Kiamat zombie mungkin itu hanya cerita film dan dalam buku. Tapi bagaimana jadinya jika itu terjadi?
Itu yang dirasakan oleh Hayden Vihaan pria berusia dua puluh lima tahun yang terjebak dalam kiamat zombie. Dia yang dari dulu di rawat oleh kakeknya seorang ilmuan sudah memang mempersiapkan semuanya. Kendaraan yang bisa di tumpangi enam orang di sulap menjadi mobil ajaib yang memiliki sistem pertahanan yang kuat. Tidak hanya mobilnya tapi villa yang memiliki bangker dan pertahanan sama kuatnya.
Bagaimana cerita selanjutnya yuk simak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32
Hayden berdiri di tepi tebing belakang villa, menatap melintasi hamparan hutan cemara yang pekat. Di tangannya, sebuah teropong taktis jarak jauh tergenggam erat. Angin malam berembus lebih dingin dari biasanya, membawa aroma tanah basah dan desis halus yang membuat naluri bertahannya kembali menegang.
Dion melangkah mendekat tanpa suara, memegang sebuah konsol portabel yang memancarkan kedipan cahaya merah cepat.
"Sensor perimeter jarak jauh Sektor Tujuh baru saja mati, Hayden," ujar Dion, suaranya yang tadinya santai kini berubah menjadi bisikan berat. "Bukan karena hewan liar atau cuaca. Seseorang memotong kabel serat optiknya dari luar secara presisi."
Hayden menurunkan teropongnya, matanya menyempit di dalam kegelapan. "Berapa banyak sinyal?"
"Tiga konvoi siluman," jawab Dion seraya menunjukkan layar konsol. "Mereka bergerak tanpa lampu, menggunakan pengacak frekuensi kelas militer tingkat tinggi. Ini bukan sekadar penjarah jalanan atau milisi sisa-sisa Aegis."
Dari arah lorong basement, Karl melangkah keluar dengan raut wajah keras. Tangan bio-mekanik keemasaannya memercikkan arus listrik tipis saat jemarinya mengepal.
"Sinyal enkripsi rahasia milik Helena baru saja diretas dari luar," kata Karl dingin. "Seseorang di Sektor Pusat telah mengaktifkan protokol pelacakan genetik lama milik Aegis. Mereka tidak mencari *Virus Genesis* versi lama, Hayden. Mereka mencari dua sinyal biologis khusus yang stabil."
Hayden dan Dion saling pandang. Target mereka bukan lagi benteng, vaksin, atau teknologi lama. Target mereka adalah Hayra dan Nico.
Di dalam villa, Fiora baru saja menyelimuti Hayra dan Nico yang tertidur di ruang tengah. Ia mendongak saat merasakan perubahan aura ketika Hayden, Dion, dan Karl melangkah masuk ke dalam rumah. Senyum hangat di wajah Fiora memudar seketika, digantikan oleh kewaspadaan murni seorang ibu yang telah melewati kiamat.
"Ada apa?" tanya Fiora pelan namun tegas, matanya langsung tertuju pada senapan serbu yang kini ada di tangan Hayden.
"Perimeter luar kita tembus," jawab Hayden singkat. "Seseorang tahu kita ada di sini, Fiora. Dan mereka tahu siapa Hayra dan Nico."
Mery melangkah berdiri di samping Fiora, langsung menggandeng Nico yang terbangun perlahan, sementara Leo dan Maya dengan sigap mengambil posisi di dekat jendela dengan busur dan senjata taktis mereka.
Dr. Helena keluar dari laboratorium bawah tanah membawa sebuah drive memori terenkripsi baru. "Hayden... jika mereka memiliki pelacak genetik tingkat lanjut, mereka bukan cuma sisa-sisa masa lalu. Ada faksi baru yang bangkit dari peradaban luar—mereka yang ingin memanfaatkan darah Hayra dan Nico untuk menciptakan manusia super terkontrol."
Tiba-tiba, suara dengung helikopter tanpa awak (*drone* siluman) terdengar dari atas langit villa. Cahaya laser merah berpresisi tinggi mulai memindai dinding-dinding kayu rumah tersebut, mencari tanda biometrik di dalam ruangan.
