Delapan anak muda berusia enam belas tahun hingga delapan belas tahun dengan latar belakang jauh berbeda. Delapan kehidupan yang tidak pernah bersinggungan sebelumnya. Ada yang sejak awal memiliki rumah yang hangat, ada yang memiliki rumah tapi tidak berhak atas rumah tersebut, ada juga yang tidak memilikinya sejak awal.
Tak seorangpun dari mereka tahu bahwa jalan yang sedang mereka tempuh itu akan mengarahkan mereka ke satu tempat yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Keesokan harinya, Xavier mempraktikkan ucapan Lysander tadi malam. Saat matahari sudah terbit sempurna, ia berdiri di luar tenda dan menatap ke arah matahari cukup lama.
“Apa begini sudah cukup?” Gumamnya saat merasa matanya cukup panas, barulah ia memejamkan matanya sesaat dan langsung berlari masuk ke dalam tenda. Ruangan tiba-tiba terasa gelap dan ada cahaya putih yang menghalangi pandangannya.
“Itu artinya di siang hari yang dilihat Zephyr hanya cahaya putih. Dan itu lebih dari yang aku lihat sekarang ini,” Gumamnya lirih.
“Saat memakai tudung, iris matanya normal berwarna cokelat. Di malam hari juga berwarna cokelat. Tapi kalau tidak pakai tudung di siang hari, iris matanya berubah menjadi silver karena terlalu banyak menyerap cahaya. Pandangannya tertutup seluruhnya oleh cahaya,” Ucapnya pelan membuat kesimpulan dari buku yang dibacanya beberapa malam ini. Juga dari praktek sederhana yang baru saja ia lakukan.
Sementara itu Gavin mengikuti perintah Lysander, selama beberapa hari ini ia terus mengikuti gerak-gerik Jax dari kejauhan. Matanya tidak pernah lepas darinya. Melihat siapa saja yang berinteraksi dengannya dan kemana saja ia bepergian di luar jam latihan.
Tidak terasa seminggu sudah berlalu begitu saja. Dan sesuai dengan prediksi Lysander sebelumnya, beberapa orang berjubah dan bercadar datang mengepung Jax saat ia sedang sendirian di tempat sepi.
Gavin mengamatinya dari jauh. Menjaga jarak aman agar tidak diketahui oleh Jax dan orang-orang itu.
“Siapa kalian?” tanya Jax.
Kedua tangannya mengepal ke depan. Tubuhnya bersikap waspada, bersiap menyerang kapanpun.
Seorang dari kelompok berjubah itu tanpa kata langsung maju memukulnya namun berhasil ditangkis oleh Jax. Tapi tetap saja, lima lawan satu masih terlalu berat untuk Jax. Ketika kelima orang itu maju secara bersamaan, Jax akhirnya hanya bisa meringkuk di tanah sambil melindungi kepalanya untuk menghindari cidera yang lebih parah.
Setelah puas memukuli Jax, kelima orang itu pergi begitu saja, masuk ke dalam hutan di dekat mereka. Gavin masih bersembunyi di kejauhan. Setelah memastikan Jax masih bergerak, barulah ia pergi dan menghampiri seorang prajurit patroli yang kebetulan sedang berjalan ke arahnya.
“Tolong! tadi aku melihat orang dikeroyok di sebelah sana.”
Gavin menunjuk ke arah lokasi keberadaan Jax. Lalu kedua prajurit itu langsung berlari ke arah yang ditunjuknya. Gavin melihat kedua prajurit itu pergi dan ia pun langsung pergi ke arah berlawanan untuk kembali ke tenda. Senyumnya tersungging selama ia berjalan. Tugas dari Lysander sudah diselesaikan dengan baik olehnya.
Sementara itu, kedua prajurit tadi melihat Jax terbaring di tanah dengan tubuh penuh lebam dan lecet. Ia meringis kesakitan setiap kali menggerakkan tubuhnya.
“Ayo bawa dia ke tabib dulu.”
Jax dipapah oleh kedua prajurit itu menuju ke tenda pengobatan untuk diobati.
