Indonesia
NovelToon NovelToon
CINTA YANG DULU KAU TOLAK

CINTA YANG DULU KAU TOLAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Kayla Rane

Wulan akhirnya terbebas dari pernikahan penuh luka setelah menceraikan Handi, suami yang kerap melakukan KDRT dan berselingkuh.

Demi menghidupi Delon dan Astrid, ia pergi ke kota dan menerima pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ART di sebuah rumah mewah.

Namun, Wulan tidak pernah menyangka pemilik rumah itu adalah Rian—lelaki yang pernah ia cintai saat kuliah, tetapi menolaknya karena menganggap Wulan bukan perempuan yang sesuai kriterianya.

Bertahun-tahun kemudian, keadaan justru berbalik. Rian mulai melihat ketulusan, ketegaran, dan kasih sayang Wulan kepada anak-anaknya. Di saat yang sama, Rian mulai menyesali pernikahannya dengan Nita, wanita karier yang lebih sibuk mengejar dunia model dan iklan daripada memperhatikan keluarga.

Rian yang dulu menolak Wulan kini perlahan jatuh cinta kepadanya. Tetapi Wulan bukan lagi gadis yang sama. Setelah melewati begitu banyak luka, mampukah ia membuka kembali hatinya untuk lelaki yang dulu pernah membuatnya merasa tidak cukup baik?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kayla Rane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 : CINTA YANG PERNAH DITOLAK

...BAB 4...

...CINTA YANG PERNAH DITOLAK...

Sore pukul tiga, setelah pekerjaan rumahnya selesai. Wulan terduduk santai di kursi halaman belakang rumah Rian, sambil memperhatikan ketiga anak itu. Delon membantu Astrid naik ke perosotan.

“Pelan-pelan, Astrid!” sahut Delon.

“Aku bisa kok!” teriaknya.

Rana yang sedang bermain bola-bola kecil tertawa melihat mereka. Wulan tersenyum.

Rumah yang awalnya terasa asing perlahan mulai dipenuhi suara anak-anak.

Namun Wulan tetap sadar diri. Ia datang ke rumah itu untuk bekerja. Tidak lebih.

Di tengah itu, Wulan tiba-tiba teringat masa lalu. Masa ketika dirinya masih menjadi seorang mahasiswa.

Saat itu, hidup terasa jauh lebih sederhana. Wulan belum menikah. Belum memiliki anak. Belum tahu seperti apa rasanya menjadi seorang ibu.

Dan belum pernah membayangkan bahwa suatu hari dirinya akan menjadi seorang perempuan yang harus bekerja keras untuk menghidupi dua anak.

Saat itulah Rian hadir dalam kehidupannya. Mereka satu kampus. Bahkan satu jurusan.

Rian dikenal sebagai mahasiswa yang paling pintar, percaya diri, dan berasal dari keluarga berada.

Sedangkan Wulan hanyalah gadis sederhana. Tidak pernah memakai pakaian mahal. Tidak pernah mengikuti pesta-pesta mewah.

Tetapi Wulan selalu merasa nyaman ketika berbicara dengan Rian. Salah satu kenangan yang paling ia ingat terjadi di perpustakaan kampus.

Saat itu Wulan membawa terlalu banyak buku. Rian tiba-tiba mengambil beberapa buku dari tangannya.

“Biar aku bantu.” Rian menghampiri menawarkannya bantuan.

Wulan tersenyum malu. “Terima kasih.”

“Kamu selalu bawa buku sebanyak ini?”

“Iya.”

“Tidak capek?”

“Kalau buat belajar, tidak.”

Rian tertawa kecil.

Percakapan sederhana itu membuat Wulan semakin menyukai lelaki tersebut. Apalagi mereka sama-sama pintar dan selalu mendapat IPK tertinggi di kampusnya. Bicara mereka selalu nyambung, apalagi soal membahas materi kuliah. Perasaan itu tiba-tiba tumbuh tanpa ia sadari.

Sampai akhirnya suatu hari, Wulan memberanikan diri mengungkapkan perasaannya.

Mereka duduk di bangku taman kampus. Wulan menggenggam ujung tasnya erat-erat.

“Rian.”

