[COMPLETE✔️]
Richard Leonidas Wagner
Pemuda berandal dan tampan- membawaku masuk ke dalam hidupnya yang berbahaya.
Membuatku hampir kehilangan dua bintang penting dalam hidupku, memecah fokusku hanya tertuju padanya.
Richard mengikatku terlalu kuat hanya untuk dirinya sendiri. Dia begitu serakah, tidak membiarkan siapapun merebutku dalam genggamannya.
Richard; Ketua basket, bagian dari Geng Motor jalanan dan Narkoba— Dunia hitam yang selalu membawanya dalam masalah rumit dan Aku hampir menyerah karenanya.
Richard- Setelah Aku mengikutimu hingga akhir, bisa Kau lepas semua hal yang membahayakan hidupmu dengan sukarela?
Dan sanggupkah Aku yang lemah ini bertahan dalam sisi gelapmu yang begitu keras?
Hey Richard! ich liebe dich ..
-Bee Unknown-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harley Davidson
Tak seperti biasa, aku menghabiskan waktu istirahatku duduk di atap sekolah. Menikmati pemandangan gedung pencakar langit Berlin yang ada di depan mata.
Semilir angin menerpa wajah. Membuat kelopak mataku terpejam sebentar lalu suara bantingan pintu di belakang sana mengejutkanku.
BRAK!
Tubuhku berjingkat kaget dan langsung menoleh ke arah sumber keributan. Mendapati seseorang baru saja masuk dan berjalan mendekat.
Richard.
Gugup. Antara tetap di sini atau pergi.
Beruntung, aku selalu membawa novel favoritku kemana pun aku pergi. Setidaknya itu bisa menutupi diriku yang sedang salah tingkah karena kehadiran Richard di sini.
Pemuda itu duduk di sampingku tanpa bersuara. Terlihat mengeluarkan sesuatu dari balik saku celananya.
Sebungkus rokok dan korek.
See. Dugaanku benar bukan waktu itu? Richard adalah perokok. Hidungku mulai mencium aroma tembakau yang menyengat dengan kepulan asapnya membumbung tinggi ke udara.
Demi Tuhan! Pertama kalinya aku membiarkan seseorang merokok dalam jarak sedekat ini. Bahkan Kakakku saja tidak berani melakukan itu sebab aku dan Anna akan marah dan berakhir membuang benda sialan itu ke tong sampah.
"Kenapa ke sini?"
Akhirnya! Aku bisa mendengar suara bass itu bersuara setelah puluhan menit berlalu dengan keheningan.
"Tentu saja duduk dan membaca novel!"
Richard menoleh dan menatapku tajam, "Not you but them!"
Oh baiklah! Ini jadi hal paling memalukan ketika tingkat kepercayaan diriku terlalu tinggi sebab bukan aku yang sedang diajak bicara oleh pemuda berandalan itu.
Siapapun, tolong kubur aku sekarang juga! Aku benar-benar malu!
Bibirku kembali terlipat lalu hendak beranjak pergi ketika dua teman Richard berjalan ke arah kami namun tiba-tiba, Richard mencekal lenganku— "Katakan!"
"Lalu dia?"
Louis, pemuda itu menunjukku dengan dagunya saat tangan besar Richard justru turun dan menautkan jemari kami.
Jantungku berdebar, astaga!
Richard membuang sisa rokoknya dan menginjak benda itu dengan ujung sepatunya.
"Tidak masalah! Katakan saja!"
Kedua pemuda itu menghela napas, saling menatap sebentar sebelum bibir Louis kembali berucap, "Kudengar, Yongsheng mendaftarkan dirinya ke sekolah ini atas perintah Frau Zoe. Dan kelompok yang menyerang kita kemarin ... Sepertinya mereka juga mengincar milikmu, Richard." Lalu pandangan kami bertemu; aku, Louis dan Max.
Kurasakan genggaman tangan Richard semakin mengerat. Aku tidak tahu masalah apa yang sedang mereka bicarakan. Richard menatapku dalam diam!
