Terjebak dalam novel yang pernah dibacanya, Lina terbangun sebagai pelayan istana di Kerajaan Valdoria sebuah dunia modern yang dipenuhi teknologi canggih namun tetap dikuasai oleh sistem monarki absolut. Sebagai wanita yang sangat mata duitan, tujuan Lina sederhana: kumpulkan uang sebanyak mungkin lalu kabur untuk hidup bebas. Sayangnya, rencana kabur itu terhambat ketika ia terus terseret intrik istana dan berhadapan langsung dengan Putra Mahkota Lucien. Pangeran dingin dan disegani itu secara misterius hanya bisa mendengar isi hati Lina sebuah keanehan khusus yang tidak berlaku pada orang lain. Di saat Lina berakting sopan dan penurut di luar, batinnya terus menggerutu, sibuk menghitung uang, dan merencanakan kabur. Lucien yang lelah dengan kebohongan orang-orang di sekitarnya justru merasa terhibur dengan suara hati Lina yang jujur dan serakah, membuat sang pangeran sengaja mengikat Lina di sisinya agar tak bisa pergi ke mana-mana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
35
"A-Ah... en-enggak, Pangeran! Gak ada apa-apa kok!" sahut Eliana gagap setengah mati. Ia buru-buru menyapu pandangannya ke sekeliling dengan canggung, membuang muka demi menutupi pipinya yang kini merah padam akibat bisikan Lucien.
Belum sempat Eliana meredakan degupan kencang di dadanya, langkah kaki yang berat terdengar mendekat. Dari balik gerbang kayu desa, tiga orang pria paruh baya bertubuh tegap melangkah keluar. Pakaian kain tenun tradisional berwarna gelap melilit tubuh mereka, lengkap dengan penutup kepala khas dan gelang kayu di pergelangan tangan. Sorot mata mereka sangat tajam, penuh kewaspadaan mengintimidasi.
"Berhenti!" gertak salah satu pria paruh baya yang berada di tengah, tangannya memegang tombak kayu dengan ujung tumpul. "Siapa kalian? Bagaimana bisa orang asing bertubuh resik seperti kalian menembus hutan Pegunungan Ardent?"
Eliana seketika menegang di tempat, merapat makin dekat ke sisi Lucien.
Sebelum Eliana sempat merangkai kata-kata bohong yang masuk akal, Lucien melangkah maju satu titik. Dengan sangat tenang dan penuh wibawa namun tanpa menunjukkan aura keagungan istananya Lucien memasang raut wajah pria protektif yang sedang melindungi pasangannya.
"Salam, Pua," ujar Lucien dengan suara rendah, dalam, dan amat meyakinkan. "Kami berdua hanyalah pendaki dari kota bawah. Ini istri saya. Kami berniat melakukan perjalanan menyusuri celah lembah, namun sayang kami salah mengambil jalur saat kabut tebal turun tadi siang dan akhirnya tersesat hingga sampai ke pemukiman Anda."
Eliana seketika melongo. Matanya membelalak lebar menatap profil samping rahang tegap Lucien dari dekat.
"ANJIRRRR?!" jerit Eliana histeris di dalam hatinya, sama sekali tidak menyadari bahwa Lucien bisa mendengar setiap detil kehebohan batinnya. "GILA! Enggak disangka ternyata nih Pangeran tanggap dan sat-set banget! Kagak ada canggung-canggungnya bilang 'ini istri saya' dengan muka datar nan ganteng begitu! Padahal tadi gue belum ngomong apa-apa soal aturan desa ini! Apa dia punya insting politik super tajam atau emang pinter baca situasi aja?!"
Pria paruh baya itu memicingkan matanya penuh selidik, menatap Lucien dan Eliana bergantian dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tangannya menunjuk ke arah genggaman tangan mereka yang rapat.
"Istri?" sergah pria itu dingin dan ketus. "Hukum adat desa kami sangat melarang keras pria dan wanita yang bukan muhrim menginjakkan kaki di tanah ini, apalagi menetap! Mana bukti bahwa kalian adalah sepasang suami-istri yang sah?"
Eliana menelan ludah, panik. Mana ada orang mendaki gunung membawa dokumen surat nikah?
Namun, Lucien hanya menaikkan satu alisnya tipis. Sudut bibirnya mengukir senyum tenang yang tampak begitu wajar dan rasional.
"Pua," sahut Lucien santai, suaranya mengandung nada meyakinkan yang sangat kuat. "Orang mana yang membawa lembaran kertas surat nikah saat mendaki hutan belantara dan naik gunung? Jika Anda ragu, Anda bisa melihat bagaimana kami saling menjaga sepanjang perjalanan. Apakah seorang pria akan mempertaruhkan nyawanya menembus hutan terpencil ini bersama wanita yang bukan istrinya?"
Pria paruh baya itu terdiam sejenak. Ia memperhatikan genggaman tangan Lucien yang begitu protektif melingkungi jemari Eliana, serta bagaimana Eliana refleks berlindung di balik tubuh tegap Lucien. Kehangatan dan gestur saling percaya di antara mereka tampak begitu alami tentu saja, karena Lucien memang sengaja memainkan peran itu dengan sangat sempurna.
Ketiga pria paruh baya itu saling berbisik sejenak dalam bahasa daerah lokal yang tidak dimengerti Eliana. Setelah beberapa saat, pria tertua menurunkan tombaknya dan mengangguk pelan.
"Baiklah. Karena hari sudah makin gelap dan hutan di luar sangat berbahaya untuk perjalanan pulang, kalian diizinkan masuk untuk beristirahat," putusnya tegas. "Tapi ingat, hormati adat kami selama berada di sini."
"Terima kasih atas kemurahan hati Anda," balas Lucien sopan.
Mereka berdua akhirnya dipersilakan melangkah melewati gerbang kayu pemukiman.
Saat mereka mulai menyusuri jalan setapak tanah di dalam kampung, suasana terasa begitu mystical dan kuno. Rumah-rumah panggung kayu jati berdiri kokoh di kanan-kiri. Di sepanjang jalan, puluhan pasang mata warga lokal mulai dari ibu-ibu yang menggendong anak, sesepuh desa, hingga para pemuda kampung berdiri di teras rumah kayu mereka, menatap Lucien dan Eliana dengan tatapan penasaran yang amat intens.
Kedatangan dua orang asing berpakaian penjelajah dengan visual yang amat menawan tentu menjadi tontonan langka bagi warga desa terisolasi tersebut.
Eliana yang merasa dilirik oleh puluhan pasang mata refleks makin mempererat pegangan tangannya pada jemari Lucien. Wajahnya menunduk sedikit, menyembunyikan rona merah yang tak kunjung padam di pipinya.
"Aduhh... dilihatin orang se-kampung begini malu banget anjir..." bisik batin Eliana gelisah, jiwanya meronta-ronta di dalam kepala. "Tapi untung banget Lucien pinter ngelesnya! Kalau tadi sampai diusir, alamat kita tidur di goa bareng beruang hutan! Makasih ya Tuhan, Pangeran tampan gue otaknya encer banget!"
Lucien yang menyimak semua pujian polos dan rasa lega dari batin Eliana menyunggingkan senyum tipis yang amat mematikan. Tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan di depan, Pangeran Mahkota itu mengencangkan genggaman tangannya, mengelus punggung tangan Eliana dengan ibu jarinya secara perlahan untuk menenangkan gadis itu.