Rianti, seorang anak dari pengusaha ternama yang bersahabat dengan seorang pria yang berasal dari kalangan menengah ke bawah bernama Ruslan. Rianti dan Ruslan sudah bersahabat sejak mereka kuliah sampai saat ini. Rianti tidak pernah mempermasalahkan status sosial Ruslan dan menerimanya apa adanya.
Bagaimana kisah lengkap Rianti dan Ruslan, yang berliku? Ikuti ceritanya dan semoga kalian suka dengan karyaku yang sederhana ini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Selang 20 menit kemudian, mereka berdua pun sampai di mall. Rianti mencari parkiran yang kosong dan memarkirkan mobilnya disana. Setelah itu, Ruslan dan juga Rianti turun dan berjalan masuk ke dalam mall. Ruslan terlihat masih bingung dan tidak mengerti kenapa Rianti mengajaknya ke mall. Namun, dia tidak ingin banyak bertanya dan memilih untuk mengikuti apa yah diinginkan oleh Rianti.
"Lan, lu gak apa-apa kan, kalau temani gue kayak gini? Maksudnya nyokap lu gak masalah kan kalau lu telat pulang gitu?" Tanya Rianti memastikan.
"Gak apa-apa, santai aja lagi, Ti, nanti paling pas nyampe rumah gue kasi tahu ke nyokap gue, kalau tadi sepulang kerja temenin lu kesini" jawab Ruslan santai. Rianti hanya manggut-manggut saja.
Rianti dan Ruslan berjalan-jalan, melewati beberapa toko yang berjejer. Sampai Rianti menarik tangan Ruslan untuk masuk ke sebuah toko handphone.
"Lu mau beli handphone, Ti?" Tanya Ruslan yang terkejut karena tangannya tiba-tiba ditarik oleh Rianti memasuki toko handphone.
"Iya, Lan, lu temani gue liat-liat, yang mana kira-kira handphone yang pas" kata Rianti.
"Duh... Ti, lu kan tahu sendiri, gue gak begitu ngerti soal trend handphone terbaru gitu, ngapain juga lu nyuruh gue liat-liat" protes Ruslan.
"Yah... Gak mesti liat itu handphone keluaran baru atau bukan, yang penting kamu liat aja, yang mana menurut kamu bagus gitu aja kok" jawab Rianti.
"Ya udah deh kalau lu maksa" Ruslan pasrah saja dan mengikuti perkataan Rianti. Mereka berdua pun melihat berbagai jenis dan merk handphone yang terpajang di lemari etalase.
"Selamat sore kakak, ada yang bisa saya bantu?" Salah satu karyawan toko itu menghampiri Rianti dan Ruslan.
"Kita liat-liat dulu yah, mbak, yang mana sekiranya yang cocok gitu" kata Rianti.
"Iya, kak, silahkan dilihat-lihat, disebelah sana juga ada beberapa android keluaran terbaru, barangkali ada yang sesuai dengan yang kakak mau" katanya menawarkan dan menunjuk lemari kaca yang berada dibelakang Rianti. Rianti menoleh sebentar kearah Ruslan yang tengah sibuk melihat handphone yang menurutnya menarik, sesuai dengan permintaan Rianti.
"Mbak, sebenarnya gue mau beli handphone buat laki-laki yang disana itu, yang pake baju kaos berkerah warna biru itu, tapi, mbaknya gak usah bilang-bilang yah, gue mau bikin surprise buat dia" Rianti sedikit berbisik saat berbicara dengan karyawati itu.
"Oh... Kalau gitu mari saya perlihatkan beberapa android yang cocok buat pacar kakak itu" katanya dan meminta Rianti mengikutinya melihat beberapa android yang cocok buat Ruslan.
"Pacar? Kok si mbaknya itu bilang kalau Ruslan pacar gue yah? Tapi, masa bodo lah, dia mau bilang apa, selama gue senang gak ada masalah" Rianti tersenyum.
Ruslan masih saja sibuk melihat-lihat berbagai model handphone yang terpajang. Namun, saat dia menoleh kearah Rianti, tampak Rianti memberi kode agar dia segera menghampiri Rianti.
"Ada apa, Ti?" Tanya Ruslan, saat sudah berada disamping Rianti.
"Gue udah dapat handphone sesuai dengan yang gue inginkan, dibantuin sama mbaknya" jawab Rianti.
"Kenapa gak dari tadi aja sih, Ti, hadeh...." keluh Ruslan.
"Hehehe.... Sorry, gue baru kepikiran" Rianti tertawa kecil. Karyawati toko tersebut menjelaskan fitur-fitur apa saja yang terdapat dalam handphone tersebut. Rianti tanpa pikir panjang langsung mengambil handphone itu dan membayarnya di kasir.
