follow ig @nikenaulia_13
Sebelum orang lain yang menghancurkan hidupku, Ayahku lebih dulu telah menghancurkannya
~Abil Dhafa Muafawaq~
cuma anak pilihan Tuhan yang dikasih ujian kaya gini sama Tuhan. Allah tau kalau Dhafa kuat, Dhafa pasti bisa. Keep strong, Dhafa. Aku akan selalu disamping Dhafa, gitu juga sama teman-teman yang lain.
~Meisya Amalia Putri~
Ini adalah cerita tentang Dhafa, anak yang sudah retak keluarganya, dia broken home. Hidup yang begitu pahit kadang membuat Dhafa tidak tau cara bersikap.
Hatinya keras karena Ayahnya, tapi lembut untuk Bundanya. Dia cerdas, cuek kepada lawan jenisnya ataupun orang yang tidak dia sukai karena sikap orangitu sendiri.
Namun, siapa sangka? Hati yang keras bisa luluh perlahan dengan Meisya gadis lembut, tapi bisa tegas untuk hal yang sudah diluar batas.
Meisya, yang mampu membuat Dhafa kembali bangkit, telah membuka mata Dhafa untuk melihat kalau masih banyak orang yang sayang kepadanya.
LULUH,
Ini curahan hati Dhafa yang ditumpahkan kepada Meisya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu niken, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8 Kebawa Kesal
Dhafa masuk kelas dengan wajah yang masih sangat kesal memendam penuh amarah kepada Johan. Dhafa sampai pada bangkunya yang tepat disamping Meisya.
Dengan keras dan wajah lesu, Dhafa melempar tasnya hingga berbunyi..
Brak!
Membuat Meisya yang tengah membaca buku terkejut hingga bagian pundaknya naik satu kali dengan nada keras. Meisya lalu menoleh ke arah Dhafa yang tampak tengah kesal.
" Dhaf, lo masih marah sama Johan? Belum puas sama perbuatan lo tadi?" Ridwan.
Dhafa hanya terdiam memandang Ridwan lalu geleng kepala setelah itu memalingkan wajahnya.
" Udahlah, Dhaf. Sabar, kontrol emosi, lo." sambung Dani.
" Ya, gue kesel aja sama tuh, anak! Gak ada habis-habisnya bikin gue kesel. Kesel banget, gue!" ujar Dhafa memandang wajah kedua temannya.
" Gue tau, Dhaf. Kita juga tau itu, tapi kalau lo main ngehajar dia kayak tadi. Bisa-bisa lo yang abis, Johan itu anak orang kaya yang juga menyumbang pembangunan sekolah ini. Lo tau itu, " Dani sambil meletakkan tangannya pada pundak Dhafa yang serius memandangnya sesekali juga memalingkan wajahnya saat Dani bicara.
" Bener kata Dani, Dhaf. Orang kayak Johan gak usah diladenin. Mereka itu malah suka kalau lo ngeladenin mereka." sambung Ridwan.
Meisya yang sedaritadi memperhatikan dan mendengarkan apa yang tengah dibicarakan Dhafa dengan teman-temannya diketahui oleh Dhafa ketika ia mengarahkan pandangannya kepada Meisya.
Meisya langsung menoleh kedepan saat ditatap oleh Dhafa.
" Heh, lo nguping daritadi? Ngapain lo ngelihatin gue kayak tadi?" Dhafa.
Dani dan Ridwan juga ikut memandang Meisya.
" Eeee... Enggak, siapa yang ngelihatin kamu?" jawab Meisya sedikit candu ketika ia melihat tatapan Dhafa yang begitu tajam.
" Alah, tapi lo dengar, apa yang tadi gue omongin sama teman-teman gue?" Dhafa.
" Iya, lagian kamu ngomomgnya disini. Kita sebelahan, gimana gak kedengeran coba?" jawab Meisya dengan santainya cengar wajah manisnya saat bicara kepada Dhafa.
" Ih, Meisya. Kamu itu manis banget, sih. Masya Allah. Gemesh, " Ridwan.
" Astagfirullah, geli banget denger ditelinga. Bisa gak, kamu gak usah alay kayak gitu." Tania ikut menyerobot karena merasa geli saat melihat Ridwan bicara seperti itu.
" Yeee, terserah gue kali. Nyambet aja, lo. Nenek lampir, " Ridwan.
" Ngapa pada berantem, sih? Gue udah kayak nyamuk aja, ngelihat kalian semua." tegur Doni kesal.
Semuanya langsung terdiam tanpa berkata-kata.
Meisya kembali melirik Dhafa dan ia merasa penasaran dengan sebenarnya apa yang terjadi kepada dirinya.
" Dhafa, aku boleh nanya, gak?" tanya Meisya.
Dhafa terdiam tanpa menjawab ataupun menoleh sama sekali.
Meisya mencoba tetap sabar. Sementara itu, Dani, Ridwan dan Tania juga terdiam saling pandang.
" Kamu punya masalah apa, sih? Sama anak itu, kenapa kalian selalu aja berantem?" Meisya bertanya lagi.
" Lo gak perlu tau? Ini urusan gue," jawab Dhafa dengan pandangannya kepada Meisya.
" Aku tau, tapi gini. Kata Ustadzah aku.. Sesama umat muslim itu...
