Selamat datang dengan pernikahan.
Andira berpikir, bahwa menikah dengan Leo akan bahagia.
Nyatanya setelah menjalani pernikahan bukan bahagia yang Andira dapat, hanyalah siksaan dan siksaan. Andira menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga yang di lakukan oleh suaminya sendiri.
Leo suami Andira adalah pria tempramen dan kasar. Setiap hari Andira selalu mendapatkan siksaan seperti ditampar, di pukul dan dihina dengan kata-kata nyelekit.
Selamat datang air mata rumah tangga yang diberikan, apakah Andira akan bertahan dengan rumah tangganya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Doris ariesta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dilarang Ketemu Orangtua
Andira sangat merindukan Orang tuanya. Andira meminta izin untuk bertemu dengan orangtuanya, namun suami tidak membolehkan dengan alasan bahwa Andira tidak akan kembali, jika sudah berada di rumah orangtuanya sendiri.
Membuat kekuatiran sendiri dalam hidup Leo, takut di tinggalkan kedua kali. Namun Leo tetap tidak tersadar akan kesalahannya, Leo menyiksa dengan menampar Andira ketika perempuan tersebut ngotot untuk melihat kondisi mamanya yang sedang sakit.
Andira sudah memberitahu kepada suami bahwa mama sedang sakit, namun Leo tetap tidak peduli dan meminta kepada Andira jangan memperdulikan Orang tuanya dan kerabat.
"Udah berulang kali aku bilang! Jangan ketemu dengan Orang tua, Kamu! Masih nekat saja mau pergi," ancam Leo dengan suara lantang dan tegas, saat seisi rumah belum bangun.
"Aku hanya ingin melihat bagaimana perkembangan kesehatan Mama, tidak lebih dari itu ...!" kata Andira dengan penuh penekanan kepada suami, supaya mengizinkan untuk pergi.
Leo menghela nafas takut kejadian terulang kembali. Takut istrinya tidak akan kembali lagi ke rumah mereka, jika hal itu terjadi maka Leo akan kehilangan harapan kembali untuk menumpu masa depan bersama Andira.
"Tidak, bisa! Aku bilang tidak bagaimana pun tidak boleh melawan," bentak Leo kepada sang istri, melotot Andira seakan ingin menerkam perempuan itu.
Andira melihat suami menggengam erat tangannya, berusaha untuk meluluhkan hati suami dengan cara memeluk Leo dari belakang dan memeluk pinggang pria itu dengan erat.
"Sayang kamu tahu aku sudah lama tidak bertemu Orang tua? Tolonglah izinkan aku untuk bertemu, anggap saja Orang tuaku seperti Orang tuamu." Andira menangis memeluk pinggang suaminya.
Sebenarnya Leo tidak kuat dengan suara tangisan, suara itu juga sebenarnya membuat hati Leo ingin berubah pikiran, tetapi sikap tempramen sudah menguasai hatinya sampai saat ini.
Leo sikap tempramen adalah bawahan dari masa kecilnya yang kurang menyenangkan dari keluarga. Hingga saat itu emosinya tidak bisa diredam, hingga menjadi suatu kebiasaan saat hatinya sudah sensitif.
"Berjanjilah, bahwa kamu dan anak-anak akan kembali ke rumah ini? Setelah menjenguk Orang tua kamu yang sedang sakit dan jangan tinggalkan suami sendirian, sebab aku tidak suka dengan sendirian," ucap Leo meraih kedua tangan istri lalu memeluk Andira dengan erat.
Leo meradang seakan tidak ingin berpisah dengan wanita yang memeluknya dari belakang tersebut. Kali ini Leo luluh mengizinkan istri untuk bertemu, tapi harus Leo yang mengantarkan pergi.
Sebab Leo tidak percaya jika sopir pribadinya yang akan mengantar istrinya. Leo agak kurang yakin, istrinya pergi untuk menjenguk Orang tuanya. Leo sangat takut istrinya pergi bersama pria lain.
Andira menjawab dengan pasrah, suaminya selalu tak percaya dengannya hendak pergi kemana saja, " Aku hanya pergi ke rumah Orang tuaku, bukan pergi untuk menemui pria lain." Andira tidak suka selalu dicurigai mulu sama suaminya.
"Maaf, aku terlalu curiga. Suami selalu curiga karena sayang," jawab Leo pertama kalinya Leo menurunkan egonya, untuk meminta maaf kepada istri.
Selama perjalanan rumah tangga mereka tak pernah pun Leo meminta maaf, hanya selalu menyiksa Andira. Wanita ini salah sedikit pun tidak bisa karena ada saja celah yang akan diberikan Leo kepadanya.