Di pergelangan tangan Hayra dan Nico, gelang pemantau biologis milik mereka mendadak berkedip merah cepat. Warna kristal di mata Nico menyala terang dalam kegelapan, sementara di bawah kulit leher Hayra, garis pembuluh darah halus berpenampakan keemasan mulai bergetar pelan—bereaksi terhadap gelombang frekuensi pemicu yang dipancarkan musuh dari luar.
Hayden membalikkan meja kayu tebal untuk dijadikan barikade utama, mengokang senjatanya dengan tatapan mata yang menyala oleh ketegasan dingin.
"Dua puluh tahun kita bertarung untuk mencapai kedamaian ini," ujar Hayden, menoleh ke arah Fiora, Karl, dan seluruh keluarganya. "Jika dunia di luar sana masih ingin merebut anak-anak kita... maka kita akan tunjukkan kenapa kita berhasil selamat dari kiamat."
Di luar villa, suara roda rantai kendaraan lapis baja berat mulai merobohkan pohon-pohon cemara luar. Kedamaian sepuluh tahun telah usai, dan pertempuran baru untuk melindungi fajar harapan kemanusiaan resmi dimulai.
*BZZZZT!*
Lampu minyak dan aliran listrik di dalam villa mendadak mati total saat gelombang kejut *Electromagnetic Pulse* (EMP) berdaya tinggi menghantam lokasi tersebut. Kegelapan gulita langsung melingkupi ruang tengah, hanya disinari oleh kilatan laser merah dari *drone* siluman di luar jendela dan pendaran cahaya dari tubuh kedua anak itu.
Mata kristal merah Nico menyala makin terang dalam kegelapan, sementara pembuluh darah berpenampakan keemasan di leher Hayra memancar makin pekat. Gelombang frekuensi pemicu dari musuh mencoba memaksa mutasi biologis di darah mereka meledak secara liar.
"Tutup telinga dan mata anak-anak!" seru Dr. Helena seraya membagikan kacamata polarisasi khusus dan peredam sinyal frekuensi biologis pasif yang telah disiapkannya untuk situasi darurat ini.
Fiora dengan sigap memasangkan peredam sinyal itu ke leher Hayra, memeluk putrinya erat-erat. "Tenang, Sayang... Mama ada di sini," bisik Fiora mantap, menahan tubuh Hayra yang sempat bergetar. Seketika, pendaran keemasan di leher Hayra meredup dan kembali stabil.
Di sudut lain, Mery memeluk Nico, membiarkan Karl memasangkan pelindung serupa pada putranya.
"Dion, Karl, ambil posisi di jendela Sektor Timur dan Barat!" perintah Hayden dengan nada dingin yang sarat kendali taktis. "Leo, bawa Maya, Helena, Mery, dan anak-anak turun ke bungker bawah tanah sekarang!"
"Aku tidak akan turun, Pa!" potong Leo tegas, jemarinya mencengkeram erat senapan serbu di tangannya. "Aku bertarung bersama Papa dan Om Dion di sini."
Hayden menatap putra angkatnya sejenak. Di dalam mata Leo, Hayden melihat keberanian murni yang sama dengan dirinya saat pertama kali bertahan hidup dari gelombang pertama wabah. Hayden mengangguk pelan. "Jaga pintu masuk bungker dari dalam ruang tengah. Jangan biarkan satu pun dari mereka lolos."
*BAM! BAM! BAM!*
Dinding kayu bagian depan villa hantam oleh rentetan peluru penembus lapis baja. Puing kayu dan debu membubung tinggi.
"MEREKA MASUK!" teriak Dion seraya membuka tembakan balasan dari balik barikade meja tebal.
Tiga prajurit berkostum taktis serba hitam dengan perisai komposit dan helikopter pneuma menerobos masuk melalui jendela yang hancur. Di dada zirah mereka, terukir lambang baru yang belum pernah dilihat sebelumnya—sebuah lingkaran perak bergaris ganda yang melambangkan *Sovereign Initiative*, faksi militer tersembunyi yang bangkit dari konsorsium peradaban baru.
