Di mata dunia, Kim Seokjin adalah Devil.
CEO KIMS GROUP. Dingin. Kejam. Tanpa ampun.
Satu keputusannya bisa membuat EX GROUP bangkrut dalam semalam.
Tapi di rumah...
Dia hanya seorang Hyung.
8 tahun lalu dia berjanji pada ayahnya: "Aku akan menjaga Tae."
Sekarang dia menepati janji itu dengan cara yang salah.
Menelan obat di toilet kantor. Menahan darah di balik jas mahal.
Tersenyum untuk 8 orang yang dia sayangi.
Leukimia. Stadium akhir.
Rahasia yang tidak boleh diketahui oleh Malaikat kecilnya, Taehyung.
Saat EX GROUP mulai mengancam nyawa Tae, Seokjin harus memilih.
Tetap menjadi Devil yang melindungi...
Atau runtuh sebagai Malaikat yang akhirnya butuh dilindungi.
"Di luar aku iblis, Tae. Tapi di depanmu... aku cuma hyungmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi_BtsOt7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
Yoongi berdiri di depan jendela kantornya, menatap mobil hitam Jin yang melaju cepat keluar dari gerbang Kim Corp. Arahnya bukan menuju apartemen Jin, melainkan menuju distrik Gangnam yang padat-area yang berlawanan dengan arah rumah Jin.
"Urusan darurat keluarga," kata Jin tadi. Tapi Yoongi tahu betul keluarga Jin hanya terdiri dari Tae, dan Tae sedang berada di kampus sebelah utara Seoul. Selain itu, nada suara Jin tadi terdengar panik, bukan sedih atau khawatir layaknya urusan keluarga biasa. Ada sesuatu yang salah. Sangat salah.
Yoongi mengambil ponselnya. Ia tidak bisa menghubungi Jin karena nomor bosnya itu pasti sudah dalam mode silent atau bahkan dimatikan. Ia butuh bantuan. Bantuan dari orang-orang yang sama-sama mengenal Jin lebih dari sekadar "Sajangnim".
Ia menelepon Hoseok.
"Hoseok," sapa Yoongi begitu telepon tersambung. "Jin-hyung pergi tiba-tiba. Dia membatalkan meeting dengan Kyungsoo dan bilang ada urusan keluarga. Tapi mobilnya menuju Gangnam Selatan. Aku curiga."
Di seberang sana, hening sejenak. Lalu suara Hoseok terdengar serius, jauh dari nada cerianya biasanya. "Gangnam Selatan? Area itu banyak klub eksklusif dan tempat pertemuan bisnis gelap. Kau pikir dia bertemu seseorang?"
"Aku yakin dia dalam bahaya, Hobi-ah. Wajahnya pucat sekali tadi. Dan dia gemetar." Yoongi menggigit bibirnya. "Aku ingin mengikutinya, tapi aku butuh backup. Jika terjadi sesuatu, aku tidak bisa menghadapinya sendiri."
"Aku akan jemput kau di lobi bawah. Bawa Namjoon juga. Dia punya akses ke sistem pelacakan lalu lintas kota jika kita butuh data cepat. Kita ikuti Jin dari jarak aman. Jangan sampai dia tahu."
Sepuluh menit kemudian, Yoongi, Hoseok, dan Namjoon sudah berada di dalam mobil SUV hitam milik Hoseok. Namjoon duduk di kursi penumpang depan dengan laptop terbuka di pangkuannya, sementara Yoongi dan Hoseok di belakang.
"Aku sudah melacak sinyal GPS dari ponsel Jin Hyung," kata Namjoon tanpa menoleh, jari-jarinya menari cepat di keyboard. "Dia berhenti di sebuah gedung parkir bawah tanah dekat klub 'The Vault'. Klub itu... reputasinya cukup buruk akhir-akhir ini. Sering dijadikan tempat negosiasi bawah tangan."
Hoseok mengerutkan kening. "The Vault? Kenapa Jin Hyung pergi ke tempat seperti itu sendirian? Itu bukan gaya dia."
"Mungkin dia dipaksa," gumam Yoongi, matanya terpaku pada jalan raya yang macet. Perasaannya semakin tidak enak. Dada nya sesak.
Mereka tiba di area tersebut lima belas menit setelah Jin. Mereka memarkir mobil di seberang jalan, menyamar sebagai pelanggan kafe terdekat. Dari jendela mobil, mereka melihat sosok Jin berjalan masuk ke pintu utama The Vault. Jin terlihat goyah, langkahnya tidak mantap. Dia memegang kepalanya dengan satu tangan.
"Hobi-ah, lihat itu," tunjuk Yoongi. "Dia sakit. Dia benar-benar sakit."
Hoseok membuka pintu mobil, wajahnya tegang. "Kita harus masuk. Sekarang."
"Tunggu, Hyung," cegah Namjoon. "Jika kita masuk sekarang dan mengganggu pertemuan mereka, Jin Hyung mungkin akan marah atau malah situasi menjadi lebih kacau. Biarkan mereka masuk dulu. Aku akan mencoba menyadap audio dari luar jika memungkinkan, atau setidaknya memantau siapa yang keluar masuk."
