Cowok berandalan ketua geng motor jatuh cinta sama cewek baik-baik yang gak sengaja nolong dia. Romantis sekali, kan? Kisah cinta yang selalu menjadi favorit siapapun.
Sayangnya, Lexi sangat membenci kisah seperti itu. Karena ia bukan tokoh utama di cerita itu. Ia mencintai si cowok berandalan, tapi ia bukanlah si cewek baik-baik.
"Jovan sama Nara tuh perfect couple" ~ someone
"DIAM LO SEMUA!!" ~ Lexi
Cek konten POV di instagram dan tiktok @cacalavender
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Caca Lavender, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8 : PDKT
...{Bad X Crazy}...
Di sisi lain, Jovan mengikuti kelas dengan perasaan gelisah. Saat kelas kedua dimulai tadi, ia baru menyadari kalau Lexi tidak ada bersamanya. Padahal seingatnya tadi mereka berjalan ke kelas bersama-sama, tapi anak itu tiba-tiba menghilang begitu saja.
Selama kuliah berlangsung, Jovan terus berusaha mengirimi Lexi pesan untuk menanyakan keberadaan gadis itu, tapi Lexi sama sekali tidak membalasnya.
'Duh! Pergi kemana lagi sih tuh anak? Udah dua hari bolos, masa masih kurang?' batin Jovan.
Akhirnya, dosen yang mengajar di kelas Jovan pun mengakhiri pembelajaran. Setelah dibubarkan, Jovan langsung pergi keluar kelas dan mencari Lexi.
Jovan berusaha menelepon sahabatnya itu berkali-kali, tapi tidak juga diangkat.
"Ck! Kemana sih lo, Lex?!," kesal Jovan.
Jovan terus berjalan sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar. Dia mencari Lexi kemana-mana. Dari kantin, lapangan, hingga ruang kesehatan sudah ia cek, tapi tidak ada juga tanda-tanda Lexi si sana. Kalau perpustakaan, hmm... Tidak mungkin gadis itu mau menginjakkan kaki di sana.
Ketua geng Phoenix itu terus berjalan mengelilingi area kampus sambil terus berusaha menelepon sahabatnya. Jovan kurang memperhatikan jalan di depannya, hingga tanpa sadar bahunya bertabrakan dengan orang yang berjalan dari arah berlawanan.
Brukk!
"Aduh!"
"Eh, sorry sorry, gue gak senga-- loh, Nara?"
Ternyata, orang yang baru saja Jovan tabrak adalah Nara, mahasiswi seni yang menolongnya kemarin.
Nara juga cukup terkejut, "Jovan?"
"Sorry, Ra. Gue gak sengaja, tadi gue lagi buru-buru," ucap Jovan.
Nara tersenyum simpul, "gak apa-apa kok, Jo. Gue juga salah karena gak fokus liat jalan."
Jovan hanya tersenyum kikuk sambil mengusap tengkuknya. Gugup dia tuh di depan gadis yang dari kemarin tidak bisa hilang dari pikirannya.
"Kok lo udah ngampus sih, Jo? Luka lo kan masih belum sembuh," tanya Nara.
"Halah~ Luka gini doang mah kecil, udah biasa gue," jawab Jovan sombong.
Nara hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Kemudian, mereka pun berjalan beriringan, entah mau kemana. Mereka berjalan-jalan pelan saja di area kampus, daripada ngobrol sambil diam di tempat, malah mengganggu mahasiswa lain yang mau lewat.
"Harusnya lo istirahat dulu di rumah. Kemarin aja, gue liat lo jalan kaki sambil nahan sakit di perut, pasti ada lebamnya, ya?" tanya Nara dengan cemas.
"Hehe... Iya, perut gue banyak lebamnya, tapi gak apa-apa kok," ucap Jovan sambil menyengir lebar, kemudian laki-laki itu kembali memandang ke depan.
"Yah... Daripada gue di rumah, terus ketemu sama papa gue. Ntar bukannya sembuh, malah makin babak belur," imbuh Jovan.
Nara hanya diam menyimak ucapan Jovan. Gadis itu bisa menangkap bahwa Jovan memiliki hubungan yang tidak baik dengan ayahnya.
