Erina Anggraini adalah mahasiswi yang tertuduh sebagai pelaku teror beberapa mahasiswa dan mahasiswi di kampusnya.
Hanya karena menemukan ponsel di jalan dan mengangkat telepon dari ponsel itu. Erina masuk ke ruang interograsi dan hampir di penjara. Bersyukur polisi tidak cukup bukti hingga dia di bebaskan.
Namun, setelah bebas hidupnya tidak tenang. Dia di teror oleh penelepon privat number. Dia di paksa untuk melakukan hal hal aneh kepada beberapa mahasiswa dan mahasiswi di kampusnya.
Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana Erina menghadapinya?
Terima kasih sudah mampir baca. Mohon koreksinya jika menemukan kesalahan dalam penulisan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eiiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelanggan Unik
Satu minggu berlalu. Erina beraktifitas seperti biasanya, kuliah dan bekerja. Namun, sekarang dia sudah tidak bekerja di kafe milik Kenzo. Dia bekerja membantu tentangganya yang berjualan nasi goreng di warung.
Memang awalnya tidak ada satu pun tetangga yang percaya dengan Erina karena dia sering di kunjungi polisi. Tapi, setelah Erina datang membantu si pemilik warung memadamkan api. Barulah ada satu tetangga yang mulai percaya kepadanya.
Sore itu, Erina baru saja sampai di rumah. Berisitirahat sebentar, kemudian bersiap-siap untuk pergi bekerja di warung nasi goreng. Selesai mandi, dia melihat ponselnya menyala ada panggilan masuk. Di layar ponselnya terlihat jelas ada tulisan ‘privat number’. Erina sudah tidak peduli lagi. Masa dengan bodoh si penelepon gila itu. Dia tau itu adalah Kenzo.
Erina mengabaikan ponselnya dan lanjut berganti pakaian. Begitu selesai, dia baru menengok ponselnya dan telepon sudah mati. Ada satu panggilan tidak terjawab dari si ‘dia’. Erina tersenyum miring. Tidak ada rasa takut seperti dulu. Di ganti rasa percaya diri yang tinggi.
“Udah tau! Udah ga takut. Gak penting. Bod*hnya aku orang g*la di ladeni?” Gumamnya geli mengingat beratap ketakutannya dia dulu.
Tanpa berpikir aneh-aneh. Dia pergi meninggalkan rumah. Berpamitan dengan ke dua orang tuanya. Mencium punggung tangan mereka dan meminta doa agar di beri kemudahan. Semenjak selamat dari kecelakaan itu. Erina selalu meminta doa sebelum dia pergi meninggalkan rumah.
Begitu menutup pintu rumahnya. Dia bingung karena ada surat di depan pintu rumahnya. Karena penasaran, Erina langsung mengambil surat itu dan membuka isinya. Dia membaca surat itu dengan seksama memahami isi dari surat itu.
Hesti sudah tidak ada. Kira-kira siapa lagi ya selanjutnya? Aku tau kamu sudah tau siapa aku. Makanya kamu tidak mau mengangkat teleponku lagi.
Sempat dia bergidik merinding. Tapi dia berusaha untuk bersikap baik-baik saja. Sebenarnya dia tidak tau siapa si ‘dia’ hanya menebak saja jika dia adalah Kenzo. Kemudian dia menarik napas panjang dan menghembuskan perlahan, merobek secarik kertas di tangannya, meremasnya dan membuang itu ke tempat sampah yang jauh dari rumah.
Sebenarnya Erina merasa sudah lelah, saking lelahnya dia sudah tidak peduli dengan apapun yang akan terjadi. Ini hidupnya, hidup orang lain bukan urusannya. Kenzo? Katanya gila? Entahlah dia orang yang memiliki banyak uang. Banyak kemungkinan dia bisa melakukan hal ini. Bahkan dia saja bisa menculik Hesti kala itu. Bisa jadi dia melakukan hal lebih.
“Masa bodoh. Kalau aku mati ya udah takdir aja.” Gumam Erina.
Dia berlagak sok baik-baik saja. Padahal jauh dalam lubuk hatinya dia merasa was-was takut dugaannya benar. Dia berusaha untuk mengendalikan pikirannya agar berpikir semua pasti baik-baik saja. Meski dia tau bahaya selalu mengintainya.
Sampai di warung.
Erina langsung bersiap membuka warung nasi goreng. Mempersiapkan meja, kursi, menyiapkan bahan makanan. Menata beberapa lauk tambahan di meja. Belum selesai bersiap pelanggan pertama datang.
Pria bertubuh tinggi kurus berpakaian serba pink mulai dari baju, celana, hingga sepatu semua serba pink. Pria itu juga memakai riasan di wajahnya. Erina cukup terhibur dengan penampilan orang itu. Tapi dia tetap profesional melayani dengan baik.
“Mbak saya mau pesan nasi goreng tanpa telur satu bungkus. Terus, saya mau di buatin minum yah. Es jeruk, es nya banyakin.” Ucap pria itu dengan suara seperti perempuan.
“Oh maaf eee mas.” Erina sedikit bingung cara memanggilnya.
“Iya?”
“Kami baru mau buka. Ini masih siap-siap sih. Jadi mas bisa menunggu sebentar?”
