Kisah cinta sepasang suami istri yang baru saja menikah yang terpaksa harus berpisah karena sebuah hal yang menuntut sang istri harus mundur merelakan suaminya untuk orang lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adhilla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#09
Masuk ke dalam perusahaan, banyak karyawan Ronald yang membicarakan Sirena.
"Ehh itu ada nyonya Siren." ucap salah satu karyawan yang pertama kali melihat Sirena masuk perusahaan.
"Wah iya, ternyata aslinya lebih cantik ya." balas yang lainnya memuji Sirena.
"Iya aslinya lebih cantik, boleh gak sih kalau kita minta foto."
"Ya janganlah nanti kita malah mengganggu kenyamanan nyonya Siren. Nanti yang ada malah nyonya Siren gak mau datang ke sini lagi."
"Iya itu benar, kita harus menjaga privasi nyonya Siren, jangan sampai kita salah gerak terus pekerjaan kita yang akan menjadi taruhannya." balas yang lainnya setuju.
"Ehh liat deh senyumnya manis banget." ucap mereka saat melihat Sirena tersenyum membalas sapaan resepsionis yang menyapa Sirena.
"Iya benar, gimana ya nanti kalau mereka sudah punya anak, pasti anaknya akan sangat lucu, secarakan bibitnya unggul semua." ucapan salah satu karyawan Ronald yang ini membuat Sirena menatap ke arah gerombolan para karyawan yang tengah bergosip.
Karena ini waktunya istirahat makan siang, makanya saat Sirena sampai di perusahaan banyak yang melihatnya.
"Kenapa di mana mana mereka pada ngomongin anak sih, gak tahu apa aku jadi merasa bersalah banget sama mas Ronald karena belum hamil hamil sampai sekarang." batin Sirena.
Sirena pun mengalihkan tatapannya lagi, dia mempercepat langkahnya agar segera sampai di lift dan segera pergi ke ruangan suaminya.
Sementara itu para karyawan yang tadi di tatap oleh Sirena menyimpulkan hal lain, mereka senang karena mereka kira tadi Sirena tengah menyapa mereka.
"Sumpah demi apa, tadi seharusnya kita video buat kenang kenangan kalau kita pernah di sapa model papan atas." ucap salah satu dari mereka heboh.
"Iya bener banget, gue nyesel tadi gak ngeluarin handphone." balas yang lainnya setuju.
"Udah udah ayo kita kembali kerja, sebentar lagi jam kerja akan di mulai." ucap seseorang yang datang memecahkan kerumunan mereka.
"Baik pak." balas mereka semua takut dan langsung pergi kembali kepada tempat kerja.
"Heran, gak pagi, gak siang di mana mana mereka selalu gosip, emang ya perempuan itu kalau sudah berkumpul pasti ada saja yang di bicarakan." tak habis pikir orang yang tadi memecahkan kerumunan itu.
Orang itupun kembali ke tempat kerjanya juga untuk memulai pekerjaannya kembali setelah tadi dia istirahat mengisi perutnya.
Sementara itu, di tempat Ronald dia tengah kedatangan temannya yang baru saja pulang dari Singapura.
"Kita udah lama banget loh padahal gak ketemu, tapi kok wajah lu awet awet aja gak ada yang berubah." ucap Ronald kepada temannya.
"Alah bisa aja lu, lu juga sama padahal udah nikah tapi wajahnya juga tetap sama aja gak ada perubahan." balas teman Ronald yang bernama Gio.
"Yee gue cuma nikah ya bukan operasi wajah, ya kali wajah gue berubah." balas Ronald.
"Ya siapa tahu aja kan,"
"Oh iya ngomong ngomong udah ada tanda tanda mau jadi Daddy gak nih?" lanjut Gio bertanya.
"Entahlah, tapi sepertinya belum soalnya istri gue belum ada tanda tanda hamil juga, padahal gue udah pengen banget punya anak." balas Ronald.
"Sabar mungkin belum saatnya kalian punya anak, puas puasin aja dulu masa masa berduanya, nanti kalau udah punya anak pasti kalian akan susah punya momen berdua."
"Iya sih, tapi gue udah pengen banget punya anak, apalagi orang tua gue yang udah ngebet banget pengen punya cucu. Lu tahu sendirikan kalau gue ini anak tunggal, jadi ya hanya gue harapan orang tua satu satunya." balas Ronald.
"Iya juga sih, gue doain dah semoga istrinya cepat isi. Dan nanti kalau sudah isi jangan lupa ya kalau periksa datang kembali rumah sakit gue." pinta Gio.
"Hahaha... oke oke siap," balas Ronald sambil tertawa melihat temennya yang promosi.
Gio itu adalah salah satu pemilik rumah sakit terbesar yang ada di Jakarta. Dia juga salah satu dokter spesialis kandungan.
Sudah tampan, sukses, dokter spesialis, kurang apa lagi coba, tapi sayang dia masih jomblo, wkwkwk.
...**...
Sedangkan Sirena yang tadi hendak memasuki ruangan Ronald pun tanpa sengaja mendengarkan pembicaraan suaminya yang entah dengan siapa di dalam sana.
