Diangkat dari kisah nyata seorang gadis yang terbelenggu kebodohan cinta hingga hamil.
Namaku adalah Mia, seorang gadis yang beranjak dewasa merasa naluri ku berontak melihat yang terjadi di depan mata.Walau sebenarnya aku pun dari keluarga yang tak sempurna.
Sedangkan Kak Dinda adalah korban dari seorang lelaki yang memanfaatkan keluguan dan tubuhnya hanya untuk kesenangan sesaat.
Berbagai macam prahara ku hadapi bersama Kak Dinda untuk mencapai kebahagiaan semu.
Mampukah Aku dan Kak Dinda menghadapi hidup yang penuh lika liku ini.
Ikuti terus kisahnya, jangan lupa like dan komen serta vote. Agar menulisnya lebih semangat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dice Mariyetti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 8
Saat perjalanan pulang tiba-tiba langkah Kak Dinda terhenti.
"Kenapa Kak? "
Kak Dinda menutup wajahnya dengan telapak tangan.Tak mempedulikan sekitar, Kak Dinda mulai menangis.
" Ada apa Kak? Ayo Kak berdiri kita duduk di warung kosong itu, "kataku sambil memapah Kak Dinda.
Ku biarkan Kak Dinda menangis menumpahkan kegalaun hatinya. Setelah airmatanya mengering Kak Dinda mulai membuka suaranya untuk cerita.
" Aku... tadi menunggunya. Tapi orang itu tak pernah datang menemui anaknya. Ia tak peduli.. "
" Maksud Kak Dinda ayahnya upik ya? "
"Iya," jawab kak Dinda sambil menghapus ingusnya yang meleleh akibat menangis tadi dengan lengan bajunya. Ih Kak Dinda jorok banget, kataku tentu saja dalam hati.
"Kapan Kak Dinda terakhir kali bertemu dengannya? "
" Dua minggu yang lalu "
" Berarti terakhir bertemu di warung ini ya? "
"Iya. Eh, kok kamu tau, Mi," Kak Dinda balik nanya.
"Ooh itu. Cuma nebak, "elakku agar Kak Dinda tidak tahu aku pernah mengikutinya. Dan hari ini aku masih mengikutinya lagi.
Sebenarnya Aku ingin berkata jujur kepada Kak Dinda. Menceritakan padanya bahwa selama ini Aku mengikutinya. Ingin mengetahui rahasia yang Dia sembunyikan dari semua orang termasuk maknya sendiri.
Namun kepikir tak ada gunanya juga Aku berterus terang pada Kak Dinda yang masih keukeuh menyimpannya sendiri.
" Aku akan bantu mencarinya asal Kak Dinda cerita semua tentang ayahnya Upik. Bagaimana bentuk wajahnya"
"Ah tak usah mencarinya. Aku nggak mau kamu terlibat dengan masalah ku yang rumit ini. Nanti bisa cilaka"
"Kenapa Kak? Apa pria itu pernah mengancam Kak Dinda? "tanyaku dengan serius.
" Bukan mengancam. Tapi kami sudah berjanji tak akan memberitahukan kepada orang lain"
"Kak Dinda mencintainya? "
" Aku nggak tahu tentang cinta. Tapi saat bersamanya Aku sangat bahagia, "jelas Kak Dinda sambil mengadah ke langit malam yang hitam kelam tanpa cahaya bintang.
" Ah, sudah malam. Ayo kita pulang, "ajak Kak Dinda.
" Okay. Benar kak Dinda sudah baikan sekarang. Kalau belum biar kuantar sampai ke rumah Kak Dinda ya?"
"Nggak usah. Aku sudah baikan. Kalau ada waktu mainlah kerumahku melihat si Upik"
Tumben Kak Dinda mengajak untuk kerumahnya. Mungkin Kak Dinda ingin membayar pengusirannya tempo hari.
"Ajak Yani sekalian, "tambahnya lagi.
" Baiklah. Sampai jumpa lagi kak Dinda "
Kami pun berpisah. Aku pulang kerumah dengan perasaan lega. Akhirnya Kak Dinda membuka pintu hatinya tuk menerima keadaan bahwa Ia telah di tinggalkan begitu saja oleh pria yang telah memberinya seorang anak.
Sampai di rumah Anthony sudah menyambutku di teras.
"Darimana? kutungguin dari tadi? "tanya Anthony.
" Nggak biasanya nungguin Aku, "jawabku jujur.
" Ssst jangan keras - keras. Nanti Papa bangun. Hmmm Aku butuh duit buat ke Jakarta"
"Jadi apa hubungannya denganku. Kan Kamu bisa minta sama Papa. Lagian nggak dibiayain sama panitia penyelenggara olimpiade apa? "tanyaku heran.
" Semuanya ditanggung sih. Dari penginapan sampai konsumsi semua kandidat "
" Trus apalagi. Uang jajan?minta sama Papa aja"tanyaku.
"Papa udah ngasih tapi nggak cukup. Jakarta kan jauh, "kata Anthony dengan wajah memelas.
" Boleh nggak Aku minta suntikan dana dari Mama? "
" Terserah kamu. kan masih punya Mama dan Jadi kamu berhak minta bantuan sama Mama,"kataku menyenangkan hati Anthony. Di dalam hatiku menolaknya. Sebab aku sudah berjanji pada diriku sendiri tidak akan mengganggu hidup Mama. Membiarkan Mama dengan kehidupan yang telah dipilihnya adalah yang terbaik.
"Baiklah. Besok Aku akan ke kantornya Mama, "kata Anthony.
" Janji ya kamu nggak bakal kecewa jika hasilnya tidak sesuai prediksi. Aku tak mau kalau keinginanmu itu menjadi bumerang. Kamu kan tau sendiri Mama seperti apa. Dia bakal bilang sama semua orang yang menilai kita menyusahkan hidup Mama"
" Aku mau tidur.. Besok masih sekolah. Oh ya kapan mau berangkat ke Jakartanya. Biar kuantar ke Bandara"
"Lusa. Nggak usah diantar. Kami sudah ada yang jemput"
"Syukurlah, "kataku sambil melangkah ke dalam lalu langsung melepaskan lelah di kasur.