Alina Maheswari percaya bahwa cinta selalu menemukan jalannya. Lima tahun bersama Birendra Adhyaksa membuatnya yakin bahwa lelaki itu adalah rumah tempat dimana ia akan pulang selamanya.
Namun sebuah kecelakaan merenggut segalanya.
Ketika sang kakak—Keira Maheswari kehilangan suaminya, dan terjebak dalam trauma yang membuatnya mengira Birenda adalah lelaki yang telah tiada, Alina dihadapkan pada pilihan yang tak pernah ia bayangkan yaitu mempertahankan cintanya atau merelakannya demi menyembuhkan satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Disaat pengorbanan mulai mengikis hatinya, masa lalu datang mengetuk, sementara rahasia demi rahasia perlahan mengubah arti cinta, kehilangan, dan kesetiaan. Sebab terkadang, yang menghancurkan sebuah hubungan bukanlah hadirnya orang ketiga, melainkan seseorang yang namamu di mata yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyushine / Widi Az Zahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 – Perempuan dari Masa Lalu
“Tidak semua ancaman datang untuk merebut. Beberapa hanya hadir untuk menguji seberapa besar rasa percaya yang telah dibangun.”
--
Hari senin selalu menjadi hari tersibuk di Adhyaksa Jewellery. Sejak pukul delapan pagi, ruang rapat dilantai dua telah dipenuhi para kepala divisi yang bersiap mempresentasikan perkembangan proyek masing-masing.
Di luar ruang rapat, para staff berlalu-lalang membawa berkas, contoh material, hingga prototype koleksi terbaru yang akan dipamerkan pada peluncuran akhir tahun. Di tengah kesibukan itu, Alina berdiri di depan layar presentasi dengan tenang.
Tatapannya menyapu seluruh ruangan sebelum mulai menjelaskan konsep koleksi Aurora. Jemarinya sesekali menunjuk sketsa yang ditampilkan di layar, menjelaskan filosofi dibalik setiap lekukan cincin, pilihan batu permata, hingga alasan mengapa emas putih dipilih sebagai material utama.
Bagi Alina, setiap desain harus memiliki cerita. Perhiasan yang indah akan menarik perhatian seseorang, namun perhiasan yang memiliki makna akan membuat seseorang jatuh cinta.
Ruangan seketika menjadi hening, karena semua orang memperhatikan penjelasan yang tengah Alina bawa tanpa menyela, bahkan Birendra yang duduk di ujung meja hanya memandang Alina dengan senyum tipis yang hampir tak terlihat.
Senyuman itu bukan ia berikan sebagai seorang kekasih, melainkan senyuman seorang pemimpin yang bangga terhadap hasil kerja orang kepercayaannya.
“Bagaimana pendapat Bapak dan Ibu?” Tanya Alina usai menyelesaikan presentasinya.
Beberapa kepala divisi mulai memberikan masukan. Ada yang mengusulkan perubahan ukuran berlian pada salah satu model, ada pula yang meminta variasi warna emas agar menjangkau pasar yang lebih luas.
Alina tidak menyela maupun langsung berkomentar, ia justru mencatat setiap masukan-masukan yang diterima olehnya. Ia tidak pernah menganggap kritik sebagai serangan, justru sebaliknya, baginya, kritik adalah cara sebuah karya menjadi lebih baik.
Rapat hampir berakhir ketika pintu ruang konferensi diketuk pelan. Semua peserta rapat langsung menoleh secara bersamaan dan disana terlihat seorang gadis muda tengah berdiri di ambang pintu.
Rambutnya sebahu dengan warna coklat gelap yang berkilau diterpa cahaya. Ia mengenakan setelan putih sederhana dengan syal tipis melingkar di leher dan wajahnya dipenuhi dengan senyum percaya diri yang tidak berlebihan. Tatapan gadis itu pun langsung tertuju pada satu orang.
“Bi..” suara itu terdengar begitu akrab. Sejenak, Birendra terlihat terkejut dengan kehadirannya. Senyum yang selama ini jarang diperlihatkannya kepada orang lain perlahan muncul.
“Celine?” Gadis itu tertawa kecil saat Birendra menyebut namanya.
“Aku pikir kamu sudah lupa.” Birendra lekas berdiri dari kursinya dan menghampiri gadis itu.
“Kapan pulang?” Tanya pria itu penasaran.
“Tadi pagi.” Tanpa ragu, Celine merentangkan kedua lengannya dan Birendra membalas pelukan itu sebagaimana seseorang menyambut teman lama yang telah bertahun-tahun tidak ditemui.
Ruangan mendadak sunyi, beberapa kepala divisi saling berpandangan satu sama lain. Sedangkan Alina? Wanita itu tetap berdiri di tempatnya, ekspresinya nyaris tidak berubah. Namun entah kenapa, ada sesuatu yang terasa menjanggal di dalam dadanya.
Pelukan itu berlangsung singkat, tidak lebih dari beberapa detik. Namun cukup lama untuk membuat sebagian orang mulai berbisik pelan.
“Apa dia pacarnya Pak Birendra dulu?”
“Teman kuliah, ya?”
“Kayaknya akrab banget.”
Bisikan-bisikan kecil itu terdengar samar di telinga Alina, dan ia memilih mengabaikannya. Ia lebih memilih menutup map presentasinya seraya mengucapkan terima kasih kepada seluruh peserta rapat pada hari itu.
