Anara, memiliki seorang sahabat lelaki yang mengharuskan keduanya untuk berpisah setelah kepindahan sahabatnya ke Belanda karena permasalahan keluarga yang di alaminya. Anara yang tak biasa tanpa Sahabatnya itu harus rela beradaptasi dengan teman sekelasnya lagi agar bisa berteman dengan mereka lebih dekat. Di rumah yang besar itu, Nara adalah anak terakhir dari 5bersaudara. Keempat kakaknya sudah bekerja dan memiliki kesibukan masing-masing, begitupun dengan kedua orang tuanya. Bagaimana Nara melanjutkan kehidupannya di sekolah dan di rumahh, mari simak cerita lengkapnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Olipiaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Free day
Seharian ini hampir dari setengah isi kelas berbondong-bondong membersihkan kelas sebelum liburan kenaikan kelas berlangsung. Aku dan Maya juga ikut andil didalamnya, untuk lomba antar kelas yang mengenai bidang olahraga dan beberapa lomba unik lainnya. tentu sudah kami tentukan sebelum ini.
hari yang baru setelah ulangan berakhir, selepas ini aku akan naik ke kelas 12 tentunya. Memulai banyak kesibukan dan mulai memikirkan kemana akan aku tempuh pendidikan setelah lulus dari SMA ini. Jujur aku tak begitu mengerti harus berkuliah dimana dan dibidang apa. Aku tak tau menahu soal ini, dan masih tetap saja bingung.
Hari yang berlaku tak terasa begitu cepat, tanpa kehadiran Sein disini sudah lebih dari beberapa bulan lamanya. Sejujurnya aku sangat ingin menikmati hari-hari dengan ya, berbincang banyak hal. Tapi tak kusangka, kepindahannya waktu itu membuatku harus memulai awal yang baru. Harus sering berinteraksi dengan orang lebih jauh lagi, aku embgenal mereka dengan baik. Namun, aku tak begitu dekat. Beruntung sekali jika, aku bisa lebih dekat dengan Maya, Aksara dan Bian. Aku berusaha dekat dengan yang lainnya, namun beberapa dari mereka seperti sedikit menutup dan menolak kehadiranku secara tidak langsung.
Aku duduk setelah kelas sudah nampak bersih, beberapa teman yang lain juga ikutan duduk di depan kelas. Berjajar tak karuan dan memandangi kelas secara mendalam.
"Hari ini lelah banget, untung dibagi dehh jadi aku ga ikutan lomba juga" entah darimana suara ini berasal. Tapi aku mendengarnya dengan jelas, engahan nafas perlahan itu seakan memenuhi kelas.
Aku menoleh, dan mendapati Tya terengah hebat. "Lo gapapa?" ujarku sedikit khawatir, mukanya memerah dengan keringat yang sebesar jagung. "Gapapa, kalo udah kerja keras gini. Udah bisa kalo engap ngos-ngosan gini"jawabnya, sebetulnya ia agak terbata menjawab ku.
Aku meraih ponselku. "Ada yang setuju istirahat nanti kita makan bareng?"seruku memecah sedikit keheningan ini. Semua mata tertuju padaku, "yang bawa bekal siapa aja ya?"tanyaku kemudian. Beberapa orang mengangkat tanganya perlahan.
"okedeh, aku kabarin di grub ya. Soal apa yang mau dipesan aku ga Adain voting ya. Aku harap kalian mau oke"
Aku beranjak sembari memberi kode kepada Maya untuk ikut denganku. "Beli apaa?"tanya Maya yang sudah berada di sampingku. Kami berjalan melewati lorong kelas dan mendapati kelas lain yang masih sibuk bersih-bersih. "Mau beli ayam bakar atau nasi kotak gitu. Aku ada langganan cathering jadi bisa pesen Di sana" Maya mengangguk paham " Trus buat minumnya aku mau beli sekerdus air putih aja di kantin. Kalo sekiranya yg lain mau beli yg lain itu terserah mereka" lanjutku.
Tujuan kami ke kantin, membeli sekardus air mineral botol. Entahlah kalo perhitungan ku salah mungkin aku akan membeli dua kardus. disetiap lantai, kesibukan siswalah yang mewarnai pemandangan kami. Kelas kami termasuk yang paling cepat membersihkannya. Karena kebanyakan dari kelas lain masih sibuk beberes.
