Sebagai anak dari selir rendahan, Xiu Ying Nona Ke-9 dari Kediaman Utama selalu hidup tertindas, pasrah, dan dianggap sebagai "sampah" oleh ayah serta saudara-saudaranya. Namun, sebuah insiden di kolam teratai mengubah segalanya. Xiu Ying yang terperosok ke dalam air dingin bangkit sebagai sosok yang sama sekali baru: dingin, cerdik, dan tak lagi sudi diinjak-injak.
Guna menyingkirkan Xiu Ying yang mulai sulit dikendalikan dan demi menyelamatkan putri-putri kesayangannya dari pernikahan politik yang merugikan, sang ayah dengan tega menikahkan Xiu Ying dengan Zhen Yu—Pangeran Ke-7 yang dituduh "idiot" dan kerap dijadikan bahan tertawaan di seluruh istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 3
****
Suasana di Aula Utama Kediaman Utama Keluarga Xiu terasa luar biasa tegang. Aroma dupa kayu cendana yang mahal merebak di udara, bersanding dengan ketegangan yang membuat para pelayan dan penjaga berdiri mematung di sepanjang pilar-pilar merah.
Di atas kursi kayu cendana bertatahkan batu giok, duduk Tuan Besar Xiu, Xiu Zhen dengan wajah sekeras batu kapur. Di samping kirinya, Nyonya Besar ibu kandung Xiu Mei memangku putrinya yang terus merintih kesakitan sambil memegangi pergelangan tangannya yang dibebat kain kassa tebal. Nona Keenam, Xiu Lian, berdiri ragu di belakang mereka dengan wajah cemas.
"Ayah! Anda harus menghukum si jalang kecil itu!" tangis Nyonya Besar memecah keheningan, matanya menyalang penuh kebencian. "Lihat apa yang dia lakukan pada Mei-er! Tangannya memar dan engselnya hampir bergeser! Dia tidak hanya tidak menghormati kakaknya, tapi sudah bertindak seperti iblis liar!"
"Benar, Ayah!" sela Xiu Mei dengan suara serak menahan sakit. "Xiu Ying sudah gila! Dia sengaja memuntir tanganku dan bahkan mengancam akan membunuhku! Dia menuduhku mendorongnya ke kolam, padahal dia sendiri yang terpleset karena bodoh!"
Tuan Besar Xiu mengelus janggut panjangnya, matanya menatap tajam ke arah pintu masuk aula. "Diamlah. Kita dengar apa yang akan dikatakan oleh anak itu."
Tak lama kemudian, langkah kaki yang teratur dan tenang terdengar mengetuk lantai batu marmer. Xiu Ying melangkah masuk.
Meskipun ia hanya mengenakan gaun kain kasar berwarna abu-abu pudar yang melambangkan statusnya sebagai putri buangan, cara berjalannya begitu anggun, tegak, dan penuh aura kepemimpinan. Di belakangnya, Susu berjalan dengan kepala tertunduk dan tubuh yang gemetaran hebat.
Xiu Ying berhenti tepat di tengah-tengah aula. Ia tidak berlutut seperti biasanya, melainkan hanya membungkukkan badannya sedikit dengan gestur penghormatan yang sangat minim.
"Xiu Ying memberi salam kepada Ayah," ucapnya datar, suaranya jernih dan tenang tanpa ada nada ketakutan sedikit pun.
"Kurang ajar!" bentak Nyonya Besar sambil menggebrak meja. "Lihat kelakuannya, Suami! Dia bahkan tidak berlutut di hadapanmu! Di mana tata kramamu, Xiu Ying?!"
Xiu Ying perlahan menegakkan tubuhnya, menatap Nyonya Besar dengan pandangan dingin. "Nyonya Besar berbicara tentang tata krama? Bukankah tata krama Keluarga Xiu mengajarkan bahwa seseorang harus berlutut hanya kepada mereka yang menegakkan keadilan dan kebenaran?"
"Kau—!" Nyonya Besar kehabisan kata-kata, wajahnya memerah padam.
Tuan Besar Xiu menghentakkan tongkat kayunya ke lantai. TAK!
"Cukup!" bentak Tuan Besar Xiu. Matanya yang tajam menatap Xiu Ying dalam-dalam, mencoba mencari sisa-sisa raut wajah putri penakut yang dulu selalu menunduk di hadapannya. Namun, yang ia temukan hanyalah sepasang mata kelam yang tak terduga kedalamannya.
"Xiu Ying," suara Tuan Besar Xiu terdengar berat dan menekan. "Kakak Ketigamu mendatangi Halaman Barat untuk menjengukmu yang baru sembuh dari sakit. Namun kau justru melukainya dan mengancam jiwanya. Apakah kau tahu apa hukuman di kediaman ini untuk putri yang memukul saudaranya sendiri?"
Xiu Ying tersenyum tipis sebuah senyuman sinis yang membuat Tuan Besar Xiu menyipitkan matanya.