Yoongi menggelengkan kepala. "Tidak bisa. Jika Jin Hyung dalam bahaya, setiap detik berharga. Aku merasa ini berkaitan dengan ancaman yang dia terima tadi siang. Telepon misterius itu."
Hoseok menepuk bahu Yoongi. "Kita masuk bersama-sama. Jaga jarak. Jika Jin Hyung terlihat dalam bahaya fisik, kita langsung bertindak. Namjoon, tetap di sini sebagai pos komando. Hubungi keamanan pribadi kita jika diperlukan."
Mereka bertiga-Yoongi, Hoseok, dan dua pengawal pribadi yang diam-diam dipanggil Hoseok melalui earpiece-masuk ke dalam The Vault. Suasana di dalam klub itu gelap, berisik, dan penuh asap rokok. Musik bass yang berat bergetar di dada.
Mata Yoongi segera mencari sosok Jin. Ia menemukannya di sudut ruangan VIP yang terpisah oleh kaca tebal. Di sana, Jin duduk berhadapan dengan dua pria. Xiumin dan Chen.
Wajah Jin terlihat sangat buruk. Pucat, berkeringat dingin, dan tangannya gemetar saat memegang gelas air di depannya. Xiumin tersenyum sinis, sedangkan Chen tampak santai sambil memainkan pisau buah di atas meja.
Yoongi, Hoseok, dan pengawal mereka bersembunyi di balik pilar dekat bar, mengamati dari kejauhan. Karena kaca kedap suara, mereka tidak bisa mendengar percakapan, tetapi bahasa tubuh Jin menunjukkan ketegangan ekstrem.
Tiba-tiba, Jin berdiri. Kakinya lemas, dan ia hampir terjatuh. Xiumin tertawa, menunjuk-nunjuk Jin dengan ejekan. Chen ikut tertawa.
"Hoseok, kita harus masuk!" desis Yoongi, tangannya sudah mengepal.
"Tunggu," kata Hoseok, matanya tajam memperhatikan gerakan Chen. Chen mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari jaketnya dan melemparkannya ke arah Jin. Jin menangkapnya dengan susah payah.
Saat itulah, tubuh Jin akhirnya menyerah.
Di balik kaca, mereka melihat Jin memegang kepalanya erat-erat, wajahnya meringkuk kesakitan. Lalu, secara perlahan, lututnya menekuk. Jin ambruk ke lantai, tak sadarkan diri. Gelas air jatuh dan pecah.
Xiumin dan Chen tampak terkejut sesaat, lalu wajah mereka berubah panik. Mereka tidak berniat membunuh Jin, hanya ingin mengintimidasi dan mendapatkan dokumen. Kematian Jin di tempat umum seperti ini akan membawa bencana bagi mereka.
"Sekarang!" teriak Hoseok.
Mereka menerobos masuk ke ruang VIP. Pengawal pribadi Hoseok segera mengamankan Xiumin dan Chen yang mencoba kabur melalui pintu belakang, sementara Yoongi berlari menghampiri tubuh Jin yang terbaring di lantai karpet mahal.
"Jin-hyung! Jin-hyung!" seru Yoongi, suaranya pecah. Ia meraba nadi Jin. Lemah, tapi masih ada. Napasnya dangkal.
Hoseok berlutut di sisi lain, memeriksa kondisi Jin. "Dia panas sekali. Dan ada darah di hidungnya." Hoseok mengangkat kepala Jin dengan hati-hati. "Namjoon! Panggil ambulans! Cepat! Ke Rumah Sakit St. Mary's, yang punya spesialis saraf terbaik!"
Dari kejauhan, Namjoon yang memantau lewat kamera CCTV klub (hasil hack cepat) sudah menelepon darurat. "Ambulans sudah dalam perjalanan, Hyung! 5 menit lagi!"
Xiumin, yang ditahan oleh pengawal, berteriak, "Ini bukan kesalahan kami! Dia pingsan sendiri! Kami hanya bicara bisnis!"
Hoseok menoleh padanya dengan tatapan membunuh yang membuat Xiumin diam seketika. "Jika Jin Hyung kenapa-napa, kalian berdua akan menghabiskan sisa hidup kalian di penjara. Aku janji."
Yoongi membelai rambut Jin yang basah oleh keringat. Air mata mengalir deras di pipinya. "Bertahanlah, Hyung. Tolong... jangan tinggalkan kami. Tae masih menunggu hyung pulang..."
Di tengah keributan itu, Jin tidak sadar apa-apa. Dunia baginya telah menjadi gelap total. Namun, untuk pertama kalinya, ia tidak sendirian. adik-adiknya ada di sana, siap melawan dunia demi nyawanya.
Rencana Xiumin dan Chen untuk mempermalukan dan memeras Jin telah gagal total. Bukan karena strategi bisnis yang hebat, tapi karena cinta dan kesetiaan keluarga yang mereka remehkan.