Setelah menarik nafas dalam dan menenangkan dirinya, Sirena pun memutuskan untuk mengetuk pintu ruangan Ronald.
Tok tok tok.
"Iya masuk." terdengar suara Ronald dari dalam yang menyuruhnya untuk segera masuk ke dalam.
Ceklek.
"Apakah aku mengganggu?" ucap Sirena yang melihat suaminya tengah asik ngobrol dengan seseorang.
"Sayang, ternyata kamu yang datang aku kira siapa tadi." Ronald berdiri untuk menyambut istrinya.
Sirena memeluk Ronald dan langsung di hadiahi kecupan di keningnya oleh Ronald.
"Kok gak bilang bilang kalau mau ke sini hmm?" tanya Ronald menatap istrinya.
"Kan biar surprise, ehh taunya malah ternyata kamu sedang sibuk." balas Sirena sambil melirik Gio yang tengah menatap keromantisan mereka berdua.
"Aku gak sibuk kok, oh iya kenalin ini teman aku." Ronald pun mengajak Sirena untuk mendekati Gio dan menyuruh mereka berdua untuk berkenalan.
"Sirena." ucap Sirena memperkenalkan dirinya.
"Gio," balas Gio.
"Dia ini yang sering aku ceritakan sama kamu itu loh yang, yang aku bilang orangnya takut darah itu, ehh taunya sekarang malah dia jadi dokter." jelas Ronald kepada Sirena.
"Ooh yang kamu bilang kecilnya suka maling jambu air tetangga sama kamu itu." balas Sirena membuat mata Gio melotot.
Sedangkan Ronald hanya menyengir sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bisa bisanya istrinya ini membicarakan keburukan mereka yang pernah Ronald ceritakan dulu.
"Itu hanya masa lalu sayang, masa kecil biasalah kan anak kecil gak ngerti apa itu yang namanya nyolong." Ronald mencoba untuk ngeles agar nama mereka tetap bagus.
"Iya benar, kita berdua sekarang malah sudah sukses sukses dan kaya raya," timpal Gio.
"Iya benar, aku udah punya perusahaan besar, dan Gio juga sudah punya rumah sakit sendiri, iya gak?" balas Ronald.
"Iya benar." balas Gio.
Sirena memutar bola matanya malas, kenapa sekarang mereka berdua jadi ngomongin kekayaan sih, padahal kan tadi dia hanya bilang kalau mereka berdua pernah maling jambu tetangga waktu kecil.
"Oh iya sayang kamu udah makan siang belum?" tanya Ronald mengalihkan pembicaraan.
"Udah tadi sama mama di rumah teman mama." jawab Sirena.
"Bagus kalau gitu, pokoknya kamu jangan lupa makan, aku tadi juga sudah makan bersama Gio kok." balas Ronald yang hanya di tanggapi deheman saja oleh Sirena.
"Kamu model ya?" tanya Gio kepada Sirena.
"Iya aku seorang model, kenapa kamu butuh model buat promosikan rumah sakit kamu?" balas Sirena.
"Ah tidak aku hanya penasaran saja." balas Gio.
"Sayang Gio ini seorang dokter spesialis kandungan loh, bagaimana kalau kita cek kesuburan kita aja, siapa tahukan nanti kalau ada apa apa sama kita berdua kita bisa di kasih obat biar kamu cepat hamil." ajak Ronald.
"Kamu apaan sih, kita berdua ini sehat sehat aja ya, lagian kalau aku belum hamil juga mungkin memang belum waktunya." balas Sirena tak suka dengan ajakan Ronald.
"Iya aku tahu, tapi kan apa salahnya kalau kita usaha dulu." balas Ronald.
"Udah ya be, aku tuh pusing dari tadi pagi orang orang yang di ucapkan selalu tentang kapan aku hamil. Dan sekarang aku datang ke sini karena pengen merendamkan pikiran aku, ehh taunya kamu juga sama saja dengan mereka." kesal Sirena.
"Sayang...."
"Aku pulang dulu, silahkan kembali bekerja nanti jangan pulang malam malam." pamit Sirena yang langsung pulang tanpa salim ataupun mencium Ronald.
Ronald yang melihat kepergian Sirena pun tak bisa berbuat apa apa, dia menatap sedu ke arah istrinya itu karena merasa bersalah.
"Sudah, nanti jangan di ulangi lagi. Gue saranin sama lu jangan ngomongin masalah kehamilan pada istri lu lagi, gue lihat lihat sepertinya dia tengah tertekan oleh sesuatu sehingga membuat moodnya jelek." pesan Gio sambil menepuk pundak Ronald dan di angguki oleh Ronald pertanda kalau dia mengerti.
"Thanks." balas Ronald menoleh dan tersenyum kepada Gio dan di balas senyuman juga oleh Gio.
...***...
sang penukinya kurang literasi.
Ronald dr dulu gitu sih lelet menyelesaikan masalah, bhkan gk bisa tau istrinya sakit. dia gk pinter soale.
mkne kurang sreg karakter Ronald gk bisa di andal kan melindungi kluarga.