Alya adalah Ratu mafia yang memimpin sebuah organisasi Order Tabir Hitam dengan nama First Order.
Tapi sayangnya ia mencintai pria kantor biasa saat ia sering menjelajahi tempat yang akan menjadi misinya.
Dan saat itulah ia memutuskan untuk keluar dari dunia hitam dan membuang mahkotanya ke dalam lumpur demi bisa menjalani hidup bahagia bersama sang suami.
Sayangnya pernikahan itu tidak berlangsung lama, mertua tidak menyukainya, dan suaminya menikah dengan manager di tempat kerjanya.
Pembalasan di mulai, Alya kembali mengambil mahkotanya dan menjadi Ratu Mafia kembali dan membawa putri kecilnya menjadi orang ternama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
Suara tepuk tangan meriah memenuhi ruang kelas, bergema di setiap sudutnya.
Beberapa teman sekelas bahkan bersorak pelan, memuji pencapaian yang baru saja diraih oleh Alisya.
Alisya berdiri tegak di samping meja guru, sambil memegang dada kirinya.
"Bagus sekali, Alisya. Hasil kerjamu benar-benar memuaskan. Kali ini Alisya mendapatkan bintang 10. Nilai sempurna, 200 poin sekaligus!" ujar Bu Clara dengan antusias, lalu menempelkan stiker bintang emas yang besar di kertas nilai Alisya.
Alisya sedikit menunduk sopan, lalu menatap Bu Clara dengan tulus.
"Terima kasih, Bu Clara. Terima kasih banyak, Bu," ucap Alisya lembut, senyumnya tak pernah pudar.
"Sama-sama, Nak. Pertahankan ya, Bu Clara sangat bangga padamu," jawab Bu Clara sambil menepuk bahu Alisya pelan.
Alisya berbalik hendak kembali ke tempat duduknya.
Namun, di sudut ruangan, sebuah tatapan tajam tengah mengawasi setiap gerak-geriknya.
Raya duduk di kursinya, kedua tangannya mengepal erat di atas meja.
Kertas nilai yang hanya berisi 4 bintang tergeletak di samping buku catatannya.
"Alisya..." gumamnya pelan, namun penuh ketajaman.
Saat Alisya berjalan melewati meja Raya, Raya mendongak, menatapnya dengan tatapan yang begitu dingin dan penuh kebencian.
"Pasti menyenangkan ya, dapat nilai setinggi itu? Semua orang memujimu, Bu Clara memanjakanmu," ucap Raya dengan nada sarkas, cukup agar hanya Alisya yang mendengarnya.
Alisya berhenti sejenak, menoleh ke arah Raya dengan bingung. "Ada apa, Raya? Ada yang mau kau katakan padaku?" tanyanya pelan, berusaha bersikap ramah.
"Jangan berpura-pura polos!" sahut Raya ketus, matanya menyala menahan amarah. "Karena kau, aku dimarahi Mamaku sampai habis-habisan tadi pagi. Mamaku membandingkanku denganmu, bilang aku tidak pernah sebaik diriku! Semua itu gara-gara kau!"
Alisya tertegun, tak menyangka hal itu akan terjadi. "Aku... aku tidak bermaksud begitu, Raya. Nilai itu hasil usahaku sendiri, dan nilaimu juga tergantung usahamu sendiri..."
"Diam saja kau!" potong Raya dengan nada tinggi, membuat beberapa teman di sekitar mereka menoleh.
"Kau selalu jadi yang paling unggul, selalu dipuji, selalu dijadikan teladan! Aku muak melihatmu!" kata Raya penuh amarah.
Raya meremas kertas nilai yang hanya berisi 4 bintang itu dengan erat.
"Alisya, awas saja kau! Gara-gara kau aku dimarahi Mamaku. Aku pasti akan membalasmu! Tunggu saja, aku akan membuatmu merasakan hal yang sama persis seperti yang kurasakan sekarang!" ucap Raya dengan suara penuh ancaman.
"Raya, aku harap kau tidak berpikir begitu. Kita bisa belajar bersama, kalau kau butuh bantuan aku..."
"Pergilah! Jangan sok baik di depanku!" bentak Raya, memalingkan wajah ke arah jendela, tak ingin menatap Alisya lagi.
Alisya tak memaksakan diri, melangkah pelan menuju kursinya.
Sementara itu, Raya masih duduk diam, meremas kertas itu semakin kuat.
...******...
Siang harinya...
Alya berdiri santai di dekat mobilnya di luar gerbang sekolah, memperhatikan anak-anak yang berlarian keluar menyambut orang tua mereka.
Alisya berlari menghampiri ibunya sambil memamerkan buku tugasnya yang ditempeli stiker bintang emas berukuran besar dari Bu Clara.
"Mama! Lihat! Bu Guru kasih Alisya bintang emas besar karena Alisya bisa jawab soal matematika!" seru Alisya gembira.
Alya berlutut dan merengkuh putrinya ke dalam pelukan hangat. "Wah, hebat banget Bintang Kecil Mama! Nanti malam kita makan es krim buat rayain prestasi Alisya, ya?"
"Horeee! Makasih, Mama!"
Alya mendudukkan Alisya di kursi belakang, memasangkan sabuk pengaman, lalu menutup pintu mobil.
Namun, tepat saat Alya hendak melangkah ke pintu pengemudi, insting tajamnya sebagai penguasa dunia hitam menangkap sesuatu yang tidak beres.
Satu unit mobil van hitam berkaca gelap terparkir tak jauh dari gerbang sekolah.
Dari pantulan kaca spion, Alya melihat dua pria bertubuh kekar dengan tatapan liar sedang mengamati gerak-geriknya melalui teropong kecil.
Alya tidak panik. Ia merogoh ponsel di sakunya dan menekan satu tombol cepat.
"Leon," bisik Alya dingin, matanya menatap tajam ke arah mobil van tersebut tanpa menolehkan kepala.
"(Saya berada dua mobil di belakang Anda, Madam,)" sahut suara Leon sigap dari gagang telepon. "(Mobil van hitam itu milik jaringan gembong senjata liar dari wilayah Selatan. Tampaknya mereka melacak pergerakan Anda setelah kehancuran Black Cobra.)"
Alya menyunggingkan senyum tipis, sebuah senyuman dingin yang memancarkan ancaman mematikan.
"Mereka berani mengawasi sekolah anakku," gumam Alya datar, tapi penuh ancaman. "Giring mereka ke jalur lingkar luar yang sepi. Jangan biarkan mereka menyentuh kawasan kota lagi."
"(Laksanakan, Madam. Pasukan utama sudah mengepung posisi mereka dari empat penjuru,)" jawab Leon patuh.
Alya mematikan ponselnya, masuk ke dalam mobil, dan menyalakan mesin.
Ia menoleh ke belakang, menatap Alisya yang sedang asyik mewarnai buku gambarnya dengan tenang, sama sekali tidak menyadari ada yang mencintainya.
"Alisya, siap untuk jalan-jalan sebentar sebelum beli es krim?" tanya Alya hangat.
"Siap, Ma!" jawab Alisya polos.
Mobil SUV hitam milik Alya pun meluncur mulus di jalanan memancing para pemburu itu.