Setelah melewati penolakan, kehilangan buah hati pertama, dan perjuangan panjang, Nala dan Kim Namjunho akhirnya memiliki kehidupan yang mereka impikan. Restu keluarga telah mereka dapatkan, dan seorang putra kecil melengkapi keluarga mereka.
Namun, satu hal tak pernah berubah.
Nala masih menjadi istri rahasia—perempuan yang dicintai Junho, tetapi tak pernah bisa ia akui di hadapan dunia.
Nala bertahan karena percaya pada cinta yang dahulu membuat mereka melawan segalanya. Hingga perlahan, Junho berubah. Sorot matanya tak lagi sama. Pria yang dulu berjanji akan berjuang bersamanya, kini membuat Nala merasa harus berjuang seorang diri.
Ketika cinta masih ada, tetapi kepercayaan mulai runtuh, apa yang tersisa? Apakah cinta saja cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Pulang.
Mobil melaju perlahan meninggalkan area sekolah. Hae-in tetap berdiri di tempatnya, memperhatikan kendaraan itu hingga semakin jauh, sementara cahaya senja perlahan meredup di balik gedung-gedung.
Tatapannya kosong beberapa saat, masih terkejut setelah mengetahui sesuatu yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan. Junho telah menikah bahkan sudah memiliki seorang putra dan dari cara Jun-seok berbicara tentang ibunya, Hae-in tahu bahwa perempuan itu menempati tempat yang begitu besar dalam kehidupan keluarga kecil tersebut.
Hae-in menarik napas pelan, lalu tersenyum tipis kepada dirinya sendiri seolah berusaha mengingatkan, bahwa beberapa pertemuan tidak datang untuk mengulang masa lalu melainkan datang untuk mengingatkan bahwa waktu tidak pernah benar-benar memutus apa yang pernah berarti.
Di dalam mobil, Jun-seok tidak berhenti mengoceh tentang Nala yang akan pulang malam ini. Sesekali ia bercerita tentang hal-hal kecil yang ingin ia lakukan bersama Mommy begitu mereka sampai di rumah. Namun, Junho hanya tersenyum tipis tanpa banyak menjawab.
Pandangannya tetap tertuju pada jalan di depan, tetapi pikirannya jelas tidak sedang berada di sana entah mengapa, pertemuan singkat dengan Hae-in tadi membuka kembali pintu kenangan yang sudah lama ia tutup.
Ia teringat masa-masa ketika mereka masih kuliah. Hae-in pernah menunggunya berjam-jam di depan ruang musik hanya untuk menyerahkan makanan karena Junho lupa makan setelah terlalu sibuk menulis. Ia masih ingat perempuan itu pernah mengomel panjang lebar sambil menyodorkan sebuah kotak makan kepadanya.
“Kalau suatu hari nanti kau benar-benar terkenal, jangan sampai orang mengenalmu sebagai penyanyi yang pingsan karena lupa makan.”
Saat itu Junho hanya tertawa.
Ada pula sore-sore panjang ketika mereka duduk di tangga belakang gedung seni. Hae-in sibuk menggambar, sementara Junho menulis lirik di buku catatannya. Mereka tidak selalu berbicara. Terkadang mereka hanya duduk berdampingan selama berjam-jam, ditemani suara halaman yang dibalik dan angin yang melewati pepohonan kampus.
Hae-in selalu menjadi salah satu dari sedikit orang yang tidak memintanya menjadi siapa-siapa; tidak perlu menjadi murid terbaik, tidak perlu menjadi anak yang memenuhi harapan orang tua, dan tidak perlu menjadi seseorang yang terlihat sempurna karena di hadapan Hae-in, Junho hanya perlu menjadi dirinya sendiri.
Kenangan-kenangan kecil itu datang satu per satu tanpa diminta. Tawa mereka ketika kehujanan sepulang kuliah, perdebatan konyol tentang musik, atau malam ketika Hae-in membaca salah satu liriknya berulang kali dan mengatakan bahwa suatu hari nanti banyak orang akan mendengarnya.
