Azalea yang tidak mau dijodohkan dengan pria bernama Agam, anak dari teman ayahnya mencoba berbagai cara agar perjodohan itu tidak jadi dilaksanakan.
Segala macam cara pun dilakukan oleh Alea agar membuat Agam membenci dirinya dan mundur dari perjodohan itu.
Agam yang tidak ingin membuat Alea semakin terjerumus ke hal hal yang negatif hanya karena tidak ingin dijodohkan dengan dirinya pun akhirnya memutuskan untuk pergi menjauh dan menghilang dari kehidupan Alea.
Namun, disaat Agam sudah pergi, Alea baru menyadari jika di hatinya sudah terpaut kepada pemuda baik itu dan Alea pun merasa sangat kehilangan.
Lalu, bagaimana jadinya, jika sepuluh tahun kemudian keduanya pun kembali dipertemukan dengan Agam yang akan dijodohkan dengan wanita.
Akankah Alea merelakan Agam untuk bersama dengan wanita lain di saat dia sendiri sudah jatuh cinta kepada pria itu? Atau, Alea akan berusaha untuk mendapatkannya kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Azalea
Satu Bulan Kemudian…
“Alea, Agam sudah datang, Nak!”
Alea yang sedang berdiri di depan cermin langsung menghela nafas panjang saat mendengar suara Bunda Ratna yang memberitahu jika Agam sudah datang.
“Lagi?”
Ia menatap pantulan dirinya sendiri dengan wajah kesal.
“Kenapa sih dia harus datang setiap hari? Katanya seorang CEO. Mana ada seorang CEO datang setiap hari hanya untuk antar jemput anak kuliahan.” gumamnya menahan kesal.
Satu bulan telah berlalu dari malam pertemuan itu dan sejak saat itu, Agam datang hampir setiap hari hanya untuk mengantarkan Alea ke kampus.
Dengan langkah malas, Alea mengambil tas kuliahnya. Begitu turun ke lantai bawah, ia sudah melihat Agam sedang duduk santai di ruang tamu bersama ayahnya.
Pria itu bahkan sudah terlihat sangat akrab dengan seluruh penghuni rumahnya.
“Pagi Ayah, pagi Kak.” sapanya dengan nada malas yang sudah tidak bisa ia tutupi lagi.
“Pagi juga, Alea. Sudah siap?”
“Sudah.”
“Kalau begitu, ayo.”
“Ayah. Alea berangkat kuliah dulu.”
“Iya, Nak. Hati-hati di jalan, ya. Jangan lupa makan siang.”
“Iya, Yah.”
Alea kembali menghela nafas. Namun, ia tetap berjalan mengikuti Agam menuju mobil.
Begitu pintu mobil tertutup dan kendaraan mulai meninggalkan halaman rumah, Alea langsung menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi, menatap pemandangan diluar jendela mobil.
Beberapa menit berlalu. Agam yang sedang fokus menyetir akhirnya melirik sekilas. Menyadari jika kali ini, Alea jadi sangat pendiam.
“Kamu sakit?”
“Tidak.”
“Kalau tidak sakit, kok tumben diam?”
“Lagi gak pengen ngomong aja.”
“Kamu marah?”
“Nggak.”
“Kalau nggak. Kenapa jawabannya ketus sekali. Kamu terlihat lagi kesal.”
“Aku tidak kesal.” jawabnya lagi membuat Agam tersenyum tipis.
“Kalau begitu, wajahmu memang dari sananya seperti orang kesal, ya?”
Seketika, Alea langsung menoleh. Menatap Agam dengan tatapan tidak yang sangat memperlihatkan kekesalannya.
Melihat reaksi Alea, Agam langsung tertawa kecil. Gadis itu memang sangat unik. Pemarah, manja, namun, entah kenapa, hal itu semakin membuat Agam tertarik kepadanya.
“Bercanda, Al.” lanjut Agam.
Alea mendengus lalu kembali memandang ke luar jendela.
Sejujurnya, ia tidak membenci Agam.