“Boleh, asal minumannya harus ada yah. Dan mbaknya temani saya ngobrol di sana. Gimana?”
Erina menoleh ke pemilik warung. Dan tidak di sangka pemilik warung langsung menganggukkan kepala. Erina hanya mampu tersenyum kaku. Ini bukan yang di harapkan. Dia berharap bisa membantu pemilik warung untuk bersiap-siap bukan menemani pelanggan ini. Yah, jujur saja. Erina sedikit takut dengan pria unik di depannya ini.
“Es jeruk satu ya mas?” Ucap pemilik warung yang sudah berdiri di samping Erina.
“Iyah. Esnya banyak ya bangg.”
“Oke. Silahkan di tunggu.”
Pemilik warung memberi kode ke Erina dengan mengangkat alisnya, kemudian melirik ke pelanggan unik itu. Erina pun langsung paham dan mengarahkan si pelanggan pertama duduk di tempat yang di sediakan.
Selama beberapa menit Erina mengobrol hal-hal acak dengan pria itu. Ternyata pria itu asik. Sesuai dengan penampilannya yang feminim. Dia tau banyak hal tentang skin care bahkan pria itu merekomendasikan beberapa produk ke Erina. Percakapan berhenti ketika pesanannya datang.
“Ini silahkan di nikmati.”
“Iya bang. Jangan lama-lama lah bang. Aku udah lapar bingit.”
“Makan di sini aja.”
“Enggak lah bang. Mau makan di rumah, biar bisa naikin satu kaki. Kalau di sini malu bang.”
Pemilik warung hanya tersenyum dan mengangguk. Erina juga ikut tersenyum dengan cara bicara pria yang duduk di depannya ini. Pria berpenampilan feminim ini melanjutkan percakapan dengan Erina membahas produk perawatan kulit yang sekiranya cocok untuk Erina. Tidak lama pesanan nasi gorengnya sudah datang.
“Ini mas pesanannya.” Pemilik warung menyerahkan pesanannya.
“Nah gitu dong bang. Lapar bingit aku. Berapa?”
“Lima belas ribu.”
“Mahal. Ya udah nih.”
“Wah masih baru buka. Gak ada kembalian. Uang pas ada?”
“Yang lima ribu buat mbak Erina ajah. Uang ngobrol yah. Permisi.” Pria itu pergi dan bersalaman dengan Erina seakan-akan seperti sahabat yang akan berpisah lama.
Mereka bersalaman cukup lama. Masih sesekali mengobrol tentang produk perawatan kulit. Satu menit kemudian dia baru melepaskan genggamannya. Sambil berbisik.
“Hubungi saja ya kalau minat. Banyak diskon sis.”
Kemudian, pria itu berlalu sambil melambai hingga masuk ke mobil berwarna merah menyala. Erina masih terpesona dengan penampilan dan karakter orang yang dia ajak bicara tadi. Benar-benar di luar dugaan.
“Mbak Erina ayok! Kita mulai potong sayur.”
“Baik pak.” Teriak Erina.
“Eh, taruh ini dulu di tas.” Gumam Erina.
Erina tersenyum membaca kartu nama yang baru saja dia dapat. Kemudian, alis Erina hampir menyatu melihat kartu nama itu. Selain ada kartu nama, di baliknya juga ada selembar kertas di lipat kecil menempel dengan kartu nama itu. Erina yang penasaran ingin membuka kertas itu. Namun, pemilik warung sudah berteriak kembali pertanda bahwa Erina tidak bisa membuka sekarang. Dia harus segera menaruh kertas dan kartu nama itu ke dalam tasnya.
***
Sore hingga malam ini Erina sangat sibuk. Dia berdiri di dekat kompor hampir tujuh jam lamanya. Buka dari jam lima sore hingga pukul dua belas malam. Biasanya pukul sebelas atau sepuluh dia sudah pulang. Karena memang dia atas jam sepuluh atau sebelas biasanya pemilik warung bisa mengatasi sendiri pekerjaanya. Dan kali ini Erina terpaksa lembur. Pemiliki warung kewalahan karena pelanggan berdatangan silih berganti tanpa jeda.
“Syukurlah hari ini ramai. Sampai habis loh.”
“Iya pak. Syukurlah.”
“Ini buat mbak Erina. Karena udah tambah dua jam hehe.”
“Beneran pak? Terima kasih.”
“Iya. Mau di antar pulang sama anak saya?”
“Gak usah pak. Saya bisa pulang sendiri.”
Erina berpamitan pulang. Sejujurnya sejak melihat kertas itu. Erina ingin segera membaca apa isinya. Tapi kenyataanya pekerjaan tidak ada hentinya. Dia bahkan juga harus lembur untuk hal ini.
Sampai di rumah, Erina bergegas menuju kamarnya. Membongkar isi tasnya. Mencari secarik kertas kecil tadi. Akhirnya ketemu. Kertas itu masih menempel dengan kartu nama yang dia dapat. Perlahan dia melepaskan kertas itu dari kartu nama dan membacanya.
Ayo main tebak-tebakan. Aku tau kamu. Kamu juga tau aku. Siapakah aku? Yaaa benar, aku adalah dia. Hey! Bersiaplah, besok akan ada kabar tidak terduga. Yang tabah ya. Ini akibat dari mengabaikan teleponku.
“Apa-apan sih ini?!”