Dijadikan ladang emas oleh sang paman. Fio yang semula setuju dijodohkan oleh anak politisi sekaligus pengusaha besar oleh pamannya memilih berontak.
Fio bersekutu dengan Gio, mafia yang ternyata sudah lama memendam perasaan padanya. Hingga, perlahan semua tabir keluarganya terungkap.
"Aku bukan laki - laki yang bisa menyentuh perempuan sembarang. Tapi, aku juga bukan laki - laki yang bisa menahan untuk tidak menyentuh kamu." -Giorgio Abraham-
Sequel Gairah Cinta Sang Pembalap
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Kurniasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manja
Arif terbangun. Kepalanya terasa berat. Sejak semalam, ia memang pusing. Pusing memikirkan banyak hal. Fio yang tak kunjung ditemukan, ayah Gala yang terus menekan, di tambah sebuah kasus korupsi yang kini dibuka lagi dan itu berhubungan dengan dirinya.
Arif mengedarkan pandangan. Dia mencari sang istri. Biasanya, Rara menemaninya. Namun, sosok itu tak ada. Hanya ada foto – fotonya yang tergantung di sana. Foto yang kerap Arif paksa untuk berpose berdua.
“Rara.”
Arif bangkit. Dia bergerak untuk mencari.
“Rara. Di mana kamu?”
Kakinya melangkah cepat, mencari ke beberapa sudut ruangan yang biasa tempat Rara berdiam. Namun, tetap tidak ada.
Arif pun berlari keluar dan menemukan Jaka yang juga tertidur.
“Jaka!”
“Bangun!”
Pria itu masih pulas. Kedua matanya tetap terpejam dan belum siap untuk terbuka.
“Jaka!”
“Cepat bangun!”
Teraiak Arfi semakin kencang.
“Jakaaaaa!”
Seketika, pria itu terbangun sekaligus terkejut.
“Iya, Pak?”
“Dari kapan kamu tidur? Hah?”
“ Hmmm ….” Jaka berpikir.
Namun, sebelum pria itu menjawab karena jangan kan untuk ingat, kesadarannya saja belum maksimal.
“Akh, si4l!: umpat Arfi begitu melihat sisa kopi yang di atas meja.
“Kamu dapatkan kopi ini dari mana? Bibi?” tanyanya kemudian.
Jaka yang baru terjaga dan masih sakit kepalanya, menggeleng. “Bukan, Pak.”
“Siapa? Ibu?”
Jaka langsung mengangguk. karena ibu yang dimaksud Arif adalah Rara, istrinya.
“Si4l! Dia berhasil kabur.”
“Siapa yang kabur, Pak?” Jaka malah balik bertanya.
“Wedus! Zak4rmu yang kabur!”
Sontak, Jaka memegang bagian bawahnya sembari menunduk untuk memastikan. “Ada, Pak. Zak4r saya masih aman.”
Plak
Arfi memukul kepalanya. “Istri saya. Rara kabur.”
“Apa?”
Jaka kocar kacir. Setelah sekian lama ditahan di sangkar emas ini, akhirnya Rara bisa terbang bebas. Meski, Arif memberikan begitu banyak nikmat dunia padanya, tapi Rara hanya menginginkan putrinya.
Hampir dua puluh tahun, Rara tidak beremu Fiona. Bahkan, Arif tidak pernah memperlihatkan foto putrinya itu padanya. Yang Arif katakan setiap kali Rara bertanya tentang Fio selalu baik – baik saja.
“Fiona baik.”
“Fiona aman. Dia sehat.”
“Sekarang, dia sudah menjadi dokter.”
“Putrimu pintar. Dia berhasil membawa gembong psikotropika dan membuatku naik jabatan.”
Hanya kata – kata itu yang sering Rara dengar. Tentang Fiona yang katanya baik, sehat, pendidikan bagus dan sukses. Tapi, Rara tidak pernah melihat sekali pun wajahnya.
“Pak, Ibu tidak ada,” ujar Jaka setelah melalang buana menelusuri seluruh tempat di villa.
“Kamu pikir dari tadi saya tidak mencarinya? Dia sudah tidak di sini.” Arif berdiri sembari melipat tangannya di dada dan menatap ke arah jendela.
“Lalu, Ibu di mana, Pak?”
Arif menoleh pada asistennya yang bodoh ini. “Kalau saya sudah temukan Rara, saya tidak akan membangunkanmu.”
Jaka hendak kembali mencari Rara. Namun, suara menggelegar Arif menghentikannya.
“Jangan kamu cari d sini, karena istriku sudah pergi jauh dari tempat ini.”
Jaka membeku.
Tangan Arif mengepal. Masalah Fio yang kabur saja belum ditemukan, sekarang di tambah Rara.
Prang
Arif memukul cermin yang berada tepat di samping. Suara pukulan serta pecahan kaca yang berserakan membuat Jaka terkejut. Pria itu lebih kaget karena serpihan kaca yang dipukul dengan tangan kosong Arif, mengenai kepalanya hingga d4r4h mengalir.
***
“Sayang.”
Suara Gio lantang terdengar dari kamar yang sengaja sedikit terbuka. Saat keluar dari kamar usai meledek suaminya yang sudah minum obat, Fio tidak menutup pintu itu sempurna.
“Sayang.”
Suara bariton itu kembali menggelegar, membuat langkah kaki Fio yag semula terhenti karena melihat perempuan setengah baya yang tampak kebingungan di sana, kini terpaksa tidak jadi menghampirinya.
Fio berbalik dan kembali menaiki tangga untuk menemui sang suami di kamarnya.
“Apa sih, Gi?”
“Mas.”
“Aku mu dipanggil Mas.”
Permintaan Gio menggelikan. Fio menggeleng kepala dan mendekat. “Kenapa?”
Gio nyengir.
“Kamu udah enakan? Udah ga demam kan?”
Dengan tak merasa berdosa, kepalanya mengangguk. “Lumayan.”
“Coba dari tadi minum obat. Demamnya ga akan larut seperti ini. Ngerti!”
Pria menyebalkan itu malah menggeleng. “Ini bukan karena obat yang kamu berikan.”
“Lalu?”
“Karena bibirmu.”
“Ish!” Fio bangkit dan ingin kembali keluar. Namun, tangannya ditahan.
“Sayang, aku mau ke kamar mandi.’
“Terus?”
“Temani.” Gio meminta dengan menunjukkan wajah manis yang tidak pernah diberikan pada orang lain.
Sekilas, Fio tersenyum karena wajah itu sangat lucu menurutnya. Menggemaskan? Ya. Akan tetapi, Fio harus mempertahankan harga diri. Dia menahan senyum itu dan setuju.
“Ya udah, Ayo!”
“Mandiin sekalian?”
“Gioo …” teriaknya kesal.
Gio tersenyum. “Mas, Sayang. Mas.’
Lagi – lagi, pria itu ingin dipanggil Mas. Sepertinya, Gio terobsesi dengan panggilan pria jawa yang menurutnya mesra dan penuh dengan keintiman.
Namun, dibalik itu Gio versi manja menggagalkan pertemuan istrinya dengan perempuan setengah baya yang terlihat linglung di teras rumahnya.
untung fio ga jdi tuh....eh jgn2 tuh bunda ny fio lagi...
ayah anak sama bejatnya...
Alhamdulillah up...
kan secara dia udah lama gak ketemu mama nya
ih tanggung trs sih k? fio ktm sm ibunya
ketemu sama bunda nih ..
lnjut kk...aq ampe.ngebut baca saking ketnglan bnyak😁