“Hm?”

“Aku mau ngomong sesuatu.”

Rian menoleh. “Apa?”

Wulan menarik napas panjang. “Aku suka sama kamu.”

Rian terdiam. Senyum Wulan perlahan menghilang. Ia sudah menyiapkan hati untuk mendengar jawaban apa pun.

Namun tetap saja, kalimat berikutnya terasa menyakitkan.

“Maaf, Wulan.”

Wulan menunduk.

“Aku nggak bisa membalas perasaan kamu.”

“Kenapa?”

Rian menghela napas.

“Kamu perempuan baik.”

Wulan menatapnya.

“Tapi menurutku kita nggak cocok.”

“Tidak cocok?”

Rian mengangguk. “Aku punya kriteria sendiri tentang perempuan yang ingin bersamaku.”

Wulan terdiam.

“Perempuan yang lebih modern. Yang kehidupannya sejalan denganku.” ujar Rian.

Tidak ada hinaan dalam suara Rian. Namun justru itu yang membuat Wulan semakin sakit.

Ia tahu maksud lelaki itu. Dirinya terlalu sederhana. Keluarganya biasa saja. Kehidupannya tidak sebanding dengan keluarga Rian.

Wulan mencoba untuk tersenyum. “Oh.”

“Aku harap kamu nggak marah.”

Wulan menggeleng. “Aku nggak marah.”

Tetapi malam itu, ia menangis seorang diri di kamar.

Bukan karena Rian telah menyakitinya dengan kata-kata kasar. Melainkan karena untuk pertama kalinya Wulan merasa dirinya tidak cukup baik.

Sejak hari itu, ia mulai menjauhi Rian. Tidak lagi mencari alasan untuk bertemu.

Tidak lagi menunggu Rian di perpustakaan. Tidak lagi mengirim pesan.

Jika mereka berpapasan, Wulan hanya memberikan senyum tipis. Lalu pergi. Perlahan, hubungan mereka benar-benar berakhir.

“Bu Wulan?” Suara Mira membuat Wulan tersadar.

Wulan berkedip. “Iya, Bu?”

“Kok melamun?”

Wulan tersenyum. "Ah iya maaf,"

Mira melihat ke arah halaman. “Anak-anak senang sekali.”

“Iya.”

“Delon dan Astrid cepat beradaptasi juga. Apalagi Rana dia senang sekali akhirnya punya teman bermain..." ucap Mira.

“Syukurlah.”

Mira kemudian berkata lagi, “Ibu memang sudah pernah cerita kalau Ibu janda dan punya dua anak. Tapi saya lihat Ibu cukup kuat.”

Wulan tersenyum kecil. “Harus kuat, Bu.”

Mira mengangguk.

“Kalau bukan kita yang berjuang untuk anak-anak, lalu siapa lagi?” Wulan hanya mengangguk kecil, Ia tidak lagi melanjutkan ceritanya.

Wulan memang tidak suka membicarakan kehidupan pribadinya. Terutama tentang Handi. Ia tidak ingin orang lain mengetahui terlalu banyak tentang luka yang pernah dialaminya.

Termasuk Rian.

Tanpa Wulan sadari, seseorang sedang berdiri di pintu belakang rumah. Baru saja pulang dari pekerjaannya.

Rian.

Ia tidak sengaja mendengar percakapan mereka.

Sebenarnya sejak mengetahui Wulan bekerja di rumahnya, Rian sudah menyimpan banyak pertanyaan.

Mira pernah mengatakan kepadanya bahwa Wulan adalah seorang janda dengan dua anak.

Rian juga tahu Wulan baru saja bercerai. Tetapi hanya itu. Tidak lebih. Rian tidak tahu bagaimana kehidupan Wulan selama bertahun-tahun setelah mereka lulus.

Tidak tahu siapa suaminya. Tidak tahu apa yang terjadi dalam rumah tangganya.

Dan tidak tahu mengapa perempuan yang dulu selalu ceria itu sekarang menjadi sangat tertutup.

Setiap kali Rian mencoba membuka percakapan mengenai kehidupan pribadi Wulan, perempuan itu selalu memberikan jawaban singkat.