Kabar kejadian ini langsung menyebar ke seluruh penjuru Draven. Jax adalah pemimpin pasukan bantuan dari istana dan dikenal memiliki kemampuan bela diri yang cukup hebat. Bahkan Kaelen pun sudah mendengar kejadian tersebut. Setelah mendengar apa yang terjadi, Kaelen bergegas menuju ke tenda pengobatan untuk melihat secara langsung kondisi Jax sekaligus bertanya tentang orang-orang yang menyerangnya.
Namun langkahnya tertahan saat Lysander datang dan berdiri tepat di hadapannya.
“Aku ada urusan, anda bisa menunggu di dalam tenda dulu,” ucap Kaelen kepada Lysander.
Lysander meliriknya kemudian teringat kembali dengan laporan Gavin barusan. Ia berdehem lalu berkata, “Jax tidak apa-apa, kamu tidak perlu melihatnya.”
“Dia baru saja diserang sekelompok orang, aku harus tahu siapa orang-orang itu. Bagaimana kalau ternyata mereka adalah penyusup dari negara tetangga?”
Kaelen khawatir bukan tanpa alasan. Posisi mereka saat ini sangat rawan. Masalah sekecil apapun harus segera diselesaikan agar tidak berpengaruh ke keamanan benteng.
Lysander menatap langsung ke mata Kaelen kemudian berkata, “mereka bukan penyusup dari negara tetangga.”
“Kamu mengenal mereka?” Tanya Kaelen sedikit curiga melihat respon Lysander yang tetap setenang itu.
“Tidak kenal,” Jawabnya singkat
“Bagaimana kamu bisa tahu kalau mereka bukan penyusup?” Tanyanya lagi mencoba mengoreksi informasi.
Namun Lysander tetap diam membisu.
Matanya masih menatap Kaelen namun lidahnya terasa kelu untuk mengatakan sesuatu.
Lalu datanglah seorang prajurit dan langsung memberi hormat kepada Kaelen. Ia mengeluarkan sebuah benda dari dalam pakaiannya dan memberikannya kepada Kaelen.
“Komandan, benda ini ditemukan di tempat Tuan Jax diserang,” Ucap prajurit itu setelah memberikan benda tersebut kepada Kaelen.
Sebuah pelat nama yang terbuat dari kayu. Di atasnya ada ukiran gambar burung hantu.
“Organisasi burung hantu?” Gumamnya lirih.
“Organisasi pengumpul informasi terbesar di Alterus,” ucap Lysander menyahuti gumaman Kaelen.
Kaelen menatap Lysander kemudian menatap plat nama di tangannya.
“Apa dia sudah membuat masalah besar, sampai diserang oleh organisasi ini?”
Lysander teringat lagi dengan isi surat yang dikirim ke Cassian. Senyum kecil kembali muncul di wajahnya, “sepertinya iya.”
“Biarkan dia menyelesaikan urusannya sendiri, sekarang aku memiliki urusan penting denganmu,” Ucap Lysander dan berjalan melewati Kaelen menuju ke tenda Sang Komandan.
Kaelen akhirnya mengikuti Lysander menuju ke tenda dan tentu saja Gavin membuntuti di belakang keduanya. Seperti biasa, Lysander langsung duduk dan menuangkan teh ke cangkir kemudian menyeruputnya secara perlahan. Rasa hangat langsung menyelimuti tubuhnya. Mengusir rasa dingin yang sebelumnya terasa menusuk hingga ke tulang.
“Apa yang ingin dibicarakan?” Tanya Kaelen setelah ia duduk di kursi samping Lysander.
“Desain yang diberikan oleh Gavin waktu itu, apa sudah selesai?” Tanyanya setelah meneguk teh tersebut.
“Sudah, dua hari yang lalu sudah diantar ke sini tapi aku belum sempat memberitahu Gavin.”
Kaelen berjalan ke arah lemari kecil di samping meja dan mengeluarkan tiga set pakaian. Kemudian meletakkannya di atas meja agar Lysander bisa melihatnya secara langsung.
Lysander meraba kain baju tersebut kemudian mengangguk puas.
“Memangnya baju ini mau buat siapa?” Tanyanya karena dari model baju itu sama sekali bukan selera Lysander maupun Gavin. Jika tebakannya benar, satu-satunya orang yang mungkin berpakaian seperti ini hanyalah penyihir itu.
“Zephyr, dia membutuhkan baju yang lebih sederhana dari jubah besarnya.”
Mendengar jawaban itu, Kaelen menganggukkan kepalanya. Tebakannya ternyata tidak meleset.
