Indonesia
NovelToon NovelToon
The Perfect Boy

The Perfect Boy

Status: tamat
Genre:Teen School/College / CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Cintapertama / Tamat
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dinar Cahya Nabila

"Saat boss memerintah, kamu tidak bisa menolaknya."

nothing is perfect in this world, mungkin kalimat itu tidak berlaku bagi seorang Sean. Memiliki kepribadian baik, yang membuat semua orang jatuh hati kepadanya. Hal inilah yang membuat Sean harus bekerja keras untuk meyakinkan Nabila, bahwa cintanya hanya untuk gadis itu saja.

Cinta memang membutakan, tapi kehilangan lebih menyakitkan. One message from this story, don't fall in love too easily.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinar Cahya Nabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jealous

..."Cintai dirimu sendiri, baru orang lain."...

"Gea, ke mall, yuk?"

"Lo yang traktir?"

"Oke." Dengan semangat kedua gadis cantik itu pergi meninggalkan kamar mereka masing-masing. Tangan kanan dari Nabila kini mulai menarik tubuh dari Gea untuk cepat pergi menaiki taxi. Gea mendengus kesal, niatnya berpakaian rapi kini harus gagal.

"Lo kenapa buru-buru banget sih?"

Yang ditanya malah tersenyum tidak jelas, "gue lagi males buat ketemu Sean, makannya gue ngajak lo kabur ke mall," jawabnya, yang membuat Gea kini menatap tajam kearahnya.

"Cowok lo sendiri, anjir! Udah ganteng, kaya, love language semua dia borong. Apalagi yang kurang, woy?!"

"Halah, lo aja sering ngelakuin hal kaya gini ke Ryan."

Yang disindir malah sibuk dengan kegiatannya. Nabila mendelik kesal, Gea benar-benar sangat menyebalkan hari ini. Mata dari gadis itu kini mulai melihat ke segala arah, tatapannya terkunci kearah supir taxi yang sedang fokus menyetir.

"Rescha?" Tebaknya, yang membuat supir taxi itu kini tersenyum simpul.

"Lagi bosen sama Sean?"

Gadis itu menggelengkan kepalanya. Ia takkan mungkin merasa bosan dengan pria sempurna seperti Sean. Jangankan bosan, merasa jengkel saja ia tidak pernah.

"Izin dulu sana sama Sean. Kemarin aja lo gak bales pesannya, dia panik bukan maen. Apalagi kalo gak ada kabar kaya gini."

Rescha melakukan hal ini bukan tanpa alasan. Pasalnya, Sean baru pertamakali merasakan hal seperti ini, danbsebagai sepupu yang baik, Rescha ingin yang terbaik untuk Sean.

Yang diperintah kini sedang melakukan apa yang Rescha sarankan. Pria itu benar. Ia sudah berkomitmen dengan Sean, jadi sudah sepatutnya untuk ia dan Sean saling mengabari satu sama lain.

Sean Archie. F: With whom do you go?

Melihat perubahan dari raut wajah Nabila, Gea dan Rescha dengan kompak meminta penjelasan. Nabila menghembuskan nafasnya pasrah, lagi-lagi ia tak bisa menghindar.

"Sean nanya sama siapa gue pergi ke mall. Gue bingung, ni si Rescha harus gue sebutin juga atau enggak," keluhnya yang membuat Rescha dan Gea kini tertawa dengan keras.

"Bilang aja sama gue, dijamin tu cowok langsung nyusul lo ke mall."

Yang diberi saran kini menatap aneh Rescha. Ia bahkan tidak mengerti, dengan pesan terselubung yang pria itu berikan. Rescha memutar bola matanya malas. Now he knew Nabila's weakness, the girl was too slow to understand what he was talking about.

"Bila sayang. Maksud gue tuh, lo pancing si Sean biar datang ke mall."

"Terus?"

"Ya, lo ajak jalan dia biar gak terlalu fokus sama tu berkas kantor sialan!"

Nabila kini tersenyum. Rencana dari Rescha ada bagusnya juga. Keduanya kini ber-tos ria. Sementara Gea? Ia masih sibuk mencerna semuanya. Her brain was really running slow today.

Sean Archie. F: Please pick up my call.

Sean Archie. F: Tell me where you are, I'll be there, we'll go shopping together. Come on, jangan membuatku gila hanya karena tingkah mu ini.