"Eh, kita duduk di sana aja yuk, capek gue lama-lama kayak gini, jalan gak ada tujuan," keluh Jovan.
Nata tertawa kecil mendengarnya. Kemudian, gadis itu pun mengangguk setuju. Akhirnya, mereka berdua pun duduk bersebelahan di salah satu bangku taman dekat danau.
"Huuh~ seger banget di sini," ucap Jovan sambil memejamkan mata menikmati semilir angin.
"Iya, gue juga biasanya suka duduk-duduk di sini. Enak buat santai-santai," balas Nara menyetujui ucapan Jovan.
Kemudian, Jovan membuka matanya dan menoleh ke arah Nara.
"Gue minta nomor hp lo dong, boleh gak? Boleh lah ya," tanya Jovan.
Waduh! Sat set juga si Jovan ini kalau sedang tertarik sama perempuan.
Nara mengangguk sambil tersenyum, "boleh kok, itung-itung nambah relasi."
Setelah itu, mereka pun bertukar nomor ponsel. Sepertinya, setelah ini mereka akan menjadi semakin dekat.
"Lo ngerasa gak sih kalau orang-orang pada liatin kita dari tadi?" tanya Nara.
Jovan pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dan benar saja, para mahasiswa sudah melihat ke arah mereka dengan pandangan bertanya-tanya. Bahkan, ada yang memekik gemas karena melihat kedekatan Jovan dan Nara.
"Biasa lah, kemana pun pangeran kampus pergi, pasti akan selalu menjadi pusat perhatian," ucap Jovan kembali dengan rasa percaya dirinya yang terlalu tinggi.
"Dih, narsis banget sih jadi orang," cibir Nara sambil memutar bola matanya malas.
Jovan tertawa terbahak-bahak karena melihat Nara yang kesal dengan tingkah narsisnya. Gadis itu semakin terlihat imut kalau sedang cemberut. Kemudian, Jovan menghentikan tawanya dan menjawab agak lebih serius dari yang tadi.
"Mungkin gara-gara gue berdua sama lo, biasanya kan gue nempelnya sama Lexi terus," ucap Jovan acuh.
Kemudian, pandangan Jovan turun ke arah map hijau yang berada di tangan Nara.
"Itu map apa?" tanya Jovan.
Nara pun mengikuti arah pandang laki-laki di depannya ini.
"Oh, ini?" ucap Nara sambil mengangkat map di tangannya, "ini surat orisinalitas dari dekan buat gue lomba."
"Lo ikut lomba?" tanya Jovan yang dibalas anggukan oleh Nara.
"Lomba apa?" tanya Jovan yang masih penasaran.
"Lomba bikin manga," jawab Nara.
"Wiih~ lo suka manga?" tanya Jovan antusias.
"Eum... Lumayan sih. Gak terlalu suka maraton baca komik, suka bikin gambarnya aja," jawab Nara.
Jovan manggut-manggut, "ntar kalo udah jadi, boleh lah gue liat."
"Ih, gak mau ah, malu~" cicit Nara malu-malu.
Jovan tertawa gemas melihat tingkah Nara. Gadis itu bertingkah seperti kucing kecil saja.
"Eh, kenapa malu? Gak usah malu, biasanya aja malu-maluin, haha...," canda Jovan.
Nara mengerucutkan bibirnya, lalu memukul pelan lengan laki-laki itu. Jovan yang kena pukulan ringan seperti itu, bukannya mengaduh kesakitan, malah tertawa semakin kencang. Hal itu membuat Nara semakin cemberut. Tapi kemudian, ia pun ikut tertawa dengan Jovan.
...----------------...
Lexi sampai di parkiran kampusnya dengan sebuah plester berwarna kulit yang sudah tertempel di pipi kiri atasnya. Gadis itu tadi sempat diobati di ruang kesehatan Universitas Tunas Bangsa. Yang mengobati Lexi adalah Candra? Atau Tiara? Tentu saja, bukan dua-duanya. Lexi tidak kenal, bodo amat lah, yang penting lukanya sudah diobati.