Semua terasa begitu jauh sekarang.
Junho mengembuskan napas perlahan ia bahkan tidak menyadari bahwa suara Jun-seok di sampingnya sudah beberapa kali memanggil namanya.
“Daddy!” Tangan kecil Jun-seok memegang lengannya, membuat Junho tersentak dan segera kembali ke keadaan semula.
“Iya, adeul,” jawabnya sambil menoleh cepat.
“Dari tadi Seok bicara, Daddy tidak dengar?” tanyanya cemberut. Bibirnya mengerucut, jelas tidak senang karena ayahnya seolah mengabaikan cerita yang sejak tadi ia sampaikan dengan penuh semangat.
Junho terdiam sesaat seolah baru menyadari bahwa selama beberapa menit terakhir, pikirannya terlalu jauh terbawa masa lalu. Ia menghela napas pelan.
“Daddy sedang memikirkan pekerjaan. Maaf, ya. Jadi, kenapa?” tanyanya lembut.
Jun-seok tidak langsung menjawab dia memalingkan wajah ke arah jendela, masih merajuk. Kedua tangannya terlipat di depan dada, dan sesekali ia melirik Junho dari sudut mata.
Junho tersenyum tipis melihat tingkah putranya namun beberapa detik kemudian, ia memilih menepi. Mobil dihentikannya di bahu jalan yang cukup aman. Setelah memastikan kondisi di sekitar, Junho mematikan mesin dan mengalihkan seluruh perhatiannya kepada Jun-seok.
“Adeul...” panggilnya pelan.
Jun-seok masih diam.
“Daddy sudah minta maaf, kan?” Junho sedikit mencondongkan tubuhnya. “Daddy tidak sengaja. Ada apa?”
Kali ini, tidak ada lagi sisa perhatian Junho yang tertinggal pada kenangan masa lalu fokus nya hanya ada putranya di hadapan matanya.
Jun-seok sempat ragu. Rasa kesalnya masih terlihat jelas dari wajahnya, tetapi setelah beberapa detik, ia akhirnya kembali berbicara.
“Ayo beli cake dan bunga untuk Mommy,” ucapnya membuat Junho menghela napas lega karena setidaknya rengekan kecil itu tidak berlanjut menjadi tantrum yang lebih panjang.
“Iya. Daddy juga sudah memikirkan itu. Ayo mampir ke toko cake dan bunga di depan sana sebelum pulang,” ucapnya.
Wajah Jun-seok seketika berbinar.
Mobil itu kembali melaju, membelah jalanan kota yang mulai lengang. Lampu-lampu toko memantul di kaca jendela, membentuk garis-garis cahaya yang berlapis, seolah malam sedang menata dirinya perlahan.
Junho menghentikan mobil di depan sebuah toko bunga yang masih menyala. Cahaya kuning lembut dari balik kaca memamerkan rangkaian bunga yang tertata nyaris seremonial; tenang, berjarak, tetapi penuh makna. Jun-seok turun lebih dulu, ia berdiri sesaat di depan etalase, matanya menelusuri warna-warni bunga yang tersusun di balik kaca tanpa tergesa.
“Daddy, Mommy suka bunga yang tidak ramai,” ucapnya.
Junho menatap putranya sekilas, lalu melangkah masuk. Denting kecil lonceng di atas pintu terdengar lembut, disusul aroma bunga segar yang memenuhi udara dan memberikan ketenangan yang nyaris seketika.
Pandangan Junho berhenti pada beberapa tangkai lily putih. Ia meraih salah satunya, lalu memperhatikannya sejenak bunga itu terlihat bersih, putih, namun tidak menuntut perhatian untuk terlihat indah, tetapi tetap meninggalkan kesan ketika dipandang, persis seperti Nala, dalam banyak hal.
“Tambahkan mawar biru, baby’s breath, dan peony putih,” ucapnya kepada penjaga toko.
