"Saya terima nikahnya Andine Sadiqah bla...bla.... dengan mas kawin tersebut dibayar tunai....," suara Aleandro menggema di seluruh ruangan masjid yang terletak di samping rumahku.
"Sah... Sah...," suara itu saling sahut, menguatkan apa yang telah diikrarkan oleh pria tadi.
Aku yang berada di ruangan lain, tersadar setelah ditepuk bahuku oleh salah satu keluarga dekatku.
"Sambut suami kamu Andine," katanya.
"Suami?" ucapku melongo.
"Iya, suami kamu," serunya menandaskan.
Dengan diantar olehnya aku bergerak maju untuk mendekat ke arah pria yang telah sah menjadi suamiku.
Di belakangnya nampak seorang wanita cantik nan anggun tersenyum ke arahku.
Wanita yang baru aku kenal kemarin, yang merupakan istri pertama dari pria yang kini telah menjadi suamiku juga.
Tak ada sambutan dan senyuman hangat dari sosok pria itu. Jangankan memeluk, senyum saja menjadi hal yang mahal buatnya.
'Bisa-bisanya aku menikah dengan pria balok es seperti ini? Salahkah keputusan ku ini? Maafkan anakmu bu, aku melakukan karena terpaksa. Hiks,'' sesalku dalam benak.
"Kita pulang!" katanya singkat.
Entah siapa yang diajak olehnya?
Istri pertamanya, atau aku pun diajak serta.
Tak ada kata yang diucapkan lagi. Dia pergi begitu saja, dan menjauh dari posisiku berdiri.
Tak ada acara salim ataupun kecupan kening seperti pasangan yang barusan menikah pada umumnya.
Aku berdiri mematung.
"Nona Andine, anda ditunggu tuan muda di mobil," sapa pria yang sepertinya pantas untuk dipanggil bapak olehku.
"I... I... Iya," jawabku gugup.
Tak ada kata pamitan dariku untuk keluarga dan tetanggaku.
Ibuku sendiri saat ini tengah berjuang di rumah sakit sekarang.
Itulah yang menjadi alasan utamaku untuk menerima tawaran gila dari pria dingin itu untuk menjadi pabrik pembuat anak untuk dia dan istrinya.
.
.
.
KEPO??????
Cusss ke sana 🥰🤗
Tulisan Tinta Tania
Mampir Guysss @SECOND WIFE
Download aplikasi untuk baca gratis cerita selengkapnya
Updated 189 Episodes
Comments