Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Yang Tersakiti

Istri Yang Tersakiti

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Pelakor / Ibu Mertua Kejam / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:14.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mata Panda

Hampir 3 tahun menikah, Alina yang dulu keguguran tak kembali dikaruniai anak. Dikira menikah dengan pria yang dicintai akan terasa indah, nyatanya ibu mertua dan adik iparnya memperlakukannya dengan buruk. Suatu ketika, ia menyadari perubahan pada diri sang suami, hingga akhirnya Alina menyadari bahwa Gio telah berpaling kala dirinya tengah hamil. Alina pun berusaha mencari tahu soal perselingkuhan suaminya, hingga akhirnya ia malah mendapat celaka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mata Panda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

INI CARAKU MENYAYANGI MEREKA

Cinta seorang ibu akan dilimpahkan lebih banyak ke anaknya. Cinta itu mengalir sejak dalam kandungan. Kebahagiaan berlipat ganda saat mendengar tangisan bayi yang dilahirkan oleh sang ibu dengan taruhan nyawa.

Sang ibu tersenyum, menggenggam erat jemari kecil sang bayi yang kulitnya masih tipis. Maka, semua perhatian dan janji untuk melindunginya terucap dalam hati sang ibu.

Namun, bagaimana jika ia tak bisa menepati janji itu? Alih-alih membuatnya bahagia, ia membuat sang anak menderita dan melihatnya meregang nyawa di depan matanya.

Shinta menyaksikan tubuh sang anak terjun ke jurang. Sebelum meninggal, sang anak nengucapkan kata terakhir yang selalu terngiang-ngiang di telinganya.

"Mama tidak pernah tahu cara membuatku bahagia. Aku menyayangimu Ma...."

Shinta tersentak dengan mata terbelalak. Rupanya, rasa kantuk membuatnya tertidur di kursi kebesaran ruang kerjanya. Pandangan matanya dialihkan pada langit biru sedikit awan di musim kemarau, suasana yang sama saat dirinya kehilangan putrinya.

Di mejanya, terpajang bingkai foto sang putri bersama dengan dirinya. Senyumnya lebar dan manis, membuat hatinya pilu. "Kau terlihat bahagia. Bagaimana mungkin aku tidak tahu cara membuatmu bahagia?" lirihnya.

Bingkai foto diletakkan kembali ke tempatnya sambil menghela napas. Matanya menyendu melirik jendela dengan hampa. "Seandainya kau tidak mati, aku tidak akan kesepian."

Ia tertegun kala pintu diketuk dari luar, lalu ia menyahut. Seseorang masuk ke dalam, ia pun mengubah sikap dengan membolak-balik halaman sebuah berkas.

"Ada apa?" tanyanya tanpa melirik sedikitpun, tapi tahu siapa sosok di depan mejanya.

"Katanya Presdir memanggil saya," jawab Yoshia gugup dan menunduk sesekali.

Oh iya! Shinta langsung tutup dokumen begitu menyadarinya. "Sudah 24 jam, berikan lokasi pantai yang sering dikunjunginya," pintanya, nada ucapannya terkesan angkuh tapi anggun.

"Tidak perlu," sela seseorang tiba-tiba, sambil masuk ke dalam ruangan tanpa permisi.

Shinta dan Yoshia menoleh ke arah itu, tak menyangka Axel yang datang menyerahkan diri. Shinta tersenyum, sementara Yoshia pamit keluar karena sadar diri.

"Duduklah." Tangan Shinta diulurkan, mempersilakan pria itu duduk.

Axel bergeming, ekspresinya dingin menghadapi senyum angkuh Shinta. "Aku tidak mau berbasa-basi, langsung saja kita bicara."

"Oke. Aku akan membahas soal—"

"Aku ingin berhenti jadi artis," tukas Axel, seperti niatnya yang ingin langsung bicara pada intinya.

Alis Shinta naik sebelah. "Apa?"

