Hari demi hari berlalu di kelas 11D. Di antara tugas-tugas sekolah, kegiatan ekstrakurikuler, dan obrolan santai sepulang sekolah,keempat sahabat itu semakin tak terpisahkan. Seperti empat sisi pada satu kubus,berbeda tapi saling melengkapi.
Kenzo yang pendiam dan tenang, Raka yang penuh semangat dan humor, Nayla yang ekspresif dan penuh warna, serta Keira yang cerdas namun tajam lidahnya. Empat orang dengan karakter bertolak belakang yang justru menciptakan harmoni.
Pagi itu, mereka berempat duduk di bangku taman sekolah. Sinar matahari menembus celah dedaunan, dan suara tawa mereka mengalir seperti aliran air yang riang.
“Aku tuh ya heran sama Keira,” kata Raka sambil menyeruput es teh dari kantin. “Mukanya kalem, tapi kata-katanya bisa bikin orang ganti jurusan.”
“Lebih baik ganti jurusan daripada ganti prinsip, Rak,” sahut Keira santai, membuat Nayla tertawa terpingkal-pingkal.
Kenzo hanya tersenyum sambil memperhatikan mereka dari samping. Matanya sesekali melirik ke arah Nayla, yang sedang menahan perutnya karena terlalu banyak tertawa.
Ada sesuatu yang hangat saat melihatnya tertawa seperti itu.
Setelah bel berbunyi, mereka kembali ke kelas. Hari itu pelajaran Biologi. Pak Satria, guru mereka, tiba-tiba mengumumkan tugas kelompok.
“Kelompoknya empat orang. Bebas, tapi jangan asal pilih. Harus bisa kerja sama. Minggu depan dikumpulkan.”
Tanpa berpikir panjang, Raka langsung berdiri. “Pak! Saya, Keira, Nayla, sama Kenzo satu kelompok, ya!”
“Udah cocok sih,” kata Pak Satria sambil mengangguk. “Empat sekawan, ya?”
Tugas itu menjadi alasan mereka sering berkumpul di rumah Nayla sore hari. Di ruang tamu yang nyaman dan penuh dengan komik, mereka belajar, berdiskusi... dan kadang terlalu banyak ketawa sampai lupa waktu.
Dan di setiap pertemuan itu, Kenzo mulai menyadari satu hal: hatinya tak bisa diam ketika Nayla tersenyum padanya lebih lama dari biasanya. Ketika mereka berdiskusi dan mata mereka bertemu, ada percikan aneh di dadanya.
Nayla pun mulai merasakan hal serupa. Ia tak tahu kapan tepatnya, tapi... Kenzo tak lagi hanya sekadar teman barunya. Ia seperti... seseorang yang ingin ia lihat setiap hari.
Namun, di balik kehangatan itu, Keira perlahan menyadari perubahan sikap Nayla dan Kenzo. Ia tak mengatakan apa-apa, hanya memperhatikan. Dan Raka? Ia masih sibuk bercanda dan membuat suasana cair, tanpa tahu bahwa dua sahabatnya mulai bermain api dalam hati masing-masing.
Dan saat sore itu mereka pamit pulang, Raka dan keira pulang duluan karena sudah di suruh pulang oleh orang tua mereka.dan hanya tinggal Kenzo dan Nayla di depan rumah.
“Eh, Ken...” panggil Nayla.
Kenzo menoleh.
“Kamu suka pelajaran Biologi, nggak?”
Kenzo mengerutkan alis. “Hah? Kenapa nanyanya gitu?”
Nayla tertawa kecil. “Nggak tahu. Cuma... pengen nanya aja. Kadang pengen ngobrol hal-hal random sama kamu.”
Kenzo menatapnya sejenak. Lalu, ia tersenyum.
“Aku juga.”
Dan dari situlah, mereka mulai berbicara lebih banyak. Lebih lama. Dan lebih dalam.
Tanpa kata “cinta” pun, sesuatu sudah tumbuh diam-diam di antara mereka.
Kenzo dan Nayla duduk di teras sambil menikmati sore yang hangat.
Langit berwarna jingga keemasan, dan angin berembus pelan. Nayla muncul dari dalam rumah membawa dua gelas es stroberi.
“Nih, es stroberi buat kamu,” katanya sambil menyerahkan satu ke Kenzo.
Kenzo menerimanya dengan senyum canggung. “Makasih... Ini minuman favorit kamu, kah?”
Nayla mengangguk, lalu duduk di sebelahnya. “Iya, tapi aku penasaran kamu suka nggak.”
Kenzo mencicipi sedikit, lalu mengangguk. “Enak... Rasanya manis, tapi ada asamnya dikit.”
Nayla tersenyum puas. “Kayak hidup, ya?”
Kenzo menoleh. “Apanya?”
“Kadang manis... kadang asam... tapi tetap dinikmati bareng-bareng, jadi lebih ringan.”
Kalimat sederhana itu membuat dada Kenzo terasa hangat. Ia menatap Nayla, tapi Nayla sedang menatap langit. Pipinya sedikit memerah, entah karena sinar senja... atau karena hatinya yang berdegup tak karuan.
Tiba-tiba, angin meniup rambut Nayla, membuat helaian tipis menutupi wajahnya. Dengan gerakan spontan, Kenzo menyibakkan rambut itu dari pipinya.
“Eh...” Nayla kaget. Matanya bertemu mata Kenzo, dan waktu seakan berhenti.
Jarak wajah mereka hanya beberapa jengkal. Sunyi menyelimuti mereka sejenak.
Kenzo segera menarik tangannya, gugup. “M-maaf... refleks aja.”
Nayla menggeleng cepat, wajahnya memerah. “Nggak apa-apa... Aku... malah seneng...”
Mereka terdiam beberapa saat, sebelum Nayla bicara lagi, suaranya pelan.
“Kenzo... kamu pernah suka sama seseorang, tapi takut merusak hubungan yang udah ada?”
Kenzo menunduk. “Pernah...”
“Terus kamu ngapain?”
“Diam. Tapi diam itu... nyakitin juga.”
Nayla menoleh pelan. “Kenapa?”
“Karena kadang... perasaan yang dipendam terlalu lama bisa hilang arah.”
Nayla tersenyum tipis. “Mungkin... perasaan itu cuma butuh satu momen untuk muncul, ya?”
Mereka bertatapan lagi.
Dan saat itu, tidak ada pelukan atau genggaman tangan. Tapi... cukup dengan mata yang bicara, keduanya tahu perasaan itu telah tumbuh.
★SELANJUTNYA★
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments