Sejak sore itu, pikiran Kenzo tidak bisa berhenti memutar ulang kejadian di teras rumah Nayla. Tatapan mata mereka, senyum malu Nayla, dan kata-kata yang terasa punya makna lebih dari sekadar obrolan biasa.
"Apa mungkin... dia juga ngerasain hal yang sama?" pikir Kenzo sambil berbaring di kasurnya malam itu.
Tapi semakin ia berharap, semakin ia merasa takut.
Dia tahu Nayla adalah teman dekatnya. Seseorang yang selalu ada, yang membuat harinya cerah dengan tawa dan cerewetnya. Tapi... kalau ia salah menebak? Kalau ternyata semua itu cuma kehangatan seorang sahabat?
“Nanti kalau aku ngaku suka... terus dia merasa risih, terus kita jadi asing gimana…”
Kenzo memejamkan mata, mencoba mengabaikan degup jantung yang tiba-tiba melonjak setiap kali ia mengingat senyum manis Nayla.
Hari-hari berikutnya, dia mulai lebih memperhatikan Nayla. Cara Nayla melipat lengan baju saat panas, kebiasaannya menggigit ujung pulpen saat berpikir, dan ekspresi lucunya saat mendadak salah paham.
Semua terlihat... menggemaskan dan imut.
Namun, semakin dia jatuh, semakin dia menjaga jarak secara emosional.
Setiap kali Nayla tertawa sambil menepuk bahunya, Kenzo membalas dengan senyum kecil—tapi hatinya bergejolak. Setiap kali Nayla curhat soal hal-hal sepele, dia ingin bilang, “Aku bisa jadi lebih dari sekadar teman.” Tapi lidahnya tidak bisa mengatakan nya.
Suatu siang, saat mereka duduk berdua di bangku taman sekolah, Nayla mengangguk-angguk sambil membaca komik yang ia pinjam dari perpustakaan. Kenzo duduk di sebelahnya, mencuri pandang, lalu bertanya pelan:
“Nay... kalau misalnya... ada cowok yang suka sama kamu, tapi dia takut kamu bakal ngejauh kalau tahu... kamu bakal gimana?”
Nayla berhenti membaca. Menoleh pelan. “Kalau cowok itu sahabat aku, aku bakal bilang... jangan takut. Karena kalau perasaan itu tulus, aku nggak akan ninggalin dia begitu aja.”
Kenzo menahan napas.
“Tapi...” lanjut Nayla sambil menatap langit, “...kalau dia terlalu percaya diri dan nebak-nebak sendiri tanpa tanya aku dulu, ya aku mungkin jadi risih sih. Hehe.”
Kenzo terdiam. Jawaban itu seperti tamparan, tapi juga harapan.
Di dalam hatinya, pergolakan dimulai. Antara ingin memperjuangkan... atau menjaga yang sudah ada.
Dan hari itu, Kenzo hanya bisa menatap Nayla sambil tersenyum tipis. Menyimpan rasa itu untuk sementara waktu.
Tapi tidak selamanya dia bisa diam, kan?
Hari Sabtu datang dengan langit cerah. Setelah seminggu penuh ujian dan tugas, Raka mengusulkan satu ide brilian: jalan-jalan bareng ke taman kota dan cari jajanan.
“Gue udah muak sama rumus rumus, ya Tuhan… otak gue kering!” keluh Raka di grup chat mereka.
“Ayo dong, Keira! Kita butuh penyegar suasana,” sambung Nayla semangat.
Keira awalnya menolak, tapi akhirnya luluh juga. “Oke, asal kalian nggak ngajak ke tempat yang rame-rame banget.”
Dan begitulah, keempat sahabat itu akhirnya berjalan berdampingan menyusuri taman kota. Raka dan Keira berdebat soal musik di awal-awal—klasik. Raka ngotot kalau lagu EDM paling mantap, sementara Keira tetap setia pada jazz dan akustik.
“EDM tuh bisa bikin semangat, Keira. Coba lo dengerin pas belajar, pasti langsung semangat 45!” celetuk Raka sambil menirukan gaya DJ, lengkap dengan goyangan absurd.
Keira mendengus. “Aku belajar pakai otak, bukan pakai telinga berdengung.”
Nayla tertawa. Kenzo pun ikut nyengir, tapi matanya lebih sering melirik ke arah Nayla yang tampak cerah hari itu. Rambutnya diikat setengah, dan dia mengenakan blouse putih dengan celana jeans biru langit—simpel, tapi bikin jantung Kenzo berdetak cepat.
Mereka duduk di atas rumput taman, membentuk lingkaran sambil menikmati es krim. Nayla menyuapkan sesendok kecil ke arah Kenzo.
“Coba deh rasa stroberi aku. Enak, serius,no boong boong!”
Kenzo kaget sejenak. Nayla menyodorkan sendok kecil itu langsung ke depan mulutnya. Sadar bahwa tatapan Raka dan Keira mulai jahil, Kenzo buru-buru mengambil sendoknya dengan tangan sendiri dan mencicipinya.
“E-emmm, enak juga,” ucapnya sambil nyengir malu.
Raka langsung menggoda. “Waduh, suap-suapan nih ya? Hei hei Keira, suapin aku juga dong biar adil!”
Keira menatap tajam. “Mau aku suapin pakai cabai rawit nggak?”
Raka meringis. “Oke, batal.”
Kenzo merasa bahagia—momen ini hangat, ringan, dan tak ada beban. Namun, di tengah candaan dan tawa itu, ia makin sadar betapa Nayla telah mencuri tempat spesial di hatinya.
Saat mata mereka bertemu sebentar, Nayla tersenyum. “Kamu kenapa, Zo? Melamun?”
“Enggak,” jawab Kenzo, pelan. “Aku cuma... senang hari ini.”
Nayla tersenyum lebih lebar. “Aku juga.”
Tanpa mereka sadari, momen kecil itu makin mempererat ikatan mereka,bukan cuma sebagai sahabat, tapi sebagai dua hati yang diam-diam mulai saling mengisi.
Dan hari itu, untuk pertama kalinya Kenzo merasa: mungkin, hanya mungkin… ini bukan sekadar perasaan sepihak.
★SELANJUTNYA★
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 59 Episodes
Comments