Jun-seok berdiri di sampingnya, memperhatikan bunga-bunga yang dipilih ayahnya dengan rasa ingin tahu. Sesekali matanya berpindah dari bunga ke wajah Junho, seolah sedang memastikan bahwa pilihan mereka cukup untuk membuat Mommy tersenyum ketika akhirnya pulang nanti.
Mawar biru—langka, tenang, dan tidak lahir dari kebetulan. Warna yang mengisyaratkan kesetiaan yang sunyi serta keinginan yang tidak pernah benar-benar disuarakan. Sementara itu, peony putih kerap dimaknai sebagai permintaan maaf yang dalam, dan baby’s breath melambangkan kesucian serta kesetiaan dalam sebuah ikatan.
Setiap bunga jelas dipilih karena Junho mengetahui maknanya. Tidak ada satu pun yang ia ambil secara sembarangan. Seolah-olah melalui bunga-bunga itu, ia sedang menyampaikan sesuatu yang tidak perlu ia ucapkan dengan kata-kata.
Penjaga toko merangkai buket tersebut dengan hati-hati. Lily putih ditempatkan sebagai pusat, sementara mawar biru diselipkan di antara tangkainya. Peony putih diletakkan di bagian pinggir, kemudian baby’s breath disusun mengelilinginya hingga seluruh komposisi tampak seimbang tanpa membuat satu bunga pun kehilangan keindahannya.
“Untuk istri Anda?” tanyanya sopan.
“Iya.” Junho mengangguk singkat.
“Tuanku ingin menambahkan kartu ucapan?” tanya penjaga toko setelah rangkaian bunga selesai, lengkap dengan pita kecil yang diikat manis pada bagian bawah buket.
“Tidak. Sudah cukup.” Junho menerimanya dengan kedua tangan. Tatapannya sempat jatuh pada rangkaian bunga tersebut sebelum ia menyerahkannya kepada Jun-seok untuk dibawa.
Setelah menyelesaikan pembayaran, mereka kemudian singgah di toko cake di seberang jalan. Jun-seok memilih dengan penuh pertimbangan, ia berjalan perlahan di depan etalase, memperhatikan satu per satu kue yang terpajang hingga akhirnya menunjuk sebuah cake kecil berlapis krim putih dengan hiasan sederhana.
“Mommy tidak suka yang terlalu manis,” ucapnya mantap.
Junho tersenyum samar.
“Kamu memperhatikannya dengan baik,” ucapnya sembari mengusap kepala putranya.
“Mommy selalu begitu pada Seok,” jawab anak itu ringan, tanpa menyadari betapa dalam makna kalimat sederhana tersebut.
Junho terdiam sesaat tatapannya jatuh pada putranya, lalu beralih kepada cake kecil yang telah dipilihnya. Ada kehangatan yang perlahan memenuhi dadanya. Tiga hari terasa cukup lama bagi seorang anak yang terbiasa melihat ibunya setiap hari.
Malam ini, mereka hanya ingin menyambut Nala pulang dan bagi Jun-seok, tidak ada hadiah yang lebih penting daripada melihat Mommy kembali membuka pintu rumah mereka.
Junho membayar kue yang ditunjuk putranya. Setelah itu, mereka kembali melanjutkan perjalanan pulang. Mobil melaju tenang membelah jalanan malam yang mulai dipenuhi cahaya lampu kota. Buket bunga terletak rapi di kursi belakang, sementara Jun-seok menjaga cake itu dengan kesungguhan yang nyaris khidmat, kedua tangannya memeluk kotak tersebut agar tidak bergeser sedikit pun.
Kota berlalu di luar jendela, gedung-gedung dan lampu jalan bergerak menjadi garis-garis cahaya di kaca mobil. Untuk pertama kalinya malam itu, pikiran Junho terasa sedikit lebih teratur. Pertemuan sore tadi masih membayang di sudut pikirannya, tetapi kini ada arah yang jelas untuk dituju—rumah, dan seseorang yang menunggu tanpa banyak kata.
