"Patah hati yang menyakitkan itu, ketika kita menunggu ketidakpastian."
(Sinta Putri Adam)
---------------------------------------------------------------------------
Tidak ada cinta. Namun, anehnya ku sematkan dia di setiap doa ku.
Lucu bukan? tapi itulah kenyataannya.
Enam tahun, ku jaga hati untuk dia yang dulu datang dengan janji manis. Memberikan sepucuk surat cinta dan cincin sebagai tanda ikatan. Hingga hari, di mana berjalan dengan cepat, kami bertemu. Namun, enam jam aku menunggu seperti orang bodoh, dia tidak datang. Jika sudah begini kemana harapan itu pergi. Aku kecewa, sakit, dan merasa bodoh.
"Aku membenci mu Muhamad Farel Al-hakim."
"Aku membencimu."
Ikutin kisahnya yuk hu...
IG: Rahma Qolayuby
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rahma qolayuby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Pecel ayam
Ela, gadis muda yang membantu Sinta tadi. Merasa bersyukur karena Sinta sudah mengobati adiknya. Bahkan tidak hanya mengobati, Sinta juga telah membayar biaya pengobatan adik Ela.
Padahal Ela hanya mengizinkan Sinta pergi dengan mas ojol pesanannya. Tapi, Sinta membalasnya dengan berlebih. Itulah pertolongan Allah. Sekecil apapun pertolongan yang kita buat maka Allah tolong lebih dari itu.
"Sekali lagi, terimakasih dok."
"Sama-sama. Saya juga berterimakasih karena tadi mba nya membiarkan saya pergi."
"Itu hal kecil, tapi dokter melakukan hal besar. Terimakasih banyak."
Ela benar-benar berterimakasih pada Sinta. Dalam keadaan nya yang tidak memegang uang membuatnya bingung harus membayar biaya rumah sakit. Tapi, dengan baik hati Sinta membayarkannya. Bahkan merawat adiknya pula.
"Sudah, jangan berterimakasih terus. Jaga adik mba saya harus pergi."
"Panggil Ela aja dok. Seperti nya usia saya di bawah dokter."
"Emang berapa usia nya mba?"
"Dua puluh tahun."
"Baiklah, Ela. Kalau begitu saya permisi dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
Sinta segera pergi ke ruangannya. Guna istirahat sejenak sebelum melakukan aktivitas kembali.
Plak!
Sinta menepuk jidatnya sendiri. Baru ngeh jika tasnya tertinggal di dalam mobil. Untung Sinta membawa ponsel dan kunci mobilnya. Niat istirahat, nyatanya Sinta harus pergi mengambil mobilnya.
Dret ...
Ponsel Sinta berdering, nyatanya itu adalah Marsel. Dengan cepat Sinta mengangkatnya.
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Ada apa, Sel?"
"....."
"Alhamdulillah, kalau begitu kamu bawa saja ke rumah sakit. Ceritanya panjang."
"...."
"Ok, kakak tunggu!"
Sinta bernafas lega ketika mendengar kabar jika Marsel mengurus mobilnya. Karena kejadian itu tidak jauh dari jalan pulang dan kebetulan Marsel mengenal mobil Sinta yang terparkir sembarangan. Marsel buru-buru mengurus nya dan pulang ke rumah Adam Hawa guna mengambil kunci cadangan karena Marsel tahu Sinta meninggalkan mobilnya dalam ke adaan darurat.
Hingga Marsel memberitahu pada Sinta terlebih dahulu. Ternyata Sinta memintanya mengantar langsung ke rumah sakit.
Sinta tersenyum melihat mobilnya. Dengan cepat Sinta berdiri.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, Sel."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, kak. Kakak baik-baik saja, kan?"
"Alhamdulillah, baik. Terimakasih ya sudah bawa mobil kakak ke sini."
"Sama-sama, kak."
"Kamu bawa balik saja kunci cadangannya. Maaf merepotkan."
"Selalu saja. Alhamdulillah kalau kakak baik-baik saja. Kalau begitu Marsel pulang dulu."
"Ya sudah. Hati-hati."
"Siap, Assalamualaikum kak."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."
Sinta benar-benar bernafas lega akhirnya dia bisa istirahat. Tak perlu repot menjemput mobilnya karena sudah ada di depan matanya. Sinta kembali ke dalam guna istirahat.
"Marsel!"
Sinta menghentikan langkahnya mendengar nama adiknya di panggil. Dengan cepat Sinta memutar badannya cepat, penasaran siapa yang memanggil adiknya.
Sinta memicingkan kedua matanya menatap Marsel yang berbicara dengan seorang gadis. Sinta tidak terlalu melihat karena gadis itu membelakangi Sinta.
"Kaya kenal."
Gumam Sinta menatap punggung seorang gadis yang bicara pada Marsel. Bahkan mereka terlihat akrab.
Sinta terus memantau di tempat hingga mata Sinta bertatap dengan mata Marsel. Marsel tersenyum namun Sinta tidak membalas senyuman itu. Hingga Marsel membawa gadis itu menuju Sinta. Marsel tak ingin kakak nya salah faham.
"Assalamualaikum, kak."
"Kakak!"
Beo gadis yang bersama Marsel dengan mata sedikit melotot menatap Sinta yang malah tersenyum lembut.
"Ela."
Kini Marsel yang di buat terkejut tatkala Sinta tahu nama Ela.
"Kakak kenal, Ela?"