Ada banyak kekhawatiran yang kurasakan melalui sepasang obsidian birunya yang menggelap.
Sesuatu mungkin sedang terjadi tapi aku tidak mengetahuinya.
"Kita tidak bisa membiarkan mereka bertindak lebih jauh. Richard, keputusanmu?"
Kini giliran Max yang bersuara. Pemuda berkebangsaan Belanda itu tampak serius dengan ucapannya. Sekarang, aku merasa jika Richard ini seperti seorang pimpinan Mafia yang sedang berdiskusi masalah penting dengan anggotanya.
"Urus mereka malam ini! Hubungi Jackson dan Bill. Perintahkan mereka menemuiku di markas. Dan tentang si brengsek itu ... Biar aku yang mengurusnya! Jangan bertindak sebelum mengetahui kebenarannya!" Richard menatap Louis dan Max bergantian, "Aku tidak yakin dia hanya melakukan satu misi saja! Wanita itu pasti memberinya banyak tugas. Awasi mereka!"
Keduanya mengangguk paham. Lalu berjalan keluar dan meninggalkan aku berdua dengan Richard di sini.
Penasaran. Mulutku sudah gatal ingin menanyakan masalah tadi. Ya walau aku tahu, Richard tidak akan mau repot menjelaskannya padaku.
"Emm, apa sesuatu yang buruk telah terjadi? Siapa orang-orang yang kau maksud itu, Richard?"
Bukannya menjawab, Richard justru sibuk mengapit rokok dan menyulutnya, lagi.
"Richard!"
"Banyak bertanya bisa membuatmu celaka!"
Aku mendengus, kesal dengan sikap dinginnya yang melebihi bongkahan es di kutub utara. Lalu saat aku berdiri, Richard kembali menahanku— "Mau kemana?"
"Kadang banyak bertanya bisa membuatmu celaka!"
Dahinya mengernyit, tak suka. Mendengar ucapanku menirukan kalimat yang sama, yang ia ucapkan.
Jemariku menepis tangan Richard yang masih betah menahan lenganku, "Kau tidak dengar bel masuk, huh?"
Richard melepas tangannya. Kembali membuang rokok yang masih tersisa lalu menginjaknya asal.
"Biar kuantar!"
"Ck! Aku bukan lansia yang akan lupa dimana kelasku berada!" ketusku.
Meski sebenarnya hatiku sedang menjerit senang. Apalagi tangan besar itu kembali menggandengku, lagi.
"Aku tidak menerima penolakan!"
Mataku hanya berotasi malas mendengar nada bicara Richard yang seolah memerintah dan sialnya, aku tidak bisa membantah ucapannya tersebut.
Sepanjang koridor sekolah, tatapan sinis mereka layangkan sebab tak suka melihat pangeran sekolah, katanya— berjalan bergandengan dengan seorang gadis.
Selain tak banyak bicara, Richard juga bersikap dingin pada siapapun yang berusaha mendekatinya tanpa seizin dari pemuda itu, tentu saja.
"Perhatikan jalanmu, Empusa!"
"Tidak bisakah kau berjalan sedikit pelan? Aku lelah, Richard?"
Dia menoleh, sedetik kemudian kembali menatap lurus ke depan.
"Kakimu saja yang terlalu pendek!" gumamnya yang masih bisa terdengar olehku.
Hampir sampai, saat tubuh jangkung Richard membelah kerumunan murid perempuan dan ada Bianca yang menatap sinis ke arah kami.
Lebih tepatnya, gadis itu cemburu melihatku bersama Richard.
Bahkan aku bisa melihat kepulan asap imaginer berada diantara sisi kepalanya.
"Richard, kita harus bicara!"
Kami berhenti tepat di depan pintu kelasku dan semua murid berkerumun, menjadikan kami sebagai tontonan yang menarik.
Richard melepaskan genggamannya dan itu membuatku mendesah kecewa.
"Masuk, Empusa!" perintahnya.
Diam.
