Indonesia
NovelToon NovelToon
Tunangan Palsu Tuan Muda Mafia

Tunangan Palsu Tuan Muda Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: lizzy Bae

Anya, seorang wanita biasa yang hidupnya tenang, terpaksa terjebak dalam kesepakatan berbahaya untuk menjadi tunangan palsu Kenji, Tuan Muda dari klan mafia paling ditakuti, selama enam bulan demi melunasi utang ayahnya.
Rencananya tampak sederhana, hanya perlu berpura-pura jatuh cinta di depan publik, namun Anya segera menyadari bahwa hidup di sisi Kenji berarti menghadapi dunia yang gelap dan mematikan, di mana pengkhianatan, pertumpahan darah, dan ancaman dari geng rival menjadi makanan sehari-hari.
Anya harus berjuang bertahan hidup di jaring kekejaman mafia sambil melawan perasaan terlarang yang mulai tumbuh untuk pria berbahaya yang hidupnya selalu berlumuran darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lizzy Bae, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Anya menarik napas dalam-dalam lalu mengangkat dagunya, merespons sistem dengan memilih opsi kedua.

"Terima kasih atas peringatannya, Nyonya Martha."

"Tapi nyawaku sudah terancam sejak tadi malam, jadi aku akan berusaha keras untuk bertahan hidup di sini."

Nyonya Martha mendengus pelan, tapi ada sedikit kilat ketertarikan di balik matanya.

"Kita lihat saja nanti seberapa lama kau bisa bertahan."

Cklek.

Nyonya Martha membuka sebuah pintu ganda yang sangat besar terbuat dari kayu berukir.

Anya terkesiap melihat kamar tidur yang ukurannya jauh lebih besar dari seluruh rumah kontrakannya.

Sebuah ranjang ukuran king size dengan seprai sutra merah marun berada tepat di tengah ruangan.

"Ini kamarmu, kamar yang terhubung langsung dengan kamar utama Tuan Muda di sebelah sana."

Nyonya Martha menunjuk sebuah pintu penghubung tebal di sudut ruangan.

"Masuk ke kamar mandi sekarang, pelayan lain akan menyikat tubuhmu sampai benar-benar bersih."

Dua jam berikutnya adalah siksaan fisik yang sangat nyata bagi Anya.

Tiga orang pelayan wanita menggosok kulitnya dengan sabun wangi, mencabuti alisnya, dan memotong rambutnya sedikit.

Sruk. Sruk. Sruk.

"Aduh, tolong pelan-pelan sedikit," keluh Anya saat rambutnya ditarik paksa ketika disisir.

"Tahan sedikit, Nona, rambut Anda sangat kusut," jawab pelayan itu tanpa mengurangi tenaganya sama sekali.

Setelah dimandikan dan dipoles sana-sini, Anya diberikan sebuah gaun tidur sutra berwarna hitam.

Dia menatap pantulan dirinya di depan cermin besar yang terletak di dekat lemari pakaian.

Kulitnya yang kusam kini terlihat lebih cerah, dan luka di pipinya sudah diobati dengan rapi.

"Aku bahkan hampir tidak mengenali diriku sendiri sekarang," batin Anya merasa heran.

Cklek.

Pintu penghubung dari kamar Kenji tiba-tiba terbuka lebar tanpa ada suara ketukan sama sekali.

Anya tersentak kaget dan refleks menyilangkan tangan untuk menutupi dadanya meski gaun itu tidak terlalu terbuka.

Kenji berjalan masuk ke kamar Anya dengan hanya mengenakan kemeja putih yang kancing atasnya dibiarkan terbuka.

Rambut pria itu terlihat sedikit basah, menandakan dia juga baru saja selesai mandi.

"Keluar kalian semua dari sini," perintah Kenji pada Nyonya Martha dan para pelayan.

"Baik, Tuan Muda," jawab mereka serempak lalu bergegas keluar dari kamar Anya.

Blam.

Pintu utama ditutup rapat, meninggalkan Kenji dan Anya berdua saja di kamar yang luas itu.

Anya mundur selangkah saat Kenji berjalan perlahan mendekat ke arahnya.

Aroma maskulin dari sabun mandi dan parfum mahal pria itu langsung memenuhi udara di sekitar mereka.

Kenji berhenti tepat di depan Anya, menatapnya dengan tatapan menilai yang tajam seperti sebelumnya.

