Zara Adhitama, ia dijodohkan dengan seorang pria bernama Regantara Benedict. Seharusnya perjodohan itu dilakukan oleh saudari tiri Zara, yaitu Selene namun Selene menolak keras dengan alasan takut karena Regantara terkenal kejam. Pada akhirnya mau tak mau Zara lah yang dipilih untuk menikahi pria itu.
"Selamat datang, Nyonya Benedict." ucap Regantara saat itu.
Namun ternyata kehidupan baru tidak membuat Zara menjadi sosok yang lemah, saat Regantara pergi meninggalkannya di altar waktu itu dan tak terlihat di kediaman Benedict karena ia pergi melakukan perjalanan bisnis. Zara langsung memanfaatkan waktu kekosongan itu untuk membalas dendam pada Ibu tirinya dan tentu saja saudari tirinya yang tersayang.
Bagaimana kehidupannya Zara setelah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romanova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Di sisi lain, Selene tampak mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga kuku-kukunya yang terpoles cat merah menancap tajam ke telapak tangannya. Rasa panas di dadanya, membakar seluruh sisa kebanggaan yang tadinya ia rasakan.
Gelas berisi champagnebdi genggamannya bahkan bergetar hebat. Matanya menatap tak percaya ke arah kalung berlian zamrud yang kini sudah melingkar indah di leher Zara, perhiasan yang nilainya bahkan sanggup membeli seluruh gaun dan perhiasan yang ia kenakan malam ini sepuluh kali lipat.
"Tidak mungkin..." bisik Selene dengan suara tercekat dan penuh nada ketidakterimaan.
"Mami, itu tidak mungkin! Katanya Regantara tidak peduli pada Zara! Kenapa... kenapa dia malah mengirimkan kalung seharga jutaan dolar itu langsung dari Jenewa?!"
Roselin yang berdiri di sampingnya tak kalah syok, wajahnya yang tadinya dipenuhi senyuman kemenangan kini pucat bagai mayat. Ia menyenggol lengan Selene dengan panik, mencoba menenangkan putrinya agar tidak bertindak gegabah di situasi panas ini.
"Tenang, Selene... tahan dirimu, jangan membuat malu di depan banyak orang." bisik Roselin cepat, matanya melirik ke sekeliling di mana para tamu undangan mulai berbisik-bisik kagum untuk memuji keanggunan Zara.
"Bagaimana aku bisa tenang, Mi?!" geram Selene setengah berbisik, giginya bergelatuk menahan amarah yang kian membuncah.
"Harusnya kalung itu milikku! Harusnya gaun itu, penghormatan itu, dan nama Nyonya Benedict itu milikku! Zara cuma anak sialan yang mengambil posisiku!" geramnya.
Selene melangkah maju dengan emosi menyala-nyala, berniat menghampiri Zara untuk meluapkan kemarahannya secara langsung. Tapi, Roselin dengan cepat menarik lengan Selene.
"Jangan bodoh, Selene!" bisik Roselin tajam di telinga putrinya. "Lihat dua pengawal berjas hitam di samping anak itu! Kalau kamu buat keributan sekarang, Papi bisa mengamuk dan nama Adhitama Corp akan hancur di depan media!" peringatnya.
"Tapi Mami–!"
"Dengarkan Mami." potong Roselin dengan mata berkilat tajam. "Biarkan dia memamerkan kalung itu malam ini, pesta ini baru saja dimulai. Papi sebentar lagi akan naik ke atas panggung untuk mengumumkan bantuan dana besar-besaran kita. Saat Papi mengumumkan bahwa keberhasilan ini adalah murni karena kerja keras keluarga kita, bukan karena bantuan suami Zara saat itulah kita akan jatuhkan martabat anak itu sampai ke dasar!" jelasnya.
Selene menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar. Ia menatap Zara dari kejauhan dengan tatapan membunuh, lalu menyunggingkan senyum culas yang sarat akan dendam kesumat.
"Nikmatilah panggungmu sebentar lagi, Zara," batin Selene penuh kebencian. "Karena sebentar lagi, aku sendiri yang akan menyeretmu turun!"
Di Jenewa, Regantara melihat semuanya dari layar monitor.
Layar berukuran besar di ruang kerjanya itu menampilkan live feed definisi tinggi dari kamera tersembunyi yang terpasang di ballroom Hotel The Elysian Grand.
