Kaiju, senjata biologis yang diciptakan oleh manusia dengan cara menyuntikkan darah ras Abyss walker ke dalam tubuh orang orang yang terpilih. Bukan hanya lewat eksperimen saja, namun kaiju juga dapat terlahir lewat reinkarnasi, kontrak, maupun perkawinan.
500 tahun telah berlalu sejak manusia berhasil memenangkan pertarungan mereka melawan para abyss walker yang menjajah dengan bantuan para kaiju, dan kini para kaiju tersebut justru di buang oleh manusia ke sebuah hutan buatan bernama Forestiso. Dan dari sana lah, berbagai ras kaiju mulai menaruh dendam pada manusia dengan menciptakan kaiju eksperimental yang lainnya menggunakan teknologi mereka sendiri. Salah satu dari kaiju eksperimental itu adalah humanoid wanita yang tak diketahui, yang saat ini terdampar di Forestiso dengan sebuah ukiran nama di tabung criogenik nya, Alan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lowdod, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
From the Beginning
“Namaku Fenix, lulusan dari U.F.A peringkat pertama dari bagian garis depan. Senang bertemu denganmu, Instructor !”
“Boleh aku bertanya ? Ada apa dengan senyuman lebarmu itu ??”
“Hm ? Memangnya kenapa ??”
“Terlepas dari dunia luar yang mengerikan itu, aku hanya heran saja bagaimana kamu bisa punya senyuman seceria itu. Kamu bahkan bisa mengatakan kalau aku sebenarnya iri dengan kamu yang bisa tersenyum seperti orang normal, kamu tau ?”
Gadis berumur 20 tahunan itu terdiam sejenak sambil memiringkan kepalanya, bingung dengan apa yang diucapkan oleh sang Instructor kepadanya barusan. Mungkin, itu adalah saatnya bagi dia mengatakan apa yang menjadi keyakinannya sampai rela berpartisipasi sebagai salah satu anggota gugus tugas garis depan manusia saat ini. Gadis itu tersenyum dengan hangat, bahkan hingga ia secara tidak sadar berhasil memikat hati sang Instructor itu kepadanya.
“Kenapa aku bisa seceria ini ? Karena aku percaya dengan yang namanya 'harapan' yang baru, dan karena itu jugalah, aku, tidak peduli apapun yang ada di depan sana, akan terus bertarung demi manusia sampai seluruh Abysswalker itu kita usir sepenuhnya dari bumi kita ini !!”
Naif, satu kata itulah yang seketika muncul di dalam kepala sang Instructor, namun pria paruh baya itu tidak apa-apa dengan kata itu. Lagipula, kehadiran prajurit garis depan pemula yang satu ini kemungkinan besarnya akan membawa sebuah percikan cahaya baru di antara gugus tugas manusia dan medan perang di luar sana yang begitu gelap dan dipenuhi oleh keputusasaan.
“(Sigh) Baguslah kalau begitu. Boleh bertanya sesuatu, private Fenix ??”
“Huh ?? A-a-apa ??”
Gadis itu gugup seketika, membuat sang Instructor sempat tertawa kecil yang sampai membuatnya sambil menahan beberapa batuknya.
“Aku percayakan takdir umat manusia kepadamu. Apa boleh begitu ??”
“.......”
Diam. Tak bersuara. Memang semua orang selalu memulai langkah pertama mereka dengan ketidaksiapan, namun, ada beberapa dari mereka juga yang membawa sebuah perbedaan dengan adanya 'tekad awal' bahkan sejak mereka masih berada di garis start perjalanan mereka. Salah satunya, sepertinya adalah gadis yang ada di hadapannya saat ini, karena dalam hatinya terlihat begitu berkobar-kobar bagi sang Instructor. Ya, dia sepertinya tahu dengan jelas akan seperti apa jadinya seorang Fenix yang pemula ini di masa depan nanti. Sang Instructor sangat yakin dengan keputusan dirinya sendiri, bahwa gadis naif yang satu ini akan membawa sebuah cahaya baru bagi umat manusia nantinya.
