Zara Adhitama, ia dijodohkan dengan seorang pria bernama Regantara Benedict. Seharusnya perjodohan itu dilakukan oleh saudari tiri Zara, yaitu Selene namun Selene menolak keras dengan alasan takut karena Regantara terkenal kejam. Pada akhirnya mau tak mau Zara lah yang dipilih untuk menikahi pria itu.
"Selamat datang, Nyonya Benedict." ucap Regantara saat itu.
Namun ternyata kehidupan baru tidak membuat Zara menjadi sosok yang lemah, saat Regantara pergi meninggalkannya di altar waktu itu dan tak terlihat di kediaman Benedict karena ia pergi melakukan perjalanan bisnis. Zara langsung memanfaatkan waktu kekosongan itu untuk membalas dendam pada Ibu tirinya dan tentu saja saudari tirinya yang tersayang.
Bagaimana kehidupannya Zara setelah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romanova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
"Zara... maafkan aku... Zara..." Regantara menyentuh wajah istrinya dengan ujung hidung mancungnya.
Kata "maaf" sebuah kosakata asing yang bahkan tak pernah dia ucapkan pada Jenderal, akhirnya terucap dari bibir pria yang paling angkuh itu untuk istrinya.
Regantara menghirup aroma tubuh Zara yang menenangkan saat hidung mancungnya bergerak menyapu lembut sepanjang garis rahang hingga ke pipi mulus istrinya.
Zara terus terlelap, tetapi sentuhan halus itu membuat alisnya sedikit bertaut dalam tidur.
Tubuhnya bergerak tipis, secara tidak sadar ia malah mencari kehangatan pada Regantara.
Melihat gerakan kecil itu, Regantara menanggalkan jas dan sepatunya.
Ia naik ke atas tempat tidur, lalu menyusup ke balik selimut tebal dan merengkuh tubuh Zara dari belakang.
Tangannya melingkar di pinggang Zara, ia membenamkan wajahnya di tengkuk wanita itu.
.
Pukul lima pagi, gagang pintu kamar berputar pelan.
Bibi Tara melangkah masuk dengan hati-hati, ia memegang baki berisi secangkir teh hangat dan termometer bersih untuk memeriksa kondisi Nyonya Mudanya.
Namun, langkah kaki pelayan senior itu seketika terhenti tepat di batas karpet tebal. Matanya sedikit membelalak melihat pemandangan di atas ranjang.
Regantara yang biasanya sudah bangun sebelum fajar untuk berolahraga atau meninjau dokumen kerja, sekarang masih terlelap di sana.
Pria yang terkenal dingin dan keras itu memeluk erat Zara dari belakang, sambil menyembunyikan wajahnya di tengkuk sang istri dengan selimut tebal merapat menutupi mereka berdua.
Zara sendiri masih tertidur nyenyak, tampak jauh lebih tenang.
Bibi Tara menahan napas sejenak, lalu perlahan menyunggingkan senyuman lega.
Pelayan tua itu meletakkan cangkir tehnya dengan hati-hati di atas meja di samping pintu, lalu melangkah mundur dan menutup pintu.
Sinar matahari pagi makin menyorot hangat.
Regantara menjadi orang yang pertama terbangun. Matanya pelan-pelan terbuka, dan langsung disambut oleh aroma khas Zara yang menyeruak memenuhi indra penciumannya.
Rasa hangat tubuh wanita dalam dekapannya, membuat Regantara tak langsung bangkit.
Ia menatap wajah istrinya, jemari kasar Regantara bergerak merapikan beberapa helai rambut yang menutupi pipi istrinya.
"Eungh..."
Kelopak mata Zara perlahan bergerak, lalu terbuka menampilkan sorot mata kuyu oleh kantuk, namun langsung membeku saat menyadari keberadaan Regantara yang begitu dekat dengannya.
Jarak wajah mereka hanya terpisah beberapa senti dengan lengan kokoh Regantara yang melingkar erat di pinggangnya.
"Bagaimana... perutmu?" suara bariton Regantara terdengar parau.
Zara tidak langsung menjawab.
Ia menarik napas pendek untuk menetralkan rasa sesak di dadanya, lalu perlahan mendudukkan tubuhnya di atas kasur.
"Sudah tidak apa-apa." jawabnya sambil memindahkan kakinya ke tepi tempat tidur.
Melihat Zara yang menarik diri, membuat dada Regantara berdenyut nyeri.
Pria itu menyambar pergelangan tangan Zara dari belakang, kali ini dengan sentuhan yang sangat pelan dan ragu-ragu.
"Zara, soal semalam... aku tidak bermaksud melukaimu."
Tak ada jawaban dari Zara.
Regantara menghela nafas lalu membungkuk sedikit.
"Mandilah, aku akan mandi di kamar lain." ucap Regantara.
Zara mematung di tepi ranjang saat bibir hangat Regantara menyentuh puncak kepalanya.
Regantara melangkah pergi menuju kamar mandi pribadi atau ruang ganti tanpa menunggu balasan apa pun.
Regantara tetaplah Regantara. Pria Benedict yang kejam, berkuasa, dan tak terbiasa mengemis ampunan.
Penyesalan semalam dan bisikan maafnya tidak serta merta meruntuhkan benteng keangkuhannya.
Zara menarik napas panjang.
Ia mengusap pelan puncak kepalanya, lalu berdiri perlahan.
Setelah membersihkan diri dan mengenakan pakaian rumah yang nyaman, Zara melangkah keluar dari kamar utama menuju lantai bawah.
Di ruang makan, Regantara sudah duduk.
Penampilannya rapi dengan kemeja kerja, pria itu menyandarkan punggungnya di kursi utama, sambil memegang cangkir kopi dengan satu tangan sementara tangan lainnya memeriksa laporan di tablet kerjanya.
Suasana di sekitarnya begitu mengintimidasi hingga para pelayan bergerak hati-hati, apalagi setelah semalaman mereka melihat emosi pria itu.
Namun, begitu mendengar langkah kaki Zara yang mendekat, pandangan Regantara seketika teralih dari layar tabletnya.
Ia langsung menatap sosok istrinya yang melangkah pelan menuju meja makan.
"Duduk." ujar Regantara, ia memberi isyarat pada kursi di sampingnya.