Semaian Dua Arah Cinta
Mengisahkan seorang gadis cantik berhijab dari Negara Indonesia bernama Nazla Asyifa. Ia melakukan studi tour di Negeri Malaysia, Kuala Lumpur mengenai arkeologi di Islamic Arts Museum Malaysia dan beberapa museum lainnya.
Disana Nazla terpisah dari rombongan tidak tahu arah jalan dan tanpa sengaja bertemu dengan pria duda asal Negeri Malaysia bernama Mohd Aiman Abdullah.
Itulah awal pertemuan mereka berdua ketika Aiman membantu Nazla yang tidak tahu arah jalan pulang.
Apakah akan ada cinta yang tumbuh diantara mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idha_Whaty18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sedih Hati
Selamat membaca 🤗
...🌹🌹---🌹🌹...
Sepulang Nasy dari Taman bersama Aiman, Syifa, dan Syaifa. Nasy yang sudah tiba di penginapan langsung membersihkan diri. Mengecek ponselnya melihat beberapa foto yang ia ambil. Nasy tersenyum sendiri melihat kebersamaannya dengan Syifa dan Syaifa. Ada pula satu foto yang makin membuat Nasy tersenyum lebar yaitu dimana dirinya foto bersama Aiman.
Cika dan Putri yang sedang mengetik sesuatu memperhatikan Nasy yang senyum sendiri. Mereka saling memandang satu sama lain karena merasa heran.
"Nasy...kamu sehat kan? Gak sakit kan?" tanya Cika.
"Aa...oke, sehat. Kenapa?" jawab Nasy menoleh ke Cika dan Putri.
"Kalau sehat, ngapain kamu senyum-senyum sendiri?" ujar Putri.
"Hemmm...in...Ah ya. Aku lagi liat konten lucu." ucap Nasy bohong.
"Masa' sih. Sejak kapan kamu suka liat konten. Biasanya kamu sering nonton drakor aja." ujar Putri.
"Y...ya gimana gak liat konten. Wong lagi lewat di beranda Facebook. Lagi liat akun update drakor baru. Hehe..." ucap Nasy lagi bohong.
"Ohhh... Tadi gimana?" tanya Cika.
Kini posisi Cika dan Putri menghadap ke Nasy yang sedang duduk bersandar di ranjang sambil memainkan ponsel.
"Gimana apanya?" tanya balik Nasy pura-pura.
"Ya tadi. Sama si Abang-abang." goda Cika.
"Biasa aja kok. Cuma ajak jalan-jalan saja bareng kedua putrinya." jelas Nasy.
"Wahhh...seru dong diajak jalan-jalan. Sudah kayak keluarga kecil dong." goda Putri.
"Ishhh...kalian itu. Itu pun akunya terpaksa, karena kedua anaknya pengen ketemu banget sama aku. Tadinya kan aku mau tidur, ehh dihubungi tu sama si bapaknya. Udah itu maksa lagi. Awalnya sih abai, tapi takut nanti nerobos masuk ke penginapan nanti bisa heboh oleh mereka yang lain." jelas Nasy panjang.
"Tapi suka kan diajak jalan-jalan." ujar Cika.
"Suka sih."
"Terus pergi ke tempat mana saja?" tanya Putri.
"Pertama ke Taman Rekreasi Bukit Jalil, kedua ke Hotel..." jelas Nasy terpotong oleh Putri karena mendengar kata hotel.
"Apa....!!! Kamu ke hotel, ngapain, kalian jangan-jangan?" ucap Cika.
"Astaghfirullah...Nasy. Kok kamu mau sih? Ingat orangtua dikampung?" ucap Putri asal.
"Hush...kalian itu. Asal nuduh saja, dengerin sampai selesai mangkanya. Tu mulut ya, gak direm kehabisan minyak rem ya atau sudah putus." ujar Nasy.
"Terus apa dong?" tanya Cika.
"Begini...awalnya kita pergi ke Taman Rekreasi Bukit Jalil, karena Aiman ada kepentingan di hotel untuk mengambil berkas. Kami bertiga gak masuk ke dalam cuma nunggu di dalam mobil daerah parkiran. Gak sampai satu jam, Aiman sudah kembali membawa berkas. Karena lapar ya kami langsung ke sebuah restoran. Karena kami di Taman hanya makan makanan ringan saja. So... Gitu ceritanya."jelas Nasy panjang.
