Indonesia
NovelToon NovelToon
Winter, Lost At Snow

Winter, Lost At Snow

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Percintaan Konglomerat / Cinta pada Pandangan Pertama / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: BLACKend077

Judul: Winter, lost at snow.

Blackend.


Lee Min Ho pemilik Cheonsang grup nemiliki kehidupan yang terikat oleh Winter Choi. keduanya bersahabat bahkan banyak orang menyangka kalau mereka adalah sepasang kekasih.
Namun, kejadian tak terduga membuat keduanya saling bergantung, orang tua Winter ditemukan gantung diri bersamaan dengan hilangnya supir pribadi ayah Minho, Lee Hansol.
Bertahun-tahun berlalu hingga Winter bertemu dengan Chan Kim, keduanya jatuh cinta dan menghadapi banyak polemik. tanpa sepengetahuan Winter, Chan Kim bertujuan untuk balas dendam.

Apakah Chan betul-betul mencintai Winter?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BLACKend077, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tempat yang dingin

Derap sepatu pantofel memenuhi lorong apartemen yang sunyi, langkahnya yang lebar berhenti tepat di depan pintu unit 401. Ia menimang kembali apa yang telah ia rencanakan sendiri serta apa yang dibicarakan Woobin kepadanya.

Tangannya menekan bel lalu mengetuk pintu, hanya ada jawaban kecil dari dalam menanyakan siapa dirinya, ia tidak menjawab menunggu si empunya apartemen membukakan pintu dan mempersilahkan dirinya untuk masuk.

Tae Chul memperlihatkan senyum terbaiknya begitu Seo Ari membuka pintu, Ari berdiri dengan mata sayu dan piyama yang sedikit terbuka memperlihatkan bahu kecil putih bergesek dengan ujung rambut kecoklatan, matanya membulat begitu sadar kemana perhatian mata Tae Chul.

"Oh," Ari kembali menutup pintu.

Tae chul menutup separu wajahnya yang memerah.

Pintu kembali.terbuka, kini Ari telah mengenakan hodie dan celana pendek selutut. "Masuklah."

Hati Tae chul bersorak, yes. ini sesuai dugaan dan rencana.

"Ada apa kau datang kemari?"

"Aku? em, hanya ingin melihatmu."

"Why?"

"Aku merindukanmu."

"Isk, Bohong. apa kau baik-baik saja dengan Wiski? aku tidak punya bir atau Wine," tawarnya sembari menunjukan gelas wiski.

"Kau punya kopi?"

"Em, ya. aku akan membuatnya."

Tae chul memerhatikan Ari yang menyiapkan kopi di dapur, ia berjalan kearah almari kecil dimana berjejer pas foto dan jejeran novel romansa.

"Apa kau tidak punya foto keluarga?"

Ari tersenyum. ia berjalan mendekati Tae chul, memberikannya secangkir kopi. "Tidak ada. aku pun tidak memiliki foto kedua orang tuaku. Em, apa itu tidak wajar?"

"Wajar. kau masih mengunjungi ibumu?"

Ari menggeleng. "Tae chul-shi, apa kau ingin tahu rahasia ku yang lainnya?"

"Ya. aku menyimpan rahasia dengan baik."

"Kecelakaan yang terjadi di Myeong-dong"

Tae chul mengerjapkan matanya sambil memerhatikan Ari yang terus menceritakan rahasianya, tetapi kepalanya terasa sakit serta matanya semakin berat membuatnya kehilangan fokus.

Cangkir kopi terlepas dari tangannya hingga pecah membentur lantai, ia mencoba meraih tangan Ari tetapi, Ari hanya melihatnya dengan mata satu dan bibir yang bergerak mengucapkan 'maaf'.

Tae Chul tersungkur di lantai.

Beberapa saat kemudian, laki-laki dengan tubuh tegap dan pakaian serba hitam muncul dari dalam kamar Ari, ia menghampiri tubuh terkulai Tae Chul dan berjongkok.

"Kau menyesal?" tanyanya.

"Tidak," jawabnya dengan suara sedikit bergetar.

"Kau ketakutan."

Ari hanya memeluk tubuhnya sendiri.

"Ari-shi," panggil Minho di sertai dengan intonasi keras.

Ari menatap Minho yang berdiri menatapnya dengan tajam, ia merapikan rambut menghilangkan rasa takutnya.

