Ivy Zhang, seorang pengacara cerdas, akhirnya ingin mengakhiri pernikahannya dengan Leo Fung setelah kehilangan bayi mereka.
Namun Leo, suami yang masih mencintainya, menolak melepaskan Ivy.
Di saat yang sama, Calvin Duan, pria berkuasa sekaligus rival Leo, tiba-tiba menjadikan Ivy sebagai pengacara pribadinya. Dengan tujuan yang sulit ditebak, Calvin menyeret Ivy ke dalam perseteruan dengan suaminya sendiri.
Di antara suami yang berkuasa dan klien yang tak kalah berkuasa, siapa yang harus dibela Ivy?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Gedung Atas Club Malam
Di lantai atas sebuah club malam, Calvin Duan duduk tenang di sebuah kursi dengan beberapa anak buah berdiri di belakangnya.
Jarinya memainkan sebuah cincin berlambang elang.
Di hadapannya, seorang pria bernama Samuel berlutut dengan tubuh gemetar. Wajahnya terlihat bengkak akibat sebelumnya dipukul oleh anak buah Calvin.
Tristan, asisten pribadi Calvin, berdiri di sampingnya.
“Samuel, apa kau sadar di mana letak kesalahanmu?” tanya Tristan.
“Tuan, saya mengakui kesalahan saya. Saya korupsi karena terlilit utang judi. Saya... saya benar-benar kehabisan cara.”
Tristan menatapnya dingin.
“Selama Tuan berada di luar negeri, kami mempercayakan club ini kepadamu. Kami bahkan menyerahkan seluruh pengelolaannya.”
Ia menunjuk Samuel.
“Tapi kau bukan hanya menggelapkan uang perusahaan. Kau juga menelantarkan istri dan anakmu.”
Samuel menunduk.
“Saya tidak tahu kalau istri saya akan datang ke sini dan membuat keributan. Saya akan pulang dan memberinya pelajaran. Tuan, beri saya kesempatan untuk menebus kesalahan.”
Calvin yang sejak tadi diam akhirnya mengangkat wajah.
“Maksudmu, semua ini adalah kesalahan istrimu?”
Samuel ragu sejenak.
“I... iya. Saya akan mendidiknya dan menceraikannya.”
Tatapan Calvin langsung menjadi dingin.
“Kau berselingkuh dengan wanita malam sampai melupakan istri dan anakmu.”
Ia berhenti memainkan cincinnya.
“Kau menggunakan uang perusahaan untuk wanita lain, tidak memberikan nafkah kepada keluargamu, lalu sekarang menyalahkan istrimu?”
Samuel terdiam.
“Sejak kapan aku memiliki bawahan yang tidak bertanggung jawab seperti dirimu?”
Calvin menoleh.
“Tristan.”
Tristan langsung mengerti.
“Tuan.”
“Bekukan seluruh rekening Samuel. Ambil kembali semua aset yang dia gunakan untuk membayar utangnya.”
“Baik.”
Samuel langsung panik.
“Tuan, tolong! Beri saya satu kesempatan lagi!”
Calvin tidak memedulikannya.
“Dan pastikan istrinya mendapatkan kembali seluruh uang yang menjadi haknya.”
Samuel menunduk ketakutan.
Calvin kembali memainkan cincin di jarinya.
“Pria yang tidak mampu bertanggung jawab atas keluarganya tidak pantas berada di bawah perintahku.”
Tristan mengangguk.
“Baik, Tuan.”
“Ada lagi. Selama ini, berapa kali kau berselingkuh?” tanya Calvin.
Samuel menundukkan kepala.
“L-lebih dari sepuluh kali, Tuan.”
Calvin perlahan bangkit dari kursinya. Wajahnya tetap tenang, tetapi auranya berubah semakin menekan.
“Lebih dari sepuluh kali?”
Samuel tidak berani menjawab.
Calvin merapikan jasnya.
“Sepertinya kau memang tidak bisa diselamatkan lagi."
Ia berbalik.
“Karena kau suka bermain dengan wanita, hancurkan sumber masalahmu. Setelah malam ini, kau tidak akan pernah bisa menyentuh wanita mana pun lagi.”
"Baik, Tuan!" jawab Tristan.
“Tuan! Tuan, tolong!”
Calvin tidak berhenti.
“Lakukan,” perintah Tristan kepada anak buahnya sebelum mengikuti langkah Calvin.
Beberapa saat kemudian—
Bruk!
Pukulan bertubi-tubi mengenai bagian penting Samuel.
Teriakan Samuel mengema di atap gedung tersebut.
“Aah!”
Suara benturan kembali terdengar beberapa kali. Terlihat bagian bawah tubuhnya mengeluarkan banyak darah.
