Indonesia
NovelToon NovelToon
Ujung Ukur

Ujung Ukur

Status: tamat
Genre:Teen School/College / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Keluarga & Kasih Sayang / Tamat
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: Reinsky4

Ujung Ukur itu jarak yang jauh dan mustahil untuk di tempuh atau di raih.

Hidup Alisha tidak sekejam itu, tetapi rasanya menyedihkan. Mulai dari ayahnya yang sering memukuli ibunya. Kematian sang Ibu yang sudah tidak sanggup hidup. Perekonomian yang sulit hingga berujung perundungan.

Semua itu membuatnya trauma dengan laki-laki. Ia hanya ingin bekerja keras sendirian tanpa bantuan siapapun.

Namun, perasaannya mulai tumbuh untuk seorang Pangeran berkuda putih yang selalu menyelamatkannya. Arazka.

Merasa hidupnya menyedihkan, Alisha hanya bisa mencintai secara diam-diam.

Terlalu jauh untuk di raih.
Aku tanpa sadar berlari jauh meraihmu.
Namun, ternyata semua itu mustahil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reinsky4, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aku suka kamu!

Suasana hati Alisha kembali menjadi baik hari ini, dia langsung turun ke bawah setelah terbangun dan bersiap-siap. Tapi, ada yang aneh? Kenapa Andi tidak membangunkannya seperti biasa? Sebenarnya ada apa dengan adiknya itu?

Mencoba untuk tidak memikirkan perbuah sikap Andi, Alisha langsung berjalan ke arah dapur untuk membuatkan sarapan seperti biasanya. Semalam dia tidur agak larut, karena sibuk melukis untuk menyalurkan perasaannya.

Dengan melompat-lompat girang, Alisha mulai menyiapkan bahan-bahan yang akan dia gunakan untuk memasak.

"Astaghfirullah, kamu kenapa muncul tiba-tiba gitu sih?" teriak Alisha kaget, ketika berbalik dan menemukan sosok Andi yang kini menatapnya datar.

Andi tidak membalas perkataan kakaknya itu. "Aku pergi dulu!" ucapnya kemudian berlalu pergi begitu saja.

Alisha tercengang di tempatnya, tidak biasanya Andi begini. Pasti dia sudah melakukan sebuah kesalahan hingga Andi bersikap seperti ini kepadanya.

Alisha memegang erat spatula di tangannya. "Kamu kenapa sih, Andi? Jangan buat Kakak makin sakit dong!" ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Kesenangan yang tadi dia rasakan kembali lenyap seketika melihat perubahan sikap Andi. Dia yang tadinya bersemangat untuk memasak, kini malah mematikan kompornya dan menyimpan spatulanya kembali.

Sama seperti adiknya, Alisha langsung pergi ke sekolah tanpa sarapan terlebih dahulu. Jika adiknya saja tidak sarapan, kenapa Alisha harus sarapan? Dia tidak akan membiarkan adiknya itu kelaparan sendirian.

Seperti biasa, Alisha berjalan ke depan komplek untuk menghentikan kendaraan umum, karena dia tidak mungkin ke sekolah dengan berjalan kaki.

Alisha mengayunkan sebelah kakinya sambil sesekali mendengus pelan. Entah kenapa dia merasa hidupnya terlalu kejam, tidak ingin mengeluh tapi tidak bisa.

"Kalau begini terus gimana aku bisa bertahan, Bunda?" lirihnya menatap sepatunya yang merupakan hadiah pemberian dari ibunya.

Alisha menghembuskan napasnya kasar. Sangat terlihat sekali, kalau dia benar-benar stres dan memiliki banyak beban pikiran.

"Kalau Andi aja gak mau ngomong sama aku, gimana aku bisa bertahan? Satu-satunya orang yang sayang sama aku di dunia ini cuman Andi aja, tapi sekarang dia malah menjauh." tanpa sadar setetes air matanya terjatuh begitu saja, Alisha segera menghapusnya dan kebetulan juga kendaraan umum yang di tunggunya datang. Alisha segera menaiki kendaraan umum itu dan pergi menuju sekolah dengan topeng palsunya.

...√^^√...

"Apa? Aku jaga gerbang dan ngehukum siapa aja yang telat?" tanya Alisha tidak percaya. Dia baru saja datang ke sekolah dan sudah di beri sebuah tugas untuk menjaga gerbang.

Azka mengangguk. "Tenang aja, aku sama Sherina bakal nemenin dan ngajarin kamu kok."

"I-iya,"

Sebenarnya Alisha tidak masalah dengan tugasnya, tapi dia takut jika harus berurusan dengan murid berandalan.

"Gak akan kenapa-napa, kan?" gumamnya bertanya kepada diri sendiri.

"Gak akan kenapa-napa, kita bakal jagain kamu." ucap Azka yang memang mendengar gumaman kecil Alisha.

Tersentak, Alisha langsung mengangguk malu. Kenapa Azka harus mendengarnya sih.

"Ayok, Sherina udah nungguin di gerbang." ajak Azka kepada Alisha yang sedari tadi diam.

"Eh, i-iya," mau tidak mau Alisha mengikuti langkah Azka di depannya. Tidak apa, selama Azka berada di dekatnya Alisha akan aman bukan? Tapi, masalahnya Azka tidak menganggapnya siapa-siapa selain Adek kelas.

Tatapannya yang sedari tadi menunduk, kini mulai terangkat untuk menatap punggung Azka yang berada jauh di depannya.