Hingga tubuhku tersentak kaget mendengar suara bass itu terdengar begitu dekat di telingaku, "Masuk atau kugendong sekarang!"
Itu tadi, sebuah ancaman atau rayuan?
Jujur, ucapan Richard membuatku tersipu dan salah tingkah di saat yang tidak tepat.
Tak ingin perdebatan ini semakin panjang, aku menuruti perintahnya. Masuk kelas dan duduk di samping Kate yang kini mencecarku dengan banyak pertanyaan.
Sementara kulihat di luar sana, Richard sedang menarik kasar lengan Bianca hingga gadis itu mengadu kesakitan.
"Akh! Richard, i-ini sakit."
Bibirku ikut meringis, mendengar suara Bianca yang memohon untuk dilepaskan namun sepertinya, Richard tidak mau mendengar ucapan gadis itu.
"Tidak usah ikut campur! Bianca pantas mendapatkannya!"
"Apa mereka pernah berkencan?"
Kate tertawa keras hingga airmatanya keluar. Membuatku kebingungan sebab tidak ada yang lucu, menurutku.
"Kenapa tertawa, Kate?"
"Bukan apa-apa!"
Aku mulai sedih, "Jadi benar ya? Richard dan Bianca itu—"
"Stop Violette! Jangan berpikir macam-macam tentang hubungan mereka ..." Kate menepuk pelan bahuku, "Bukankah kau sudah mendengarnya langsung dari Richard?"
"Huh?"
"Richard dan Bianca hanya sebatas patner di ranjang, okay! Kau tidak perlu merasa sedih karena Richard tidak menyukainya lebih dari itu."
Seulas senyum tercipta. Tidak tahu respon apa yang bisa kuberikan mendengar penjelasan Kate tentang Richard dan Bianca yang pernah bercinta. Entah sudah berapa kali mereka melakukan itu namun yang jelas, perasaanku sedikit lega sebab mereka tidak memiliki hubungan apapun.
"Kalian semua aneh. Kau, Richard dan juga teman-temannya. Semua orang di sini aneh!"
...******...
Pulang sekolah adalah hal yang paling semangat kulakukan setelah hampir satu hari berkutat pada tumpukan buku pelajaran yang membosankan.
Aku tidak melihat mobil milik Kakakku terpakir di depan gerbang.
Ponselku berdering dan melihat nama Ben tertera di sana, sedang meneleponku.
"Ya, Ben?"
"Sayang, maafkan aku! Hari ini bisa kau pulang sendiri? Aku dan Anna sedang sibuk! Dan rapat sialan ini belum juga selesai sejak tadi pagi, tsk!"
Aku terkekeh mendengar Ben mengumpat di seberang sana. Biasanya ia akan marah jika mendengar orang lain mengumpat karena Ben tidak pernah melakukan itu. Ia pasti sangat kesal sekarang karena membiarkanku pulang sendirian.
Itu terdengar jelas dari nada bicaranya, ngomong-ngomong.
"Hm, no problem! Aku bisa pulang sendiri. Kau ... Selesaikan pekerjaanmu, Ben! Aku tidak apa-apa."
"Hanya hari ini saja, aku berjanji! Kunci semua pintu dan jangan menerima siapapun tamu yang datang ke Mansion saat kami tidak ada! Oh ya, tadi pagi Anna sudah menyiapkan Buenos Aires untuk makan siangmu dan meletakkan itu di kulkas. Kau bisa kembali menghangatkannya di Microwave. Hati-hati di jalan, Sayang. Aku menyayangimu!"
Percakapan selesai. Ben mematikan sambungan telepon dan sempat mengumpat, lagi. Membuatku terkekeh, gemas.
Aku memasukkan kembali ponselku dan mulai berjalan menyusuri jalanan beraspal yang sepi. Baru dua langkah dari tempatku berdiri, seorang pria dengan motor Harley Davidsonnya menghampiri.
Richard.
"Butuh tumpangan?"
...******...
TOUCH VOTE, LIKE AND COMMENT!