SERAT-SERAT CINTA
DUA kakak ber adik Imam Baskoro dan Dadang Baskoro kalau dipandang dari segi pemikatnya,pasti akan banyak yang sepakat tampanan Imam kakaknya. Tapi setelah mengalami kecelakaan saat sedang berlatih menyetir mobil dengan tunangannya yang mengakibatkan salah satu anggota tubuhnya menjadi cacat, pamor Imam sebagai lelaki idaman para mojang dan gadis menjadi turun drastis. Bahkan belakangan sudah banyak yang menyebutnya pemuda jomlo kepada Imam. Sedangkan Dadang sang adik janjinya kepada diri sendiri,sampai kapanpun ia tidak akan mau menikah kalau kakaknya belum menikah.
Atas musibah yang menimpa Imam,Pak Burhan ayahnya Vera tunangan Imam, jadi merasa terpanggil untuk memulihka refutasi seorang pemuda, yang semasa hidupnya putrinya begitu mencintainya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imam Robiansyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sandiwara Bagian Ke 1
BU Jubaidah istri pak Burhan dari tadi malam banyak
mengangis. Sekarang sudah siang tidak keluar-keluar dari kamarnya. Tapi
istrinya yang seperti ini bagi pak Burhan tidak membuatnya cemas berlebih
karena dua tahun belakangan istrinya suka sepeti itu kalau ke inginannya tidak
terpenuhi. Dan karena ini hari minggu pak Burhan tidak ngantor, istrinya kini
dihampiri. Pertanyaan yang lirih dari sang suami, ternyata membuat Bu Jubaidah
merasa diperhatikan.
“Mama ini kenapa lagi hm…? Cobalah jangan membuat papa
khawatir…”
Pak Burhan duduk di pinggir tempat tidur sambil memegangi
tangan istrinya.
“Setelah menikah, Imam jadi tidak pernah lagi menemui Vera
pah…” Bu Jubaidah mengutarakan yang membuatnya sedih.
Pak Burhan langsung memejamkan matanya.” Ternyata ini
penyebabnya…?” gumamnya didalam hati.
“Jadi sekarang mama ingin Imam kesini ?”
“Iya pah…Imam jangan mentang-mentang dia sudah punya istri,
kemudian jadi lupa kepada Vera..”
“Kalau begitu sekarang papa akan menelpon Imam supaya dia
kesini, tapi mama nya harus berhenti menangis dan harus bergembira”
“Jadi sekarang papa mau nelpon Imam…? Kalau begitu mama akan
persiapkan makanan untuknya dan uang untuknya yang banyak “
Setelah mendengar suaminya mau menelpon Imam supaya datang
kemari, ternyata bu Jubaidah langsung bangkit. Pertama yang dilakukannya bu
Jubaidah langsung membuka lemari. Kotak penyimpanan uang diambil. Setelah
mengambil beberapa juta, kotaknya ditutup lagi. Begitu juga lemarinya.
“Pah ? Punya amplop tidak…?”
“Ada di ruang kerja…”
“Mama mau minta satu ya…?” Bu Jubaidah tidak menunggu jawaban. Melihat istrinya rurusuhan mau ke
ruang kerjanya, Pak Burhan geleng-geleng kepala. Sedangkan hatinya sedih dan
prihatin bukan kepalang, kenapa istrinya jadi seperti itu ? pikirnya.
Sebelum istrinya kembali, pak Burhan menelpon Imam.
Kring…
“Sayang tolong ambilkan HP ku ya bunyi…” Ketika HP nya yang disimpan di kamar
berbunyi, Imam sudah di meja makan. Tapi Amel masih mengambi makanannya dari
dapur.
“Dari papa Burhan ternyata mas…?” Amel yang sudah mengambil
HP suaminya celoteh.
“Mau apa ya papa…?” Dari kursi Imam berdiri. “ Sayang…? Aku mau menerimanya dulu disana ya
?”
Imam memutuskan menerima teleponnya di tempat lain, karena
takut Amel mendengar pembicaraannya dengan pak Burhan.
“Usahakan jangan lama-lma nelponnya “
“Iya sayang…” Jawab
Imam sambil berjalan menuju ruang tamu.
“Asalamualikum pah…?” Di ruang tamu, Imam membuka kontak.
“Wa’alaikumussalam…Mam kamu sedang apa disana…?”
