Auristela Ayunindya gadis berusia 23 tahun dari desa yang telah lama hidup di kota. Bukan berasal dari keluarga layak negeri dongeng apalagi serba ada. Bukan gadis cantik jelita layaknya bintang kpop yang mendunia. Hanya gadis biasa dengan 1001 impian dalam hidupnya.
Apakah gadis biasa tidak boleh mempunyai mimpi? Apa gadis biasa hanya harus punya kehidupan biasa? Bukan Ayu atau Stela nama panggilan gadis 23 tahun yang menurut orang sudah cukup dewasa ini. Nama panggilannya Auris.
Auris bukan dari keluarga kaya juga bukan lulusan dari universitas ternama, bahkan Auris tengah berjuang untuk menyelesaikan pendidikan S1nya. Telat? Iya memang Auris menunda kuliah dua tahun. Tapi Auris tetap ingin mengejar impianya.
Yuk intip kisah Auris mengejar impian-impian manisnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tindek_shi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada Rasa
Layar ponsel Auris menyala, pertanda ada notifikasi yang masuk. Auris hanya melihat sekilas tanpa ada ketertarikan lebih. Dia masih sibuk dengan ponsel yang di khususkan untuk pekerjaan di luar mengajar yang di gunakan olehnya.
1 jam kemudian.
Dimas
Assalamu'alaikum
Pesan masuk dari Dimas, teman mengajarnya di SMA yang beberapa hari ini sering mengantarnya pulang.
Me
Walaikumussalam, apa ada yang bisa di bantu?
Tanya Auris melalu pesan singkat, setelah satu jam pesan dari Dimas nganggur tanpa di ketahui oleh Auris.
Telepon masuk, Auris yang memang tengah memegang ponsel terasa enggan menolak panggilan masuk dari Dimas.
"Assalamu'alaikum, Auris!" sapa Dimas dari balik sambungan telepon di seberang sana.
"Walaikumussalam, Iya Bang Dimas," kata Auris menyahut dari sambungan telepon.
"Kamu lagi sibuk ngak Auris? Bisa ketemu di luar ngak?" tanya Dimas pada Auris.
Auris melihat ke arah jarum jam di kamarnya yang menunjukkan angka 8 malam, Auris menghela nafas sejenak.
"Bagaimana kalau besok saja Bang, setelah usai mengajar. Bagaimana?" tanya Auris melalui sambungan telepon.
"Boleh juga, yaudah kalau gitu besok saja. Assalamu'alaikum,"salam Dimas dari seberang sana.
"Walaikumussalam," sahut Auris.
Auris kembali berkutat dengan pekerjaannya kembali.
"Auris, makan dulu Nak! Jangan makan kemaleman nanti kamu bisa kena diabetes," kata Ibu dari luar. Ya Ibu memperhatikan sedari pulang sekolah Auris sama sekali belim makan apapun tapi sibuk dengan laptop dan ponselnya.
"Iya Bu, bentar lagi," kata Auris dari dalam kamar.
Auris segera berdiri, untuk makan malam. Auris melihat sang Ibu sedang menghitung pendapatan dari berjualan hari ini.
"Ibu mau ke grosir jauh, kalau ngantuk pintunya di ganjel aja biar Ibu ngak susah panggil kamu nanyi," kata Ibu sebelum berpamitan sedangkan Auris hanya mengiyakan saja.
Selesai makqn malam Auris menatap banyak cucian kotor dan juga piring kotor yang warung nasi karena banyaknya bahkan tidak ada piring yang bersih lagi di rak piring. Auris segera menutup laptopnya dan juga meletakan Hp yang di gunakan sebagai alat pencari uang tambahan bagi Auris.
Dengan segera Auris membersihkan rumah yang bagai kapal pecah itu. Ya Auris tidak langsung mencuci piring ketika pulang dari mengajar di sekolah, selain malas mengerjakan pekerjaan berulang, deadline dari sekolah juga cukup membuat Auris sesak nafas, terlebih harus tetap mencari selingan di luar sekolah agar bisa melunasi hutang piutang selama masa kuliahnya dulu.
1 jam kemudian.
"Assalamu'alaikum! Auris!" teriak Ibu dari luar rumah. Ya Ibu selalu berteriak dari luar dengan jarak sekitar 5 meter sebelum sampai pintu, jadi sangat bisa di pastikan jika Ibu pulang dari suatu tempat.
"Loh, ngak jadi tidur. Eh udah rapi semua, rencananya tadi Ibu mau nyuci baju dan nyuci piring. Kamukan udah capek dari ngajar di sekolah dan juga kerja sampingan," kata Ibu menatap sang anak dengan binar senang di matanya.