Pria itu sangat baik. Perhatian. Pengertian. Tidak pernah bersikap kasar. Tidak pernah pula memaksakan kehendaknya.
Apapun yang ingin ia lakukan, pasti selalu mendiskusikannya terlebih dahulu kepada Alea dan selalu meminta pendapatnya.
Bersama Agam, Alea merasa sangat dihargai dan dihormati. Namun, masalahnya hanya satu.
Agam terlalu sering berada di dekatnya. Hampir setiap hari.
Dan perhatian itu perlahan membuat Alea merasa kehilangan ruang untuk dirinya sendiri.
“Nanti sore, Kakak tidak perlu jemput.” ucap Alea sebelum turun dari mobil.
“Kenapa?”
“Ada kerja kelompok dan ngerjain nya mau di rumah di teman.”
“Temannya, perempuan, apa laki-laki?”
“Perempuan Kak. Namanya Jihan. Mau sekalian nomor teleponnya juga? Biar Kakak percaya.” jawab Alea dengan nada yang semakin ketus.
Namun, hal itu sama sekali tidak membuat Agam tersinggung ataupun marah. Pria sabar itu malah tersenyum lembut, penuh dengan kehangatan.
“Tidak perlu. Kakak percaya sama kamu. Sana masuk, sebentar lagi kelas nya di mulai.”
Tanpa berlama-lama, Alea pun langsung turun dan berlari kecil menuju gedung fakultasnya.
Sementara Agama, langsung berangkat ke kantor untuk bekerja. Keduanya pun kembali disibukkan dengan kegiatan masing-masing.
***
Siang harinya, setelah jam kuliah selesai, Alea langsung menemui sahabatnya, Jihan, di sebuah kafe yang tidak jauh dari kampus.
Begitu duduk, Alea langsung meletakkan tasnya di atas kursi.
“Aku capek.”
Jihan yang sedang menyeruput minumannya langsung mengangkat wajahnya. Menatap bingung ke arah Alea.
“Capek kuliah?”
“Bukan.”
“Capek tugas?”
“Bukan juga.”
“Capek hidup?”
Alea langsung menatap kesal ke arah Jihan. Membuat Jihan terkekeh.
“Ok, maaf, maaf.”
Alea menghela nafas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi.
“Memangnya ada apa sih,Al? Kok muka kamu butek gitu?”
Alea kembali menarik nafas panjang sebelum menceritakan semua unek-unek yang selama satu bulan ini ia pendam sendiri.
“Kamu tahu, kan,kalau aku mau dijodohkan?”
“Eemm. Sama si CEO itu, kan?”
Alea mengangguk.
“Kenapa? Ada masalah sama dia?”
“Tidak ada masalah. Dia bahkan sangat baik.”
“Lalu, kenapa wajahmu sepertinya tidak suka sama dia?”
“Dia buat aku merasa tidak nyaman.”
“Maksudnya?”
“Setiap hari dia datang ke rumah. Pagi-pagi antar aku kuliah. Sore jemput. Besoknya begitu lagi. Dan sekarang sudah berjalan satu bulan. Tidak seharipun aku bebas dari dirinya.”
Jihan menahan tawa saat mendengarkan cerita tentang kisah Alea dengan pria yang dijodohkan oleh kedua orang tuanya.
“Loh… bukannya bagus?”
“Bagus dari mana?”
“Ya... berarti dia perhatian.”
“Justru itu masalahnya!”
Alea menyandarkan kembali tubuhnya ke kursi. Dengan kesal, ia mengambil gelas minum yang sudah dipesankan oleh Jihan saat Alea masih dalam perjalanan menuju ke cafe itu.
“Aku jadi nggak punya kesempatan sedikitpun untuk menghindar.”
“Menghindar? Kenapa menghindar?”
“Aku tidak mau dijodohkan, Jihan. Aku tidak mau menikah dengannya.”
Jihan terdiam. Ia menatap sahabatnya beberapa detik. Lalu bertanya…
“Kamu masih mau membatalkan perjodohan itu?”
“Tentu saja!”
“Kenapa?”
“Karena aku belum mau menikah!”