“T-tentu saja !!” jawab gadis itu dengan suara lantang, meskipun ia sedikit agak gugup sebenarnya.
Sebuah beban besar ditanggungkan kepada pundaknya yang kecil itu, namun ia tidak apa-apa dengannya.
Ia akan menahan beban itu, dan membawa sebuah cahaya baru bagi mereka, umat manusia.
...****************...
Wanita itu berdiri di dekat ujung tebing, memegangi senapan dengan kedua tangannya sambil mengamati sang matahari yang baru saja akan tenggelam digantikan oleh sang rembulan. Entah sejak kapan ia sudah berdiri di sana. Ia seolah merasa bahwa kesadarannya seperti baru saja muncul di dalam tubuhnya beberapa waktu yang lalu. Pertama, ia mengamati senapan pelontar granat yang ada di pegangannya. Setelah itu, ia kemudian memandang ke sekelilingnya. Sebuah daerah terpencil semacam padang gurun, terlihat seperti tanpa kehidupan apapun kecuali sebuah area konservasi rusak yang kebetulan berada tepat di belakangnya.
“Fenix !! Kamu ngapain di sana !!?”
Seorang wanita baru saja berseru kepadanya dari arah kirinya. Fenix menoleh ke sumber suara itu, dan menemukan rekannya, atau lebih tepatnya adalah teman baiknya di masa lalu, sedang berlari kecil ke arahnya sambil melambai-lambaikan tangannya. Kenapa ia menyebutnya 'teman baik di masa lalu' ? Dan kenapa juga ia merasa sangat familiar dengan kejadian ini ? Apa yang membuatnya merasa bahwa ini seperti sudah terjadi berulang kali sebelumnya ??
“Huft.... Huft...... Tapi harus diakui, mataharinya memang indah kalau dilihat dari atas sini, huh ??”
Prajurit wanita itu akhirnya berhenti di dekat Fenix, menunduk sambil menopang tubuhnya dengan kedua tangan yang ia letakkan di atas lututnya, bernafas dengan terengah-engah kelelahan. Fenix mendapati bahwa dirinya benar-benar bingung dengan apa yang terjadi saat ini, namun ia harus bersikap seperti orang normal di hadapan teman dekat lamanya, bukan ?
“Uh...... Iya....... Kalau aja aku bawa kamera waktu berangkat dulu, hehe........” ucap Fenix dengan suara pelan sambil menggaruk-garuk pipinya dengan ujung telunjuk pelan.
Fenix dengan cepat kembali menatap ke arah matahari yang akan tenggelam itu, mengalihkan pandanganya dari teman dekatnya. Sayang sekali, teman dekatnya dapat menyadari kelakuan anehnya dengan cepat, seketika mengangkat kepalanya ke arahnya dengan wajah yang sedikit kebingungan.
“Fenix, kamu kenapa ?”
“Huh ? Memangnya aku kenapa ?? Ada yang aneh, kah ?”
Fenix seketika menoleh kembali ke arah temannya. Terlepas dari apa yang dia tanyakan barusan, ia terlihat sedikit aneh di mata temannya itu. Ya, benar-benar aneh bisa dibilang.
“(Sigh) Lupakan itu. Edge menyuruh kita berkumpul dengan kedua Kaiju yang menjaga area konservasi ini sekarang. Lebih mengejutkan lagi, salah satu dari mereka kayaknya terlalu tertarik sama kamu sendiri, Fenix.” ucap prajurit wanita itu, memutuskan untuk mengalihkan pembicaraannya dan langsung ke inti.
“Oh begitu kah ?? Nama kaiju itu, siapa ??”
