Hujan turun tanpa jeda malam itu, di kamar kos sempit berbau lembab, Dian terbaring sendirian, tidak ada keluarga yang menemani Dia hidup sebatang karang, hanya terdengar suara tetesan air dari atap bocor, nafasnya semakin berat. Perutnya kosong sejak kemarin Dian belum makan apapun, Dian sudah terbiasa menahan lapar, sejak kecil Dia hidup tanpa orang tua bekerja serabutan berpindah-pindah tempat tinggal. Menahan hinaan, rasa dingin sendirian, seakan dunia tidak pernah memberinya pilihan.
Namun malam ini terasa berbeda, tubuhnya terlalu lemah untuk bangkit, pandangannya mulai kabur, Dia menatap langit-langit atap yang bocor dan tersenyum tipis, "Apa memang hidupku cuma sampai disini..?"
Nantikan kelanjutan cerita yaa🌹🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Twis G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 35
Yin Yin menggeleng pelan, lalu mengambil kain dan mengelap wajah Xiao Lan yang lengket.
"Kamu ini, bukannya membantu malah jadi bahan olokan," godanya ringan.
Xiao Lan cemberut, tapi kemudian ikut tertawa. "Aku hanya memastikan rasanya tetap enak!"
Tawa kecil menyebar di antara warga. Suasana yang tadinya tegang kini berubah hangat dan penuh harapan.
Malam pun tiba.
Balai desa masih terang oleh cahaya api tungku. Aroma roti gandum madu memenuhi udara, mengoda siapa saja yang lewat.
Beberapa warga masih sibuk membungkus roti dengan kain bersih, sementara yang lain menyiapkan keranjang untuk dibawa ke pasar esok hari.
Yin Guo Shan memandang hasil kerja mereka dengan mata berkaca-kaca. "Sudah lama sekali desa ini tidak seramai ini..."
Paman Luo mengangguk sambil meniup teh hangatnya. "Semua berkat anakmu."
Yin Yin yang mendengar itu hanya tersenyum kecil. "Bukan aku saja. ini hasil kerja semua orang."
Shen Baichuan mendekat, membawa daftar sederhana. "Kita sudah hitung. Besok ada lima puluh roti siap jual. Sepuluh untuk dicoba di pasar, sisanya kita simpan sebagai cadangan."
"Paman, bagaimana kalau kita bawa saja semuanya." ucap Yin Yin.
Semua mata tertuju padanya.
"Apa?" beberapa orang terkejut.
"Itu terlalu banyak." timpal yang lainnya.
Yin Yin menatap mereka satu persatu, sorot matanya tenang tapi penuh perhitungan.
"Kalau kita ingin menarik perhatian, kita harus tampil berani. Kita jual semuanya, tapi kita buat strategi."
"Strategi apa?" ulang Shen Baichuan penasaran.
Yin Yin mengangkat satu roti dan berkata, "Kita potong sebagian kecil untuk dicicipi gratis."
"Dimakan gratis?" seorang pria hampir tersedak.
"Yin Yin mengangguk, "Orang tidak akan membeli sesuatu yang belum mereka kenal. Yah.. Walaupun roti gandum madu ini, sudah pernah dijual."
Paman Luo tertawa keras. "Hahaha! Ide bagus! Anak ini benar-benar punya otak dagang!"
Semangat warga kembali naik.
"Aku bisa memotong roti nanti!" seru Yin Chen.
"Aku yang akan menawarkan ke orang-orang!" timpal pemuda lain.
Shen Baichuan mengangguk mantap. "Baik. Kita lakukan sesuai rencanamu."
DING!
[Progres tugas meningkat]
[Strategi pemasaran ditambahkan]
[Tingkat keberhasilan penjualan meningkat]
Yin Yin menghela nafas pelan. Matanya menatap ke arah luar, ke langit malam yang dipenuhi bintang. "Besok adalah langkah pertama penjualan, dan kita tidak boleh gagal.
Keesokan paginya.
Pasar Desa tetangga sudah ramai sejak matahari belum sepenuhnya tinggi. Para pedagang datang dari berbagai desa, membawa hasil bumi, kain, dan berbagai barang kebutuhan.
Namun, hari itu ada sesuatu yang berbeda.
