💪
total 2 replies
Protocetus
Akhirnya Bang Irawan kembali 💪
IRAWAN: Akhirnya bang Proteocetus balik 🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!