"Ohhhh.... gitu." ucap serentak Cika dan Putri.
"Mangkanya jangan asal nyeblak dulu. Dengerin kelanjutannya, kalau ginikan bisa jadi fitnah kalau sampai kedengaran yang lain."
"Iya maaf." ucap Cika meminta maaf.
"Ya deh iya, maaf. Jadi? tanya Cika.
"Jadi apanya?" Nasy balik tanya.
"Ya...kamu sama bapaknya." ucap Cika.
"Gak ada apa-apanya."
"Masa' sih. Gak ada perasaan apapun gitu." ujar Putri.
"Gak ada. Biasa aja, emangnya kenapa sih?" tanya Nasy pura-pura heran.
"Ya kali...ada Kuch Kuch Hota Hai." ucap Putri.
"Apa tu? Gak jelas banget." ujar Nasy kembali memainkan ponselnya mengabaikan kedua sahabatnya Cika dan Putri.
...🌹🌹---🌹🌹...
Lima hari kemudian, hanya tinggal dua hari lagi. Tugas study tour akan berakhir kembali ke Indonesia. Kunjungan mereka semua mengenai tugas akhir. Hanya tinggal penyusunan dan mempersiapkan data-data untuk seminar yang akan dilaksanakan tiga hari setelah kepulangan ke Indonesia.
Waktu yang tersisa dimanfaatkan oleh Nasy untuk mengerjakan bahan-bahan untuk seminar. Tidak ada panggilan dan ajakan dari Aiman ataupun Syifa dan Syaifa. Sebelumnya Syifa dan Syaifa pernah menghubungi Nasy secara diam-diam tanpa sepengetahuan Aiman. Menghubungi untuk mengajak Nasy ke rumahnya menemaninya bermain yang dibantu oleh Mak Imah.
Flashback On
Keesokan setelah mereka jalan-jalan ke Taman Rekreasi Bukit Jalil waktu itu. Tepat malam hari pukul delapan malam waktu di Malaysia. Syifa dan Syaifa secara diam-diam masuk ke kamar Aiman. Membuka pintu dengan perlahan, terlihat Aiman sudah tidur dengan nyenyak. Bahkan tanpa pergerakan sedikit pun dari Aiman.
Syifa dan Syaifa mengendap-endap perlahan menuju meja kecil disamping ranjang untuk mengambil ponsel Aiman. Alhamdulillah ponsel Aiman tidak terkunci dengan kata sandi memudahkan mereka untuk membukanya. Syifa dan Syaifa menekan tombol kontrak mencari nomor ponsel Nasy. Sekiranya sudah ditemukan, Syaifa mencatat nomor Nasy di telapak tangannya dengan pulpen yang dibawanya.
Setelah sudah mendapatkan yang mereka inginkan, Syifa dan Syaifa meletakkan kembali ponsel Aiman lalu secara perlahan kembali ke kamarnya. Tanpa diketahui oleh mereka berdua, Aiman menyadari akan aksi tingkah laku mereka. Aiman hanya menanggapi dengan tersenyum menggelengkan kepala lalu kembali melanjutkan tidur.
Syifa dan Syaifa kini sudah berada dikamarnya. Syaifa mengambil buku hariannya untuk mencatat kembali nomor ponsel Nasy.
"Nah sekarang kita dah ada number whatsApp kak Nasy. So apa nak kita buat?" ucap Syifa.
"Apa lagi telpon lah, takkan lah kita nak tengok je kan." jawab Syaifa.
"Ye...tahu lah. Masalahnya, nak telpon guna apa? Kita mana ada phone." ucap Syifa.
Syaifa berfikir sejenak dengan telunjuk di dagu.
"Aa... Apa kata kita pinjam phone Mak Imah? Tunjuk number ni lalu mintak mak cakap ke Nasy untuk ajak kak Nasy esok ke sini." saran Syaifa.