Seolah-olah ada pintu yang sengaja ia tutup rapat. Dan Rian semakin penasaran. Bukan karena ingin mencampuri. Setidaknya, itulah yang ia katakan kepada dirinya sendiri.

Ia hanya ingin tahu. Bagaimana kehidupan Wulan setelah mereka berpisah?

Bagaimana perempuan yang dulu dikenalnya sebagai gadis sederhana dan ceria itu bisa menjadi ibu dari dua anak?

Dan mengapa sekarang ia harus bekerja begitu keras?

Rian menghela napas. Ia bahkan merasa aneh pada dirinya sendiri.

Dulu, ketika Wulan menyukainya, ia tidak pernah berusaha mencari tahu kehidupan perempuan itu lebih jauh.

Sekarang, setelah bertahun-tahun berlalu, justru ia yang diam-diam ingin mengetahui lebih banyak.

Pukul setengah lima sore, suara mobil terdengar memasuki halaman.

Wulan yang sedang merapikan ruang tamu menoleh. Mira segera berjalan menuju pintu.

Seorang perempuan turun dari mobil. Penampilannya sangat rapi. Kacamata hitam menutupi sebagian wajahnya. Rambutnya tertata sempurna. Ia membawa beberapa tas besar.

Nita.

Istri Rian.

“Haah, capek sekali.” keluhnya. Nita masuk sambil menghela napas.

Mira menyambutnya. “Baru pulang, Bu?”

“Iya. Penerbangannya lama.”

“Dari mana?”

“Singapura.”

Mira mengangguk. “Besok langsung kerja lagi?”

“Iya, besok aku ada pemotretan. Lusanya ada syuting iklan.” Nita melepas kacamatanya. “Aku benar-benar butuh istirahat.”

Kemudian matanya berhenti pada Wulan. “Dia siapa?”

Wulan segera menghampiri. “Saya Wulan, Bu.”

“Oh.” Nita mengingat sesuatu. “Pengasuh Rana?”

“Iya.”

Nita mengangguk. “Bagaimana Rana?”

“Baik. Sedang bermain di halaman.”

Nita langsung berjalan ke sana. Begitu melihat ibunya, Rana berlari kecil.

“Mama!” teriaknya.

Nita berjongkok dan memeluk putrinya. “Rana kangen Mama?”

Rana mengangguk.

Namun beberapa saat kemudian, anak itu menoleh ke arah Wulan.

“Mama Wulan!”

Wulan tersenyum. “Iya, Sayang.”

Nita memperhatikan. “Dia memang dekat dengan kamu?”

“Lumayan, Bu.”

Nita diam sebentar. Kemudian berkata, “Baguslah.” Lalu Ia berdiri. “Bu Wulan.”

“Iya?”

“Saya cukup sering pergi karena pekerjaan.”

Wulan mengangguk. “Saya mengerti.”

“Jadi saya ingin Rana benar-benar dijaga. Makannya, mandinya, tidurnya, pokoknya semuanya.”

“Tentu, Bu.”

“Kalau dia sakit atau ada sesuatu, segera kabari saya.”

“Baik.” angguk Wulan.

Nita mengambil salah satu tasnya. “Saya akan istirahat. Soalnya besok pagi harus berangkat lagi.”

Wulan mengangguk lagi. “Silakan, Bu.”

Nita kemudian masuk ke rumah. Wulan kembali memperhatikan Rana. Ia tidak ingin menilai Nita.

Bagaimanapun, Nita adalah ibu kandung anak itu. Dan Wulan tidak datang untuk mengambil tempat siapa pun. Ia hanya ingin bekerja.

Malamnya, Rian duduk di ruang kerja. Pekerjaannya sebenarnya masih banyak.

Namun pikirannya justru tertuju kepada percakapan Wulan dengan Mira siang tadi.

Harus kuat.

Kalau bukan kita yang berjuang untuk anak-anak, lalu siapa lagi?

Kalimat itu terus terngiang.

Rian membuka laptop. Kemudian menutupnya lagi. Ia bersandar di kursi.

Tanpa sadar, pikirannya kembali ke masa kuliah.

Wulan yang dulu pernah berdiri di hadapannya. Wulan yang pernah mengatakan menyukainya.