"Martha bekerja dengan lumayan baik, kau tidak terlihat seperti gelandangan jalanan lagi sekarang."

"Terima kasih," jawab Anya dengan sangat canggung karena tidak tahu harus merespons apa.

Kenji menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil terus menatap mata Anya dalam-dalam.

"Dengarkan aturan ini baik-baik, karena aku tidak akan pernah mengulanginya."

"Pertama, di depan anggota keluarga dan publik, kau harus bersikap seperti wanita yang sangat memujaku."

"Tatap aku dengan penuh cinta, peluk lenganku saat berjalan, dan jangan pernah membantah ucapanku di depan mereka."

Anya mengangguk pelan menandakan dia mengerti tugas utamanya sebagai tunangan palsu.

"Kedua, jangan pernah keluyuran ke sayap barat rumah ini, apa pun yang terjadi."

"Memangnya apa yang ada di sayap barat?" tanya Anya penasaran tanpa bisa menahan mulutnya.

Kenji menatapnya sangat tajam hingga membuat aliran darah Anya terasa membeku seketika.

"Aturan ketiga, jangan pernah bertanya tentang hal yang tidak berhubungan dengan tugasmu."

"Keingintahuan adalah hal yang paling sering membunuh nyawa orang bodoh di dunia ini."

"Maaf, aku sangat mengerti sekarang," ucap Anya buru-buru menunduk karena ketakutan.

"Keempat, jangan pernah mencoba kabur dari rumah ini."

"Jika kau kabur, aku sendiri yang akan memburu ayahmu lalu mencincangnya untuk makanan anjing peliharaanku."

"Lalu aku akan memotong kedua kakimu agar kau tidak bisa lari ke mana-mana lagi."

Kenji mengatakannya dengan nada yang sangat datar seolah dia sedang membicarakan menu sarapan besok pagi.

Anya menggigil hebat membayangkan kengerian dari ancaman pria di depannya ini.

"Aku tidak akan kabur, aku berjanji padamu."

"Bagus."

Kenji membalikkan badannya dan berjalan kembali menuju pintu penghubung kamarnya.

"Besok malam akan ada makan malam keluarga rutin di ruang makan utama."

"Itu akan menjadi panggung pertamamu, jadi persiapkan dirimu agar tidak terlihat menyedihkan."

"Aku akan berusaha sebaik mungkin," jawab Anya sambil menatap punggung tegap pria itu.

Langkah Kenji tiba-tiba terhenti sejenak tepat di ambang pintu.

"Satu hal lagi."

Kenji menoleh sedikit ke arah belakang tanpa menatap Anya sepenuhnya.

"Jangan pernah mencoba untuk jatuh cinta sungguhan padaku."

"Karena aku sama sekali tidak tertarik pada wanita rendahan sepertimu."

Blam.

Pintu kayu itu ditutup dengan keras sebelum Anya sempat membalas ucapan sombong tersebut.

Anya menghela napas panjang lalu menghempaskan tubuhnya ke atas kasur yang sangat empuk itu.

Bruk.

"Percaya diri sekali pria es batu itu," batin Anya kesal sambil menatap langit-langit kamarnya.

"Siapa juga yang mau jatuh cinta pada pembunuh berdarah dingin dan kejam sepertinya."

[Misi Harian Tersedia: Hadiri Makan Malam Keluarga Besok.]

[Tujuan: Bertahan dari tekanan psikologis keluarga Bratadikara.]

[Hadiah: Poin Kecerdasan +2]

Anya memejamkan matanya rapat-rapat untuk mencoba mengusir layar biru itu dari pandangannya.

"Lalu ada lagi sistem gila ini, kenapa hidupku mendadak jadi seperti cerita fiksi murahan begini."

Anya berguling ke samping dan memeluk guling yang ada di sebelahnya dengan erat.

Dia tahu dia harus tidur nyenyak malam ini karena besok dia harus menghadapi peperangan yang sebenarnya.

Klotak.

Anya tiba-tiba membuka matanya lebar-lebar saat mendengar suara aneh dari arah balkon kamarnya.

Bayangan seseorang berkelebat sangat cepat melewati tirai jendelanya yang tipis.

"Siapa di sana?" batin Anya panik sambil menarik selimutnya sampai ke batas dagu.

Malam pertamanya di rumah ini sepertinya tidak akan berjalan dengan tenang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!