Pria itu menyandarkan punggungnya di kursi, sambil memperhatikan detik demi detik saat Zara mempermalukan Fransiska dan mengenakan kalung zamrud langka tersebut.
Alaric yang berdiri di samping meja, menatap layar dengan takjub.
"Nyonya Zara bertindak sangat tenang, Tuan. Beliau tidak hanya mematahkan hinaan mereka, tetapi juga membalikkan situasi dengan sangat elegan." ucapnya.
Regantara menyunggingkan senyuman miring, matanya tak pernah lepas dari sosok wanita bergaun hijau zamrud di layar.
"Dia tahu persis bagaimana menggunakan nama Benedict sebagai panggungnya, bukan sekadar untuk berlindung tapi sekaligus menjadikannya sebagai senjata." gumam Regantara.
Pria itu memutar-mutar gelas wiskinya, lalu menatap ekspresi wajah Roselin dan Selene yang merah padam penuh dengan kedengkian di pojok ruangan.
"Tuan." ujar Alaric mengingatkan. "Hendra Adhitama baru saja berjalan menuju panggung utama. Beliau bersiap menyampaikan pidato pengumuman tentang bantuan dana." jelasnya.
Regantara menaruh gelasnya ke meja dengan denting halus. "Nyalakan mik ke pengawal kita di sana, aku ingin mendengar setiap kata yang keluar dari mulut pria tua itu sebelum kita menjatuhkan eksekusinya." perintahnya.
"Baik, Tuan."
Regantara menopang dagunya kembali, lalu menatap layar monitor dengan binar mata predator yang sedang menunggu mangsanya masuk ke dalam perangkap paling akhir.
"Mari kita lihat, seberapa tinggi Hendra Adhitama akan memuji dirinya sendiri malam ini."
.
Hendra berjalan menuju panggung utama dengan senyum lebar yang memancarkan kebanggaan palsu. Suasana ballroom mendadak hening ketika langkah kakinya yang penuh percaya diri mengetuk lantai kayu panggung.
Lampu sorot kini tertuju sepenuhnya pada Hendra. Roselin dan Selene menatap sosoknya dari barisan paling depan dengan dagu terangkat tinggi, dan memamerkan senyum paling angkuh yang mereka miliki.
Di atas panggung, Hendra menggenggam mikrofon dengan erat, ia membusungkan dada di hadapan para pengusaha dan media yang menatapnya.
"Selamat malam, para hadirin yang terhormat." buka Hendra dengan suara tegas yang langsung digaungkan oleh pengeras suara ke seluruh ruangan.
"Malam ini adalah malam yang sangat bersejarah bagi Adhitama Corp, banyak desas-desus di luar sana yang mengatakan bahwa perusahaan kami sedang berada di ujung tanduk."
Hendra tertawa kecil.
"Namun, malam ini saya berdiri di sini untuk membuktikan bahwa Adhitama Corp tidak pernah goyah! Kami baru saja menandatangani kesepakatan restrukturisasi utang dan suntikan dana segar bernilai ratusan miliar dari konsorsium bank dan mitra strategis!"
Tepuk tangan riuh langsung bergema di ballroom. Selene melirik ke arah Zara dengan tatapan penuh kemenangan, yang bahkan sama sekali tidak dipedulikan oleh Zara.
"Keberhasilan ini." Hendra melanjutkan dengan nada emosional yang dibuat-buat. "Adalah bukti nyata dari dedikasi, kerja keras, dan kepemimpinan saya bersama istri tercinta, Roselin, serta putri kami, Selene. Tanpa dukungan dan ketangguhan keluarga inti saya, Adhitama Corporation tidak akan pernah mencapai titik kejayaan ini!"
Hendra sengaja tidak menyebutkan nama Zara sama sekali. Bagi Hendra, Zara hanyalah beban yang kebetulan beruntung.
Para tamu undangan memberi penghormatan atas pengumuman yang disampaikan Hendra.
Di antara riuhnya tepukan tangan, jemari Zara ikut bertepuk secara perlahan.
Prok... prok... prok...
Gerakannya sangat anggun, tapi matanya yang menatap lurus ke panggung sama sekali tidak memancarkan rasa kagum sedikitpun.
Zara menikmati pertunjukan ini.
Ia menikmati bagaimana ayahnya dengan begitu percaya diri menikmati kejayaannya, serta bagaimana ibu dan adik tirinya berdiri angkuh.
"Terbanglah setinggi yang kalian bisa, silakan nikmati kejayaan palsu ini selagi kalian masih bisa bernapas lega."