Indonesia
NovelToon NovelToon
The Curse Of Black Swan

The Curse Of Black Swan

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: ade eka

Akibat suatu kesalahan yang tak pernah ia lakukan sama sekali, Fayre harus menjalankan hukuman selama hidupnya.

Seorang peri, dihukum turun ke bumi. Hidup selamanya di sana. Tapi belum cukup sampai di situ. Fayre tidak diijinkan hidup sebagai manusia. Melainkan sebagai seekor angsa hitam.

Masih belum cukup menderita hidupnya, karena Fayre harus hidup di sebuah hutan yang gelap dan menyeramkan. Ia tak diijinkan pergi dari sana.

Padahal, hukuman itu bisa hilang apabila ia bertemu seseorang yang bisa mencintainya dengan tulus. Lalu bagaimana cara Fayre bisa menemukan cinta sejatinya, jika ia dikurung seperti itu?

Sementara para penyihir sibuk membuat persiapan. Takut apabila Fayre lepas dari hukuman, ia akan membongkar sebuah rahasia besar. Yang bisa membahayakan keselamatan semua penyihir.

Bagaimana hukuman itu bisa terjadi? Lalu apakah Fayre bisa terlepas dari hukuman itu?

Mari simak ceritanya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ade eka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sebuah Perjanjian

Bab 8 Sebuah Perjanjian

Penat memenuhi malam Fayre, angsa hitam yang kini tengah berwujud manusia. Awan mendung menutupi bulan sabit yang harusnya indah menghiasi angkasa.

Ditatap Fayre pantulan cahaya bulan yang samar tertutup awan, dari atas permukaan danau. Wanita itu pun memutuskan untuk mendudukkan diri di tepi.

Ia sibak gaun hitam ringannya di bagian tengah kaki lantas kedua lututnya ia tekuk. Dagu disanggahkan di sana, sementara wanita itu bermain air dengan malas.

Tangan kanan dimasukkan Fayre beberapa senti ke dalam air. Kemudian bergerak seolah ia tengah menyiram sesuatu. Wajahnya lesu.

“Aku yakin itu semua pasti ulah mereka! Tapi, kenapa mereka tidak mau mengatakan apapun padaku. Sebenarnya..., apa yang mereka sembunyikan-?”

Wanita itu berkeluh kesah dengan pandangan sendu. Sama seperti sinar rembulan yang tak terang seperti wajah cantik Fayre malam ini.

Seharian ini Fayre menelusuri Hutan Rahasia dari Danau Kerr di bagian barat, sampai ke sisi timur hutan. Itu pun sudah cukup melelahkan, bahkan ia baru saja kembali ke gubuknya lewat petang.

Selama berkeliling, Fayre mendapati banyak perangkap-perangkap yang belum lama dibongkar. Tak perlu bertanya lagi siapa pelakunya, karena itu pasti bukan ulah para pemburu atau para ksatria yang berkelana.

Kebanyakan perangkap ditanam atau dipasang dengan apik dan secara rahasia. Beberapa di antaranya pun Fayre ikut andil dalam pembuatannya.

Jadi, Fayre sangat yakin apabila perangkap itu bukan dibongkar oleh orang luar. Melainkan oleh teman-temannya sendiri. Penduduk Hutan Rahasia itu sendiri.

“Bahkan, itu bukan dirusak, tapi dibongkar! Sudah jelas, kan, siapa pelakunya?!” Wanita itu bergumam lagi. “Sebenarnya, kenapa mereka melakukan semua itu? Apa mereka sudah tidak khawatir lagi, tempat ini dijamah tangan-tangan usil para manusia?” heran Fayre sambil tangannya terus bermain air.

Kepala yang tadinya meneleng ke sebelah kiri pun berganti menjadi ke sebelah kanan. Tapi ia tak menghentikan tangan kanannya menikmati air danau yang dingin.

Fayre yang kebingungan tidak mengetahui bahwa benar, semua itu dilakukan oleh teman-temannya. Dan apa yang mereka lakukan adalah demi diri Fayre sendiri.

“Tapi sihir itu masih tetap sama! Dengan sihir itu, tidak akan ada manusia yang bisa lolos sampai ke sini!” Ditegakkan duduknya secara tiba-tiba. “Lalu bagaimana caranya dia bisa lolos dari sihir itu?” Wanita cantik itu semakin bingung dan penasaran. Merajuk pada jejak kaki manusia yang ia temukan.

Dulu sekali, sekitar sepuluh tahun yang lalu atau lebih, yang jelas sudah lama sekali. Pernah ada seorang manusia yang juga berhasil melewati lingkaran sihir itu. Orang itu pun akhirnya bisa sampai ke dekat Danau Kerr.

Akan tetapi nasibnya tak selalu baik, sebab para binatang lebih gesit dan cekatan untuk mengusirnya. Karena ulah cerdik teman-teman binatangnya itu, dia yang berhasil menyusup pun akhirnya pergi dan hanya bertahan tak sampai satu hari.

“...benar!” Karena hal itu Fayre pun jadi mengingat sesuatu. “Waktu itu mereka langsung cepat tanggap membuat pergerakan. Tapi saat ini, kenapa aku tidak melihat pergerakan mereka sama sekali!? Bahkan sekarang, sudah hampir 24 jam! Tapi seperti tak terjadi apapun!”

Ssett!

Tiba-tiba, sebuah anak panah melesat. Sangat dekat dan hampir mengenai wajah cantik dan mulusnya. Ujung anak panah itu sangat tajam, sampai bisa menebas beberapa helai rambut panjang Fayre yang menjuntai di samping telinga. Helaian rambut yang terpotong pun terbang terbawa udara.