"Menjenguk?" Xiu Ying terkekeh pelan, tawa yang terdengar mengejek di tengah aula yang sepi. "Ayah, apakah 'menjenguk' dalam kamus Keluarga Xiu diartikan sebagai mendobrak pintu kamar hingga hancur, melontarkan hinaan, dan melayangkan tamparan keras kepada pelayan pribadiku?"
"Kau bohong! Kami hanya ingin melihat keadaanmu!" potong Xiu Lian cepat.
"Diam, Xiu Lian!" tembak Xiu Ying tajam, membuat Nona Keenam itu tersentak mundur.
Xiu Ying kembali menatap sang ayah. "Ayah, mari kita bicara jujur. Kakak Ketiga tidak datang untuk menjengukku. Dia datang untuk memastikan apakah 'tikus' yang dia dorong ke dalam kolam teratai dua hari lalu sudah benar-benar menjadi mayat atau belum."
"Tutup mulutmu! Aku tidak pernah mendorongmu!" teriak Xiu Mei histeris.
"Benarkah?" Xiu Ying melangkah satu garis maju, auranya mendominasi seluruh ruangan. "Dua hari lalu, angin berembus sangat dingin dan es mulai melapisi permukaan kolam. Kakak Ketiga dan Kakak Keenam mengajakku ke tepi kolam dengan dalih menikmati pemandangan. Lalu, sebuah dorongan kuat menghantam punggungku dari belakang."
Xiu Ying mengedarkan pandangannya ke arah para penjaga dan pelayan yang berdiri di aula.
"Saat aku tenggelam dan paru-paruku dipenuhi air es, aku mendengar suara tawa Kakak Ketiga. Dia melarang semua orang untuk menolongku. Jika bukan karena Susu yang memohon bantuan pada kasim dapur, hari ini Ayah tidak sedang mengadili kasus pemukulan, melainkan sedang menutupi kasus pembunuhan di dalam kediaman ini!"
"Bual! Itu semua bualan!" seru Nyonya Besar panik. "Suami, jangan dengarkan fitnah dari anak selir ini! Dia hanya mencari alasan untuk menutupi kejahatannya!"
Tuan Besar Xiu mengangkat tangannya, menghentikan Nyonya Besar. Wajahnya semakin kelam. "Xiu Ying, kau tidak memiliki bukti atas tuduhan pembunuhan ini. Tapi memar di tangan Kakakmu adalah bukti nyata bahwa kau bertindak kasar."
"Bukti?" Xiu Ying tertawa dingin. "Ayah menginginkan bukti? Saksi matanya adalah Susu dan beberapa pelayan yang berada di taman hari itu. Tapi aku tahu, bagi Ayah, suara seorang pelayan tidak ada artinya dibandingkan suara putri dari istri sah."
Xiu Ying jeda sejenak, merapikan lengan bajunya dengan tenang sebelum melanjutkan dengan nada suara yang perlahan melambat, namun setiap katanya sarat akan ancaman yang mematikan.
"Namun, Ayah... bagaimana jika rumor ini keluar dari dinding Kediaman Xiu?"
Atmosfer di aula seketika membeku. Tuan Besar Xiu mendongak tajam. "Apa maksudmu?"
"Bagaimana jika..." Xiu Ying menatap ayahnya tanpa kedip, "masyarakat ibu kota dan para pejabat di Istana Kerajaan mendengar bahwa putri dari Pejabat Xiu tega membunuh adik kandungnya sendiri demi kesenangan? Bagaimana jika berita ini sampai ke telinga Dewan Kekaisaran, bahwa Kediaman Xiu dipenuhi oleh putri-putri bertangan dingin yang tak berkemanusiaan? Apakah reputasi Ayah yang sangat Ayah banggakan itu sanggup menahan kekacauan seperti ini?"
"Kau... kau berani mengancam Ayahmu sendiri?!" Tuan Besar Xiu berdiri dari kursinya, tubuhnya gemetar menahan amarah yang membumbung tinggi.
"Aku tidak mengancam, Ayah. Aku hanya mengingatkan," balas Xiu Ying tenang. "Seorang putri yang hampir mati sekali, tidak akan takut untuk mati dua kali. Jika Ayah ingin menghukumku hari ini atas pergelangan tangan Kakak Ketiga yang terkilir, silakan. Tapi pastikan Ayah membunuhku detik ini juga. Karena jika aku melangkah keluar dari aula ini dalam keadaan hidup, esok pagi seluruh ibu kota akan tahu kebusukan yang terjadi di Halaman Barat."
Susu yang berdiri di belakang Xiu Ying menahan napasnya, hampir pingsan karena ketakutan. Belum pernah ada seorang pun di kediaman ini yang berani menggertak Tuan Besar Xiu secara terbuka dan terang-terangan seperti ini.
Nyonya Besar dan Xiu Mei menatap Xiu Ying dengan mata terbelalak penuh horor. Mereka baru menyadari bahwa gadis di hadapan mereka bukan lagi Xiu Ying yang lemah dan pasrah, melainkan sosok berbahaya yang siap menghancurkan seluruh kediaman jika dirinya diusik.
Tuan Besar Xiu mengepalkan tangannya rapat-rapat. Kemarahannya berada di puncak, namun otak politiknya yang licik bekerja cepat.
(Bersambung)