"Hm, kamu emang selalu berada jauh di depan, sedangkan aku selalu berada di belakang. Kita emang gak cocok," Alisha tersenyum miris.

Namun, tanpa di sangka Azka malah menghentikan langkahnya dan berbalik lalu menghampiri Alisha yang malah terdiam. "Maaf, ya, aku jalannya kecepatan makanya kamu ketinggalan." ucapnya sembari tersenyum.

Alisha langsung tertegun seketika. Inilah kenapa dia bisa jatuh cinta kepada Azka, karena Azka itu berbeda?

"Sekarang kita jalannya sama-sama, biar gak ada yang ketinggalan, ayok!" Azka memegang sikit Alisha dan berjalan bersama.

Alisha masih saja terdiam karena terkejut, matanya melirik sikutnya kemudian wajah Azka secara bergantian. Tanpa sadar, dia mulai mengikuti langkah Azka dan mereka berjalan bersama.

Setelah di rasa Alisha sudah mau berjalan di sampingnya, Azka langsung melepas pegangannya pada sikut Alisha dan kembali berjalan dengan tenang. Tapi, tidak untuk Alisha yang sudah berteriak bahagia dalam hati sekarang.

"Kamu sakit? Muka kamu pucat banget," Azka menyentuh dahi Sherina, begitu mereka sampai di gerbang membuat Alisha rasanya ingin menghilang sekarang juga.

Kalian tau rasanya terbang ke atas langit, lalu di hempaskan ke tanah begitu saja. Nah, perasaan itu yang sedang Alisha rasakan saat ini.

Mencoba untuk tidak perduli dengan dua orang insan yang terlihat romantis itu, Alisha mencoba untuk melakukan tugas pertamanya sebagai anggota OSIS, yaitu menjaga gerbang untuk mengawasi murid yang datang terlambat dan menghukumnya.

Karena sekolahnya ini sangat disiplin, tidak ada seorang pun yang datang terlambat hari ini membuat Alisha lelah berdiri terus. Di tambah lagi, dia harus melihat kedekatan antara Azka dan Sherina.

Oh lihatlah sekarang, Azka sedang menghalangi cahaya matahari yang menerpa Sherina dengan tubuhnya. Berbeda dengan keadaan Alisha saat ini, kakinya terasa pegal belum lagi cahaya matahari yang menyilaukan dan panas.

"Kamu beneran gak pa-pa, kan?" lagi-lagi Azka bertanya lembut kepada Sherina yang makin terlihat pucat saja.

"Aku gak pa-pa, kok." begitulah wanita, selalu menyebutkan dirinya baik-baik saja padahal kenyataannya tidak.

"Aku juga baik-baik aja, kok." lirih Alisha pada dirinya sendiri. Matanya kini menatap satu mangsa yang sudah dia tunggu sedari tadi.

"Akhirnya ada juga yang telat," gumam Alisha senang. "Woy, sini lo!" teriaknya pada Siswa yang datang terlambat hari ini.

Alisha menelisik penampilan Siswa itu, jauh dari kata rapi. Seragam yang tidak di masukkan ke dalam celana, kancingnya terbuka dan menampilkan sebuah kaos, dasi yang di lilitkan di leher, rambutnya yang acak-acakan dan jangan lupakan juga tampilan wajahnya yang terlihat sangar.

Azka menghampiri Siswa itu yang ternyata bernama Reno untuk memberinya hukuman, sedangkan Sherina mencatat namanya. Lalu, Alisha? Dia hanya diam saja, menonton semua yang terjadi. Ah, tidak dia bertugas untuk memanggil siswa itu.

"Lo telat, jadi lo di hukum." ucap Azka tegas, kali ini tidak ada kelembutan lagi.

Alisha benar-benar terpana melihat sosok seorang Azka, tapi sayangnya Azka terlalu jauh untuk dia raih.

"Ck, banyak bacot lo. Jangan karena lo ketua OSIS, lo bisa hukum gue seenaknya, anj**!"

"Hukuman lo di tambah, karena bicara kasar. Sherina catat itu!" ucap Azka tidak memperdulikan tatapan marah Reno.

"Hukuman lo--Sherina ..." Azka langsung berlari, menghampiri Sherina yang hendak ambruk ke tanah. Dia langsung menggendongnya ala bridal style.

"Lisha, kamu awasin dia bentar ya! Aku pasti ke sini lagi, kalau dia macem-macem lapor aja ke Guru!" ucap Azka sebelum benar-benar pergi meninggalkan Alisha.

"Sialan, berani-beraninya dia nyentuh Sherina." Reno hendak menyusul Azka. Dapat Alisha tebak kalau Reno juga menyukai Sherina, itu terlihat jelas dia kedua matanya.

"Jangan pergi!" Alisha segera menahan lengan Reno yang akan pergi menyusul Azka dan juga Sherina.

Alisha tidak akan membiarkannya menganggu waktu berdua antara Azka dan Sherina. Alisha tidak akan membiarkan Reno merusak dan merebut kebahagiaan Azka. Dia akan berkorban lagi sekarang.

"Apaan sih lo! Kenapa larang-larang gue?" tanya Reno sembari mencoba melepas cekalan tangan Alisha.

Alisha terdiam sejenak, pikirannya bertanya 'Kenapa kamu melakukan semua ini demi Azka? Kenapa?'

"Karena, aku suka kamu!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!