Ini adalah karya saya yang pertama, semoga cerita yg akan saya tuangkan dapat menjadi inspirasi bagi yang sempat membaca.
Tokoh utama dalam novel ini adalah seorang siswa SMA yang sabar menghadapi segala kesulitan hidup.
Hidupnya berubah ketika ia bekerja sambil sekolah. Di hatinya sudah mulai tumbuh rasa cinta pada teman sekelasnya.
Cerita ini juga menggambarkan tentang hidup sederhana dan dalam berteman tidak boleh membeda-bedakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ludia Tola, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Merasa Bersalah
Dengan malas Nira melangkahkan kaki masuk ke pekarangan rumah. Terbayang kembali kejadian semalam. Keadaan rumah lagi sepi, mungkin Ina dan Ana lagi tidur siang. Ia pun melangkah masuk ke dalam rumah.
"Hey Nira ...Awas yah kalau kamu mengaduh sama Om Adi tentang pekerjaanmu di rumah ini!" Suara tante Rida menghentikan langkahnya. "Kalau kamu masih mau tinggal di sini, kamu harus patuh dengan semua perintahku. Paham kamu!" lanjutnya dengan suara mengancam, kemudian kembali lagi merebahkan tubuh gendutnya ke kursi sofa yang ada di ruang tamu. Nira hanya berdiri mematung mendengar kata-kata tante Rida yang begitu pedas. Matanya mulai berkaca-kaca tapi ia menahan tangisnya. "Aku harus kuat" batinnya dalam hati lalu segera berlari ke kamarnya.
Nira merebahkan tubuhnya di tempat tidur, dan menatap langit-langit kamar. Kepalanya terasa pening. Rupa-rupa persoalan berkecamuk di kepalanya. " Sepertinya aku hanya menyusahkan tante Rida. "Apa sebaiknya aku cari pekerjaan? tapi bagaimana caranya untuk kerja kalau pulang sekolah sementara aku harus kerja juga di rumah? atau mungkinkah aku bisa keluar dari rumah ini kemudian mencari rumah kost? trus dapat dari mana uang untuk bayar rumah kost? Atau adakah orang yang bisa mempekerjakan aku sepulang sekolah? aakhhh pusing". Nira benar-benar bingung dengan situasi yang sedang dihadapinya.
" Nira, Nira,turun!" teriak tante Rida dari lantai satu dengan suara keras membuat Nira tersadar dari lamunannya. Ia segera turun sambil sesekali memijit keningnya untuk mengurangi rasa sakit di kepalanya. Harusnya ia istirahat dulu tapi mau di apa ia harus menurut sama perintah tuan rumah.
"Enak saja mau santai-santai, copot semua itu kain gorden pintu dan jendela lalu cuci sampai bersih!" kata tante Rida sambil bertolak pinggang.
"Iya tante." jawab Nira sambil menunduk, ia enggan untuk menatap wajah garang tantenya kemudian segera melaksanakan perintah itu, walaupun tubuhnya lemah karena kepalanya sakit.
Hari ini Om Adi sudah pulang dari tempat kerjanya, tidak seperti biasanya ia pulang menjelang malam. Hari ini pulangnya lebih awal. Tante Rida yang melihat suaminya pulang merasa kaget, ia sedikit gugup. Om Adi tidak memperdulikan istrinya, ia meneruskan langkahnya ke dapur hendak mengambil air putih, tenggorokannya terasa kering karena matahari panas. Setelah minum ia melihat Nira yang sedang bergelut dengan cucian yang sangat banyak. Hatinya geram kepada istrinya. "Rupanya dugaanku benar, selama Nira tinggal di rumah ini ia dijadikan istrinya sebagai pembantu. Sungguh keterlaluan. Ia telah membiarkan Nira sendirian bekerja sementara ia hanya duduk-duduk santai yang sebentar-sebentar rebahan sambil nonton TV, membuat bobot tubuhnya semakin naik." guman Om Adi dalam hati. Hatinya iba melihat ponakannya yang dengan susah payah menyelesaikan cucian yang menggunung, wajahnya pucat. Om Adi menghampirinya.
" Kamu sakit yah? istirahat saja dulu." kata Om Adi sambil merabah keningnya.
"Tidak apa-apa Om, lagian juga sudah hampir selesai."
"Jangan dipaksakan yah kalau kamu tidak kuat!"
"Iya Om."
Om Adi lalu masuk ke kamarnya, ia enggan untuk bertegur sapa demgan istrinya. Nira yang menyadari hal itu merasa sangat bersalah. Pikirnya gara-gara aku hubungan Om Adi dengan tante Nira jadi begini. Aku takut terjadi apa-apa di antara mereka. Ya Tuhan berilah petunjukMu kepada hambaMu ini, apa yang harus kulakukan?.
Di dalam kamar Om Adi teringat bagaimana ia di dirawat, dibesarkan, dan disekolahkan oleh kakaknya yang tak lain adalah ayah dan ibunya Nira. "Ya Tuhan, inikah balasanku kepada Nira?" Om Adi merasa sangat berhutang budi kepada kakaknya. Ia bisa seperti sekarang ini karena tidak lepas dari bantuan kedua orang tuanya Nira.
Sementara di depan istrinya ia tidak dapat berbuat banyak. Tampaknya ia begitu pusing. "Apa yang harus kulakukan?" rintihnya dalam hati.
Dulu ia menikah dengan istrinya bukan atas dasar cinta, tapi ia dijebak. Namun seiring dengan berjalannya waktu Om Adi harus bertahan karena adanya dua buah hati yang telah hadir dalam keluarganya. Kehidupan mereka berjalan hingga sudah memasuki tahun yang ke sepuluh, dan sudah dua tahun berjalan hadirnya Nira dalam keluarga mereka yang menambah masalah baru karena sikap tante Rida yang sangat membenci Nira.
Malam itu, seperti biasanya mereka makan bersama, namun sangat terlihat kaku. Hanya suara Ina dan Ana yang sesekali minta kepada Nira untuk ditambahkan lauknya. Perasaan bersalah semakin menguasai hati Nira karena keadaan seperti ini. Apa yang harus ia lakukan?