Ia turun dari motornya dan berjalan memasuki area gedung kampus. Gadis itu mengecek ponsel miliknya, ternyata sudah ada 23 pesan dari Jovan yang menanyakan keberadaannya dan 10 panggilan tak terjawab dari laki-laki itu.
Lexi pun segera men-dial nomor Jovan. Tapi sekarang, giliran Jovan yang tidak mengangkat panggilannya.
"Hiih! Kebiasaan si Jovan nih! Kalo ditelpon, susah benget!" kesal Lexi.
Padahal mereka berdua sama saja. Ponsel selalu dalam mode silent dan disimpan di dalam tas. Jadi kalau ada orang yang menelepon, mereka tidak akan tahu. Kaum slow-respon.
"Eh, gue tadi liat si Jovan berduaan sama si Nara, lho."
Lexi mengernyitkan dahinya mendengar bisik-bisik dua orang mahasiswa perempuan yang sedang berjalan di depannya, posisi dua orang itu membelakangi Lexi.
"Serius lo?! Mereka berdua pacaran?"
Lexi semakin menajamkan telinganya untuk mendengar pembicaraan mereka.
"Gak tau juga sih. Tapi kalau mereka pacaran, gue ikhlas lahir batin. Jovan yang ganteng dan cool, pacaran sama Nara yang cantik dan pinter. Duh! Couple goals banget."
Alis Lexi menukik tajam tidak suka mendengar ucapan para mahasiswi itu.
Srett!
Kedua tangan Lexi menarik tas ransel mereka sehingga tubuh mereka pun tertarik ke belakang. Kedua mahasiswi itu sudah bersiap ingin mengamuk, tapi saat melihat ternyata Lexi lah pelakunya, nyali mereka jadi menciut.
"Eh, L-Lexi?"
"Bilang sama gue, dimana Jovan sekarang?" tanya Lexi dengan suara dingin.
"J-Jovan ada di taman tepi danau," cicit salah satu mahasiswi itu.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Lexi langsung bergegas menuju taman. Sepanjang perjalanan, ia terus menahan emosinya.
Lexi tidak mengenal siapa gadis yang bernama Nara ini. Tapi yang jelas, sepertinya Nara sudah masuk di dalam kehidupan Jovan, dan mengancam posisi Lexi sebagai seseorang yang menyukai Jovan.
Gadis itu berjalan dengan tergesa-gesa, bahkan hampir seperti berlari kecil. Yang ada di pikirannya saat ini adalah Jovan. Ia harus memastikan dimana dan dengan siapa Jovan sekarang. Padahal hari ini ia masuk kuliah hanya demi bertemu Jovan, pergi bertengkar dengan Candra dan pacar laki-laki itu untuk membela Jovan, dan sekarang, ia kembali lagi ke kampus untuk bertemu Jovan. Apakah ia akan berakhir dengan kekecewaan?
Langkah kaki Lexi terhenti saat matanya menangkap sosok Jovan yang sedang duduk di salah satu bangku taman bersama seorang gadis.
'Cewek itu pasti si Nara,' batin Lexi.
Hati Lexi serasa diremas saat melihat Jovan sedang tertawa lepas bersama gadis bernama Nara itu. Ini pertama kalinya Jovan duduk berdua dengan seorang gadis, selain dirinya. Senyum Jovan... Walaupun Jovan adalah orang yang ramah, tapi senyuman tulus itu adalah senyuman yang biasa ditunjukkan oleh Jovan hanya kepada mamanya dan juga Lexi.
Lexi sangat mengenal Jovan. Laki-laki itu tidak pernah berkencan sebelumnya. Jadi sekarang, Lexi sangat paham, tatapan yang diberikan Jovan kepada Nara adalah tatapan seorang Jovan yang sedang jatuh cinta.
...----------------...
1352 kata
Senyum ganteng Jovan yang bikin Lexi kesel karena cowok itu senyumnya ke Nara.
Wajah ceria Nara yang juga bikin Lexi kesel karena udah berhasil ngambil hati pujaan hatinya a.k.a Jovan.
Lexi yang kesel dan sedih, plus kecewa melihat kedekatan Jovan dan Nara.