Letak kantin berada di gedung sebelah lantai dua, dan harus melewati lapangan. Aku mendapati bian sedang berkumpul dengan beberapa anak lelaki di kelas yang termasuk aksara didalamnya. Mereka menunggu giliran untuk melakukan lomba basket setelah ini, mereka juga memberi tau di grub untuk menyempatkan datang saat mereka bertanding. jadi, nanti aku akan melihat mereka bertanding sebentar.
Aku memesan beberapa kotak nasi, dan meminta untuk di antarkan selepas sholat dhuhur nanti. Untuk menu aku hanya request lauknya ayam bakar, untuk pendampingnya aku menyerahkan kepada mereka saja.
Kami sampai, kantin nan luas serta beberapa meja panjang yang berada di depan kios² makan ini berjajar rapi. Beberapa murid duduk dan menyantap makanan mereka masing-masing, atau ada yang hanya sekedar membeli cemilan dan berbincang dengan teman-temannya.
Aku berhenti di salah satu kios langgananku, yang sering ku beli. "Bu beli air mineral satu kardus bisa?"tanyaku, beliau mengangguk. Itu berarti bisa bukan?
Beliau mengeluarkan satu kardus air mineral penuh, lalu aku membeli setengah kardus lagi untuk berjaga-jaga jika terdapat kekurangan. Aku dan Maya membagi tugas setelah aku menyelesaikan pembayarannya.
Maya membawa setengah kardus, sedangkan aku yang satu kardus penuh. Kami menyusuri lapangan dengan sedikit terburu-buru, karena aksara dan bian akan segera bertanding. Jadi kami memutuskan untuk segera membawa ini ke kelas.
Ditengah perjalanan, kami dihadang oleh Maulana dan Satya. Teman sekelas kami, mereka seperti habis selesai bertanding.
"Mau dibawa kemana?"tanya Maulana, yang berusaha menarik kardus dari tanganku. "kekelas ul, kenapa?"jawabku sembari kembali bertanya. "Kami bawa deh, sekalian kita mau ganti baju habis ini" ujar Satya yang entah dari kapan sudah mendapat kardua yang dibawa Maya. "euhmm oke deh" aku menyerahkan setelah nyaa. Mereka kemudian hilang dari pandangan kami, aku beranjak dari sana dengan Maya dan mencari tempat duduk yang pas untuk menonton kelas kita bertanding.
awalnya begitu intens, kelas kami tertinggal 6 poin. Namun Aksara melakukan three points setelahnya dan kami unggul 6-7. Ini tetap intens, karena pertandingannya melawan beberapa anak basket yang merupakan satu kelas.
Aku dan Maya tak luput berteriak ketika teman kelas kita mencetak point. Dan sedikit kecewa jika kehilangan points, pertandingan kali ini di tutup dengan skor 29-31. Kami menang dan melaju ke babak final yang akan di adakan selepas dhuhur nanti.
Aku mendapati jika nasi kotak kami sudah datang dan dititipkan di kantor satpam. Jadi selepas pertandingan dengan dibantu beberapa teman membawanya ke kelas.
"Bagus kan permainan kita" seru Bian yang berjalan menenteng satu kresek nasi kotak. "Iya bian iya"ujar Aksara yang mengiyakan dengan sedikit terpaksa.
"Kalian udah bagus kok mainnya" Maya menengahi mereka sebelum adu cekcok setelahnya.
"Kalian udh bagus, bener kata Maya. Semua anggota tim jelas berkontribusi baik di dalamnya, kalo sekiranya ada satu dua orang yang mis pasti kebobolan." ujarku menambahi Maya, mereka mengangguk paham. "kalian dapat 2 point tambahan setelahnya, karena musuh lengah di akhir. Fokus mereka menyerang tapi ndk memperkuat pertahanan, jadi kebobolan point setelahnya dan kemenangan kalian dapat" tambahku.
Setuju. Mereka setuju dengan pendapatku, karena mereka pasti mengerti kenapa aku berkata demikian. ketimbang aku yang tak ada di lapangan dan bertanding secara langsung, mereka lebih jelas dan mengerti situasi yang berlangsung seperti apa.
Tak lama ditengah perbincangan kami, kami mencapai kelas. Mereka mulai merapikan kursi dan meja agar dapat makan secara lesehan bersama.
"Isinya sama semua kok, insyaallah. Jadi ndk perlu berebut ya, mau kalian bawa bekal atau ndk kalian dapet satu kok jadi tenang aja ya. Ayo diambil satu-satu habis itu makan bareng² ya"
Selepas aku mengatakannya, teman-teman mulai mengambil satu persatu dan mencari tempat duduk agar dapat makan bersama setelahnya.
