Namira adalah seorang gadis kecil putri pertama bapak Abdullah dan Ibu Hanifah. Bapak Abdullah dan Ibu Hanifah merupakan seorang ustadz dan ustadzah yang mengajar di salah satu pondok pesantren. Selain itu, Bapak Abdullah juga merupakan seorang pendakwah.
Selain itu, Ayah Namira juga mempunyai sikap toleransi yang tinggi terhadap orang yang berbeda agama.
Namira mempunyai seorang sahabat yang bernama Rival. Meskipun keduanya berbeda keyakinan, namun Namira dan Rival tetap selalu bersama-sama. Rumah mereka juga terletak bersebelahan. Dan keluarga keduanya selalu hidup rukun.
Suatu ketika, Namira dan Rival harus hidup terpisah. Karena Rival dan keluarganya harus pindah negara. Namira yang mengetahui itu, sangatlah sedih. Iya pun juga meminta kepada orang tuanya untuk tinggal di pesantren saja.
Karena Namira terus merengek, akhirnya orang tua Namira menuruti apa kemauan anaknya itu.
20 tahun sudah berlalu. Namira dan Rival dipertemukan kembali dalam keadaan yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah paham
Karena tidak ada luka yang cukup serius, akhirnya Aku pun diperbolehkan pulang oleh dokter. Mama pun terlihat sangat lega. Mama pun membawa Aku pulang.
"Steven.. kamu bisa kecelakaan sih?" Tanya mama.
"Namanya juga apes ma.. siapa yang tahu.." Ucapku.
"Pasti kamu kebut-kebutan di jalan ya?" Tebak mama. Aku hanya melihat mama sebentar. Tak berani menatapnya.
"Ga usah jawab! Mama sudah tahu jawabannya. Steven.. mama ga akan ngingetin kamu lagi ya.. ini terakhir kalinya mama ngingetin kamu. kamu itu sudah dewasa, kamu sudah tahu mana yang baik buat kamu, mana yang buruk buat kamu.. Kebut-kebutan di jalan itu ga baik buat kamu.. apalagi kamu itu seorang dosen.. Dan tadi, mama sempat malu.. karena yang menolong kamu itu adalah mahasiswi kamu sendiri. Sumpah, mama ga habis pikir sama kamu.." Celoteh mama.
-
-
-
Aku pun langsung pulang ke rumah. Karena hari ini, Aku libur dulu ke kampus. Aku istirahat saja di rumah. Masalah Binar, nanti Aku bisa jelasin mudah-mudahan dia bisa mengerti.
"Steven.." Sapa mama yang menghampiriku di kamar.
"Ada apa ma?" Tanyaku.
"Kamu tahu, rumah mahasiswi kamu tadi?" Tanya mama.
"Maksud mama Namira?" Tanyaku meyakinkan.
"Iya lah.. siapa lagi yang nolong kamu tadi?" Ucap mama.
"Aku belum tahu ma, rumah Namira dimana.." Jawabku. Mama pun menghela nafas.
"Jadi belum tahu ya?" Ujar mama sedikit kecewa.
"Belum ma.. Aku cuma ngajar Dia, emang ada apa ma?" Tanyaku penasaran.
"Mama itu cuma mau bilang terimakasih kepada Namira.. Karena Dia sudah menyelamatkan kamu.." Ucap mama.
"Oh.. begitu ya ma? Kenapa ga datang ke kampus aja ma? Kan lebih gampang.. daripada susah-susah cari alamat?" Saranku kepada mama.
Mama sempat berfikir ucapan ku.
"Benar juga kata kamu.. ya sudah, besok mama ke kampus kamu aja.. mau bertemu Namira.. Mama mau ngucapin terimakasih kepadanya." Ujar mama.
Mama pun pergi dari kamarku. mama menyuruhku untuk beristirahat saja. Masalah mobil, sudah ada sopir yang menanganinya ke bengkel.
Mama adalah satu-satunya orang tuaku. Karena papaku sudah lama meninggal. Papa meninggal dalam keadaan misterius. Sampai sekarang pun belum ada titik terang tentang kasus kematian papa.
Papa meninggal ketika Aku masih berusia 20 tahun. Selama ini, mama yang berjuang membiayai pendidikan ku hingga Aku menjadi seorangpun dosen. Mama meneruskan usaha papaku di luar negeri. Aku pun jarang bertemu dengan mama. Karena mama memang jarang berada di rumah. Mama sering berada di luar negeri.
...****************...
Aku berangkat ke kampus bersama mama. Hanya saja kita berangkat dengan mobil sendiri. Aku pun menelfon Binar, karena hari ini Aku ingin menjemputnya. Aku hari ini sudah merasa lebih enakan.
Berkali-kali Aku menghubungi Binar, namun tetap saja Binar tidak mengangkatnya. Malah Binar reject telfon Aku. Binar pasti marah denganku. Karena Aku tidak menjemputnya.
Ya, sudahlah Aku berangkat sendiri saja. Aku terus melaju menuju kampus.
Sesampainya di kampus, Aku dan mama memarkirkan mobilku di area parkir yang ada di kampus. Kebetulan sekali, Aku melihat Namira dari luar gerbang. Iya baru turun dari angkot. Begitu juga dengan mama, iya juga melihat Namira.
"Steven.. bukannya itu Namira ya?" Tunjuk mama.