"Aku akan membawanya, bersihkan apartemenmu."

"Kau akan membawanya kemana?"

"ke tempat yang sangat dingin," jawabnya. Ia meninggalkan senyuman penuh dengan rasa puas, wajah dingin itu seperti biasa menikmati setiap apa yang telah terjadi dalam pikiran dan benaknya.

Hingga pintu apartemen tertutup degup jantung Seo Ari tidak beraturan. "Tidak Seo Ari, sadarlah!" ujarnya pada dirinya sendiri sembari menampar kedua pipinya.

"Ke tempat yang sangat dingin."

Ari kembali terdiam, pikirannya yang kacau bersama pertanyaan yang keluar dari gumamannya, "kemana dia membawa, Tae chul? Gunung jirisan? Gunung Baekdo? Isk, apa yang harus ku lakukan?"

...****************...

Tae chul meringis merasakan rasa sakit pada tengkuk dan kepala belakangnya, kini ia merasakan pergelangan tangannya kram. matanya mengerjap dan menyipitkan mata karena cahaya lampu gantung yang menyorot ke wajahnya.

"Bagaimana tidurmu? apa sangat nyenyak?"

Tae chul melihat Minho duduk di hadapannya dengan wajah datar seraya membenarkan sarung tangan kulitnya, mata Minho yang menatap Tae Chul seakan telah menguliti dirinya.

"Presdir Lee."

"Why?" Minho meraih dokumen dari meja disampingnya dan melempar kearah Tae Chul.

Tae Chul melihat dokumen yang berserak, matanya tertuju dengan foto profil dari salah satu dokumen tersebut.

"Tae Chul, kau tahu berada dimana sekarang?"

Tae Chul merasakan hawa dingin di sekitarnya, bau lembab serta terdengar suara tetesan air yang jatuh diatas westafel, bau clorin bercampur bau sabun mewah, ia tidak yakin berada di griya tawang Presdir Lee.

"Ha Tae Chul," Minho membuka satu suntikan sembari tersenyum kearah Tae chul ia menarik kursinya mendekati Tae Chul. "Kau tau dongeng mansion Lee?"

Tae Chul berkerut.

"Kau tahu kenapa Nyonya besar dari mansion Lee tidak pernah ada yang tahu, karena dia terkurung di imajinasi suaminya. Seperti, aku mengurung Winter dalam pikiranku."

"Dimana dia?"

"Winter? Kenapa kau peduli?" Minho menyeringai melihat wajah Tae chul yang terpancing dengan nama Winter. "Bagaimana kabar kembaranmu?"

"Jadi, selama ini kau tahu tentangku?"

Minho terkikik menutup mulutnya, ia geli mendengar pertanyaan Tae Chul yang terdengar seperti pecundang, ia mengangguk dan menunjukan senyum jahat.

"Isk, Kau memang bukan manusia," geram Tae Chul.

"Kau memiliki banyak kesempatan untuk membunuhku, kenapa kau tidak melakukannya?"

"Mengotori tanganku dengan darah ba***gan sepertimu, menjijikan," Tae Chul meludah liur tepat diatas sepatu sneaker Minho.

Minho berdecih seraya meremat jarum suntik dalam genggamannya. "Aish, bagaimana Chan mendidik kalian? Sopan santunnya harus dipertanyakan."

"Lee Minho, tunggulah. Chan Hyung, pasti akan membunuhmu."

Tanpa berkata apapun Minho meraih bola kettlebell dari meja disampingnya, tangannya dengan ringan melayang cepat mengahantam kepala Tae Chul. Suara dari tulang tengkorak kepala yang menggema di ruang basement bawah tanah, membuat Minho menyalak, menyeringai begitu darah hangat Tae Chul terciprat memenuhi wajahnya.

Mata terbelalak Tae Chul disaat kettlebell mengahantam kepalanya, ia juga merasakan darah yang perlahan mengalir di keningnya lalu ia kembali merasakan benda berat besi bulat itu menghantam kepalanya dan oleng, hanya tersisa sedikit kesadaran untuk melihat seringaian Minho.

"Akh," Minho mendesah kesal, ia membasuh kettlebell seberat 8 kg diatas westafel lalu melihat dirinya di cermin, "Aku harus mandi dan bertemu Winter."

...****************...