"Amankan spesimen hibrida hidup-hidup! Eliminasi sisanya!" teriak komandan pasukan musuh melalui pengeras suara helmnya.
*RATATATATAT!*
Baku tembak jarak dekat yang sengit pecah di dalam ruang tengah villa tua itu.
Karl bergerak bagaikan bayangan mematikan. Tangan bio-mekanik keemasaannya mencengkeram perisai prajurit terdepan, menyalurkan tegangan listrik arus tinggi yang langsung melumpuhkan sistem saraf musuh dalam hitungan detik. Di sisi lain, Dion memberondong dua prajurit pembawa senjata peluncur gas dengan presisi tanpa celah.
Namun, pasukan musuh di luar terus bertambah. Dua kendaraan lapis baja berat merobohkan pagar utama villa, mengarahkan meriam gelombang suara ke arah bangunan utama.
"Hayden! Mereka menggunakan pemancar gelombang mikro frekuensi tinggi di kendaraan utama!" seru Karl melalui radio taktisnya, mata siberinetiknya memindai medan tempur. "Mereka mencoba melumpuhkan sistem saraf Hayra dan Nico dari jarak jauh!"
Di dekat pintu bungker, Hayra mengerang pelan. Meski peredam sinyal telah terpasang, getaran meriam gelombang suara itu membuat dadanya sesak.
Melihat adiknya kesakitan, mata kristal merah Nico berkilat dengan amarah murni. "Jangan sentuh adekku!" raung Nico.
Sebelum Mery sempat menahannya, Nico yang memiliki refleks biologis luar biasa melompat melewati barikade. Dengan kecepatan yang tak mampu dikejar mata manusia biasa, Nico menerjang seorang prajurit musuh yang mencoba mendekati Fiora, merampas senjatanya, dan memukul mundur prajurit tersebut dengan satu hantaman bertenaga mutan tersembunyi.
"Nico, kembali!" teriak Hayden.
Hayden melompat dari balik barikade, memotong jalur tembak musuh untuk melindungi Nico. Dengan pisau taktis di tangan kiri dan senapan serbu di tangan kanan, Hayden menebas jalur pernapasan zirah dua prajurit *Sovereign* dalam satu gerakan melingkar yang sempurna.
Ia menyambar tubuh Nico, melemparkan anak itu kembali ke dalam pelukan Karl. "Bawa mereka masuk ke bungker! Sekarang!"
Fiora, Mery, Dr. Helena, dan kedua anak itu akhirnya berhasil dievakuasi masuk ke dalam pintu baja tebal bungker bawah tanah. Fiora menatap Hayden dari ambang pintu yang mulai menutup.
"Hayden, kembalilah padaku!" jerit Fiora di antara suara dentuman senjata.
"Selalu, Fiora!" balas Hayden seraya menekan tombol pengunci otomatis dari luar.
*KLANG!*
Pintu bungker baja berlapis timbal terkunci rapat, mengisolasi Hayra dan Nico dari pancaran gelombang pemicu musuh.
Kini, tinggal Hayden, Karl, Dion, dan Leo yang tersisa di dalam ruang tengah villa yang telah hancur berantakan. Asap mesiu membumbung pekat, menyelimuti empat pria dari dua generasi yang berdiri sejajar menghadapi puluhan prajurit *Sovereign Initiative* yang mulai mengepung halaman.
Hayden mencabut magazin kosong dari senjatanya, mengisinya dengan magazin cadangan terakhir, lalu menoleh ke arah Dion, Karl, dan putra angkatnya, Leo.
"Mereka pikir kita adalah sisa-sisa kiamat yang mudah dihancurkan," kata Hayden, suaranya berat, dingin, dan penuh wibawa. "Hari ini, kita ajarkan pada mereka... kenapa kita yang bertahan hidup."
Dengan gerungan mesin kendaraan tempur musuh yang makin mendekat dan hujan tembakan yang merobohkan atap villa, pertempuran terbesar untuk mempertahankan rumah dan masa depan anak-anak mereka memasuki babak yang paling berdarah.
...----------------...

Hayden Vihaan

Fiora Dominic

Hayra Vihaan

Karl Vaugan

Mery

Nico Vaugan

Dr. Helena

Dion

Leo Danielle
Maya