"Iya benar ma.." Jawabku.
"Memang anak yang luar biasa. ini baru anak kuliahan namanya.. mau berjuang dari nol.. mama suka dengan yang begini.." Ujar mama.
Bukan hanya Aku saja yang merasa kagum dengan Namira. Tapi sepertinya siapapun yang melihat Namira pasti merasa kagum dengannya.
"Ayo kita samperin dia.." Ajak mama.
"Ayo ma.." Ucapku.
Aku dan mama pun pergi menghampiri Namira. Aku memanggil Namira.
"Namira.." Panggilku. Namira menghentikan langkahnya dan iya pun melihat ke arah sumber suara. Aku dan mama segera menghampirinya.
"Pak Steven, Ibu.." Sapa Namira dengan menganggukkan kepala. Tak lupa iya memberikan senyum kepada kami.
"Namira, maaf Aku ganggu waktu kamu sebentar.. Mama mau bertemu dengan kamu.." Ucapku sedikit gugup.
"Benar Namira.. saya yang meminta Steven ingin dipertemukan dengan kamu.." Ucap mama membenarkan kata-kata ku.
"Em.. sebelumnya saya minta maaf kalau saya lancang.. memangnya ada apa bu?" Tanya Namira dengan suara lembutnya.
"Namira.. saya ingin berterimakasih sama kamu. Karena kamu, telah menolong anak saya kemarin.. Kalau ga ada kamu, mungkin saya tidak tahu nasib anak saya.. Oh iya, sebagai ucapan terimakasih.. saya ingin mengundang kamu makan malam di rumah.. kamu datang ya nak.." Ajak mama.
"Maaf Bu.. bukannya saya menolak permintaan Ibu.. Tapi, saya kan anak perempuan.. jadi say ga boleh keluar malam-malam oleh ayah saya.. kecuali itu untuk keperluan kampus.." Jawaban Namira membuat Aku dan mama melongo.
"Ya sudah kalau begitu.. lebih baik nanti setelah ada kelas, kita makan bareng.. bagaimana?" Pinta mama.
"Tapi bu.. apa ini ga berlebihan?" Tanya Namira.
"Jelas tidak Namira.. Mau ya cantik?" Pinta mama sambil menggenggam kedua tangannya. dan memohon kepadanya.
Namira pun mengangguk tanda iya menerima permintaan mama. Mama menjadi senang karena Namira tidak menolak kali ini. Mama pun memeluk Namira. Mama memeluk Namira seperti memeluk putrinya sendiri.
"Oh.. begini ya rupanya kelakuan kamu?" Tiba-tiba Binar datang mengagetkan semuanya. Binar datang langsung marah-marah.
"Maksud kamu apa Binar?" Tanyaku heran. Binar pun geram, iya melotot kepadaku.
"Kamu amnesia? Bisa-bisanya kamu tanya kenapa? Hei.. kemaren Aku tuh nunggu kamu jemput Aku.. Aku tuh sampai telat dan dimarahi oleh dosen. Sehingga Aku tuh ga boleh ikut ujian semester kemaren.. Tahu kan kalau kuliah itu masa depan Aku?" Celotehnya.
"Binar, dengar penjelasan Aku dulu ya?" Ucapku sembari memegang pergelangan tangan Binar. Namun Binar malah menghempaskan nya.
"Jelasin apa? Mau jelasin kalau kamu selingkuh dengan perempuan ini? Iya? Pantesan kemaren Aku tunggu-tunggu ternyata ga datang, ternyata kamu sengaja ya.. mengabaikan Aku? Dan Kamu Namira! Gue ga nyangka ya.. tampangnya aja lo kelihatan alim.. ternyata kamu lebih busuk dari apa pun ya.. berani-beraninya kamu mau merebut cowok saya.. sampai-sampai cowok saya ga peduli dengan saya.. Ga punya perasaan tau ga? Dan untuk tante.. Tante pasti Ibunya Namira kan? Tolong ya.. ajari anaknya sopan santun.. ajari yang baik-baik.. jangan suka merebut milik orang lain! Paham ga kalian?" Celoteh Binar dongkol.
Aduh gawat nih, jangan sampai mama marah lagi ke Aku gara-gara Binar. Aku melihat wajah mama dan Namira melongo. Mungkin mereka merasa heran dengan tingkah Binar. Dan Aku melihat wajah mama memerah karena emosi.
"Bina.. tolong dengerin penjelasan Aku dulu ya.. kamu salah paham Binar.." Ujarku sekali lagi. Lagi-lagi Binar menepiskan tanganku.
"Cukup kamu bilang salah paham. Kalian berdua ibu sama anak sama aja.." Gerutunya Binar sembari menunjuk ke arah mama dan Namira.
"Cukup! Steven.. siapa perempuan ini?" Tanya mama kepadaku.
"Dia Binar ma.. cewek Aku.." Jawabku.
"Oh.. jadi ini yang namanya Binar? Sekarang saya jadi tahu sikap asli kamu.. Kamu yang ga sopan dengan orang tua.. pantas kamu ga boleh ikut ujian kemaren.. itu karena sikap kamu yang kurang pendidikan. Steven.. mama ga suka ya.. kamu pacaran dengan perempuan seperti Dia!" Gerutu mama merasa kesal dengan Binar.
Seketika Binar merasa terkejut dengan pernyataan mama.
🙄🙄