Di salah satu sudut pasar, sebuah lapak sederhana mulai menarik perhatian.
Aroma manis hangat perlahan menyebar di udara.
"Harum sekali.." gumam seorang wanita yang lewat.
"Bau apa ini?" tanya pria di sebelahnya.
Di sana, Yin Yin berdiri dengan tenang di depan meja kayu sederhana. Di sampingnya, Yin Chen sibuk memotong roti kecil-kecil. Ibunya Lin Mei Hua, Lin Meli dan Xiao Lan tidak ikut ke pasar.
Shen Baichuan berdiri tegap, sementara beberapa pemuda desa bersiap dengan keranjang di tangan.
Yin Yin tersenyum. "Silahkan dicoba. Roti gandum madu, baru dipanggang pagi ini."
Seorang anak kecil mendekat ragu-ragu. Yin Chen langsung menyodorkan potongan kecil.
Anak itu menggigit, matanya langsung membesar.
"Enak!" serunya tanpa sadar.
Ibunya yang melihat itu ikut mencoba, begitu roti itu di makan aroma manis dan lembutnya roti langsung menyebar.
"Ini, lembut sekali! manisnya pas, tidak seperti roti biasa!"
Kerumunan mulai terbentuk.
Satu orang mencoba, dalam waktu singkat, lapak kecil itu dikelilingi orang-orang.
"Berapa harganya?"
"Ada berapa banyak rotinya?"
"Aku mau dua!"
"Aku mau lima!"
Suasana langsung menjadi ramai. Pemuda desa sampai kewalahan melayani pembeli.
Shen Baichuan menatap pemandangan itu dengan mata tak percaya. "Ini, benar-benar laku..."
Paman Luo yang ikut membantu tertawa lebar. "Bukan hanya laku, ini hampir habis rotinya!"
Yin Yin tetap berdiri tenang, tapi dalam hatinya, Dia mengepalkan tangan kecilnya erat.
"Langkah pertama, berhasil."
DING!
[Progres tugas meningkat pesat]
[Penjualan hari pertama sukses besar]
[Reputasi roti gandum madu meningkat]
Namun, di kejauhan dari balik keramaian pasar, sepasang mata mengamati dengan dingin.
Seorang pria berpakaian rapi, dengan kipas di tangannya, tersenyum tipis.
"Roti gandum madu, ya?"
Di belakangnya, seorang pelayan berbisik, "Tuan, apakah perlu kita selidiki?"
Pria itu menutup kipasnya perlahan. Matanya menyipit, menatap langsung ke arah Yin Yin.
"Tentu saja. Hal menarik seperti ini, tidak boleh dilewatkan."
Jauh di kota kekaisaran yang megah, di sebuah kediaman besar milik gubernur, suasana terasa mencekam.
Seorang pria muda duduk di kursi utama, jari-jarinya mengetuk meja dengan tidak sabar.
Dia adalah putra gubernur, Han Ziyu.
Wajahnya tampan, namun sorot matanya dipenuhi kesombongan dan kekejaman yang tersembunyi. Jubah mahal berwarna biru tua yang dikenakannya tampak berkilau di bawah cahaya lentera.
Namun, ekspresinya saat ini sangat buruk.
"Sudah berapa hari?" tanyanya dingin.
Seorang bawahan yang berlutut di depannya gemetar. "T-Tuan muda, sudah lima hari sejak mereka berangkat."
"Lima hari, dan belum ada kepastian?" ucap Han Ziyu pelan.
PRANG!
Cangkir teh di tangannya hancur seketika, pecah menjadi serpihan kecil yang berserakan di lantai.
Bawahan itu langsung menunduk lebih dalam, tubuhnya bergetar hebat.
"Sekte Naga Hitam, hanya untuk membunuh seorang gadis desa saja mereka butuh waktu selama ini?" suara Han Ziyu berubah dingin menusuk.
"Maafkan kami, Tuan muda! Mungkin ada kendala di perjalanan_"
"Diam!
Suasana langsung sunyi.
Han Ziyu berdiri perlahan, langkahnya terdengar berat dan penuh tekanan saat mendekati bawahannya. Dia berhenti tepat di depan pria itu, lalu menunduk sedikit, menatapnya dengan mata tajam.
"Aku tidak peduli alasan. Aku hanya ingin hasil."
