SEKUEL CERITA NYCTOPHILIA!
Memasuki tahap kedewasaan, kehidupan Spica yang lurus semakin lebih berliku.
Bara, masa lalu yang terlupakan. Yang kembali membawa sesuatu yang tertinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Typ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Perempuan
Siang hari setelah menikmati makanan di restoran jepang, Bara dan Spica memutuskan untuk pulang. Bara awalnya mengajak gadis itu untuk membeli kebutuhan mereka, terutama Spica. Namun gadisnya menolak karena semua masih lengkap. Spica tidak butuh pakaian banyak ataupun tas dan sepatu. Gadis itu juga tidak suka mengenakan Make-up, skincare saja sudah lebih dari cukup. Spica tidak merasa perlu merias wajah. Menurutnya wajahnya sudah standar, walaupun tidak cantik, tapi tidak juga memalukan. Spica suka dirinya yang tidak ribet. Bagi Spica, nyaman yang paling utama.
Bara tidak memaksa, malahan cowok itu suka karena Spica berani tampil apa adanya. Jarang sekali dirinya menjumpai perempuan minim makeup, dan beruntunglah Bara karena,memiliki salah satunya.
Bara terus menahan senyum ketika menatap tangan Spica yang tanpa sadar mencengkram ujung jaketnya. Cowok itu menang sengaja, berjalan dengan langkah lebarnya dengan ritme dipercepat agar Spica tertinggal.
"Jangan menyesal jika sudah sampai rumah," tutur Bara.
"Tidak akan."
Di tengah keramaian mall, sepasang kekasih itu nampak seperti adik kakak karena perbedaan tubuh. Pakaian rumahan yang sama sekali tidak matching antara keduanya juga menambah kesan itu. Orang-orang tidak akan tahu jika sebetulnya mereka pasangan yang baru saja menikah. Namun tidak bagi seorang gadis yang terus memicingkan mata, menatap keduanya dari kejauhan. Monic--gadis yang kebetulan akan membeli beberapa set pakaian untuk pesta, secara tidak sengaja melihat Bara. Dan tentu saja Spica yang sama sekali belum dikenalnya. Namun dalam hati Monic sudah menduga jika gadis berkerudung itu pasti istri Bara.
Dengan langkah mantap, Monic mendekati keduanya. "Heii!" berseru agar mendapat perhatian karena jarak keduanya cukup jauh, dan juga agar tidak semakin tertinggal.
"Bara!"
Beberapa pengunjung yang berlalu lalang menoleh sesaat, penasaran dengan suara Monic. Spica yang mendengar itu juga ikut berhenti. "Ada yang memanggil," ucapnya menyadarkan Bara.
Monic berjalan cepat sementara didepannya Bar dan Spica terus menatap penasaran. "Hey Bara! kita ketemu lagi. Dan oh, siapa gadis lugu ini?" tanyanya.
Jika semua manusia memiliki kekuatan supranatural untuk bisa mendengar suara apapun di muka bumi, mungkin mereka akan berduka cita untuk patahnya hati seorang gadis yang kisah cintanya telah usai bahkan sebelum dimulai.
Sebagai seorang yang bisa mengontrol nada suaranya, tidak gampang emosi, Monic begitu baik memainkan peran sebagai seorang yang ceria dan penuh bahagia. Namun sayangnya hal itu tidak bisa disembunyikan dari seorang gadis bernama Spica, gadis yang suka mengamati sekitarnya daripada berbicara panjang lebar.
Binar mata itu tidak dapat disembunyikan, pupilnya membesar saat melihat seseorang yang disukai ada dihadapannya. Sedetik kemudian, kala otak kembali menyadarkan apa yang sudah terjadi, perlahan binar itu redup. Spica memperhatikan semuanya. Tentang bagaimana Monic yang antusias kepada Bara, sedangkan saat menatapnya kecewa itu terlihat nyata. Namun yang membuat Spica salut, Monic masih bisa tersenyum. Bertingkah seolah memang tidak ada hal menyakitkan dihatinya.
"Yah, dia istriku." Bara berkata dengan bangga, sedikit senyum untuk membalas antusias Monic.
"Wah tiba-tiba sekali menikah, mana enggak ngundang gue. Jahat banget lu Bar!" Monic memukul lengan Bara. "By the way, selamat atas pernikahan kalian yaa," sambungnya sembari menjulurkan tangan pada Bara dan Spica, bersalaman.
"Terimakasih," sopan Spica tidak lupa dengan senyum tipisnya.