Samuel akhirnya diseret keluar oleh anak buah Calvin dalam keadaan lemah dan penuh luka.
Beberapa saat kemudian.
Calvin memasuki ruangan VIP karaoke. Beberapa rekannya yang sudah menunggu langsung berdiri menyambut kedatangannya.
"Bos, sudah lama Bos tidak kembali ke sini," ujar Ekin dengan wajah penuh antusias. "Malam ini kebetulan ada beberapa orang baru. Saya sudah menyiapkannya untuk Bos."
Tristan yang berdiri di sampingnya langsung menegang.
"Tuan, jangan..." bisiknya, berusaha menghentikan Ekin.
Namun, Ekin seolah tidak mendengar.
Calvin hanya duduk tenang di sofa. Salah satu anak buahnya segera menuangkan minuman ke dalam gelasnya.
Tidak lama kemudian, beberapa wanita muda masuk ke ruangan dan berdiri berjajar dengan kepala tertunduk.
"Cepat, sapa Bos kita!" perintah Ekin.
"Tuan, apa kabar. Kami orang baru di sini," sapa mereka serempak.
Tristan menepuk dahinya.
"Gawat. Ekin benar-benar sedang mencari masalah."
Ekin justru semakin berani.
"Bos, mereka semua baru datang malam ini. Usia mereka baru delapan belas hingga dua puluh lima. Belum pernah tersentuh. Mereka khusus melayani anda malam ini...."
Brak!
Belum sempat Ekin menyelesaikan kalimatnya, Calvin sudah bangkit dan menghantamkan kepala Ekin dengan botol minuman.
Botol itu pecah.
Ruangan VIP seketika sunyi.
Semua orang membeku.
Ekin langsung berlutut sambil menahan sakit. Darah mengalir dari luka di kepalanya.
Calvin kembali duduk dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
"Bos, maafkan aku!" pinta Ekin.
"Mulai hari ini, angkat kakimu dari tempat ini."
Wajah Ekin langsung pucat.
"Bos, aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi."
Tristan segera menarik lengan Ekin.
"Tuan, cepat pergi. Selama ini Bos tidak suka penjilat."
Ia menyeret Ekin keluar dari ruangan. Para wanita yang tadi dibawa masuk juga segera meninggalkan ruangan dengan wajah ketakutan.
Setelah pintu tertutup, suasana di dalam kembali sunyi.
Tidak satu pun dari rekan Calvin berani berbicara.
Mereka semua tahu, semakin diam Calvin, semakin buruk suasana hatinya.
Di koridor, Ekin masih memegangi kepalanya yang terluka.
"Tristan, sebenarnya salahku di mana? Aku hanya ingin menyenangkan Bos kita."
Tristan menghela napas.
"Tuan, Anda salah karena mengambil keputusan sendiri. Apa Anda tidak tahu? Selama aku mengikuti Bos ke club malam, beliau hanya minum dan membicarakan bisnis."
Ekin mengerutkan kening.
"Memangnya Bos tidak pernah menyentuh wanita mana pun?"
"Tidak pernah."
Ekin terdiam.
Tristan melanjutkan, "Itulah Bos kita. Walaupun masih muda, beliau tidak pernah bermain-main dengan wanita di tempat seperti ini. Bos sangat menjaga kesehatan dan kebersihan."
Ekin masih terlihat tidak percaya.
"Memangnya ada pria yang datang ke tempat seperti ini hanya untuk minum dan membahas bisnis?"
"Yang kami tahu hanya satu. Selama bertahun-tahun, tidak ada satu pun wanita yang berhasil membuat Bos tertarik."
Ekin terdiam.
Tristan kemudian melanjutkan dengan suara lebih rendah.
"Lagi pula, ada aturan yang sudah diwariskan dalam keluarga Duan. Pria dari keluarga Duan hanya boleh memberikan hatinya kepada satu wanita."
Ekin mengerutkan kening.
"Maksudnya?"
"Jika mereka sudah mencintai seseorang, maka hanya wanita itu yang akan mereka cintai sampai akhir hayat. Entah mereka akhirnya bisa bersatu atau tidak, mereka tidak akan mencari pengganti."
"Ha...," ucap Ekin hampir tidak percaya.
Beberapa saat kemudian, Tristan kembali melangkah masuk ke ruangan VIP.
"Tuan, Ekin sudah pergi," lapornya.
"Cari pengacara terbaik."
Tristan sedikit terkejut.
"Pengacara?"
Calvin mengangkat wajahnya. Tatapannya terlihat jauh lebih serius dari sebelumnya.
"Kali ini aku ingin melawan seseorang."
sebagai penyemangat untuk memulai harimu😍😍😍😍😍
tambah lagi dooooong. supaya kita gak nunggu lanjutannya dengan penasaran.🙏🙏🙏🙏🙏