“Adeul,” panggilnya lembut.
“Iya, Daddy,” jawab Jun-seok sembari menoleh kepada ayahnya.
“Kita pulang.”
Kalimat sederhana itu membuat Jun-seok tersenyum kecil. Senyum yang penuh kepastian, seolah kata pulang memang selalu memiliki satu arti yang sama baginya.
“Mommy pasti senang, kan? Aku tidak sabar melihat Mommy. Aku merindukannya,” ucapnya sembari kembali menatap cake di pangkuannya, memastikan kotak itu tetap aman.
Junho tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap jalan di hadapannya, kedua tangannya tetap mantap menggenggam kemudi. Namun, kalimat putranya perlahan menetap di dalam dadanya.
Sebuah pengingat sederhana bahwa di balik semua hal yang disembunyikan dari dunia, selalu ada rumah yang tetap ia tuju. Dan di dalam rumah itu, ada seseorang yang membuat kata pulang terasa lebih dari sekadar tempat.
Beberapa menit kemudian, mobil memasuki area apartemen. Setelah terparkir, Junho dan Jun-seok turun dengan membawa bunga serta cake yang mereka pilih bersama. Begitu pintu apartemen terbuka perlahan, aroma masakan lebih dahulu menyambut mereka; hangat, bersih, dan akrab.
Bukan aroma yang mencolok, melainkan aroma rumah yang hanya dapat dikenali oleh mereka yang telah lama pulang ke tempat yang sama.
Di dapur, Nala berdiri membelakangi pintu. Rambutnya diikat sederhana, dengan beberapa helai jatuh bebas di sisi leher lengan bajunya digulung hingga siku, memperlihatkan kedua lengannya yang sibuk bekerja. Jemarinya bergerak cekatan mengaduk masakan di atas kompor, sesekali tangannya meraih bumbu di sisi meja.
Api kecil menyala stabil di bawah panci, menghangatkan wajahnya yang tampak tenang. Begitulah Nala malam itu—tenang, teratur, dan penuh perhatian, seolah seluruh dunia memang dapat ia letakkan sejenak di luar pintu rumah selama ia masih memiliki sesuatu untuk dimasak dan seseorang untuk ditunggu pulang.
“Mommy!” serunya cepat.
Jun-seok adalah yang pertama bereaksi tasnya terlepas begitu saja dari bahu. Sepatunya bahkan belum sepenuhnya tertata ketika tubuh kecil itu berlari menghampiri. Langkahnya tergesa, nyaris tersandung oleh antusiasmenya sendiri karena tidak sabar ingin segera sampai kepada ibunya.
Nala menoleh cepat wajahnya berubah seketika dari konsentrasi sunyi menjadi keterkejutan yang hangat. Sendok di tangannya segera diletakkan, dan sebelum sempat berkata apa pun, Jun-seok sudah memeluk pinggangnya dengan erat.
“Mommy pulang!” serunya nyaris berteriak, suaranya bergetar oleh kebahagiaan yang tidak mampu ia sembunyikan.
Nala berlutut seketika, kedua tangannya langsung melingkari tubuh putranya. Ia menenggelamkan wajahnya di rambut anak itu, memejamkan mata selama beberapa detik, seolah ingin memastikan bahwa pelukan kecil yang begitu ia rindukan itu benar-benar nyata.
“Iya... Mommy pulang,” ucapnya pelan, di sela napas yang terdengar sedikit bergetar. Jun-seok menengadah kedua matanya berbinar, wajahnya dipenuhi senyum yang sejak tadi ia simpan untuk saat ini.
“Seok rindu Mommy. Sangat.” Jun-seok kembali memeluk Nala erat, seolah tiga hari yang mereka lewati terasa jauh lebih lama daripada seharusnya.
Kalimat itu sederhana, tanpa drama. Namun, Nala memejamkan mata sesaat ketika mengangguk, menahan sesuatu yang tiba-tiba memenuhi dadanya. Rasa lelah dari perjalanan, kerinduan yang selama beberapa hari ia pendam, dan kehangatan rumah yang kembali menyambutnya bercampur menjadi satu.