Tiga hari berlalu setelah kecelakaan Winter yang masih meninggalkan teka-teki untuk kepolisian distrik Myeong-dong, bukan hanya kepolisian yang terus menginvestigasi begitu juga Chan sendiri tetap mencari keberadaan Winter yang hilang tanpa jejak.

Pagi ini, ia menyelusuri pinggir jalan tempat kecelakaan terjadi. Sebelumnya ia meminta Woobin untuk mencari cincin pertunangan yang di pakai Winter, tetapi kemarin Woobin mengatakan tidak menemukan cincin yang dimaksud Chan dalam barang bukti.

"Kalau itu cincin yang berharga tidak mungkin dia melepasnya dan kabur," terka Jisung.

"Benar, cincin itu pasti dipakainya."

Namun, Chan ingin tahu sebetulnya apa yang di pikirkan oleh Winter, peristiwa kecelakaan yang terjadi dalam hitungan 15 menit tanpa meninggalkan jejak apapun dari korban dan pelaku. Hal yang aneh adalah Winter sudah dipastikan menjadi korban kecelakaan, tapi tidak satupun rumah sakit di distrik tersebut yang merawat pasien kecelakaan.

Suara klakson mobil membuatnya berhenti menyelusuri jalan, Chan menoleh dan mendengus kesal, begitu kaca jendela terbuka.

Minho membuka kaca mata hitamnya, "kau mencari sesuatu?"

Chan hanya berdiri seraya memasukan kedua tangannya kedalam saku coat long-nya tatapan penuh pertanyaan darinya membuat Minho membuka pintu mobil.

Minho memberi isyarat agar Chan masuk ke dalam mobil.

Chan menghela napas panjang, ya, kali ini ... aku harus berurusan dengannya, batinnya

"Oh, bagus," ucap Minho begitu Chan duduk tepat di sampingnya, ia segera melajukan mobil.

Jisung yang masih terpaku dipinggir jalan menggedikan bahu dan segera menyebrang tapi, ia kembali menoleh kearah mobil Minho, "apa dia ganti mobil, ada yang berbeda dari mobil sebelumnya meskipun warna dan tipenya sama, ah ... Fantasi orang kaya itu berbeda dengan mu, Han Jisung." ia menepuk jidatnya sendiri, berpikir kalau Minho memiliki mobil yang serupa dan mengganti setiap harinya.

Suasana didalam mobil terasa dingin, berkali-kali Minho mencoba mengganti siaran radio yang menyiarkan saham grup Cheonsang yang melejit, baik dalam perhotelan, galeri dan elektronik, Ia berkali-kali juga memutar lagu yang mungkin saja hanya tingkahnya untuk memulai percakapan.

"Kau tahukan, Winter, masih memiliki pameran?"

Chan yang memerhatikannya mulai jengah, ia membuka mulut, "apa ada ganti rugi untuk pameran, Winter?" tanya Chan tetap melihat ke depan.

"Tidak. Pameran tetap berjalan meski, Winter, tidak ada."

Chan menatap heran Minho.

"Why?" tanyanya acuh.

Chan mendengus memalingkan wajah kearah Minho, "uang?"

"Bingo!" Minho menjentikan jarinya, "para sponsor, investor setuju pameran tetap di selenggarakan tanpa, Winter. Asalkan kasus ini hanya kita berdua yang tahu."

Chan mebuang pandangan ke jendela, senyum smirknya jelas terlihat di spion.

"Wartawan kadang lebih kejam," bisiknya dengan senyum lebar.

"Minho. apa, Winter, tahu?"

"Tentang kita?"

Chan berdecih, "kita?"

"Oh bukan," Minho menoleh kearah Chan, menampilkan mata tajam sembari berdecih "dia tahu dan hanya diam, kenapa dia diam? Kau tahu?"

"..."

Minho berbisik sangat pelan, "dia tidak peduli."

Chan menahan kekesalannya.

Minho tertawa, "kau percaya?"

"Turunkan aku di depan studio Winter," Chan menunjuk gerbang mungil di sebrang jalan.

"Okey. Ah, hampir lupa. Semua tembikar milik, Winter, aku membawanya ke galeri dan ini," ia menyodorkan selembar tiket.

Chan membuka pintu mobil, membiarkan tangan Minho menggantung.

Minho berdecih.

"Aku punya tiket VIP," jawabnya sembari menutup pintu mobil dengan keras.