"Boleh jugak. Oke... Kita pegi ke bilik Mak Imah sekarang." ucap Syifa.
Syifa dan Syaifa menuju ke kamar Mak Imah yang berada lantai bawah. Didepan pintu, mereka mengetuk secara perlahan. Tidak lama, terdengar suara pintu terbuka. Mak Imah terkejut karena Syifa dan Syaifa jam segini masih belum tidur.
"Eh...korang belum tidur lagi. Sekarang pukul berapa dah, kenapa belum tidur lagi? Kan esok nak masuk sekolah." tanya Mak Imah.
"Tak...kitorang belum mengantuk lagi. Mak Imah....boleh tak tolong?" ujar Syifa.
"Malam-malam ni, tak tolong apa?" tanya Mak Imah.
"Boleh telpon number ni tak?" ucap Syaifa sambil menunjukkan sebuah buku bertuliskan nomor ponsel.
"Eh...number sapa ni?" tanya Mak Imah penasaran.
"Ni number kak Nasy. Boleh tak tolong telponkan. Cakap ke kak Nasy, kitorang nak ajak kak Nasy pegi kesini. Selepas balik sekolah, kitorang nak main dengan kak Nasy." jelas Syaifa.
Mak Imah hanya menggeleng kepala melihat tingkah laku mereka yang sedikit aneh. Mak Imah pun mempersilahkan Syifa dan Syaifa masuk ke dalam kamar. Mengambil ponsel lalu mengetik nomor yang ditunjukkan oleh mereka berdua. Menghubungi Nasy, namun tidak ada sahutan. Mencoba menghubungi sekali lagi, panggilan tersebut dijawab oleh Nasy.
"Hello, Assalamualaikum." ucap Nasy.
"Wa'alaikumussalam. Betul ni Encik Nasy?"
"Betul...Dengan siapa ini?" tanya Nasy lagi.
"Saya Mak Imah, orang gaji Encik Aiman." ucap Mak Imah."
"Ya...ada apa ya Mak? Apa Syifa dan Syaifa baik-baik saja?"
"Eh...dorang oke je. Mak Imah ni cuma nak cakap kalau dorang nak ajak Encik Nasy esok ke rumah selepas balik sekolah. Kata dorang nak ajak main." jelas Mak Imah.
"Bagaimana ya, sepertinya besok saya tidak bisa Mak Imah. Saya sekarang harus mengerjakan tugas-tugas saya karena tinggal 2 hari lagi kami akan kembali ke Indonesia. Dan harus menyiapkan acara seminar. Kemungkinan hari yang tersisa sekarang diperuntukkan untuk mengerjakan tugas saya. Bilang sama mereka dan sampaikan maaf saya untuk mereka. Bukannya saya tidak mau tetapi saya benar-benar tidak bisa. Tolong sampaikan ya Mak Imah dan saya mohon maaf." jelas Nasy.
Panggilan tersebut di lospeaker oleh Mak Imah. Agar pembicaraan mereka dapat didengar oleh Syifa dan Syaifa. Mendengar jawaban dari Nasy, wajah mereka berubah menjadi sedih. Mereka sedih karena mendengar Nasy akan kembali ke Indonesia 2 hari lagi. Selama itu pula, Syifa dan Syaifa tidak dapat bertemu kembali dengan Nasy bahkan selamanya.
Tanpa ada sepatah katapun Syifa keluar dari kamar Mak Imah kemudian disusul oleh Syaifa. Di kamar mereka, Syifa dan Syaifa menangis sesegukan sambil memeluk bantal guling. Mak Imah yang ikut menyusul ke kamar mereka dan terlebih dahulu menutup panggilan telpon juga merasa sedih. Sebegitu sayangnya mereka terhadap Nasy pikir Mak Imah.
Mak Imah yang merasa tidak tega, mencoba menenangkan Syifa dan Syaifa yang menangis sesegukan di ranjang mereka. Bahkan Mak Imah sampai ketiduran di kamar mereka.
"Dah jangan sedih, esok Mak Imah temankan main eh." ujar Mak Imah mengusap kepala mereka yang berbaring di pangkuan.
"Tak nak...korang nak Kak Nasy." ucap Syaifa.