“Kebetulan barusan mau makan pagi…Papa nelpon aku ada apa ya…?”
“Biasa mama Mam…Kamu mengerti kan…? Jadi papa harap kamu
bisa datang kesini sekarang juga “
“Kalau saya makan dulu boleh kan pah…? Soalnya barusan Amel
sudah mempersiapkan…?”
“Boleh, boleh…Yang penting hari ini kamu harus ke rumah
papa…Tapi istri kamu jangan sampai tahu tujuannya “
“Baik pah…Kalau begitu HP nya mau aku tutup dulu ya…?
Soalnya Amel sudah menunggu di meja makan..”
“Iya, iya Mam…Kamu tidak perlu rurusuhan…Nyantai saja
seperti biasanya kalau sedang makan dengan istri kamu…”
“Iya pah…Asalamualaikum…”
“Wa’alaikumussalam…”
“Mau apa barusan papa mas…?” Setelah Imam kembali Amel bertanya.
Sebelum menjawab Imam duduk dulu yang nyaman. “Aku disuruh
kesana…”
“Hari ini…?”
“Iya…Kamu nggak apa-apa kan kalau aku tinggal dulu ?”
“Nggak apa-apa mas, asal kamu jangan nginap…Soalnya aku
takut kalau dirumah sendirian”
“Iya, paling telat nanti aku pulang jam lima sore…Ayo sekarang
beri dulu nasinya…” Imam menyodorkan piring kosong. Ternyata oleh Amel langsung
dialas nasi.
“Lauknya mau dengan apa saja mas…?”
“Ayam aja dan tempe…Lalu beri sambal sedikit “
“Segini cukup…?” Amel
nyedok sambel.
“Ya, cukup “
Pasangan ini akhirnya makan sambil diselingi obrolah seputar
rumah tangganya dan kuliah Amel. Soal pak Burhan menyuruh Imam datang, tidak
disinggung. Selesai makan Imam buu-buru ke kamar air. Bukan mau mandi tapi
hanya nyikat gigi dan kumur-kumur.
Pukul setengah sembilan Imam sudah menghampiri mobilnya.
Amel mengantarkan kedepan ketika Imam mau berangkat.
“Sayang, aku berangkat dulu ya…?” Sebelum masuk kedalam
mobil Imam memberikan tangannya dulu kepada Amel. Setelah oleh sang istri
diciumnya, Imam lalu masuk ke mobilnya. Sebelum mobilnya melaju, Imam melambai
lagi. Dari luar Amel membalas. Setelah mobil suaminya tidak ada, baru Amel
masuk lagi kedalam. Dan mengunci dulu pintu setelah benar-benar dirumah hanya akan
sendirian.
“Setelah aku dan mas Imam menikah, baru kali papa Burhan
menyuruhnya kesana…? Aku juga untuk pertamakalinya dirumah sendirian…? Ternyata
tanpa mas Imam dirumah sepi…? Apakah perasaan ini berarti aku sudah
mencintainya seratus persen ?”
“Ach, aku tidak tahu….?” Amel menggaris bawahi lagi pikirannya sendiri. Setelah dalam kesendirian
ternyata yang terjadi kemarin melintas lagi dalam benaknya.
“Selam ini kamu itu berpacaran dengan Dadang…! Tapi
tiba-tiba kamu memutuskan menikah dengan kakaknya…! Hati kamu sebenarnya dimana
Mel ?! Setelah kamu memutuskan menikah dengan kakaknya, Dadang itu selalu
rmurung, tahu nggak…?! Kalau di kantin duduknya itu selalu terpisah tidak mau
bergabung dengan kita...! Dan semua itu gara-gara kamu yang matre mata
duitan…!”
“Kalau tidak kujelaskan, selamanya mereka akan terus
menganggapku rendahan…Disisi lain aku tidak bisa terima…Tapi Dadang pasti tidak
akan seperti mereka, karena dia tahu semuanya…Dadang juga sangat sayang kepada
kakaknya…Dadang orangnya pengertian…Dadang juga suka peduli sama aku...”
Dadang, Dadang dan Dadang. Ahirnya Amel ketiduran di sofa.
Kedua tangannya mendekap bantalan kursi yang diletakkan di atas dadanya.
Tidurnya Amel di sofa terlentang dan lumayan lelap.
Smangat
Semang4