Setelah semuanya selesai, mereka berdua keluar dari toko handphone itu dan lanjut keliling lagi ke toko lainnya yang ingin Rianti masuki. Kurang lebih sejam mereka keliling mall, mereka mencari tempat untuk istirahat sambil makan karena perut sudah keroncongan.
"Cape juga yah keliling mall gini" kata Rianti.
"Apalagi gue yang sedari tadi keliling sambil bawain belanjaan lu, pegel tangan gue, mana banyak banget lagi belanjaan lu" keluh Ruslan sambil meregangkan tangannya karena pegal.
"Hehehe.... Sorry, soalnya gue udah cukup lama gak ke mall, sekalinya ke mall kalap gini deh" Rianti cengengesan.
"Oh iya, Lan, nih" Rianti menyodorkan sesuatu pada Ruslan.
"Ini kan handphone yang lu beli tadi" Ruslan terlihat heran Rianti menyodorkan kantongan yang berisi handphone padanya.
"Iya, gue emang sengaja beli ini buat lu, udah gue niatkan sebelum kita nyampe ke mall ini" jawab Rianti.
"Tapi, jangan salah paham dulu, gue kasi handphone ini biar bisa lu pake buat kerja, daripada nungguin panggilan interview yang belum pasti, mending lu kerja jadi driver ojol atau apa gitu, makanya gue modalin handphone ini, gitu maksud gue, Lan" Rianti menjelaskan maksudnya sebelum Ruslan salah paham padanya.
"Ti, lu ngapain beli handphone segala sih buat gue, seharusnya gak usah, lagian kalau masalah kerja, gue bisa nyari kerja apa kok, lagian gue gak ngerti soal kerjaan jadi ojol gitu" kata Ruslan apa adanya.
"Jadi, lu nolak pemberian gue?" Tanya Rianti.
"Sorry yah, Ti, gue gak bisa terima pemberian lu ini" kata Ruslan.
"Oh... Ya udah" Rianti pun mengambil kantongan tersebut dan menggabungkan dengan belanjaannya yang lain.
Rianti seketika berubah menjadi diam dan tidak banyak bicara selama mereka makan. Tapi, Ruslan tidak berpikir kalau ternyata Rianti marah padanya. Namun, pada akhirnya Ruslan menyadari kalau Rianti marah padanya karena menolak pemberian darinya.
Sepanjang perjalanan menuju pulang kerumah, Rianti diam seribu bahasa dan tidak terdengar suaranya sama sekali.
"Ti, lu marah yah sama gue?" Tanya Ruslan untuk memecah keheningan.
"Pikir aja sendiri" jawab Rianti ketus sambil tetap fokus ke jalan.
"Ti, bukannya gue mau nolak, cuma gue gak bisa terima aja karena lu tuh selalu bantuin gue, gue gak bisa terima kebaikan lu sebanyak itu, gue gak tahu gimana balasnya" Ruslan mencoba menjelaskan.
"Emang lu pikir, gue minta balasan atas semua kebaikan gue selama ini, apa lu pikir gue orang yang mengharapkan balasan atas kebaikan yang gue lakukan!" Rianti menatap tajam Ruslan dengan nada suara yang tinggi.
"Udahlah, gue malas bahas ini, mending lu diam aja kalau gak ada bahan buat obrolan" kata Rianti kembali dengan nada ketusnya.
"Gue minta maaf, Ti, ya udah gini deh, gue bakal terima pemberian lu, asalkan lu jangan marah lagi sama gue" Ruslan pun akhirnya bersedia menerima pemberian Rianti tadi agar Rianti tidak marah lagi padanya.
Mendengar hal itu, Rianti langsung menepikan mobilnya dan menatap Ruslan, mencoba memastikan ucapannya barusan.
"Lu serius, Lan?" Tanya Rianti.
"Iya, Ti, gue serius, gue juga berpikir kalau lu itu tulus mau bantuin gue, gue aja yang selalu over thinking atas kebaikan lu ke gue" jawab Ruslan.
"Gitu kek dari tadi, jadi kan enak, gak perlu marah kayak tadi" Rianti pun kini tersenyum.
"Soal kerjaan jadi ojol itu, besok gue temenin lu ke kantornya, biar lu dijelaskan langsung sama adminnya, kalau gue yang jelasin nanti lu gak paham lagi, okey" Rianti mengerlingkan sebelah matanya. Ruslan pun hanya mengangguk.
Rianti pun melajukan mobilnya kembali, menuju ke rumah Ruslan terlebih dahulu, lalu abis itu barulah Rianti pulang ke rumahnya yang baru saja selesai siang tadi. Dia berniat akan mulai bersih-bersih rumah dan menata beberapa barang yang baru dibelinya kemarin.
Bersambung