Prajurit wanita itu kemudian menjawabnya pertama dengan menunjuk ke arah pintu masuk area konservasi itu dengan jari telunjuknya. Keduanya kemudian menatap ke arah yang ditunjuk secara bersamaan. Seorang wanita bersayap di punggungnya terlihat sedang menunggu seseorang dengan bersandar di dekat pintu masuk yang sudah hilang entah sejak kapan, terlihat sangat kecil dari kejauhan saat ini. Hanya selang beberapa detik kemudian, wanita bersayap itu seolah menatap balik ke arah keduanya. Walaupun samar-samar karena jarak, Fenix cukup yakin dengan apa yang dipercayainya, bahwa kaiju wanita itu benar-benar menatap balik ke arahnya beberapa detik sebelumnya.
“Kata Lex, dia adalah si Stratim itu, 'ibu' dari semua kaiju 'burung'.”
“......... Agak ngeri juga kedengarannya....... Protege, kamu yakin dia benar-benar pingin ketemu aku personal ??”
Protege mengangguk setuju seraya ia menurunkan tangannya dan memejamkan matanya. Terlihat seperti dia sedang bersimpati tinggi kepada nasib 'mengerikan' yang menunggu teman dekatnya itu. Bagaimanapun juga, bertatapan langsung dengan seorang kaiju yang tertarik pada satu orang manusia itu memang benar-benar mengerikan. Semua orang pasti akan setuju dengan hal itu, termasuk Protege dan Fenix sendiri.
“Yah, kebanyakan bilang kalau kaiju itu jauh lebih damai daripada kebanyakan manusia sendiri, jadi mungkin....... Dia cuma bicara yang baik-baik aja sambil ngabisin waktu. Baik-baik aja di sana bareng dia, oke ??”
“Tapi kenapa aku ??”
Fenix dan Protege saling menatap satu sama lain sejenak, menciptakan keheningan di sekitar mereka selama beberapa saat sambil memikirkan kemungkinan jawabannya. Hanya saja, setelah beberapa saat kemudian, keduanya pun tetap saja tidak dapat menemukan kemungkinan jawaban itu. Protege pun akhirnya hanya bisa mengangkat kedua bahunya sambil menghela nafas, seolah pasrah dengan nasib Fenix yang akan datang selanjutnya.
“Gak tau, deh.”
Fenix menatap ke arah Protege dengan tatapan kesal di saat itu juga, bersamaan dengan dirinya sendiri yang meneguk ludahnya sedikit 'ketakutan'.
“........”
Beberapa saat kemudian. Fenix dan Protege baru saja sampai di depan pintu area konservasi tersebut setelah meninggalkan ujung tebing berbatu itu. Para prajurit dari squad mereka terlihat sudah menunggu di dalam sana, berkumpul di sekeliling meja kayu panjang, sementara keduanya juga langsung disambut oleh sang kaiju wanita bersayap itu, Stratim, dengan senyuman hangatnya yang rasanya hanya ia tujukan kepada Fenix seorang diri saja. Keduanya sempat berdiam di tempat sambil berhadap-hadapan dengan Stratim yang juga tidak melakukan apa-apa sejenak. Secara diam-diam, Protege memberikan sebuah alat peledak ringan ke genggaman tangan Fenix, membuatnya menatap ke arahnya dengan ekspresi kebingungan yang terlihat jelas di wajahnya.
“Buat apa, woi ??” bisik Fenix, langsung ke lubang telinga Protege.
“Jaga-jaga aja. Lagian itu juga semacam flashbang aja, kok.” jawab Protege. Ia kemudian melangkah masuk mendahului Fenix, yang masih saja berada di tempatnya yang sama. Sambil berbalik dan melambaikan tangannya sebagai ucapan 'selamat tinggal', Protege pun berseru dengan wajahnya yang langsung berubah 180° seketika, beda jauh dengan dirinya yang sebelumnya benar-benar waspada saat saling bertatap muka dengan Stratim di depannya itu. “Kalau gitu aku masuk dulu. Bye !!”
Fenix berdecak kesal di saat itu juga. Stratim juga sempat menoleh mengikuti Protege yang masuk ke dalam area konservasi itu sesaat sebelum kembali menatap ke arah Fenix kembali, kemudian melipat kedua tangannya di depan dadanya.