Malah Marsel yang bertanya. Harus nya Sinta yang bertanya pada Marsel. Tapi, ya sudahlah.
"Baru. Adiknya korban kecelakaan. Pasien kakak."
"Oh."
Marsel tidak bertanya lagi karena sudah mengerti.
"Kalian? ..."
Tanya Sinta membuat Marsel dengan cepat menggelengkan kepala. Marsel faham kemana arah pertanyaan Sinta. Secang Ela, gadis itu hanya diam saja tidak mengerti.
"Teman kampus."
"Oh, teman."
"Dokter beneran kakak nya, Marsel?"
Tanya Ela tidak bisa menahan keingintahuannya. Karena setahu Ela, Marsel anak panti asuhan.
"Iya, Marsel adik saya."
Ela mengangguk tidak bertanya lebih walau ingin. Ela hanya takut di bilang kepo.
"Kakak ke dalam dulu, kalian lanjut saja. Assalamualaikum."
Tanpa menunggu jawaban Marsel ataupun Ela. Sinta langsung pergi karena waktu istirahat nya seperti nya sudah habis.
Sinta merogoh saku jasnya, mengambil ponsel guna mengabari Farel. Sinta lupa, hari ini dia belum mengabari Farel sama sekali.
"Dokter Sinta?"
Sinta tidak jadi mengetik tatkala namanya di panggil. Sinta mengangkat kepalanya menatap dokter Rafael yang terlihat kusut.
"Kenapa, dok?"
"Bisa tolong bantu, saya?"
"Bantuan apa, dok?"
"Pasien saya tidak mau makan. Padahal sudah di bujuk pun masih sama. Bahkan para perawat pun sangat kewalahan ."
Sinta tidak langsung menjawab. Melirik jam di pergelangan tangannya. Masih ada waktu.
"Baik dok. Akan saya coba."
Dokter Rafael bernafas lega langsung membawa Sinta menuju ruang di mana pasien itu berada.
Seorang nenek nampak memalingkan muka dengan wajah cemberut. Dia sudah katakan tidak mau makan. Tapi, para perawat terus memaksanya. Nenek itu benar-benar sangat sulit sekali. Sinta mengamati situasi, melihat para perawat diam dengan wajah lelahnya. Seperti nya memang pasien dokter Rafael sedikit sulit.
"Bisa kalian keluar."
Minta Sinta membuat para perawat langsung keluar karena mereka sudah lelah. Begitupun dengan dokter Rafael ikut keluar membiarkan Sinta sendiri.
Sinta mendekat duduk di hadapan pasien yang masih memalingkan wajah.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, nek. Perkenalkan saya Sinta."
Ucap Sinta mencoba membuka percakapan. Mendengar suara lembut Sinta membuat pasien seketika berbalik tapi buru-buru membuang muka kembali.
"Sinta dengar nenek tak mau makan, ya?"
"Hmm, kelihatannya memang tak enak."
Seketika pasien langsung menatap Sinta yang memasang wajah masam sambil mengaduk-aduk makanan.
"Pantas saja nenek tak mau makan. Sinta saja tak suka melihat makanan ini."
"Betul. Makanan itu membuat saya mual."
Sinta tersenyum tipis, akhirnya pasien mau bicara. Bahkan kini sudah menghadap Sinta.
"Kita sama, dong. Coba nenek bilang, makanan apa yang nenek suka?"
Tanya Sinta antusias, tersenyum tulus menatap pasien dengan penuh pengertian.
"Pecel ayam."
"Wah, kebetulan sekali selera kita sama."
"Benarkah?"
"Iya, saya sangat suka dengan pecel ayam. Apa nenek mau makan jika saya belikan pecel ayam?"
"Mau-mau ..."
Pasien terlihat antusias dan semangat mendengar makanan kesukaannya. Sudah lama dia tidak makan makanan itu. Semenjak sakit cucunya selalu saja melarang.
"Baiklah, kalau begitu nenek tunggu ya. Saya beli dulu."
Pasien mengangguk cepat karena tak sabar makan. Makanan kesukaannya. Sinta langsung keluar.
"Bagaimana, dok. Apa pasien mau makan."
"Alhamdulillah mau. Maaf dok, tolong jaga di sini. Saya mau ke ruangan saya sebentar."
"Baik, dok."
Sinta bergegas menuju ruangannya mengambil kotak makan yang kebetulan isinya pecel ayam. Sinta langsung membawanya ke ruang tadi.
Dokter Rafael terus menunggu di luar membiarkan Sinta membujuk pasien nya.
"Assalamualaikum, nek. Lihat apa yang Sinta bawa."
"Wah, kamu sangat baik nak. Tidak seperti dokter dan perawat tadi. Nenek tak suka pada mereka."
"Kalau begitu, nenek sekarang makan, ya? Sinta suapin?"
Sinta tidak mau menanggapi hal yang membuat pikiran pasien buruk. Sinta dengan sabar menyuapi pasien makan. Sangat lahap sekali. Sinta benar-benar bisa menaklukkan pasien.
"Alhamdulillah, sudah habis."
"Kenyang."
"Alhamdulillah. Sekarang nenek minum obat lekas itu istirahat."
Ajaib, pasien langsung menurut meminum obat yang di berikan Sinta. Sudah memastikan pasien istirahat dengan tenang baru Sinta izin pamit karena dia juga harus memeriksa pasien nya.
Bersama ...
Jangan lupa, Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...