"Berapapun biayanya, akan aku bayar denda kontraknya," cetusnya cepat

Meski semua bisnis dimaksudkan untuk menghasilkan uang, tapi Shinta menyesali keputusan mendadak ini. Masalahnya, bukan karena uang atau perusahaan akan mengalami kerugian jika artis andalan mereka pergi, tapi bagaimanapun juga ini keputusan yang gegabah bagi masa depan pemuda itu.

"But why? Jelaskan alasannya?" decak Shinta.

Axel juga bingung harus menjelaskan bagaimana, entah penyakit ini ia katakan pada tantenya atau tidak. "Hanya ... aku cuma ingin istirahat. Aku penat menjalani kehidupan keartisan."

Hanya karena itu? Kenapa harus sampai bikin kehebohan dengan kabur dari kegiatan syuting dan bersembunyi di suatu tempat? Mencengangkan! "Maksudmu hiatus? Silakan saja. Soal syuting sinetron aku tidak akan memaksa, peranmu telah digantikan. Terserah mau berapa lama kau beristirahat. Setelah puas, ambil job yang lain," katanya enteng.

"Aku ingin hiatus selamanya," sahut Axel, dan Shinta membeku ketika meraih ponselnya.

Fokus Shinta kembali pada Axel, mengernyit tak percaya pada yang baru saja didengarnya. "Apa?" serunya.

"Apa perlu kuulangi? 'Hiatus se-la-ma-nya'!" Axel menegaskan, dan meyakinkan Shinta dengan ekspresi seriusnya.

Apalagi ini? Shinta menghela napas gusar. Pria itu baru berumur 27 tahun, bisa dibilang masih sangat muda untuk menyianyiakan hidup dan karier cemerlangnya. Tak habis pikir. Apa alasan di balik semua ini?

"Okeeeeee. Coba duduk dulu, ceritakan lebih jelas dari a sampai z," kata Shinta, mulai pening rasanya menangani sikap pria keras kepala ini.

"Tidak ada yang perlu diceritakan. Aku sudah menjelaskan semua maksud kedatanganku ke sini. Sisanya bisa kau diskusikan dengan Yoshia—"

"Diam di sana!" teriak Shinta naik darah. Perlahan, ia menaikkan pandangannya perlahan, menatap nanar hingga Axel nyaris bergidik sekejab. "Seenaknya kamu membuat keputusan? Kamu pikir kontrak kerjasama kita lelucon?"

Jangan heran, bahkan hidup Axel seperti lelucon. Ia tahu, tantenya akan semarah ini karena keputusannya itu. Tapi, ia sudah menelan bulat-bulat konsekuensinya. "Maafkan aku, Tante."

"JANGAN PANGGIL SAYA 'TANTE'!" Shinta menukas seraya mengebrak meja. "Kau sering mengolok-olokku hanya karena aku tantemu! Tapi kau tidak bisa mempermainkan bisnisku seperti ini."

Axel menghela napas panjang. "Aku akan mengganti semua kerugian—"

"INI BUKAN MASALAH UANG!" Sekali lagi Shinta menggebrak meja, tapi lebih keras. "Kau tidak profesional, meninggalkan pekerjaan dan bersembunyi tanpa alasan. Jika kau mau menjelaskan apa yang terjadi, aku akan menoleransinya."

Wanita itu memang tegas dan bertangan besi, tapi Shinta juga wanita berhati rapuh. Setelah kehilangan putri kesayangannya, apa ia bisa tega mengatakan bahwa dirinya juga akan meninggalkannya kurang dari setahun lagi?

"Tante boleh memakiku sepuas hati. Aku tetap pada keputusanku. Tolong biarkan aku menikmati masa mudaku." Hanya itu balasan yang bisa diberikan pada bibinya. "Kalau begitu, saya permisi."

Axel menganggukkan kepala sekejab, lalu melangkah keluar tak peduli seberapa kerasnya Shinta berteriak agar ia tetap berada di ruangan ini. Kemurkaan wanita itu semakin menjadi, sebuah berkas menjadi korban dengan melemparkan ke lantai sampai kertasnya berhamburan.