"Ye, kitorang nak Kak Nasy." sambung Syifa.
"Tapi Kak Nasy cakap busy tadi kan?"
"Kak Nasy mesti tipu kitorang." ujar Syaifa.
"Ye...dia kan sayang kitorang. Takkan lah dia nak tinggal kitorang cam tu je. Tadi petang takda pun dia cakap nak balik Indonesia."
"Mungkin mendadak kot. Dah besok kita tanya lagi Kak Nasy atau mintak papa pegi bincang dengan Kak Nasy. Dah jangan nangis, sekarang tidur eh. Mak Imah temankan." ujar Mak Imah.
Mereka berdua akhirnya tertidur setelah menangis sesegukan. Tidak lama Mak Imah pun ikut terlelap menyusul mereka berdua.
Flashback Off
...🌹🌹---🌹🌹...
Keesokan pagi di kediaman Aiman. Tampak semua pembantu tengah menyiapkan sarapan pagi dimeja makan. Aiman yang sudah rapi dengan pakaian kantornya berjalan menuju ke meja makan yang berada di lantai bawah. Menduduki bangkunya, pandangan Aiman menoleh sana sini mencari keberadaan Syifa dan Syaifa.
Biasanya Syifa dan Syaifa sudah berada di meja makan sebelum ia turun. Tetapi sekarang Aiman merasakan sedikit aneh. Mak Imah yang melihat gerak-gerik Aiman sudah mengetahuinya terlebih dahulu.
"Syifa dan Syaifa hari ini bangun lambat, tuan." ujar Mak Imah.
"Kenapa? Dorang sakit ke?" tanya Aiman.
"Tak...cuma ada hal lain yang buat dorang tak sedap hati semalam." ucap Mak Imah gugup.
"Hal yang tak sedap hati? Maksudnya?" tanya Aiman penasaran.
"Cam ni..." jelas Mak Imah.
Mak Imah menceritakan semuanya yang terjadi semalam. Sampai hal mengenai jawaban dari Nasy. Aiman hanya mendengarkan seksama. Sekitar dua menit, Syifa dan Syaifa turun dengan pakaian sekolah yang rapi. Mereka menuju ke meja makan menempati kursi masing-masing.
Aiman memperhatikan wajah mereka yang tertunduk sedih tidak ada semangat dan senyum di wajah mereka. Mak Imah juga ikut memperhatikan sambil menyajikan makanan untuk Syifa dan Syaifa.
"Boleh kalian ceritakan apa yang dah berlaku semalam?" tanya Aiman membuat Syifa dan Syaifa menatap wajah Aiman.
Syifa dan Syaifa saling memandang satu sama lain. Kemudian menoleh menatap ke Mak Imah, Mak Imah mengetahui maksudnya langsung memberikan isyarat menganggukkan kepala ke Syifa dan Syaifa.
"Masih tak nak yang cerita apa yang berlaku?" tanya Aiman ke Syifa dan Syaifa yang masih terdiam.
"Oke... sekarang papa yang tanya. Apa korang sedih sebab Kak Nasy nak balik kampung dia di Indonesia atau sebab Kak Nasy tak dapat pegi ke rumah kita?" tanya Aiman.
Pertanyaan Aiman membuat mereka berdua kembali menatap Aiman.
"Cam mana papa tahu?" tanya Syaifa.
"Mak Imah yang cerita kat papa. Sebab tak biasanya korang lambat turun bawah." jelas Aiman.
"So...yang mana satu?" tanya Aiman lagi.
"Ye...kitorang sedih sebab dua-dua. Kerna kitorang dah sayang kat Kak Nasy sangat-sangat. Kak Nasy pulak sampai hati nak tinggalkan kitorang. Padahal kan petang semalam, di kat masjid kitorang dah cakap mintak Kak Nasy tuk jadi bakal mama kitorang." jelas Syifa membuat Aiman dan Mak Imah terkejut.
"Apa.....? Jadi bakal mama korang?" tanya teriak seorang wanita yang baru tiba. Mereka yang berada di meja makan merasa terkejut melihat seseorang yang datang secara tiba-tiba.
...Bersambung......
thor kemana udah lma banget 😍