Dan dirinya yang menolak perempuan itu karena merasa mereka tidak cocok.

Rian mengusap wajah. Sudah bertahun-tahun berlalu.

Namun sekarang, ketika melihat Wulan menjadi perempuan yang jauh lebih kuat, entah mengapa ia mulai mempertanyakan keputusan masa lalunya. Bukan tentang cintanya Wulan padanya. Hanya sebuah pertanyaan sederhana yang tiba-tiba mengusik pikiran Rian.

Sebenarnya, kehidupan seperti apa yang sudah dilalui Wulan selama bertahun-tahun ini? gumam Rian dihatinya.

Tetapi Rian tahu, Wulan tidak akan mudah menjawabnya. Perempuan itu sudah berubah.

Dulu dia sangat terbuka. Sekarang lebih tertutup. Dulu mudah tersenyum kepadanya. Sekarang ia selalu menjaga jarak. Dan mungkin, Rian memang tidak berhak mengetahui apa pun.

Sementara itu, di kamar lain, Wulan sedang membantu Delon merapikan buku sekolahnya. Sedangkan Delon masih mengerjakan tugas rumah.

"Delon kalau sudah mengerjakan tugas sekolahnya cepat tidur ya Nak."

"Iya Ma.." Delon segera membereskan buku tulisnya dan alat tulisnya lagi.

"Maa, Astrid udah ngantuk.." Astrid menghampiri Ibunya sambil memeluk boneka kurominya.

"Ya sudah ayo tidur."

"Kelonin..." pintanya manja.

"Baiklah..."

Wulan tersenyum. Lalu memangku Astrid ke tempat tidur. Inilah kehidupannya sekarang. Bukan masa lalu.

Bukan Rian. Bukan lelaki yang pernah menolaknya. Hanya dirinya, Delon, dan Astrid. Dan Wulan ingin tetap seperti itu.

Bersambung...

1
Lisa
Rian harus tegas..milih Wulan atau Clarisa..
falea sezi
laki g punya pendirian klo.mau ma. Clarisa jauhin wulan😒 serakah jd. laki. jangan php
falea sezi
cari krja di tempat lain aja rian aja plin plan🤣
araaself
lanjutt
Lisa
Clarisa ini ganggu suasana rumah aj..tiap hari dtg ke rmhnya Rian..moga aj Rian g tertarik pd Clarisa 🤭
Lisa
Aduh Bu Ranti dtg lg..ganggu aj nih
Lisa
Pasti Rian g mau menerima perjodohan itu
Lisa
Bu Ranti ini cerewet banget..
falea sezi
cari krja di tempat lain wulan😒
falea sezi
pergi aja wulan cari krja lain 😒 ngapain di injak2 gt meski cm. pembokat 😒
Lisa
Bu Ranti aj yg pergi dr rumahnya Rian..benar Rian kmu harus tegas terhadap ibumu..Wulan ga salah..
falea sezi
klo ikut ngatur krja g nyaman keluar aja cari krja lain😒 bawel amat lampir
Lisa
Ranti ini ikut campur aj dlm RT nya Rian..udh mending balik ke rmhmu sana Bu 🤭😊
Lisa: 😊😊 ya Kak
total 2 replies
Lisa
Ibunya Rian ini mengganggu ketenangan aja..udh biarkan Rian mengatur hidupnya sendiri.
Lisa
Ngapain juga Handi peduli sama Wulan..toh mrk udh bercerai dan dari dulu Handi terpaksa nikah dgn Wulan
Lisa
Rian mulai jatuh cinta lg nih 😊
falea sezi
🤣🤣mampus sok cari yg modern makan itu cwek. modern😒😒😒 sukurin dapet istri spek jalang
✨Kayla Rane✨: hahaaa😂 bener k
total 1 replies
Lisa
Handi emg kejam bgt..cpt sembuh y Wulan dr luka fisik & luka batinnya..skrg kmu punya Rian yg selalu ada utkmu..
Lisa
Udh Handi g usah ngawasi Wulan terus..urus aj hidupmu sendiri.
✨Kayla Rane✨
Terimakasih atas dukungannya ♥️♥️♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!