Tidak terasa sudah dua bulan berlalu semenjak kejadian di aula singgasana. Ong He yang terbunuh secara misterius masih menjadi tanda tanya besar. Dan saat itu juga, gadis kecil pembawa pesan terlihat baik baik saja, seakan semua hal buruk itu hanyalah mimpi. Ia tetap memerahkan senyum di bibir kecilnya, kesehariannya pun tetap berjalan. Seperti mengacaukan dapur istana bersama Tian Feng.
Tetapi, Becrox tahu semua itu hanya topeng yang menutupi kesedihannya. Bagaimana ia tidak tahu, ketika sepasang mata berwarna merah rubynya terlihat sendu, bagai langit mendung.
Becrox berlatih pedang menggunakan pedang kayu di halaman pelatihan kediaman Edinhart seorang diri. Napasnya terengah-engah dengan keringat yang mulai membasahi bajunya. Ia kemudian berhenti, meletakkan pedang kayu ke rak. Seorang pelayan pria dua puluh tahunan berjalan menghampiri, membungkuk seraya memberikan sebuah kain pada Becrox. Ia menerima kain itu, mengusapkannya ke leher serta wajah.
“Tuan Muda, Nona Litana berpesan untuk bertemu di Kuil Ondro. Setelah anda makan dan tidur siang. Nona bilang, anda harus istirahat terlebih dahulu sebelum pergi bekerja.” Kata pelayan itu melempar senyum tipis. Becrox memberikan kain yang telah dipakai ke pelayannya, “Apakah Tian Feng yang mengirim pesannya?” tanyanya penasaran sambil melepas ikatan rambut. Membuatnya terlihat tampan dengan rambut merah gelombang yang berkilau dan manik biru yang jernih seindah laut.
Pelayannya menggeleng, membuat Tuan Mudanya menatap tidak mengerti, “Kurir?” pelayan itu menarik napas pendek, “Nona Litana sendiri yang datang.” Becrox yang memperhatikan kuncup bunga tulip ungu di salah satu pot tanaman hias besar yang tidak jauh dari tempat pelatihan, spontan menoleh tidak percaya. “Apa? Kapan datangnya?” tanya Becrox lagi, “Saat Tuan Muda pergi ke tempat pelatihan.” Jawab pelayan terus terang dengan salah satu mata mengintip wajah polos Becrox, lalu terpejam saat ia menengok.
…
The Eagle White
13
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 52 Episodes
Comments