"Ngak papa, Ibu. Seharusnya Auris udah bahagiakan Ibu. Ini bahkan sudah 6 bulan sejak Auris di terima ngajar di SMA X dan Z tapi Auris masih belum bisa bantu banyak, bahkan sering ketiduran juga sehingga Ibu harus kerjakan semuanya sendiri. Auris minta maaf ya, belum bisa kasih Ibu yang terbaik. Auris sayang Ibu," kata Auris pada Ibunya.
"Ibu juga sayang Auris, perlu Ibu bantu ngak? Masih banyak?" tanya Ibu yang melihat Auris tengah memutar pakaian ke dalam mesin cuci.
"Udah ngak usah, Ibukan udah sholat dan juga pasti capek pulang dari kedai jauh dengan berjalan kaki. Jadi, Ibu tidur aja gih. Nanti kalau bangun duluan, bangunin Auris ya, Auris mau tahajjud," kata Auris pada sang Ibu yang di angguki Ibu Auris.
Cukup lama waktu yang di habiskan Auris untuk mencuci pakaian dan juga melekatkan dengan hanger agar bisa segera kering. Tidak terasa hari telah menunjukkan pukul 11 malam. Auris yang merasa lelah setelah menyelesaikan pekerjaannya memilih mengistirahatkan tubuhnya dan bergabung dengan Ibu di kasur sederhana yang ada di kamar mereka.
Pagi yang sibuk dan di ikuti dengan aktifitas sejibun membuat Auris sedikit kesulitan menghela nafas pagi ini. Jadwal mengajar dan membantu sang Ibunda tercinta, belum lagi jadwal update, sosmed, youtube, novel dan web artikel yang di kelolanya membuat Auris ngos-ngosan. Ya capek sih, tapi Auris sangat bersyukur walau belum bisa bantu banyak minimal bagi Auris sudah bisa berkontribusi untuk kebahagiaan sang Ibunda. Walau duit yang masuk slogannya 'Assalamu'alaikum!' 'Walaikumussalam', ya begitulah adanya. Baik duit dari online dan juga gaji mengajar Auris dedikasikan pada hutang yang menumpuk dan juga kebutuhan rumah tangga untuk dirinya bersama sang Ibunda.
Waktu yang padat akan terasa cepat berlalu, walau ada beberapa yang tidak sesuai dengan rencana tapi yasudahlah, Auris harus apa? Ngak ada solusikan jadi lebih baik lupakan saja dan lakukan perbaikan dan berikan yang terbaik untuk masa depan.
Dimas menghampiri Auris yang tengah duduk di ruang guru dan sibuk dengan ponselnya.
"Hi Miss, sibuk amat!" kata Dimas yang melihat Auris seolah tenggelam dengan handphone di tangannya sejak tadi.
"Eh, Abang. Iya lumayan, ngejar target," kata Auris dengan senyuman.
"Auris nanti sepulang sekolah jadikan kita pergi?" tanya Dimas pada Auris.
"Oh, iya. Insyaallah bisa Bang," kata Auris pada Dimas.
"Yaudah, Abang mau ke atas dulu ada kerjaan yang harus di segerakan," kata Dimas yang hanya di balas anggukan oleh Auris.
Setelah jam pulang sekolah, Auris bergegas meninggalkan kelas tempat dia mengajar. Jujur saja Auris ingin segera pulang dan beristirahat sejenak. Dia sudah merasa snagat perih pada mata dan jiga tengkuknya yang terasa berat.
Saat akan memesan gojek untuk pulang Auris di kagetkan dengan suara Dimas dari belakang.
"Auris, ngak lupakan kalau kita janjian pergi sore ini?" tanya Dimas pada Auris.
"Oh iya, Sorry Bang tadi Auris lupa," kata Auris dengan senyuman tidak enak hatinya dengan Dimas.
"Yaudah, yuk!" kata Dimas.
Auris segera menaiki sepeda motor ninja milik Dimas, ya Auris tahu jika Dimas sering menggunakan kenderaan berbeda. Kadang motor Scoopy, kadang ninja, kadang mobil, kadang di bonceng mas gojek. Ya begitulah, Auris tidak ingin banyak tanya pada pria yang lebih tua 6 tahun darinya itu.
"Kita makan dulu yuk, capek juga pulang ngajar," celetuk Dimas memulai percakapan dengan Auris karena wanita itu sejak tadi hanya diam saja.
"Boleh Bang," kata Auris.
Setibanya di tempat makan yang seperti cafe khas anak muda, keduanya duduk di pinggir. Sadar atau tidak sebenarnya Dimas merasa gugup berhadapan dengan wanita muda usia 24 tahun yang sedang duduk di depannya ini. Dimas sebenarnya ada rasa pada Auris, sikap diam dan cuek Auris serta selalu ramah hanya pada kaum wanita saja cukup menjadi daya tarik sendiri bagi Dimas.
"Auris...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...