"Apa sikap kerasku ini salah? Aku melakukan semua ini demi kebaikan mereka. Kenapa mereka tidak mau menurutinya!" gumamnya, nada ucapannya geram tertahan.

...***...

Makan malam sebentar lagi. Vonny dan Grace berkumpul di ruang makan sambil menonton TV di ruang tamu, sementara Alina sibuk di dapur untuk memasak makan malam.

Variety show asal Korea adalah acara favorit ibu dan anak itu. Mereka terpingkal-pingkal menonton aksi Lee Kwang Soo yang kocak. Namun, suara bel mengganggu keasyikan mereka.

Vonny mendecak jengkel. "Grace, buka pintu sana!" perintahnya.

"Nggak ah! Mama aja. Udah pewe ini!" tolak Grace tanpa mengalihkan pandangannya dari TV. "Suruh Alina aja, Ma."

Ide bagus! Vonny langsung melaksanakan saran itu. "Alina! Alina! Buka pintunya sana!"

Ke mana wanita itu? Tidak ada sahutan, bahkan wanita itu tak muncul dari dapur. Vonny pun kesal dan menggerutu. Lalu, berteriak lagi.

"Alina! Budek ya, kamu? Cepat buka pintunya sana!"

Vincent menggeleng ketika melihat kelakuan sang istri sambil menuruni anak tangga satu per satu. Ia pun menimpali dengan dingin. "Kenapa tidak kau saja? Sudah tahu Alina sedang sibuk di dapur."

"Apa sih? Datang-datang langsung bikin hilang mood," rutuk Vonny pelan. "Tidak lihat aku sedang nonton TV? Aku tidak mau ketinggalan sedikit pun setiap adegannya."

"Kau kan bisa menontonnya lewat internet," balas Vincent sambil duduk di sofa tunggal.

Enteng sekali dia bicara? Apa dia tidak peka kalau istrinya sedang lelah untuk melakukan sesuatu? Vonny tak mau berdebat lagi, bisa kalah ia dari Vincent jika mempersoalkan hal sepele. Ia beranjak dari kursi dengan wajah cemberut, sengaja menghentakkan kaki menuju pintu agar sang suami mendengarnya.

Vonny membuka pintu, seorang kurir tersenyum saat itu juga. "Selamat malam, Bu. Saya ingin mengantarkan sebuah paket," kata kurir itu.

Siapa lagi yang belanja online? Perasaan ia sedang puasa belanja selama 2 hari ini. Mungkin milik Grace? "Paket? Untuk siapa?" tanya Vonny.

"Untuk pak Vincent Hartawan," jawab si kurir sambil memberikan sebuah map plastik bening. "Silakan diperiksa dulu, Bu."

Buat suaminya? Dari isinya, sepertinya beberapa berkas penting. Apalagi, terdapat nama pengacara kepercayaan suaminya tertera sebagai nama si pengirim. Mata Vonny terbelalak. Mungkinkah di dalamnya terdapat berkas warisan?

"Bu, bisa tolong tandatangan di sini," panggil si kurir, mengalihkan perhatiannya.

"Oh, iya!" Buru-buru Vonny menandatangani sebuah tanda terima dengan coretan asal. Ia terlalu penasaran dengan isi dokumen itu. Karena kalau dugaannya benar, ia perlu tahu isi warisan itu.

Setelah urusan dengan si kurir selesai, Vonny menutup pintu dengan kakinya tanpa dikunci. Bergegas ia membuka map plastik beningnya, mengeluarkan isinya, lalu membaca berkas-berkas itu satu per satu. Ia berhasil menemukan berkas yang dimaksudnya, matanya dibuka lebar-lebar menyusuri setiap kalimat dengan seksama.

"Sedang apa kau?"

Vonny tersentak mendengar suara Vincent yang datang tanpa disadarinya. Spontan, berkas itu ia sembunyikan di belakang punggungnya. Rona wajahnya berubah pucat, menatap sang suami yang muncul di hadapannya.[]

1
michell
i
fares Faresya
tdk ada cerita bals dendamnya kek deskripsi
fares Faresya
cerita paling gk jelas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!