Satu malam, Syafiya (21) salah masuk ke kamar Zeffan (32)—kakak angkatnya sendiri. Malam terlarang itu mengubah segalanya.
Zeffan yang terbiasa dingin kini terobsesi menjadikan Syafiya wanita simpanannya. Padahal, Zeffan sudah memiliki istri anggun, Valerie (28), dan bayi berusia satu tahun.
Syafiya terjepit di antara utang budi pada Mommy Marlina dan cengkeraman obsesi Zeffan. Bisakah ia kabur, atau justru makin tenggelam dalam dosa terlarang ini?
"Kamu yang masuk ke kamarku malam itu, Syafiya. Jadi jangan mimpi bisa lepas dariku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecurigaan Marlina
"Zeffan, akhir-akhir ini Mommy lihat tingkahmu dengan Syafiya sangat berbeda dari biasanya," ucap Marlina dengan nada mengintimidasi, matanya menyipit menatap Zeffan tajam dari balik cangkir tehnya.
Mereka berdua sedang duduk di ruang tengah yang sepi. Di lantai atas, suara tangisan Elvano sempat terdengar sebelum akhirnya meredup setelah Syafiya bergegas naik untuk menghampiri dan menenangkannya.
Zeffan tidak menunjukkan rasa panik sedikit pun. Pria itu menyandarkan tubuhnya santai di sofa, menyesap kopi hitamnya sebelum menatap ibunya datar.
"Berbeda bagaimana maksud Mommy?" tanya Zeffan amat tenang.
"Kamu pikir Mommy buta, Zeffan?" tegur Marlina seraya meletakkan cangkirnya agak keras ke atas meja. "Cara kamu menatap Syafiya, cara kamu selalu ingin berada di dekatnya... bahkan caramu memegang tangannya tadi di dapur. Itu bukan tatapan seorang kakak kepada adik angkatnya!"
Zeffan menyunggingkan senyum tipis yang dingin. "Syafiya satu-satunya orang di rumah ini yang tulus merawat Elvano dan menjaga keharmonisan keluarga kita, Mom. Apa salah kalau aku memberikan perhatian lebih padanya?"
"Memberikan perhatian itu wajar, Zeffan! Tapi perhatianmu ini terasa... berlebihan!" bisik Marlina penuh penekanan, memajukan tubuhnya. "Ingat, Zeffan! Di mata hukum dan masyarakat, Syafiya itu adikmu! Dan statusmu saat ini masih suami sah Valerie sampai tes DNA itu keluar!"
"Status itu cuma kertas di atas meja, Mom," desis Zeffan berat, sorot matanya berubah kelam dan menekan. "Valerie sendiri yang menghancurkan pernikahan itu. Jangan salahkan aku kalau fokus dan perhatianku beralih pada wanita yang jauh lebih pantas berada di rumah ini."
Marlina tersentak, dadanya naik-turun menahan kaget mendengar pengakuan terselubung dari putra tunggalnya. "Zeffan... kamu gila?! Jangan katakan kalau kamu benar-benar punya perasaan terlarang pada adikmu sendiri?!"
"Syafiya bukan adik kandungku, Mom," pangkas Zeffan tegas tanpa ada keraguan sedikit pun di wajahnya. "Dia tidak punya hubungan darah sedikit pun dengan keluarga ini. Jadi berhenti menyebutnya sebagai adikku."
"Tapi Mommy yang membesarkan dia!" bentak Marlina dengan suara tertahan, wajahnya memerah karena cemas. "Apa yang akan dikatakan orang-orang kalau sampai ada rumor aneh tentang kalian berdua?! Mommy tidak mau rumah ini kena skandal lagi setelah kelakuan berengsek Valerie!"
"Tidak akan ada rumor apa pun selama tidak ada yang berani membuka mulut," balas Zeffan dingin seraya bangkit berdiri, merapikan kancing jasnya. "Dan aku sarankan Mommy tidak perlu terlalu dalam mencampuri urusanku dengan Syafiya. Biarkan semuanya berjalan seperti sekarang jika Mommy masih ingin suasana rumah ini tetap tenang."
Kamu benar banget! Tentu saja kalimat Marlina itu keliru dan janggal, mengingat Syafiya sudah diangkat sebagai anak dan dibesarkan di rumah itu sejak berumur dua tahun. Marlina pasti sudah sangat mengenal Syafiya luar dan dalam.
Berikut revisi percakapan dengan perbaikan logika cerita agar tetap konsisten dan terasa makin intens:
"Zeffan!" tegur Marlina dengan napas memburu, matanya membelalak tak percaya. "Kamu sadar tidak sama siapa kamu sedang bicara?!"