“Kan belum disuruh menikah sekarang.”
“Tapi kalau aku terus dekat sama dia, lama-lama kedua keluarga bisa semakin berharap.”
Jihan mengangguk pelan. Mengerti akan kekhawatiran yang dirasakan oleh sahabatnya itu.
“Lalu, apa yang akan kamu lakukan?”
“Entahlah. Aku tidak tahu.”
Hening, untuk beberapa saat suasana pun menjadi hening. Hingga beberapa saat kemudian. Alea kembali bersuara.
“Kamu. Bantu dong.”
“Bantu kamu? Bantu apa?”
“Aku butuh cara supaya Kak Agam mundur dengan sendirinya.”
Jihan mengernyitkan dahi. Belum bisa mencerna dengan baik, apa yang dimaksudkan oleh sahabatnya itu.
“Kamu sudah bicarakan hal ini dengan dia?”
“Sudah. Tapi tidak ada respon apapun.”
“Kamu sudah bilang, kalau kamu tidak suka dia?”
“Sudah. Dia malah bilang kita harus saling mengenal lebih lama dulu. Baru memutuskan.”
Jihan menghela nafas. Ternyata, pria yang akan dijodohkan dengan sahabatnya itu, pria yang cukup tangguh dan gigih.
“Wah... susah juga kalau begitu.”
“Makanya aku butuh cara agar dia mundur dengan sendirinya.” jawab Alea mengangguk cepat.
Jihan terdiam. Kemudian, perlahan, senyum jahil mulai muncul di wajahnya.
“Kalau begitu… Kamu harus bikin dia ilfeel.” ucap Jihan membuat Alea mengerutkan dahi.
“Membuat dia ilfeel?”
“Eemm. Biasanya, cowok akan menghindari cewek yang membuatnya ilfeel.”
“Caranya?”
Jihan langsung bergerak, mendekatkan wajahnya ke wajah Alea.
“Selama ini kamu selalu terlihat seperti gadis baik-baik di depan dia, kan?”
“Terus?”
“Sekarang. Waktunya kamu bikin dia melihat sisi lain kamu.”
Alea menatap Jihan dengan curiga.
“Sisi lain aku? Maksudnya, gimana?”
Jihan tidak langsung menjawab.
Ia justru mengambil ponselnya, membuka sesuatu, kemudian menunjukkan layar ponsel itu kepada Alea.
Di dalam layar itu, ada video yang menunjukan situasi di sebuah tempat hiburan malam yang ada di pusat kota.
Alea langsung membelalakkan mata. Tidak percaya jika sahabatnya akan menunjukan hal seperti itu.
“Gila kamu? Masa ke tempat seperti itu?”
“Dengar dulu.”
“Aku tidak mau. Itu terlalu berbahaya.”
“Justru itu.”
Jihan menahan tawa.
“Kalau Kak Agam melihat kamu pergi ke club malam, terus melihat kamu melakukan apa yang selama ini belum pernah dia lihat, mungkin dia akan berpikir ulang tentang perjodohan ini. Atau… bisa saja dia langsung membatalkan perjodohan kalian.”
Alea terdiam. Untuk beberapa saat, gadis itu terlihat mempertimbangkan ucapan sahabatnya.
“Tapi aku belum pernah ke club malam.”
“Sekali-kali. Nggak apa-apa.”
“Aku juga tidak bisa minum minuman yang beralkohol.”
“Sedikit saja. Yang penting, bisa kecium kalau kamu habis minum.”
Alea tampak masih ragu. Ia tahu betul kalau itu adalah ide yang sangat gila dan juga berbahaya.
Namun, rasa kesalnya terhadap Agam yang terus muncul di kehidupannya setiap hari membuat pertahanannya perlahan mulai runtuh.
“Aku cuma mau membuat dia mundur. Tidak lebih.”
“Justru itu, ini yang harus kamu lakukan. Dan setelah itu semuanya selesai.”
Alea terdiam sejenak, sampai akhirnya ia pun mengangguk, menyetujui apa yang disarankan oleh Jihan.
“Baiklah. Ayo kita kesana.”