Satu per satu orang mulai meninggalkan ruangan, hanya Birendra yang masih berbincang dengan gadis bernama Celine itu. Keduanya tampak tertawa mengingat sesuatu, sesekali Celine memukul pelan bahu Birendra, lalu kembali tertawa.
Pemandangan yang sebenarnya biasa saja, namun tidak di mata Alina. Menurut Alina, apa yang dilihatnya terasa sangat asing baginya, bukan karena ia cemburu, melainkan karena ia belum pernah melihat sisi Birendra yang seperti sekarang.
Tidak ingin berlarut disana, Alina membiarkan hal itu dan memilih untuk kembali bekerja, namun saat dirinya melewati keduanya, Birendra tampak biasa saja, hal itu tentu saja membuatnya sedikit terkejut.
Di ruangannya, Alina tampak tidak bisa fokus dengan pekerjaan dihadapannya. Bayangan Birendra yang tengah tertawa bersama Celine terus terngiang dalam pikirannya.
“Bu Alina.” Suara Nisa membuyarkan lamunannya.
“Iya?”
“Pak Birendra manggil.” Alina mengangguk pelan sebelum akhirnya berjalan menuju ruang CEO. Saat pintu terbuka, Celine masih berada di dalam. Begitu melihat Alina, gadis itu langsung berdiri.
“Oh.. kamu pasti Alina.” Nada suara gadis itu terdengar hangat dan tanpa dibuat-buat. Alina sedikit terkejut ketika Celine justru mengulurkan tangannya lebih dulu. “Hai, aku Celine.” Pungkasnya.
“Alina.” Jawabnya singkat.
“Birendra sering cerita tentang kamu.” Mendengar itu, Alina spontan melirik Birendra. Pria itu hanya tersenyum kecil.
“Semua cerita baik, kok.” Sahut Birendra dan Celine tampak terkekeh.
“Kalau ada cerita jelek, berarti dia bohong.” Celetuk Alina. Kini, suasana menjadi lebih santai, Birendra kemudian memperkenalkan mereka secara resmi.
“Celine, dia adalah teman masa kecilku.”
“Kami tetanggaan dulu.” Sambung Celine. “Dari TK sampai SMA kami bersama. Setelah itu aku kuliah di Milan.” Alina mengangguk pelan.
Milan, kota yang menjadi kiblat dunia perhiasan dan mode. Tak heran pembawaan Celine terlihat begitu elegan.
“Aku dengar kamu yang memimpin Divisi Desain?” Celine menatap Alina penuh kekaguman. “Presentasimu tadi keren. Aku bahkan sempat lupa kalau aku datang buat ketemu Birendra.” Lanjutnya lagi.
“Terima kasih.” Pujian yang diberikan oleh Celine terdengar tulus dan tak sedikit pun terdengar sinis. Justru hal itulah yang membuat Alina kesulitan menemukan alasan untuk tidak menyukainya.
Siang itu mereka makan bersama di sebuah restoran dekat kantor. Obrolan mereka didominasi oleh cerita-cerita Celine selama tinggal di Italia. Mulai dari tentang musim dingin pertama yang membuatnya jatuh sakit, toko-toko perhiasan kecil yang menyimpan karya luar biasa, hingga impiannya untuk membawa sentuhan desain Eropa ke Indonesia.
Sesekali Birendra ikut menanggapi, untuk sejenak mereka mengingat masa kecil mereka. Mengingat memiliki guru yang galak, mengikuti lomba menggambar, hingga sepeda mereka yang pernah rusak karena dipakai menuruni bukit.
Alina hanya mendengarkan, bukan karena tidak ingin ikut bicara, melainkan karena sebagian besar cerita itu belum pernah ia dengar. Ada bagian kehidupan Birendra yang tidak ia kenal, dan hari itu, bagian itu sedang duduk tepat dihadapannya.
“Sudah sore. Aku harus ke apartemen, besok kita ketemu lagi.” Sahut Celine yang dibalas anggukkan oleh Birendra. “Oh iya, senang kenal sama kamu.” Ucap Celine yang menoleh ke arah Alina.
“Aku juga”
Celine tersenyum sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan mereka. Setelah sosoknya menghilang dibalik pintu , keheningan menyelimuti keduanya. Alina masih memandang arah dimana Celine menghilang.
“Ada yang kamu pikirkan?” Suara Birendra terdengar lembut, dan Alina langsung menggeleng pelan. “Kamu yakin?” Tanyanya lagi memastikan.
“Iya.” Balasnya singkat. Ia memang tidak berbohong, karena belum ada sesuatu yang benar-benar salah. Celine bersikap ramah, sopan, dan tidak menunjukkan sikap ingin merebut perhatian Birendra. Justru menurutnya, Celine gadis yang menyenangkan.
Meski begitu, ada satu hal yang tidak bisa di abaikan oleh Alina. Hari itu, untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Alina melihat seseorang yang mengenal Birendra lebih dalam dari dirinya, dan entah kenapa perasaan itu membuatnya sadar bahwa sekuat apapun sebuah hubungan di bangun, akan selalu ada bagian dari masa lalu seseorang yang tidak akan pernah bisa dimiliknya.
Alina menarik napas panjang sebelum akhirnya melangkah menuju ruang kerjanya. Ia tidak tahu, bahwa pertemuan hari itu hanyalah retakan kecil, karena beberapa hari yang akan datang, seseorang yang juga berasal dari masa lalunya akan muncul. Seseorang yang bahkan tidak lagi ia ingat pernah ada.