"Sadar," pangkas Zeffan dingin, menatap ibunya lurus tanpa berkedip. "Sama Mommy. Orang yang harusnya paling tahu seberapa keras kepalanya seorang Zeffan kalau sudah menetapkan pilihan."
"Tapi dia itu anak angkat Mommy, Zeffan!" bentak Marlina dengan suara tertahan, kedua tangannya mengepal di atas meja. "Mommy yang merawat dan membesarkan Syafiya di rumah ini sejak dia masih balita! Sejak usianya dua tahun! Dia sudah seperti adik kandungmu sendiri di mata semua orang!"
"Justru karena Mommy yang membesarkannya dari kecil, Mommy harusnya tahu betul betapa berharganya Syafiya," pangkas Zeffan tanpa keraguan. "Dia tumbuh menjadi wanita yang penurut, lembut, dan tulus. Berbeda jauh dari wanita pilihan Mommy dulu yang malah membawa kepalsuan ke rumah ini."
"Bukan begitu caranya, Zeffan!" sergah Marlina panik, wajahnya memerah menahan kecemasan. "Bagaimana dengan pandangan orang luar?! Bagaimana dengan status hukum kalian?! Orang-orang akan menganggap hubungan ini kelainan dan skandal besar!"
"Aku tidak pernah peduli apa kata orang luar, Mom," balas Zeffan datar, suaranya teramat tenang namun dipenuhi aura kepemilikan yang gelap. "Yang butuh Syafiya di hidup ini adalah aku. Jadi tolong, jangan coba-coba memisahkan kami atau mengatur hidupku lagi."
"Kamu berani mengancam Mommy cuma demi Syafiya?!" cecar Marlina dengan napas terengah-engah.
"Aku tidak mengancam, Mom. Aku cuma menegaskan batasan," desis Zeffan seraya melangkah satu tapak mendekati ibunya. "Jangan usik Syafiya, jangan buat dia takut, dan jangan pernah berpikir untuk mengirimnya keluar dari rumah ini... atau aku pastikan Zeffan yang selalu menghormati Mommy akan hilang untuk selamanya."
**
Zeffan berbalik dan melangkah pergi begitu saja, meninggalkan Marlina yang masih mematung dengan dada bergemuruh. Tak lama kemudian, derap langkah kaki pelan terdengar menuruni tangga. Syafiya muncul seraya menggendong Elvano yang sudah tampak tenang di pelukannya.
Marlina menatap gadis itu dengan pandangan yang amat sedih dan penuh selimut penyesalan. Sebagai seorang ibu yang melahirkan dan membesarkan Zeffan, Marlina tahu betul seberapa obsesif dan berbahaya putranya jika sudah menginginkan sesuatu.
"Nah, itu Oma..." ucap Syafiya dengan suara lembut seraya mengayun pelan tubuh Elvano, mencoba menghibur bayi kecil itu.
Syafiya tersenyum manis saat mendekati ruang tengah, namun senyum itu perlahan mengendur ketika menyadari raut wajah Marlina yang pucat dan mata yang berkaca-kaca.
"Mommy? Mommy kenapa?" tanya Syafiya panik, bergegas mempercepat langkahnya dan duduk di samping Marlina. "Mommy sakit? Mau Syafiya ambilkan air hangat?"
Marlina tak langsung menjawab. Tangannya yang gemetar terulur mengusap pipi Syafiya dengan rasa iba yang amat mendalam.
"Syafiya..." bisik Marlina serak, matanya mengamati wajah polos anak angkatnya yang dibesarkannya sejak balita itu. "Maafkan Mommy ya, Nak..."
Syafiya tersentak bingung. "M-maaf? Maaf untuk apa, Mom? Syafiya yang harusnya minta maaf kalau ada salah..."
"Bukan kamu yang salah, Sayang," potong Marlina cepat seraya mengusap lembut kepala Elvano, lalu beralih meremas jemari Syafiya. "Mommy kasihan sama kamu. Rumah ini... Zeffan... mereka cuma membawa beban berat buat kamu."
Syafiya membisu seketika, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia bisa merasakan arah pembicaraan ini, dan rasa takut kembali merayapi dadanya.
"Syafiya... jujur sama Mommy," bisik Marlina penuh penekanan, menatap lurus ke dalam iris mata Syafiya. "Selama ini... apa yang sudah Zeffan lakukan sama kamu di belakang Mommy?"
Tubuh Syafiya mendadak membeku kaku, napasnya tertahan saat ingatan akan ciuman dan ancaman dingin Zeffan berputar kembali di benaknya.