"Ah," ia keluar dari mobil dan mengikuti langkah Chan ke studio milik Winter.

Chan menekan kode pintu itu.

"2912*" Minho menjentikan jari.

Chan masuk. Matanya memerhatikan ruangan yang hampir kosong, hanya tersisa mug keramik berwarna biru. Minho membereskan semuanya dengan kata membawa sebagai hak milik itu sangat menjengkelkan.

"Apa kau mencari sesuatu?"

"Ya, sepertinya juga tidak ada di sini," Chan membawa mug tersebut.

"Apa yang akan kau lakukan?" tanyanya sembari berkeliling di sekitar jendela studio.

"Aku akan mencarinya, sekalipun tersisa kumpulan tulang," tegas Chan.

"Bagaimana?"

Chan mengangkat bahu lalu keluar dari studio.

"Chan, kau masih ingat junior yang, ck?" wajahnya meringis, "kebakaran di studio logam kampus?"

Chan tersenyum smirk, "aku selalu ingat, bajingan."

"Bagaimana kabar juniot itu? Apa dia mati karena luka bakar yang kata dokter 90%. Isk," Minho berdiri memperhatikan Chan yang menatapnya tajam. "kau sangat pandai menjaga orang-orangmu. Sangat ... Pandai. chan, neo jeong mal," ucapnya sembari mengacungkan kedua jari jempol.

"Aish, syekki."

"sepertinya aku akan menjenguknya. sanotorium Hanum? Benarkan?"

Chan tidak menjawab apapun, ia memilih meninggalkan Minho yang tetap berdiri di dalam studio. Chan menelpon Sun kyu begitu keluar dari gedung.

...****************...

Ha Sun kyu duduk di taman sanotorium dengan pandangan yang tak lepas dari ponselnya, ia menelpon Tae Chul berkali-kali sedari semalam tidak ada jawaban bahkan ponselnya dimatikan.

Saat ia menelpon ke perusahaannya, stafnya menjawab kalau Tae Chul sedang dalam perjalanan bisnis bersama Presdir Lee.

Namun, aneh. Tae Chul tidak mengabarinya sama sekali.

Tiba-tiba ponselnya berdering keras, nomer tidak dikenal.

"Halo, Ha Sun kyu-shi, kau keluarga dari Ha Tae Chul?" suara disebrang mengawali pembicaraan.

"Ya."

"Kami dari polda Jirisan, bisakah kau kemari?"

Ha Sun Kyu segera berlari ke dalam sanotorium meraih sweeter dan kunci mobilnya. Saat telponnya berdering, ia mengabaikannya dengan meninggalkan nya di kursi belakang kemudi.

...****************...

1
farel
mampir dulu ok
Ray
lanjut thor
💜Balqish H😻
keren alurnya
yosh—
done
☠ᵏᵋᶜᶟ🥀⃟ʙʟͤᴀͬᴄᷠᴋͥʀᴏsᴇ
aku mampir
☠ᵏᵋᶜᶟ🥀⃟ʙʟͤᴀͬᴄᷠᴋͥʀᴏsᴇ
semangaaat
💜Balqish H😻
wah
Rama Unik
Sepertinya presedir sangat lelah
Rama Unik
Hati mulai sakit
Aimi.。*♡🌸
Tulisannya rapi dan enak dibaca. Ceritanya bikin baper. Satunya sahabat jadi cinta, satunya menemukan cinta dari orang lain. Setiap chapternya bikin penasaran kelanjutannya kayak gimana. Semoga Minho punya bahagia dan cintanya sendiri nantinya.
Aimi.。*♡🌸
cari gadis lain ajalah minho 😥 jangan jadi sad boy
Aimi.。*♡🌸
denger tuh minho apa kata nenek
Leova
lanjut Thor!!
Rama Unik
Chan'ah.......
Hug me
Alpri prastuti: iya sini
total 1 replies
Rama Unik
Hidup penuh kejutan ya......
Aimi.。*♡🌸
yang namanya minho pasti ganteng banget
Nilaaa🍒
next up kak
Nilaaa🍒
penasaran sama masa lalunya
btw semangat selalu kak
saling dukung yuk
salam dari karya aku "Pelukis Buta Itu Suamiku" xixi
Nilaaa🍒
Duh potek hati Mas Minho, Winter
Nilaaa🍒
winter siap beraksi😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!