Fayre kaget, lalu langsung berjingkat dan menjauh dengan cepat. Dilihatnya anak panah itu sudah tertancap cukup dalam pada tanah di sela-sela batu di tepian danau. Di dekatnya berada.

Wajah cantik itu berubah serius, pandangan matanya pun mengedar dengan penuh waspada. Sambil terus menggulirkan bola mata ke sekitar, Fayre cabut anak panah yang terhunus itu.

Ditelisik Fayre anak panah berwarna hitam yang hampir saja melukai wajahnya. Panjang anak panah itu kurang dari setengah meter dan memiliki ukiran kuda terbang alias Pegasus pada bagian gandarnya.

“Ini anak panah Kerajaan Ventura-!” tebak wanita cantik itu. Mata indahnya menyipit, bergulir ke samping dengan tajam.

Memang, Hutan Rahasia merupakan wilayah teritori Kerajaan Ventura. Namun, hutan tersebut merupakan area suci yang tak boleh dijamah atau dikuasai oleh orang-orang dari kerajaan itu atau kerajaan manapun.

Dan lagi, belakangan ini santer terdengar kabar bahwa sang raja menginginkan kepala dari monster penunggu Danau Kerr. Katanya, kepala monster itu akan dijadikan persembahan supaya Kerajaan Ventura mendapat keberuntungannya lagi.

“Jika orang-orang kerajaan sudah sampai memasuki area ini, berarti berita yang tersebar adalah fakta bukan cuma sekedar rumor.” Fayre menyimpulkan. “Ini tidak bisa dibiarkan!” geram wanita itu marah.

Bukan masalah jika kepalanya yang diinginkan. Tapi dengan adanya hal ini, berarti pihak kerajaan telah melanggar perjanjian yang telah disepakati sejak dahulu kala. Mungkin, sejak Fayre belum ditempatkan di sana.

Indera pendengarannya menangkap sebuah keributan dari seberang tempatnya berdiri. Kaki telanjangnya pun melangkah dengan yakin sambil menggenggam erat anak panah hitam berlogo Pegasus itu.

Bukan rahasia umum lagi jika dalam masa pemerintahan raja yang sekarang, Edbert Livingston, Kerajaan Ventura mengalami penurunan. Entah karena apa, tapi rumor mengatakan bahwa hal itu terjadi semenjak lahir seorang putra dari selir kesayangannya. Putra dan selirnya bernama Tobias dan Meera Auristela.

Nahasnya, anak itu bukanlah anak kandung sang raja. Tapi belum diketahui sama sekali sampai sekarang. Sebab, sang selir pun merasa tidak memiliki hubungan dengan siapapun. Selain dengan sang raja.

Bagaimanapun pengakuan itu tidak bisa dipercaya dengan mudah. Lagipula, menurut logika, mana ada manusia yang tiba-tiba bisa hamil begitu saja.

Pemikiran ini pun dimanfaatkan oleh ratu dan para oknum selir yang lain untuk mengucilkan anak laki-laki tersebut dan juga ibunya. Meera dan Tobias sering kali difitnah di hadapan Raja Edbert agar sang raja semakin membencinya.

Penurunan kejayaan Kerajaan Ventura pun dilimpahkan pada Meera dan Tobias. Mereka berdua menanggung nasib buruk yang bahkan tidak mereka ketahui apa penyebabnya.

Fayre tengah mengingat permasalahan dan sekilas rumor apa saja yang ia dengar selama beberapa tahun belakangan.

“Masa bodoh dengan cerita itu! Yang jelas, seperitnya raja konyol mereka sudah kehilangan akal sampai memutuskan hal berani seperti ini! Apa orang itu tidak takut, jika kami semua memberontak?! Heh!” sinis Fayre dibarengi dengan tatapan tajam.

Jika sampai hal ini diketahui oleh seluruh penduduk Hutan Rahasia, apa tidak akan menjadi berita yang menggemparkan?!

Sungguh pun, wanita itu sangat marah!

Saat ia berbalik dan hendak memberitahukan hal ini kepada teman-temannya, suara ribut terdengar dari sisi danau di seberang tempatnya berdiri.

Kepalanya menoleh ke belakang, ia panjangkan lehernya supaya indera pendengarannya bisa meraih suara dari seberang dengan lebih jelas lagi.

“Fayre!” Mendadak suara yang begitu familiar terdengar. Blaster memanggilnya.

“Ada apa?” Fayre bertanya dengan wajah serius.

Lagipula, nampaknya wajah kelinci belang itu pun seserius dirinya.

Ketika sudah dekat, Blaster melakukan lompatan yang cukup jauh dan tinggi. Sampai Fayre pun refleks harus menangkap kelinci gemuk dan gempal itu.

“Kau tahu, kau berat, kan?!” tegur Fayre meskipun ia tetap menggendongnya.

“Hehe.... “ Blaster pamerkan sebaris gigi depannya yang besar dan panjang dengan wajah tak bersalah. “Lebih dari itu, ada situasi gawat, Fayre! Aku melihat dua orang pria sedang berdebat di seberang sana!” tunjuk si kelinci ke arah ia mendengar keributan tadi.

Fayre pun menoleh dengan cepat sekali lagi. Menyipitkan mata dan menghunus semakin tajam tatapannya ke depan.

Bersambung...

1
Mrextinct Hashtag
aaa thanks Thor ma bonus nya makin sayang author deh😘
wati
bagus ceritanya
yumin kwan
terima kasih sdh up lagi 😘
yumin kwan
ceritanya seru....tp masih sepi...
semoga sampai tamat ya...jgn ditinggal...
semangat 💪
ade eka: makasih ya ka udah mau mampir cerita baru aku,, ini genre fantasi pertama aku,, hehe

terus dukung aku ya ka 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!