Harus menikahi pria cacat kaki yang selama ini aku benci, tidak ada pilihan lain yang pada akhirnya membuatku menjadi seorang istri dari pria cacat itu.
hubunganku dengan dia sama sekali tak pernah baik, aku membencinya karena apa yang terjadi pada kami di masa lalu. Pria itu adalah bintang kesialan bagiku, aku benar-benar membencinya hingga pernikahan yang di digambarkan begitu indah dalam cerita novel dan drama, justru begitu membuatku merasa seperti neraka yang tak ada habisnya.
Bagaimana akhir cerita rumah tanggaku ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadira Dewy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10
Di kampus.
"Velerie, kau benar-benar ingin mengindari ku begini? Ayolah, tidak mungkin Ibu mertua mu akan masuk ke kampus dan mengambil gambar kita berdua lagi kan?"Yahya Benjamien yang sejak tadi terus berusaha untuk mendekati Velerie yang juga terus mencoba untuk menghindarinya.
Velerie menatap Benjamien dengan tatapan sebal, "Lebih baik kita jaga jarak saja, Benjamien. Kau tidak mau dalam masalah karena aku kan? Ibu mertuaku itu terlihat nekad dan masa bodoh, dia juga memiliki banyak uang jadi bukan tidak mungkin dia akan melakukan sesuatu yang tidak baik pada mu kan?"
Benjamien tersenyum, sungguh jika itu terjadi maka dia akan merasa sulit tapi, untuk urusan Velerie dia hanya akan mengesampingkan semua itu.
"Erie, manusia boleh bertindak sembarangan sesuka hati tapi, orag pintar jelas tidak akan melakukan sesuatu untuk hal yang tidak akan membawa keberuntungan. Aku bukanya tidak takut dengan Ibu mertua mu, tapi aku lebih takut kalau kita akan jadi orang asing karena hal itu."
Jolie tak ingin ikut bicara, namun kali ini dia cukup paham bahwa Benjamin akan mendapatkan resiko dari apa yang dilakukan nanti, begitu juga dengan Velerie.
Entah akan sebesar apa efeknya mengingat keluarga Rodez memiliki uang, strata sosial yang tinggi, dan mereka juga memiliki koneksi di manca negara.
"Tapi akan lebih baik kalau kita memang menjaga jarak karena resikonya pasti bukan hanya untuk mu saja, tapi bisa jadi kepada keluargamu juga. Aku mengatakan ini karena aku benar-benar menyayangi mu jadi tolong mengertilah, Benjamien...." Ucap Velerie, kini dia kembali menatap Benjamien dengan tatapan memohon dan melas berharap Benjamien akan mendengarkannya demi keselamatan bersama.
Jujur saja Benjamien tidak tega saay melihat Velerie menyapanya dengan tatapan seperti itu, tapi sungguh dia tidak ingin memiliki jarak dengan Velerie.
Bukan hanya karena rasa cintanya yang masih begitu penuh dihatinya, tali Benjamien benar-benar paham bagaimana sulitnya Velerie menjalani hari-hari sebagai seorang istri dari pria cacat yang bahkan tidak bisa melakukan apapun, belum lagi Ibu mertuanya yang begitu banyak menuntut dan meminta Velerie seolah agar Velerie mendewakan suaminya yang bahkan tidak pantas untuk posisi itu.
Benjamien akan tetap berada di sekitar Velerie dan berusaha sebaik mungkin agar Velerie nyaman dan perlahan kembali menjalin hubungan meski memang akan diam-diam.
"Saranku, lebih baik kalian dekat saja sebagai teman. Bagaimanapun kita juga harus menghargai status Velerie sebagai istri seseorang kan? Entah pria itu cacat atau apapun, jangan membuat posisi mu dalam keadaan tidak baik, Benjamien. Aku mengatakan ini bukan karena ingin membela suami dan juga Ibu mertuanya Velerie, tapi aku mengatakan ini karena jika kau terus mencoba untuk dekat, maka masalahnya bukan hanya akan menjadi milik Velerie saja. Jangan egois aku mohon, oke?" Ucap Jolie yang sebenarnya tidak ingin ikut campur tapi, melihat Benjamien yang masih ingin beris keras, Jolie merasa harus bertindak agar Benjamien dan Velerie tidak akan berada dalam bahaya.