Kemudian ia tidak bertanya lagi dan mengambil ketiga set baju tersebut dari meja lalu memberikannya kepada Gavin. Gavin yang meminta desain itu, artinya dia juga yang harus memberikannya sendiri kepada Zephyr.
“Apa hanya itu yang mau dibahas?” tanya Kaelen lagi.
“Tidak.”
Lysander meletakkan cangkirnya ke atas meja kemudian menatap Kaelen dengan lebih serius. Ia mengeluarkan gulungan kertas yang tersimpan di dalam bajunya kemudian menyerahkannya kepada Kaelen.
“Ini data persediaan yang dibuat Xavier dan hasil penyelidikan Gavin ke benteng kecil yang dekat dengan Draven.”
Kaelen menerima gulungan kertas tersebut dan membaca isinya. Dahinya mengerut setiap kali ada informasi baru yang didapatnya. Semua informasi ini pada akhirnya adalah Draven cepat atau lambat akan mengalami krisis logistik lagi. Krisis itu mungkin akan jauh lebih parah dari kemarin.
“Kenapa istana melakukan ini?” Tanya Kaelen sambil menatap mata Lysander.
Namun di matanya hanya ada ketenangan, tidak ada sedikitpun kepanikan di sana.
“Pikiran Kaisar kita tidak bisa menebaknya, yang penting sekarang memikirkan bagaimana cara kita melewati hari-hari ke depannya dengan pasokan seadanya.”
“Bukankah sudah ada sumber pangan dari desa?”
Kaelen mengingatkan Lysander tentang program pertanian dan peternakan yang baru dibentuk. Jika lancar sesuai dengan rencana Xavier, mereka tidak lagi bergantung kepada istana.
“Benih dan hewan ternak yang kita berikan terlalu sedikit untuk bisa bergantung sepenuhnya ke hasil tani dan ternak desa. Kita harus memikirkan solusi setidaknya untuk beberapa bulan ke depan tanpa membuat moral pasukan menurun akibat logistik yang tidak layak.”
Kaelen mengangguk, ia pun menyadari celah dari program yang baru mereka bentuk dan juga tingkat keseriusan masalah ini. Solusi sebelumnya memang bisa membuat Draven bertahan tanpa bantuan istana. Tapi sampai waktu mandiri itu tiba, mereka masih membutuhkan pasokan dari istana. Jika memang benar istana sedang menargetkan Draven, maka bertahan beberapa bulan sampai waktu mandiri itu tiba sangatlah sulit.
“Prajurit!” Seru Kaelen memanggil prajurit yang berjaga di luar.
Seorang prajurit berlari masuk dan langsung berlutut di hadapan Kaelen.
“Siap, Komandan!”
“Panggil Tuan Alaric dan Xavier kemari,” Perintahnya.
“Baik, Komandan!”
Saat prajurit itu akan keluar, Kaelen memanggilnya kembali.
“Tunggu!”
“Apakah ada perintah lagi Komandan?”
Kaelen mengetikkan jarinya ke atas meja kemudian menatap prajurit tersebut.
“Panggil Evren juga,” Perintahnya dengan sorot mata penuh keyakinan.
Lysander melirik ke arah Kaelen. Ia menatapnya selama beberapa saat sebelum akhirnya kembali menyeruput tehnya. Keputusannya untuk memanggil Evren ia akui sudah sangat tepat. Sebagai mantan Jenderal, Evren pasti memiliki cara berpikir yang lebih matang jika berkaitan dengan pasukan dan bisa memberikan pertimbangan yang berguna.
Dari keputusan itu, Lysander mulai menyadari bahwa Komandan di hadapannya berbeda dari komandan benteng lain yang pernah ia temui. Kebanyakan dari mereka hanya memikirkan kejayaan dan reputasi sendiri, sedangkan Kaelen justru tidak ragu meminta pendapat orang lain ketika menyangkut keselamatan seluruh pasukan.
Di tiga tempat berbeda, pada waktu yang bersamaan. Tuan Alaric yang sedang beristirahat di tendanya, Xavier yang sedang berlatih, dan Evren yang sedang berjaga di pos jaganya dihampiri oleh seorang prajurit.
“Tuan, Anda diminta menghadap Komandan di tendanya.”