...****************...
"Pertandingan final antara kelas 11-ipa 4 dengan 11 IPs 2 akan segera dimulai. dimohon untuk peserta lomba berkumpul terlebih dahulu di lapangan"
Seruan barusan, membuat mereka yang turut bertanding langsung bersiap dan mulai berjalan menuju lapangan. Selepas kita makan bersama, beberapa dari kami melaksanakan sholat dan beberapa berbincang serta menyanyikan lagu bersamaan.
Aku mengantuk sekali setelah memakan nasi kotak tadi, aku juga diberi separuh ayam Maya yang tak habis olehnya.
"ngantuk may, boleh aku bobo aja ga?" Maya menggeleng, ia menarikku untuk segera beranjak dari tempatku duduk. "ayolah final loh ini"
Aku menyerah, dan tentunya kalah dengan bujuk rayuan Maya. Jadi aku dan mayaa dengan beberapa teman sekelas seperti Maulan, Satya, Nadella, Serta Cua beriringan berjalan menuju lapangan bersama, seingatku yang lain juga akan melihat pertandingannya tetapi mereka belum menghabiskan makan.
Free Day seperti sekarang banyak digunakan murid untuk melakukan berbagai hal seperti menonton film bersama-sama, memainkan musik, serta bermain banyak hal dengan teman-temannya.
Sepanjang perjalanan, kami hanya diam dan berkalut dengan pemikiran kita masing-masing. Sesampainya di lapangan, kami mencari tempat duduk paling depan dan mencari dimana tempat yang pas agar bisa menontonnya dengan tenang.
Pertandingannya memang belum di mulai. Masih pemanasan yang dilakukan oleh dua tim. Kami tak berharap banyak untuk ini karena kelas lawan sudah terkenal untuk menjuarai pertandingan basket setiap tahunnya.
Tentunya kami berpositif thinking saja mengenai ini, dan berdoa di beri hasil yang terbaik untuk kedepannya.
" 10 menit lagi ya" Pihak panitia mengatakan setelah ia melihat jam tangannya. kami sudah bersiap dan menantikan pertandingan ini.
10 menit waktu yang cukup lama, jadi aku memeriksa ponselku setelahnya.
2 panggilan tak terjawab.
Aku mencari tau siapa yang meneleponku barusan, dan tentu saja sesuai dugaanku itu sein. Aku beranjak sebentar, lalu Maya menahanku. Aku tak banyak berbicara dan hanya memberinya isyarat jika aku akan menelpon seseorang.
Aku sudah berada di tempat yang agak jauh dari keramaian, mencoba menelpon kembali sein. Sudah 2 kali aku mencoba dan tak ada jawaban darinya. Hingga yang ke 5 kali, aku menyerah dan sekedar memberinya pesan teks. Untuk segera mengajariku jika sudah bisa berkesempatan untuk menelepon lagi.
Setelah aku kembali pertandingan sudah di mulai, serta kelas kita sudah tertinggal sekitar 8point. Aku melewatkan hal tersebut, tapi tak apalah. Pertandingannya lebih intens, tapi sangat terlihat jika musuh lebih unggul dibanding dengan anak kelasku. Walaupun begitu, aku tak melihat keputusasaan dari merkea, Setiap kali diserah mereka berusaha bertahan dan mencari celah agar dapat menyerah kembali.
Aksara mendapatkan bola, ia mencari keberadaan temannya sambil sesekali mendribble bolanya. Disaat musuh akan mencuri bolanya, dengan terpaksa Sein melempar dengan banyak harapan jika bola itu akan mencetak point. Bola itu melambung dari 3/4 lapangan. lemparan keras dan melambung dari aksara melewati banyak pemain dan mendarat tepat di ring lawan. Sorakan meriah terdengar setelah melihat pencetakan poin epic dari aksara.
Setelah itu, tim kita mulai menyerang. Dan pertahanan musuh tergoyahkan. Sorakan ramai dari kelas kami, memenuhi lapangan. Iringan tak terduga itu memacu semangat tim kelas dan membuat mereka langsung melampau unggul hingga 10 point.
Pertandingan intens tadi dimenangkan kelas kami dengan penuh drama dan beberapa perdebatan di lapangan. Kami beruntung, serta kerja keras tim kelas patut di acungi jempol.
hari ini ditutup dengan kemenangan tim bakset kita.
Salam dari Biru si ketos bad boy dan Love My Stepbrother 😄