"Sebenarnya aku masih tidak paham benar apa maksud ucapanmu, Jolie. Kita dekat sebagai sahabat, itulah yang aku maksud. Apa yang kau pikirkan tidak sama seperti yang aku pikirkan jadi, jangan membuat kesimpulan sendiri, dan memberikan masukan saat situasinya tidak mendukung sama sekali,"Ucap Benjamien yang langsung saja membuat Jolie terdiam.
Jolie sungguh tidak merasa takut atau tidak enak kepada Benjamien, dia hanya malas berdebat dan cukup paham kalau Benjamien tidak akan mungkin mau mendengarkan apa yang dia katakan karena hatinya benar-benar sudah buta dan cara berpikirnya sudah tidak bisa di cegah lagi.
Velerie memilih untuk diam, sungguh dia sendiri juga tidak tahu harus bagaimana dalam menyikapi apa yang terjadi.
Setelah jam kuliah selesai, Velerie memutuskan untuk segera pulang kerumah karena dia mendapatkan kabar dari Ibunya bahwa mereka kan berkunjung sore hari nanti, bahkan katanya mereka juga berniat untuk menginap disana.
Buru-buru Velerie masuk kedalam rumah untuk memberi tahu Rodez, tapi melihat pelayan rumah sedang mondar mandir membawa beberapa barang ke kamar Rodez, Velerie menyadari benar bahwa Rodez pasti sudah mendengar kabar itu dan sudah meminta para pelayan untuk membereskan semuanya.
Rodez masih belum pulang dari kantor, jadi sekarang Velerie juga harus segera membantu untuk bersiap.
Beberapa saat kemudian.
Velerie menghela nafasnya setelah membuat kamar Rodez seolah adalah kamar yang biasa di gunakan oleh Velerie juga.
"Bagus, kalau seperti ini tidak akan ada yang tahu kebenarannya kan?"Gumam Velerie lalu tersenyum lega.
Tanpa Velerie sadari, Rodez sudah ada di ambang pintu melihat Velerie tersenyum puas. Sejujurnya dia menginginkan lebih dari sekedar ini, dia benar-benar ingin memiliki hubungan suami istri yang sebenarnya tapi, itu terlalu memalukan, terlalu tidak tahu diri baginya. Selama Ini hanya luka yang pernah dia berikan kepada Velerie sehingga terlalu memalukan jika dia berharap sedikit banyak.
"Eh? Kau sudah pulang?" Tanya Velerie kala dia berbalik badan untuk mengambil bajunya, dan bersiap untuk masuk ke kamar mandi agar bisa segera membersihkan diri.
Rodez tersenyum, lebih baik dia jangan menghiraukan apa yang dia pikirkan, saat ini yang paling penting adalah bagaimana caranya agar Velerie merasa nyaman dan tidak terbebani dengan kehidupan rumah tangga yang terpaksa harus dia jalani.
"Iya, Baru saja sampai," Jawab Rodez seraya menekan tombol kursi rodanya agar maju mendekati Velerie.
"Baiklah, kau mau mandi terlebih dulu atau tidak? Kalau iya aku akan mandi di kamar satunya lagi, setelah itu aku akan kembali ke sini." Ucap Velerie.
Rodez tersenyum,"Kau boleh mandi saja lebih dulu, aku akan mandi setelah kau selesai nanti jadi mandilah saja di kamar mandi ini."
Velerie mengangguk setuju, Dia segera beranjak menuju kamar mandi sedangkan Rodez langsung saja terdiam dengan segala pemikirannya.
beberapa saat kemudian.
kedua orang tua Velerie telah sampai di rumah, Velerie dan Rodez menyambut kedatangan mereka dengan hangat. Mereka benar-benar berpura-pura dengan sangat baik agar terlihat seperti pasangan suami istri pada umumnya. Memang sih tidak bisa semesra itu, tapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali.
"Bagaimana dengan pernikahan kalian? beberapa waktu lalu, Ibunya Rodez datang menemuiku dia mengatakan jika terjadi masalah dengan hubungan kalian. saat itu Ibu pikir akan lebih baik jika Ibu langsung datang dan bertanya langsung kepada kalian, tapi Ibu juga ragu mengingat pernikahan kalian terjadi juga bukan karena kalian saling mencintai bukan?"Ucap ibunya Velerie yang sedari tadi terus menatap anak dan menantunya dengan tatapan menyelidik.
Bersambung