"Gak apa-apa kamu curiga, mungkin karena itulah bentuk kasih sayang." Andira merasakan, bahwa kecemburuan suami adalah bentuk kasih sayang.
"Baiklah, nanti aku akan balik dari kantor, kita akan pergi bersama ...." Leo pergi ke kantor pada pagi buta sekitar jam 7 pagi.
"Oke, hati-hati di jalan, Sayang. Tolong antarkan nanti siang,"
"Baik, aku akan mengantar siang nanti."
Leo berangkat bekerja dan nanti siang pria ini mengantar istrinya ke rumah sakit, untuk menjenguk Orang tuanya yang sedang terbaring sakit.
Setelah siang hari, pria ini pergi menuju kediaman rumahnya. Di rumah pria ini menghampiri istri yang sedang siap-siap menuju rumah sakit. Mama Andira sudah berpesan kepada anaknya, untuk membawa cucu mereka. Sebab mereka terbalut rindu dengan kedua cucunya.
"Sayang anak-anak ikut? Mengapa mereka bersiap-siap, bukankah? Sudah aku bilang terhadap dirimu, aku tidak mau dirimu membawa anak-anak ke rumah sakit. Mereka ini masih kecil dan rentan akan penyakit membuat aku tidak setuju," lirih Leo kepada sang istri.
"Sayang biarkan aku membawa anak-anak ke rumah sakit, Orang tuaku memohon anak-anak ini untuk dibawa. Mereka rindu dengan anak-anak ini," jawab Andira menoleh ke arah suaminya.
Leo keberatan, tetapi keinginan mertua tidak bisa ditolak dirinya. Kedua putri kembarnya memohon. Akhirnya pria ini setuju untuk membawa kedua anaknya ke rumah sakit.
"Sudahlah bawa saja, aku tidak mungkin melarang," jawab Leo.
Leo akhirnya melepaskan sang putri untuk dibawa ke rumah sakit dan ke empatnya masuk ke dalam mobil. Leo yang akan menyetir ketiganya dan akan membawa mereka ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, ke empatnya masuk melihat mama Andira. Namun ketika pria ini hendak melangkah keluar dan membiarkan istri dan anaknya untuk mengobrol. Namun mertua pria langsung memanggilnya untuk masuk kembali dan mengobrol.
"Nak Leo mau kemana?" tanya ayah Andira ketika Leo hendak membuka pintu.
"Aku mau mencari angin, Ayah." Pria itu menjawabnya.
"Sinilah, Nak. Kita mengobrol, sudah lama kita tidak bertemu dan kamu langsung pergi begitu saja," sahut ayah Andira melihat ke menantunya tersebut.
Leo langsung mengangguk, masuk ke dalam ruangan. Lalu pria itu mengobrol kepada mertuanya tersebut, sebelum berangkat ke rumah sakit. Pria itu sudah menyampaikan terlebih dulu, untuk lebih berhati-hati berbicara kepada mertuanya. Tidak ingin namanya jelek dihadapan mertuanya.
"Mama bagaimana kabarnya? Apakah sudah mengalami penyembuhan?" tanya Andira menyalin tangan kedua Orang tuanya dan di ikuti oleh kedua putrinya.
"Jangan kuatir, mama ini mulai sehat, ehh cucuku. Sudah pada beranjak dewasa sekarang. Nenek rindu sama kalian cucuku serta kakek kangen juga." Mama Andira meminta cucunya untuk mencium dirinya.
Kedua cucunya langsung menjatuhkan pelukan ke tubuh sang nenek, meminta nenek untuk menjaga kesehatan. Mereka tidak ingin neneknya sakit.
"Nenek harus sehat, pokoknya nenek jangan sakit-sakit lagi. Pokoknya kami tidak ingin melihat nenek sakit," ucap sang cucu secara serempak.
Cucunya secara kompak, mencium neneknya secara beriringan. Mereka juga betapa rindu kepada neneknya, sudah hampir satu tahun mereka tidak bertemu dengan nenek mereka.
"Ya, cucuku. Nenek akan sembuh, jangan kuatir sama nenek," jawab nenek menorehkan senyum kepada cucunya.
Kakek juga langsung memeluk kedua cucunya. Mata kakek tampak berkaca-kaca melihat cucunya sudah beranjak remaja dan sebentar lagi akan duduk di bangku sekolah menengah pertama. Bagi kakek mereka tetap bocah kecil.
nggak nanyambung ceritanya