Kisah klasik anak SMA yang diwarnai dengan kekonyolan dan keblingeran seorang Nora Kumara yang dunianya menjadi terguling-guling karena bertemu dengan seorang pemuda bernama Fattan, pemuda yang cuek tapi pinternya minta ampun. Impiannya tentang masa muda yang sangat mengasyikan luntur akibat celetukan sang bapak yang bilang kalau Nora sebenernya udah dijodohin sama orang, yang ternyata saudara kembar si Fattan namanya Fattar padahal Nora sendiri udah punya gebetan namanya Faisal, temen sekelasnya.
Dan sepertinya Nora makin kesini makin kesana. Dia cenat-cenut saat tidak bisa membedakan mana Fattan dan mana yang Fattar, yang keduanya secara fisik plek ketiplek sama, tapi secara sikap dan kepribadian yang beda jauh. Akankah Nora keukeuh dengan pendiriannya kalau nggak mau dijodohin? atau dia akhirnya pasrah dengan pilihan bapaknya yang terikat janji dengan sahabatnya waktu SMA? we will see...
Novel ini bukan novel yang bisa bikin haerudang, jadi jangan sampai salah jurusan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reina aka dian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi Dengan Fattan?
Paginya saat aku udang nyangklong tas di punggung dan berniat mau sarapan dulu gitu sama bapak dan ibuk yang masih stay di meja makan kami, mereka masih santay ngeteh dulu pagi-pagi. Baru juga mau narik kursi, tiba-tiba aja ibu bilang gini, "Udah ada Fattan di luar, baru aja ibu mau panggil kamu,"
"Sepagi ini?" aku liat jam di dinding masih jam 6 lebih 15 menit.
"Ya, kan kemarin tante Alya udah bilang kan kalau Fattan yang akan jemput kamu biar bareng ke sekolah,"
"Lah terus Indiii???"
"Indi biar bapak yang nganterin!" serobot ibu.
"Oh ya bawa ini, buat kalian sarapan, kamu belum makan kan? tadi ibu sempet nawarin Fattan buat sarapan bareng, tapi dia bilangnya takut telat masuk. Jadi mending kamu sekarang samperin Fattan, dia ada diteras depan!" perintrah ibu yang nggak mungkin aku tolak.
"Paaaak...?" aku memelas sama bapak.
"Sini kuncinya," bapak bukannya nolongin malah minta kunci motorku yang udah aku pegang daritadi.
"Nanti ilang repot! kunci duplikatnya udah ilang soalnya, tauk nyelip dimana?!" lanjut bapak.
Ya bener juga sih, akhirnya ya aku cuma bisa pasrah menghadapi fattan yang jutek parah nggak ada senyum-senyumnya. Udah satu sama dia aja bikin aku gedeg perkara pelit banget mau ikutan liat tugas juga. Sekarang pagi-pagi harus ketemu dia.
Tapi tunggu, semalem Fattan kan ada ramah-ramahnya, mungkin sekarang dia udah insaf. Oke lah, boleh dicoba. Dicoba berangkat bareng maksudnya.
"Ya udah, Nora berangkat dulu," Aku salim sama ibu dan bapak.
"Jangan lupa nanti sore bapak siaran, kamu harus stay tune!"
"Ya, Paaak! kalau Nora dah selesai latian!" kata ku.
Sebelum bapak atau ibu mengeluarkan perintah larangannya, buru-buru aku teriak, "Assalamualaikum," lalu ngibrit ke luar.
Di luar aku nyapa Fattan duluan, "Sorry bikin kamu nunggu lama!"
"Nggak apa-apa, let's go?!" kata Fattan. Dia nyuruh aku buat ngikutii dia masuk ke dalam mobil.
"Anehhhhhh?!!" aku ngerasa kalau Fattan yang hari ini sungguh bukan Fattan yang biasanya.
Sampai di dalem mobil, aku mandengin tuh orang dia gerakin jari-jarinya mengikuti alunan musik yang lumayan nge-beat. Ini kalau bapak yang di dalem mobil ini, udah hobah terus kali daritadi.
"Kenapa? Musiknya terlalu kenceng ya? kamu masih pusing?" tangan Fattan mencet tombol di layar touch screennya.
Aku cuma ngangguk-ngangguk aja, "Iya,"
Fattan ganti lagu jaz uang bikin aku kreyep-kreyep pagi-pagi kayak gini.
"Sorry, kayak kamu lagi sakit deh..." aku nggak kuat kalau nggak ngomenin kelakuannya Fattan.
"Sakit?" Fattan muterin bola matanya, "Nggak deh, aku sehat-sehat aja kok!" ucapnya lagi.
Sedangkan aku udah pikirannya kemana-mana, apakah Fattam berubah ada udang dibalik bakwan?
Kenapa Fattan yang sombong, songing, judes bisa seramah ini. Aku yakin ini ada apa-apanya, nggak mungkin kan seseorang bisa berubah 180 derajat dalam waktu semalam kecuali dia orang yang berbeda.