“........ Maafkan temanku yang memang aneh itu. Hehe......”
Fenix memulai percakapannya tidak lama kemudian sambil menggaruk-garuk kepala belakangnya. Stratim hanya merespon itu dengan sebuah dengusan pelan, kemudian tersenyum kecil secara samar-samar sambil menundukkan kepalanya ke bawah.
“Phoenix......” gumam Stratim. Suaranya pelan, namun masih dapat terdengar dengan jelas oleh Fenix dari tempatnya di sana.
“Uhh, kamu memanggilku dengan nama baru ??”
Stratim tidak langsung menjawabnya. Masih menunduk, Stratim terlihat seperti mengingat-ingat sesuatu bagi Fenix, entah apa yang dia coba ingat itu sebenarnya.
“J-jadi, ada apa sebenarnya, kaiju Stratim ??”
Mendapatkan pertanyaan kedua dari Fenix, Stratim pun akhirnya beranjak dari sandarannya ke dinding dekat pintu masuk area konservasi tersebut sambil menurunkan kedua tangannya dari depan dada. Akhirnya, keduanya baru benar-benar saling berhadapan di saat itu.
“Manusia jadi semakin takut dengan kami para kaiju semenjak kota Frontier itu didirikan, dan aku sangat tau alasan di balik itu semua. Yah, masuk akal juga memang. Tapi omong-omong, kamu akhirnya kembali lagi ke sini, Phoenix.”
“Tunggu, kamu sebenarnya bicara tentang apa ?? Lagipula, namaku Fenix, bukan-”
“Seseorang memulai semuanya dari nol, tapi untuk kamu, sepertinya itu sudah dimulai dari angka seribu atau lebih kalau diingat-ingat lagi.”
Kalimatnya dipotong seketika, dan Stratim pun mengatakan sesuatu yang sangat aneh kepadanya. Hanya karena dua hal itu saja sudah membuat Fenix benar-benar ingin masuk ke dalam sekarang juga dan berkumpul dengan rekan-rekannya yang lain di sana.
“Kamu butuh bantuan dariku, mungkin ??” Fenix masih melanjutkan untuk menanyai Stratim yang benar-benar bersikap aneh itu.
“Apapun yang ada di depan sana, jangan sekali-kalinya kamu mengambil langkah mundur, Phoenix. Akhir dan takdir dunia ini ada di dalam genggaman tanganmu.”
Kaiju ini sebenarnya dibuat pakai otak macam apa ??, pikir Fenix dalam hatinya.
Fenix melangkah sedikit ke samping sebentar, sebelum akhirnya mulai berjalan melewati Stratim secara perlahan dan menatap ke arah wajahnya dengan sedikit perasaan 'aneh' dan 'tidak enak'.
“Kalau tidak ada, aku harus berkumpul dengan squad ku kembali, kaiju Stratim. Permisi.......”
Dan begitulah bagaimana Fenix akhirnya berhasil meninggalkan Stratim sendirian di luar area konservasi itu. Sedikit yang ia tahu bahwa saat ia terburu-buru masuk ke dalam sana, Stratim mengawasinya dari belakang dengan tatapan yang menyala-nyala akan harapan lama yang akhirnya muncul kembali. Stratim mengamati bagaimana squad Fenix akhirnya memulai pertemuan mereka untuk misi yang akan segera berakhir ini, sebelum akhirnya mengalihkan pandanganya ke atas langit, menghadap ke arah matahari yang baru saja akan tenggelam dan berusaha meraih itu dengan genggaman tangannya sendiri. Ia, seolah berharap bahwa harapan yang baru itu, pada akhirnya tidak akan menghilang kembali seperti yang pernah terjadi sebelum-sebelumnya.
Dia kembali lagi, semuanya.
Perjalanan ini kembali menjadi sesuatu yang panjang lagi, memang. Tapi untuk memulainya kembali dari awal, tidak terlalu buruk juga, bukan ??
...From the Beginning...
...Kita mulai semuanya dari awal lagi, kawan.........
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...