“Mommy juga... sangat,” jawabnya lirih, jujur.
Tangannya mengusap punggung Jun-seok perlahan, sementara senyum tipis terbit di wajahnya. Untuk beberapa saat, tidak ada yang lebih penting daripada pelukan itu.
Junho berdiri beberapa langkah di belakang mereka. Ia tidak segera masuk lebih jauh tapi pandangannya tertahan pada pemandangan di hadapannya—Nala yang masih berlutut sambil memeluk Jun-seok, dan putranya yang seolah enggan melepaskan ibunya setelah tiga hari tidak bertemu.
Ada sesuatu yang hangat menyentuh dadanya, dua sosok yang selama ini ia jaga dengan cara yang berbeda, kini kembali bertemu di dalam rumah mereka sendiri. Tidak ada penjelasan yang diperlukan untuk saat ini selain sebuah pelukan sederhana yang membuat perjalanan pulang malam itu terasa benar-benar selesai.
Di dapur luas itu, Nala seperti merapikan kembali hidup mereka, mulai dari masakan sederhana yang mengepul di atas kompor hingga caranya menunduk dan menyamakan tinggi tubuh dengan anaknya. Kehadirannya membuat ruangan itu terasa lengkap, seolah beberapa hari tanpa dirinya baru benar-benar terasa ketika ia kembali.
Jun-seok baru menyadari kehadiran ayahnya ketika matanya menangkap buket bunga yang berada di tangan Junho.
“Mooommy... Daddy bawa bunga, tahu,” katanya lagi, kali ini berbisik penuh konspirasi.
Nala menoleh pada Junho hingga pandangan mereka bertemu; sekejap, hening, sarat makna. Junho mengulurkan buket itu tanpa banyak kata. Lily putih, mawar biru, peony putih, dan baby’s breath tertata rapi. Sederhana, tetapi jelas bukan pilihan yang dibuat sembarangan.
“Untukmu,” ucapnya akhirnya.
Nala menerima buket itu dengan kedua tangan. Jemarinya sempat terhenti ketika menyentuh salah satu kelopak lily yang lembut. Tatapannya turun sejenak pada bunga-bunga tersebut sebelum kembali menatap Junho.
“Terima kasih,” katanya lembut.
Ia tahu arti bunga-bunga itu, karena Junho memilihnya dengan maksud, bukan sekadar kebiasaan. Ia mengenal Nala cukup baik untuk tahu bahwa perempuan itu akan memahami hal-hal kecil yang sengaja ia sampaikan tanpa kata-kata.
Jun-seok mengangguk puas melihat bunga itu berpindah ke tangan ibunya. Namun, beberapa detik kemudian, ia kembali menunjuk kotak yang masih berada di tangan ayahnya.
“Dan cake. Mommy, kan, tidak suka yang manis-manis. Ini Seok yang pilih... Mommy pasti suka,” ucapnya penuh keyakinan. Ia bahkan tidak menunggu jawaban sebelum membuka kotak kue tersebut dengan hati-hati. Nala tersenyum kecil melihat kesungguhan putranya.
“Kau mengingatnya... Manis sekali,” ucap Nala sembari menerima cake itu dari tangan Jun-seok.
“Aku selalu ingat. Segala tentang Mommy tidak akan pernah Seok lupakan,” jawabnya bangga.
Nala terkekeh pelan tangannya mengusap rambut putranya dengan penuh kasih.
“Manis sekali... Seok tahu, Mommy juga punya hadiah,” ucap Nala membuat mata Jun-seok seketika membelalak.
“Sungguh? Buku itu?” tanyanya antusias.
“Eum... Mommy juga membeli cokelat kesukaan Seok,” jawab Nala. Ia berdiri, lalu meraih sebuah paper bag yang terletak di atas meja kaca. Setelah itu, ia menyerahkannya kepada putranya.
