Kiamat zombie mungkin itu hanya cerita film dan dalam buku. Tapi bagaimana jadinya jika itu terjadi?
Itu yang dirasakan oleh Hayden Vihaan pria berusia dua puluh lima tahun yang terjebak dalam kiamat zombie. Dia yang dari dulu di rawat oleh kakeknya seorang ilmuan sudah memang mempersiapkan semuanya. Kendaraan yang bisa di tumpangi enam orang di sulap menjadi mobil ajaib yang memiliki sistem pertahanan yang kuat. Tidak hanya mobilnya tapi villa yang memiliki bangker dan pertahanan sama kuatnya.
Bagaimana cerita selanjutnya yuk simak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jumarlin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Pertempuran di ruang tengah villa makin tidak terkendali. Tembakan meriam gelombang suara dari kendaraan lapis baja *Sovereign Initiative* terus memborbardir fondasi bangunan, membuat kayu-kayu atap berjatuhan dan terbakar.
Di tengah kepulan asap mesiu yang membumbung pekat, tiga prajurit elite musuh berhasil menerobos masuk membawa peluncur proyektil berkecepatan tinggi. Mereka mengarahkan senjata tersebut ke arah pintu bungker baja tempat Fiora dan anak-anak bersembunyi.
"Tahan pintu bungker!" teriak Hayden seraya memberondong prajurit terdepan.
Namun, seorang komandan *Sovereign* melepaskan tembakan peledak khusus ke arah barikade. Ledakan keras itu merobohkan tiang penyangga utama, menghempaskan Leo dan Dion ke sudut ruangan. Hayden berusaha bangkit, namun serpihan ledakan menancap di bahunya, membuatnya tertahan di balik reruntuhan.
Melihat jalur menuju bungker terbuka lebar, komandan musuh menyiapkan muatan peledak termit untuk menghancurkan kunci pintu baja dari luar.
"Jangan sentuh pintu itu!" raung Karl.
Karl menerjang maju tanpa memikirkan keselamatannya sendiri. Tangan bio-mekanik keemasaannya bergetar hebat saat ia menyalurkan seluruh sisa daya inti energi dalam tubuhnya. Ia mencengkeram leher komandan musuh, membantingnya ke dinding, lalu menggunakan tubuhnya sendiri sebagai perisai hidup untuk menutupi pintu bungker dari rentetan tembakan dua prajurit lainnya.
*BARRR! BARRR! BARRR!*
Proyektil penembus baja bertubi-tubi menghantam dada dan punggung Karl. Darah segar menyembur, membasahi pintu baja bungker. Meski tubuh fisiknya telah hancur dan sistem bio-mekaniknya mengeluarkan percikan api, Karl tidak bergeming sedikit pun. Dengan sisa tenaganya, Karl mencengkeram pemicu granat di pinggang musuh.
"Hayden... jaga keluargaku..." bisik Karl parau melalui radio taktis.
*BOOOMM!*
Ledakan dari dalam mengancurkan prajurit musuh di sekitar pintu bungker. Karl roboh ke lantai kayu yang tertutup debu, napasnya perlahan terhenti diiringi matinya pendaran cahaya pada tangan bio-mekaniknya.
Di dalam bungker bawah tanah, getaran ledakan itu terasa amat dahsyat. Dari celah peredam suara pintu baja, suara pemicu granat dan bisikan terakhir Karl terdengar samar.
Nico membeku. Gelang pemantau biologis di pergelangan tangannya mendadak retak. Rasa kehilangan yang amat dalam melintasi dadanya, menghancurkan seluruh dinding pertahanan emosional anak berusia tiga belas tahun itu.
"Ayah..." bisik Nico, suaranya gemetar sebelum berubah menjadi raungan keputusasaan yang memilukan. "AYAAAHHH!"
Mery menjerit dan menahan tubuh putranya, namun kekuatan Nico mendadak melonjak secara mengerikan. *Virus Genesis-X* laten di dalam darahnya, yang selama sepuluh tahun ditahan oleh ikatan keluarga dan ketenangan, kini meledak sepenuhnya akibat amarah dan duka murni.
*KREEEAK!*
Pintu bungker baja berlapis timbal yang terkunci dari luar mendadak penyok dari dalam.
Warna merah di mata kristal Nico tidak lagi sekadar berbinar—iris matanya menyala merah darah yang sangat pekat dan membara. Pembuluh darah berpenampakan keemasan merambat cepat dari leher, pipi, hingga menyelimuti seluruh tangannya. Aura mutasi laten tingkat sempurna terpancar dari tubuhnya, menciptakan tekanan gelombang biologis yang membuat udara di sekitar ruangan terasa berat.
"Nico, jangan!" jerit Mery seraya menangis, berusaha merengkuh putranya.
Namun Nico tidak lagi mendengar suara siapa pun. Dengan satu dorongan bertenaga mutan penuh yang mengabaikan batas fisik manusia biasa, Nico menghantam pintu baja bungker yang penyok hingga terlempar lepas dari engselnya.
*BANG!*
Nico melangkah keluar dari dalam bungker, berdiri di atas reruntuhan pintu baja. Di hadapannya, tubuh Karl terbaring kaku di antara puing-puing yang terbakar.
Melihat tubuh ayahnya yang sudah tidak bernyawa, amarah Nico mencapai puncaknya. Ia mendongak, menatap sisa-sisa pasukan *Sovereign Initiative* yang berdiri terpaku ketakutan melihat kebangkitan monster mutan yang selama ini mereka buru.
Nico melontarkan dirinya ke depan dengan kecepatan yang melampaui batas pandang mata. Tanpa menggunakan senjata api, Nico meremukkan perisai komposit musuh hanya dengan cengkeraman tangan kosongnya. Kecepatan, refleks, dan kekuatan bertarungnya meningkat puluhan kali lipat, meluapkan seluruh amarah atas kematian ayahnya dalam sebuah pembantaian yang dingin dan mematikan.
Hayden yang baru saja bangkit dari reruntuhan menatap pemandangan itu dengan mata membelalak. Ia melihat Nico bertarung bagaikan badai yang tak terkendali—sebuah manifestasi mengerikan dari *Virus Genesis-X* yang selama ini mereka takuti, namun kini lahir dari kepedihan seorang anak yang kehilangan ayahnya.