" Dengar, ya. Gue gak butuh ceramah, lo. Ini masalah gue! Dan, lo gak usah ikut campur tentang ini! Karena gue ejek ngelihat atau ngedengadin lo!" ucap Dhafa dengan nada yang menyentak kepada Meisya.
Tentu saja hal itu membuat Meisya sedih ia langsung memalingkan wajahnya, mencoba untuk tetap sabar.
Dani, Ridwan, dan Tania merasa kasihan kepada Meisya.
" Meisya, sabar aja. Dhafa itu lagi kesel makanya dia ngomong kayak gitu sama kamu," bisik Tania sambil mengelus pundak kanan Meisya.
" Dhaf, gak bener, lo. Masa ngomong kasar banget sama cewek." tegur Ridwan.
" Ya, salah dialah. Gue lagi kesel, dia cerewet. Apa gak makin kesel gue?!" Dhafa dengan nada yang agak keras membuat Meisya hanya bisa terdiam mencoba untuk tetap sabar dengan kata-kata Dhafa.
" Dhafa, Dhafa. Lo keselnya sama Johan bukan sama Meisya harusnya lo gak bawa kemarahan lo itu sama Meisya," sambung Dani.
" Nah, bener, tuh." Meisya membenarkan ucapan Dani sambil kembali memandang Dhafa.
Mendengar ucapan Meisya Dhafa seketika menoleh ke arah Meisya kembali menatapnya dengan tajam dan wajah serius membuat Meisya kembali takut dan gugup. Setelah menatap Dhafa yang seram wajahnya, Meisya kembali memalingkan wajahnya memandang ke arah depan, melihat papan tulis berwarna putih bersih yang ada didepannya.
Dhafa masih saja memandangi Meisya dengan wajahnya yang sangat serius dan tatapannya yang tajam dan dalam dengan bola mata yang berwarna coklat terlihat sangat jelas dan terang.
Siska yang baru masuk melihat Dhafa yang tengah memandangi Meisya membuat dirinya panas dan langsung menegur Dhafa.
" Ih, Dhafa! Kamu ngapain, sih ngelihatin dia? Kamu suka sama dia?" Siska dengan gaya bicara manja sambil memegang tangan Dhafa yang terletak diatas meja.
" Apaan sih, lo? Siapa juga yang suka sama dia?" Dhafa sambil melepas genggaman tangan Siska lalu melirik Meisya sekilas.
" Ya elah, Siska, Siska. Lo udah tau, kan kalau Dhafa gak suka sama lo masih aja diganggu. Udah, biarin aja kalau Dhafa suka sama Meisya. Ya, gak, Wan?" Dani.
Awalnya Ridwan mengiyakan juga mengangguk tapi ia seketika ralat karena sadar kalau Meisya hanya miliknya, pikir Ridwan.
" Yeeee, enak, aja. Gak! Meisya cuma punya aa' Ridwan seorang. Gak ada lagi yang boleh suka sama dia!" Ridwan.
" Idih, emang si Meisya kamu pikir bakal mau gitu sama kamu? Jadi orang jangan kepedean, entar nangis lagi." ledek Tania.
" Ya maulah, Meisya pasti mau sama gue. Ya, gak, Meisya? " Ridwan.
Meisya hanya tersenyum dan tertawa kecil walau ia sedikit geli dengan tingkah dan ucapan Ridwan.
" Ishhhh, amit-amit. Heh, Meisya, gak usah sok cantik, lo, ya! Lo pasti senang karena banyak yang nyukain lo dan lo pasti nanti bakal ngerebut Dhafa dari gue! Halah, ngaku aja, deh. Gak usah sok kalem kayak gitu!" ucap Siska tangannya juga sempat mendorong pundak kiri Meisya.
" Kamu kenapa ngomong gitu, sih? Ambil aja tuh, Dhafa. Aku gak suka sama dia, lagian aku juga gak pernah berharap diginin sama cowok!" tegas Meisya.
Siska tetap saja tidak suka dengan Meisya, tatapan mata dan gerak-geriknya sangat jelas menandakan ia sama sekali tidak suka dengan Meisya.
" Siska, udahlah, ya. Gue gak suka sama lo, apalagi nih, cewek. Mending lo cari cowok lain aja, jangan ganggu gue lagi!" Dhafa.
" Tapi, gak bisa gitu, Dhafa. Aku itu udah terlanjur cinta mati sama kamu." Siska.
Meisya hanya bisa geleng-geleng kepala sambil menghela nafas saat mendengar dan melihat apa yang dilakukan Siska.
" Hadeh, kayak gak ada cowok lain aja. Gue juga ganteng kali bukan cuma si Dhafa doang, " Dani.
" Ish, darimana-mana juga Dhafa pemenangnya, jauuuhhhhhh!" Siska.
Mereka terus saling debat hingga guru datang bersamaan dengan Johan dan kedua temannya yang berhamburan masuk ke kelas.
Siska langsung menuju bangkunya dengan wajah kusut dan cemberut.
Dengan jelas Johan melihat Siska yang habis dari bangku Dhafa. Johan juga berpapasan dengan Siksa dengan melihat wajahnya yang tampak sedih dan mengira kalau itu pasti perbuatan Dhafa.
Melihat itu membuat Johan semakin membenci Dhafa.
Bersambung....