Sean Archie. F: Wait for me there, I'll beat up that son of a *****.

Yang diberi pesan kini mulai gelisah. Ia memberitahu Rescha untuk segera melajukan taxi-nya dengan cepat. Bisa bahaya jika Sean lebih dulu tiba darinya.

"Ini kalo Sean yang datang duluan, lo yang kena, anjir!" Tentu saja Gea merasa panik. Sean, dia adalah pria yang berbahaya. Menghabisi 3 orang penjahat saja dia sanggup, apalagi Rescha yang lemah (?)

"Just relax, gue pastiin ni mobil lebih cepet sampe kesana." Sebuah kalimat penenang yang tetap saja tidak berpengaruh bagi kedua gadis itu. Beruntungnya mereka, Rescha bisa dengan cepat sampai dan pergi dari situ, tepat saat mobil Sean mulai masuk ke area parkiran mall.

"Dimana Rescha?" Sean turun dengan disertai penekanan disetiap perkataannya. Ia menatap Nabila yang sedang asik melihat kearah tanah.

"Sayang, dimana Rescha?"

Yang ditanya kini mencoba memberanikan dirinya. Gadis itu mengangkat kepalanya, dan berhadapan langsung dengan tatapan tajam dari seorang Sean. "Um... Hi," sapanya, yang dibalas senyuman kecil oleh Sean.

"Don't be afraid, I won't hit you. All you have to do is tell me where Rescha is now. It's not complicated, babe. Just tell me now."

"Dia udah pulang. He's a taxi driver, so it's only natural that he takes me to the mall."

"Loh?!"

Gea yang tertawa dan Nabila yang masih dalam keadaan shock. Sean yang merasa dipermainkan, ia hanya tersenyum kecil. After all, this is all part of Rescha's mischievous plan, isn't it? Pria itu mendekat, dan langsung mengusap puncak kepala gadisnya dengan lembut.

"Now my reason for caring for you grows stronger. Never take orders from anyone but me. Do you understand now, Bunny?"

Yang diberi nasihat, kini mulai menganggukkan kepalanya. Sean benar-benar membuatnya merasa bersalah.

"What would you like to buy now? Food or books? Take this card and buy whatever you want. Sorry I can't go with you, my office work is still piling up."

"Maaf ...."

"Loh kok minta maaf?" Jujur saja, Sean merasa bingung dengan tingkah laku aneh gadisnya ini. Sementara yang ditanya malah asik menangis. Sean yang peka, ia langsung memeluk erat gadis kecilnya.

"What happened, sweetie? Do you want me to come with you? Ok, let's go, but please stop crying."

"No, I'm only guilty of messing with you when you're busy."

Sean tertawa, sungguh, pacaranya ini benar-benar sangat lucu. Secara lembut ia kini mengusap puncak kepala dari Nabila, lalu mengecupnya. "It's okay, babe. Don't cry, I just feel jealous, and that's normal for a man who's afraid of losing the girl he loves."

Nada bicara dari Sean terdengar sangat lembut. Ia meluma* bibir dari Nabila, untuk sekedar menenangkannya. Sebelum pergi, Sean lebih dulu memberikan sebuah jam tangan khusus, yang kini sudah terpasang rapi di tangan gadis kecilnya.

"I have to go now. Take good care of your watch, ok? Gea, I entrust you with my girl. If she gets hurt, you know what the consequences will be, right?"

Gea memberikan acungan jempolnya kearah Sean, pertanda, jika ia mengerti dengan semua konsekuensi yang akan Sean berikan. Pria itu kini pergi dengan keadaan tenang.

Sementara Nabila? Ia masih shock dengan kejadian tadi. Gea? Gadis itu masih menatap kepergian Sean. Hingga tepukan ketiga dari Nabila kini berhasil menyadarkannya.

"Sean cakep amat, woy!"

Pujian singkat yang sangat membagongkan.

TBC ...

1
Yani Cuhayanih
Aku masih menyimaks....
SugarGenius
Udah pewe rebahan taunya ceritanya ngegantung.. yasalam banget hiks!
Nabila: udah dilanjut lagi, kali ini gak ngegantung lagi😭🙏
total 1 replies
Tetik Saputri
semangat kakak
Nabila: makasihh, btw aku udah baca karya kamu ... bagus banget, sukaaa💞💞
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!