Mata Jun-seok langsung berbinar, anak itu berjingkrak kecil sebelum memeluk Nala lagi dengan penuh semangat.
“Terima kasih, Mommy!” seru nya antusias.
Nala membalas pelukannya sambil tertawa kecil, sementara Junho hanya berdiri tidak jauh dari mereka, memperhatikan keduanya dengan senyum tipis yang sulit disembunyikan.
Malam itu, dapur kembali hidup.
Suara sendok yang beradu dengan piring, aroma masakan yang masih mengepul, serta tawa kecil Jun-seok memenuhi ruangan. Anak itu kemudian duduk di kursi tinggi sambil menceritakan dua hari yang telah dilaluinya dengan detail yang tidak selalu berurutan, tetapi disampaikan dengan semangat seolah setiap kejadian adalah hal paling penting di dunia.
Sesekali tangannya ikut bergerak ketika bercerita, membuat Nala tertawa dan bertanya lebih jauh. Dan untuk beberapa saat, rumah itu kembali terasa seperti rumah yang seharusnya.
Nala mendengarkan sambil menata piring, sesekali menyela dengan pertanyaan kecil ketika Jun-seok melompat dari satu cerita ke cerita lainnya. Senyum tipis terus bertahan di wajahnya, terutama ketika putranya mulai mengulang bagian-bagian yang sebenarnya sudah ia ceritakan beberapa kali.
Junho membantu tanpa banyak bicara; mengambilkan air, menyiapkan meja, lalu memastikan semuanya berada di tempatnya. Gerakannya tenang dan terlatih, seolah rutinitas sederhana seperti ini telah menjadi bagian dari kehidupan yang tidak pernah perlu mereka bicarakan.
Mereka makan bersama.
Tidak ada percakapan besar. Tidak ada pembahasan tentang dunia luar. Tidak ada hal-hal yang harus diselesaikan malam itu.
Hanya suara alat makan yang beradu pelan, tawa kecil Jun-seok yang sesekali pecah di tengah cerita, dan tatapan-tatapan singkat antara Nala dan Junho yang tidak membutuhkan kata-kata untuk menyampaikan satu hal sederhana: mereka baik-baik saja.
Setidaknya malam ini.
Setelahnya, Jun-seok bersandar di antara mereka di sofa. Kelopak matanya mulai berat, tetapi ia masih berusaha mempertahankan kesadarannya. Sebuah kuapan lebar lolos tanpa malu, sebelum kepalanya perlahan jatuh ke bahu Nala. Salah satu tangannya masih menggenggam ujung kemeja Junho, seolah bahkan dalam keadaan mengantuk pun ia tidak ingin berjauhan dari kedua orang tuanya.
“Mommy temani Seok sampai tidur malam ini... Boleh?” gumamnya setengah tertidur.
Nala menunduk menatap wajah putranya, ada kelembutan yang seketika memenuhi sorot matanya. Tangannya mengusap rambut Jun-seok perlahan, menyisir beberapa helai yang berantakan dengan jemari.
“Boleh... Ayo naik. Kita siap-siap tidur,” jawabnya lembut.
Nala kemudian bangkit dan menuntun putranya menuju kamar.
Junho tetap duduk beberapa saat, menatap keduanya hingga sosok mereka menghilang di balik pintu kamar. Pandangannya kemudian jatuh pada ruang keluarga yang perlahan kembali sunyi.
Malam ini, ia kembali melihat dua hal paling berharga dalam hidupnya—istrinya yang diam-diam menanggung begitu banyak hal, dan anaknya yang mencintai tanpa syarat.
Dalam sunyi apartemen itu, keluarga kecil mereka memang tidak sempurna. Ada hal-hal yang belum terucapkan, ada luka-luka yang belum sepenuhnya mereka pahami, dan ada dunia di luar sana yang suatu hari akan kembali mengetuk pintu mereka.
Namun, malam ini mereka hadir bersama secara utuh, setidaknya dalam caranya sendiri.