Keringat dingin mengalir di pelipis bawahan itu.
"T-Tuan muda, bagaimana kalau kita kirim orang lagi untuk memastikan?"
Han Ziyu terdiam sejenak. Lalu, senyum tipis muncul di bibirnya senyum yang tidak membawa kehangatan sedikitpun.
"Bukan memastikan. Kali ini, aku ingin semuanya dihancurkan." katanya pelan.
Bawahan itu terkejut. "T-Tuan muda maksudnya_"
"Musnahkan Desa Shanyin, kalau gadis itu masih hidup, berarti mereka gagal." potong Han Ziyu.
Matanya berkilat dingin. "Dan kalau mereka gagal, maka tidak ada gunanya menyisakan desa itu."
Suasana ruangan seakan membeku.
"Pergi! Kirim orang-orang terbaik kita. Aku ingin kabar, sebelum akhir bulan ini." lanjutnya dengan suara rendah.
"Baik, Tuan muda!" Bawahan itu segera bersujud, lalu mundur dengan tergesa-gesa.
Begitu pintu tertutup, Han Ziyu berjalan kembali ke kursinya. Lalu duduk dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa. Dia mengambil cangkir teh baru yang disiapkan pelayan, lalu menyeruputnya perlahan.
Senyumnya kembali terangkat, kali ini lebih dalam, lebih berbahaya. "Yin Yin..." gumamnya pelan, menyebut nama itu dengan nada yang sulit ditebak.
"Seharusnya kamu tetap menjadi gadis biasa, tanpa perlu bersaing denganku. Tapi, karena kamu tidak ingin menyerahkan resep itu, maka jangan salahkan aku." lanjut Han Ziyu.
Di luar kediaman.
Beberapa sosok berpakaian hitam berdiri di atas atap, tersembunyi dalam bayangan. Mereka adalah pengawal bayangan.
Salah satu dari mereka berbisik pelan, "Sepertinya dia mulai bergerak lagi."
Yang lain mengangguk. "Kita harus segera melapor pada Tuan."
Mereka menghilang seperti tidak pernah ada. Angin malam berhembus pelan, membawa pertanda. Badai yang besar akan segera datang ke Desa Shanyin.
DING!
[Yin Yin, orang-orang suruhan dari Han Ziyu mulai bergerak menuju desa Shanyin. Mereka ingin memusnahkan seluruh Desa Shanyin]
[Yin Yin!]
DING!
[Nona, Tolong jawab!]
"Ya, ya, aku dengar. Ada banyak pelanggan, jadi aku sedikit sibuk tadi.
Yin Yin masih sibuk membungkus pesanan roti gandum madu untuk pelanggannya
"Kamu tadi beli berapa?" tanya Yin Yin kepada seorang wanita.
"Lima! Bungkus masing-masing lima"
"Baik, tunggu sebentar!
"Yin Chen. Kamu tolong bungkus pesanan wanita itu, masing-masing lima roti. Kakak mau ke depan beli sesuatu." ujar Yin Yin pada Yin Chen yang berdiri disampingnya.
"Baik kak."
Yin Yin berjalan keluar dari lapak dengan tergesa-gesa, dan berhenti agak jauh dari lapak. Tepat di bawah pohon tua.
[Yin Yin, rencanamu bagaimana?]
"Kita lihat dulu apakah mereka bisa sampai ke Desa Shanyin. Sistem, apa kamu lupa? Desa Shanyin adalah desa misterius yang tidak ada di peta mana pun. Apa itu belum cukup untuk membuat mereka takut?"
[Benar juga, Yin Yin. Sistem akan cari tahu apa yang membuat Desa Shanyin ini, begitu misterius]
"Ya, cari tahu. Aku juga tidak tahu asal usul Desa Shanyin ini. Aku hanya pernah mendengar desas-desusnya."
Bersambung....
lalu semua memburu untk apa ,,
yang kantanya dewa pun memburu segel suci?
masa dewa bukanya melindungi rakyat kecil justru ikut memburu dasar serakah
yin yin gak bisa lari,, gak bisa sembunyi
harus dihadapi yin yin💪💪🤭
harus di segel kembalii
meledaakk
cepat alihkan perhatian
naga hitam
dan yin yin segera ambil segel persembahan
hancurkan