"Lu enggak mau kenalin kita berdua Bar? Gak ada inisiatifnya banget lu jadi cowok!" Monic memberenggut karena disini dia sendiri yang heboh. Sedangkan Bara dan Spica kalem, malahan seperti malas meresponnya.
"Monic, kenalin, ini Spica. Dan Spica, dia Monic temen kuliah." Bara memberi kode keduanya untuk kembali bersalaman.
"Salam kenal yaa." keduanya saling mengucapkan.
"Lu ngapain di mall sendirian, mana temen-temen lu ya heboh itu?" Bara melihat sekeliling saat menyadari Monic hanya sendirian. Cowok itu terbiasa melihat Monic bersama gangnya, jadi sedikit penasaran dengan kesendiriannya kali ini.
"Gak ada, mereka enggak ikut. Gue lagi pengen me time aja... Ya udah gue duluan dulu yaa, takut ganggu waktu romantis kalian." Monic tertawa kikkuk. Tanpa babibu lagi, cewek itu langsung pamit dengan menganggukkan kepala dan sedikit tubuhnya, kemudian meninggalkan keduanya.
Begitu berbalik, wajah ceria itu perlahan sirna berganti dengan senyum miris. Memang ikhlas itu butuh waktu, tidak mungkin hanya dengan semalam perasaan tiba-tiba berubah. Yeah, Monic menyakinkan diri untuk terus semangat. Tidak ada kehidupan yang lurus-lurus saja, bahagia selamanya. Semua pasti memiliki masa untuk kecewa dan sedih. Semua akan baik-baik saja.
"Jangan terlalu berlebihan Monic, semua orang pasti pernah mengalami kecewa ini. Elu bukan satu-satunya manusia dimuka bumi yang bisa merasakan sakit hati." Batinnya memberi semangat.
"Ya," singkat Bara. Cowok itu langsung memeluk pundak Spica, menginstruksi gadisnya agar melanjutkan tujuan mereka setelah Monic semakin menjauh dari pandangan.
Spica sekilas wajah Bara yang tengah menatap lurus, gadis itu kemudian mengikuti fokus agar tidak jatuh. "Monic, sepertinya dia suka kamu," ucap Spica to the point.
"Dia memang selalu ceria dengan siapapun, sudah terkenal sebagai cewek ramah," jelas Bara. Sedikit melirik Spica sebab pernyataan gadis itu yang terlampau jujur. Nada bicara yang stabil menandakan tidak ada setitikpun rasa tidak suka.
"Yah, itu juga benar. Tapi sebagai sesama perempuan, instingku berkata seperti itu." Spica mantap dengan kalimatnya. Kali ini terdengar seolah sedang kesal.
Bara menghela napas. Awalnya kira mungkin Spica akan sedikit merasakan api cemburu seperti kebanyakan cewek lain, namun nyatanya gadis itu hanya berusaha mempertahankan pendapatnya sebagai seorang perempuan. Bara mengerti, pada akhrinya meluluhkan hati seorang Spica ternyata tidak semudah perkiraannya.
"Itu hak dia, selama tidak mengganggu orang lain tidak masalah. Lagi pula Monic pasti tahu betul bagaimana cara mengolah perasaannya. Jadi tidak perlu mengurusi masalah hati orang lain." Bara acuh.
"Ternyata Bara tidak 100 persen berubah, simpatinya masih minim." Batin Spica.
Pasutri dengan pikirannya yang tidak sejalan. Spica, gadis itu bahkan tidak memikirkan bagaimana perasaannya saat ini. Harinya hanya berjalan sebagaimana otaknya berpikir, hatinya yang lurus. Spica tahu saat ini Bara terikat dengannya, partner hidupnya. Namun untuk perasaan khusus, mungkin butuh waktu untuk getaran itu datang.
Sedangkan Bara berbanding balik, hidupnya saat ini tidak hanya berfokus pada dirinya sendiri. Tanggungjawab serta getaran itu hadir secara tidak sadar. Bahkan dirinya tidak ingat jika dulu pernah membenci Spica. Entah itu karma atau apa. Disaat yang sama, gelisah sebab perasaanya yang tak kunjung mendapat balasan itu membuat Bara semakin pusing. Hidupnya tidak setenang kelihatannya, cowok itu terus bertanya bagaimana jika dirinya bukan pilihan yang akhirnya Spica tentukan. Mengingat kehidupan yang realistis, berhasil menikahi bukan berarti akan berjodoh sampai mati. Namun yang jelas Bara akan terus membersamai Spica sampai gadis itu bergantung padanya. Sampai pilihan-pilihan itu menghilang karena dirinya terlalu masuk kedalam sanubarinya.