'Orang yang berbeda?!' alisku naik ke atas.
'Jangan-jangan yang lagi sama aku ini bukan Fattan yang asli? tapi Fattar? Fattar yang mau dijodohin sama aku? tapi Fattar yang dikenalin tante Alya itu sikap dan perilakunya kayak Fattan yang aku kenal di sekolah. Jadi yang mana yang Fattan, dan mana yang Fattar? kok aku tambah liyeur yah? astagaa, kepalaku mumet!' aku ga sadar kalau daritadi aku malah ngelamun sampai akhirnya suara Fattan ngebuyarin apa yang lagi aku pikirin.
"Nora? heeeeeyy?" Fattan melambaikan tangan di depan muka ku yang lagi epic banget, melongo!
"Eh, ya? musiknya bikin ngantuk?!" aku alesan.
"Udah nyampe, kamu mau disini sampai kapan?"
Seketika aku batu nyadar kalau kita udah di sekolahan.
Fattan mau keluar tapi aku tahan, "Sorry, tapi ini dari bekal dari ibu buat kamu,"
Aku sodorin Fattan kotak makan warna pink. Ada dua kotak dan dua-duanya warnanya sama.
"Aku ada roti,"
"Makan aja, nggak baik nolak rezeki!" kataku. Dengan dua teh yang berbentuk kotak rasa apel. Aku kasih dia satu.
Nggak disangka Fattan nerima itu, "Thanks!"
Aku cuma kedap-kedip sedangkan kepalaku makin liyeur, mikirin yang mana Fattan dan mana yang Fattar.
Tapi berhubung perutku udah laper dan masih ada 20 menit menuju bel dibunyiin, jadi mending aku gunain buat makan bekal yang udah disiapin ibu.
"Nasi goreng,"
"Iya, emangnya kenapa?" aku agak naikin satu alis, mencoba menerka si cowok ini mau komen apalagi.
"Pakai telur setengah mateng yang melted kayak gini," gumam Fattan.
"Ehmmm, enak!" Fattan keliatan menikmati banget sarapannya.
Syukur deh kalau sesuai sama seleranya dia. Kalau aku emang doyan banget masakan ibu. Semua makanan yang dibikin ibu nggak pernah gagal di lidah, makanya bapak berusaha buat olahraga terus. Bahkan dia harus nge-gym kalau nggak pengen perutnya buncit.
Nggak mau ketinggalan sama Fattan, aku juga makan nasi goreng yang dikasih potongan tomun juga di atasnya, sama telur mata sapi punya ku juga melted dan meluber saat dipecah, beuuh kenikmatan yang haqiqi.
Selesai makan, Fattan minum teh rasa apel yang tadi udah aku kasih. Emang ibuku kalau bikinin bekal, pasti teliti banget. Kayak nasi goreng tadi, sempet-sempetnya dikasih acar timun sama kerupuk.
"Sini tempatnya!" aku ngambil kotal makanan yang udah kosong.
"Kalau ilang, ibu bisa merepet dari pagi sampai pagi lagi," lanjutku.
"Ooh, kalau kamu udah selesai kita masuk sekarang..." kata Fattan.
Oke oke, sampai detik ini Fattan masih menjadi Fattan yang aneh, yang nggak jutel seperti Fattan yang kemarin.
Aku buka pintu mobil dan bebetapa pasang mata melirik ke arah kita. Ada yang bisik-bisik, ada yang ngiler liat wajah ganteng orang yang lagi jalan sama aku, ada yang nyinyir, dan masih banyak lagi.
"Noraaaaaa!" teriak Faisal, gebetanku.
"Eh, Sal?! baru dateng?" aku nyengir saat Faisal menghampiri kami.
"Fattan?" Faisal basa basi. Sedangkan Fattan cuma senyum seadanya.
"Nora kok kamu udah disini aja, betewe aku nggak liat motor kamu loh di parkiran?"
"Iya aku nggak naik motor!"
"Ngojek?"
"Mending kita ke kelas, Sal. Aku ada yang belum selese nih tugas bahasa Ingrrisnyaaa," aku gandeng Faisal menjauh dari Fattan.
Sampai akhirnya aku ngeliat Ranna duduk di kurai yang biasa aku duduki.
"Pindah, Ran!" aku taruh tasku di meja dan ngusir tuh bocah yang katanya emak sama bapaknya tajir melintir 7 turunan nggak akan abis-abis.
Brakkkk!
"Rann, jangan kasar!" Faisal ngambil tasku dan bersihin.
"Faisal jangan ikut-ikutan deh! ini urusan cewek. Kemarin aku udah ya duduk di pojokan sendirian, sekarang giliran si Norak dong yang duduk disana!" Ranna nunjukin meja di pojokan.
"Sarap?!" aku pindahin tas ke meja yang ada di pojok sebelah jendela.
"Ra..." Faisal ngikutin aku.
"Udah nggak apa-apa, mendingan juga disini legaaaaa..." kataku yang masukin tas ke dalam laci.
🤸🤸🤣